"Apa?! Kak Rania kabur?!"
Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.
Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.
Tubuh Gladis mendadak lemas.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.
Namun sang calon pengantin justru menghilang.
"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.
Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.
Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.
"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."
"Tapi Kak Rania sudah pergi!"
"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Pertamaku
"Aku mau Mama."
Kalimat polos dari bocah kecil itu masih terngiang di telinga Gladis bahkan setelah beberapa menit berlalu.
Suasana ruang keluarga menjadi sangat canggung.
Ketiga anak itu terus memandangnya seolah ia adalah orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidup mereka.
Dan memang benar.
Ia memang orang asing.
Bahkan Gladis sendiri masih sulit menerima kenyataan bahwa pagi tadi ia masih seorang mahasiswi biasa.
Lalu sore ini menjadi ibu sambung bagi tiga anak.
Arsen menghela napas pelan.
"Kalian boleh tidak menyukainya sekarang."
Ketiga anak itu menoleh.
"Tapi dia akan tinggal di rumah ini."
Nada suara Arsen tidak tinggi.
Namun cukup tegas untuk membuat semua orang mengerti bahwa keputusan itu tidak bisa diganggu gugat.
Raka langsung memalingkan wajah.
Sedangkan saudara kembarnya, Raina, terlihat menggigit bibir.
Sementara si kecil masih memeluk boneka dinosaurusnya erat.
"Bibik."
"Ya, Tuan."
"Bawa Nyonya ke kamarnya."
Bibik yang sejak tadi berdiri di belakang langsung mengangguk.
"Baik, Tuan."
Namun sebelum bergerak, wanita paruh baya itu tampak ragu.
"Bukan di kamar Bapak?"
Semua orang mendadak diam.
Gladis langsung menunduk.
Pipinya memanas.
Sedangkan Arsen terlihat tenang.
"Belum."
Jawabnya singkat.
"Siapkan kamar sebelah."
"Eh... baik, Pak."
Gladis diam-diam menghela napas lega.
Entah kenapa.
Ia juga belum siap berbagi kamar dengan pria yang baru dikenalnya hari ini.
"Silakan, Nyonya."
Gladis mengikuti langkah Bibik menuju lantai dua.
Rumah itu jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar.
Lorong panjang dihiasi lukisan-lukisan mahal.
Lampu kristal menggantung megah di langit-langit.
Karpet tebal membentang sepanjang koridor.
Gladis bahkan takut menginjaknya.
Semuanya terlihat sangat mewah.
Sangat berbeda dengan rumahnya.
Meski keluarganya cukup berada, rumah mereka tetap terasa sederhana dibanding tempat ini.
Bibik akhirnya berhenti di depan sebuah pintu putih besar.
Klik.
Pintu terbuka.
Dan Gladis membeku.
Ya Allah...
Kamar ini lebih besar daripada ruang tamu rumahnya.
Terdapat tempat tidur king size dengan ukiran elegan.
Sofa panjang.
Meja kerja.
Lemari pakaian sebesar kamar kos mahasiswa.
Bahkan balkon pribadi yang menghadap taman belakang.
"Masya Allah..."
Gumam Gladis.
Bibik tersenyum kecil melihat reaksinya.
"Nyonya suka?"
"Sangat cantik."
"Mulai hari ini kamar ini milik Nyonya."
Gladis masih belum bisa mengalihkan pandangannya.
Semuanya terasa seperti mimpi.
Namun sayangnya.
Ini bukan mimpi indah.
Karena di balik semua kemewahan ini ada kenyataan yang jauh lebih rumit.
Setelah beberapa saat, Bibik membantu Gladis meletakkan koper-kopernya.
"Nyonya."
"Iya, Bik?"
"Di rumah ini ada tiga ART."
Gladis memperhatikan.
"Saya, Inah, dan Bu Sari."
"Oh."
"Ada dua satpam yang berjaga dua puluh empat jam."
Gladis mengangguk.
"Tuan juga memiliki ajudan pribadi."
"Dimas?"
Bibik tersenyum.
"Nah, benar."
"Pak Dimas sering datang ke sini."
Gladis mengangguk lagi.
Kemudian Bibik terlihat sedikit ragu.
Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Sebenarnya..."
"Hm?"
"Tuan itu orang baik."
Gladis terdiam.
Jujur saja.
Sejak awal ia hanya mendengar cerita mengerikan tentang Arsen Wijaya.
CEO dingin.
Kejam.
Sulit ditebak.
Menakutkan.
Namun sejak akad tadi, pria itu memang tidak pernah berlaku kasar padanya.
Hanya sangat dingin.
Sangat formal.
"Tuan berubah setelah Nyonya Malika meninggal."
Gladis menoleh.
"Malika?"
"Istri pertama Tuan."
Bibik tersenyum sedih.
"Beliau wanita yang sangat baik."
Gladis mendengarkan dengan saksama.
"Dua tahun lalu pesawat yang ditumpangi Nyonya Malika mengalami kecelakaan."
Deg.
Jantung Gladis langsung terasa berat.
"Orang tua Nyonya Malika juga ada di dalam pesawat itu."
Gladis membeku.
Jadi dalam satu hari...
Arsen kehilangan istrinya.
Dan juga kedua mertuanya.
Tak heran jika pria itu berubah.
Tak heran jika rumah sebesar ini terasa begitu sunyi.
Tak heran jika ketiga anak tadi masih sangat merindukan ibu mereka.
"Sejak saat itu Tuan menjadi jauh lebih dingin."
Bibik menghela napas.
"Beliau fokus bekerja dan membesarkan anak-anak."
Gladis menunduk.
Untuk pertama kalinya ia merasa sedikit memahami suaminya.
Meski hanya sedikit.
"Baik, Bik."
Jawabnya pelan.
"Saya mengerti."
Bibik tersenyum hangat.
Beberapa menit kemudian Gladis teringat sesuatu.
"Oh iya, Bik."
"Iya?"
"Boleh minta tolong?"
"Tentu."
Gladis menggigit bibir.
"Aku ingin tahu tentang anak-anak."
Bibik tampak bingung.
"Maksud Nyonya?"
"Kesukaan mereka."
"Yang tidak mereka sukai."
"Apa makanan favorit mereka."
"Kebiasaan mereka."
Bibik langsung membelalak.
Benar-benar tidak menyangka.
Biasanya wanita yang datang ke rumah ini hanya tertarik pada kemewahan.
Namun Gladis justru bertanya tentang anak-anak.
Senyum wanita paruh baya itu semakin hangat.
"Nyonya baik sekali."
Gladis menggeleng cepat.
"Tidak."
"Aku hanya..."
Ia terdiam sejenak.
"Mau mencoba."
Karena meskipun anak-anak itu membencinya.
Mereka tetap tidak bersalah.
Mereka kehilangan ibu mereka.
Dan sekarang ayah mereka tiba-tiba membawa wanita asing ke rumah.
Tentu saja mereka marah.
Tentu saja mereka menolak.
"Nanti saya suruh Inah mencatat semuanya."
"Makasih, Bik."
Bibik mengangguk lalu berpamitan keluar.
Tinggal Gladis sendirian di kamar besar itu.
Begitu pintu tertutup.
Senyum kecil di wajah Gladis langsung menghilang.
Kesunyian menyergapnya.
Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur.
Lalu memandang ke luar jendela.
Langit mulai berubah gelap.
Hari yang panjang.
Sangat panjang.
Dan hidupnya berubah hanya dalam satu hari.
Air mata perlahan jatuh.
Lalu semakin deras.
"Kak..."
Isaknya lirih.
"Kak Rania..."
Tubuhnya bergetar.
"Apa kamu tahu aku di sini?"
Tangannya mengepal di atas gaun yang masih dikenakannya.
"Kenapa kamu pergi?"
Tangisnya pecah.
Jika Rania tidak kabur.
Jika Rania datang ke akad itu.
Mungkin semua akan berbeda.
Mungkin pria itu akan lebih bahagia.
Mungkin anak-anak itu tidak akan semarah tadi.
Mungkin dirinya masih berada di rumah bersama kedua orang tuanya.
"Kak..."
Air matanya semakin deras.
"Mungkin Pak CEO itu akan lebih bahagia kalau kamu yang datang."
Namun tidak ada yang menjawab.
Hanya kesunyian kamar.
Dan suara tangisnya sendiri.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuat Gladis buru-buru menghapus air mata.
"Iya?"
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Dan jantung Gladis langsung melonjak.
Arsen.
Pria itu berdiri di depan pintu.
Masih mengenakan jas hitamnya.
Tinggi.
Tegap.
Dan tetap terlihat mengintimidasi.
"Kamu sudah tidur?"
"T-belum."
Gladis buru-buru berdiri.
Gugup.
Sangat gugup.
"Om..."
Ia langsung menutup mulutnya.
Ya Allah.
Lagi?
"Eh..."
"Pak."
Kemudian berubah lagi.
"Mas."
Untuk pertama kalinya Gladis melihat sesuatu yang mirip keputusasaan di mata Arsen.
Seolah pria itu sudah menyerah memperbaiki cara panggil istrinya.
"Mas saja."
"Iya."
Arsen masuk beberapa langkah.
Lalu menyerahkan sebuah map tipis.
"Ini."
Gladis menerimanya bingung.
"Apa ini?"
"Tugasmu."
"Hah?"
"Tentang anak-anak."
Gladis membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat foto-foto.
Jadwal sekolah.
Jadwal les.
Data kesehatan.
Hobi.
Bahkan makanan favorit mereka.
Matanya membulat.
Lengkap sekali.
"Aku sudah meminta Dimas menyiapkannya."
Gladis tertegun.
Ternyata pria ini benar-benar serius soal anak-anaknya.
Sangat serius.
"Raka suka sepak bola."
Arsen mulai menjelaskan.
"Raina suka menggambar."
Gladis mengangguk.
"Yang kecil?"
"Rian."
Suara Arsen sedikit melunak saat menyebut nama putra bungsunya.
"Dia takut gelap."
Gladis langsung mencatat dalam ingatannya.
"Dan satu lagi."
Arsen menatapnya.
Tatapan tajam itu membuat Gladis kembali gugup.
"Mereka mungkin akan bersikap buruk padamu."
Gladis menunduk.
"Aku tahu."
"Mereka bukan anak nakal."
"Aku tahu."
"Mereka hanya belum siap."
Untuk pertama kalinya Gladis dan Arsen memiliki pemikiran yang sama.
Mereka berdua memahami ketiga anak itu.
Bedanya.
Arsen adalah ayah mereka.
Sedangkan Gladis masih orang asing.
"Terima kasih."
Ucap Gladis tulus.
Arsen tampak sedikit terkejut.
"Untuk apa?"
"Karena menjelaskan semuanya."
Pria itu terdiam sesaat.
Kemudian mengangguk singkat.
"Selamat istirahat."
Setelah itu ia berbalik pergi.
Namun sebelum pintu tertutup.
Arsen sempat berhenti.
"Gladis."
"Iya?"
"Jangan terlalu memaksakan diri."
Gladis membeku.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah kenapa membuat dadanya menghangat.
Lalu Arsen pergi.
Meninggalkan Gladis yang masih berdiri mematung sambil memegang map berisi informasi tentang ketiga anak itu.
Dan malam pertama sebagai Nyonya Arsen Wijaya pun dimulai.
Dengan satu tekad sederhana.
Ia mungkin tidak bisa menjadi ibu mereka hari ini.
Mungkin juga tidak besok.
Tetapi suatu saat nanti...
Ia ingin ketiga anak itu melihatnya bukan sebagai wanita yang merebut tempat ibu mereka.
Melainkan seseorang yang benar-benar peduli pada mereka.