Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejutan Malam pertama
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar presidential suite di lantai teratas Hotel Grand Mahendra.
Lampu gantung kristal di langit-langit memancarkan pendar kuning keemasan yang hangat, menerangi ruangan seluas rumah tinggal itu.
Bunga mawar merah dan putih ditata rapi di setiap sudut, menyebarkan aroma wewangian lembut yang seharusnya menciptakan suasana romantis.
Namun bagi Naya, setiap sudut ruangan mewah ini terasa bagaikan kamar eksekusi yang dingin dan siap menelannya bulat-bulat.
Naya berdiri kaku di samping tempat tidur berukuran king size yang dihiasi kelopak mawar berbentuk hati. Kedua tangannya saling meremas ujung gaun pengantinnya yang terasa semakin berat dan menyiksa. Sejak acara resepsi singkat yang amat menguras tenaga tadi sore, di mana ia dipaksa terus menunduk dan membelakangi kamera agar identitasnya tidak terbongkar oleh keluarga besar Mahendra, jantungnya tidak pernah berhenti berdetak kencang.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi utama mendadak berhenti.
Deg.
Naya menahan napas. Seluruh otot tubuhnya mengencang secara refleks. Beberapa detik kemudian, pintu kaca tebal bersinar samar itu terbuka. Raka Mahendra melangkah keluar.
Pria itu kini tidak lagi mengenakan setelan jas pengantin yang kaku. Ia hanya memakai piyama sutra hitam longgar dengan dua kancing atas yang terbuka, memperlihatkan garis tulang selangka dan dada bidangnya yang terawat. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi dengan pomade kini masih agak basah dan berantakan, jatuh secara acak menutupi sebagian dahi mulusnya. Terlihat lebih santai, namun tidak mengurangi sedikit pun aura intimidasi yang pekat dari dalam dirinya.
Raka berjalan santai menghampiri meja rias, mengambil sebotol air mineral, dan meneguknya langsung dari botol. Matanya yang tajam bak burung elang memperhatikan gerak-gerik Naya melalui cermin besar di depannya.
"Sampai kapan kamu mau berdiri seperti patung di sana?" suara Raka memecah keheningan. Nada bicaranya amat datar, dingin, dan tidak menunjukkan gairah sedikit pun dari seorang pengantin baru.
Naya menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Ia perlahan memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan pria itu. "Pak ... Pak Raka ..."
"Pak?" Raka terkekeh sinis, tawa singkat yang sama sekali tidak terdengar ramah. Pria itu memutar tubuhnya, bersedekap dada sambil menyandarkan pinggulnya pada tepi meja rias. Matanya menatap Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Sejak kapan seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan 'Pak'? Tapi baiklah, anggap saja itu bentuk rasa hormatmu padaku."
Naya mengepalkan jemarinya kuat-kuat sampai kukunya memutih. Rasa takut yang sejak pagi menguasai dirinya perlahan-lahan mulai terkikis, berganti dengan luapan rasa jengkel dan benci yang membakar dada. Ia sangat mengenali tatapan itu. Tatapan meremehkan yang sama persis seperti seminggu yang lalu di ruang rapat lantai sepuluh Mahendra Group, saat pria di hadapannya ini melempar dokumen laporan ke atas meja dan memecat Naya secara tidak hormat di depan puluhan pasang mata karyawan lain hanya karena salah ketik satu angka pada lampiran anggaran.
"Buka penutup kepalamu itu. Aku muak melihatmu terus-terusan menunduk seperti orang bersalah," perintah Raka dengan nada ketus yang tak terbantahkan.
Naya menarik napas panjang. Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia mengangkat kedua tangannya untuk melepas jarum-jarum pentul yang menempelkan kain veil putih tebal itu pada sanggulnya. Begitu kain transparan itu terlepas sepenuhnya dan jatuh ke lantai, wajah Naya terpampang nyata tanpa ada lagi penghalang.
Raka yang tadinya berniat meneguk air mineralnya kembali, mendadak menghentikan gerakannya.
Alis tebal Raka bertaut erat. Sepasang mata elangnya membelalak pelan, menangkap detail wajah wanita di hadapannya secara utuh di bawah pendar lampu hangat. Hidung mancung yang mungil, bibir tipis yang merapat menahan amarah, dan sepasang mata bulat tajam yang menatapnya penuh kebencian, bukan ketakutan atau rasa malu seperti yang dibayangkannya.
Itu bukan Kania Putri
Pria itu mengambil satu langkah lebar mendekati Naya. Matanya menyipit, meneliti setiap senti wajah Naya dengan kecurigaan yang membara.
"Kamu ..." suara Raka mendadak berubah menjadi sangat berat dan berbahaya. Kesantaian di wajahnya lenyap seketika, berganti dengan ekspresi dingin yang membekukan darah. "Siapa kamu? Kemana Kania ?
Naya mendongak tegak, menantang tatapan intimidatif itu tanpa rasa gentar sedikit pun. "Nama saya Naya. Naya Kanindita."
Raka tertegun sejenak. Otak jenius sang CEO bekerja dengan sangat cepat menyambungkan benang-benang ingatan di kepalanya. Naya Kanindita. Nama itu tidak asing baginya. Itu adalah nama staf administrasi divisi operasional yang baru saja ia tanda tangani surat pemecatannya minggu lalu akibat ketidaktelitian kerja.
"Naya ... staf administrasi bodoh yang bikin kekacauan di divisi operasional minggu lalu?" Raka menggeram rendah. Langkah kakinya makin mendekat sampai jarak di antara mereka hanya tersisa setengah meter. Rasa hangat dari tubuh pria itu menguap, digantikan oleh aura ancaman yang begitu pekat. "Apa-apaan ini?! Kenapa kamu yang ada di sini wearing gaun pengantin ini?! Mana Kania Putri?!"
"Mbak Kania kabur!" jawab Naya tegas, suaranya agak bergetar namun sebisa mungkin dijaganya agar tetap lantang. "Dia kabur tadi pagi jam lima subuh sama mantan pacarnya! Dia menolak perjodohan konyol ini!"
"Kabur?!" Raka mendengus kasar. Wajahnya memerah menahan murka yang mendadak meledak di dadanya. "Lalu kenapa kamu yang naik ke pelaminan, Hah?! Kamu pikir pernikahan keluarga Mahendra ini mainan anak-anak yang bisa kamu gantikan sesuka hatimu?!"
"Bukan saya yang mau, Pak Raka yang terhormat!" bentak Naya akhirnya memuntahkan rasa sesak yang tertahan sejak pagi. Air mata emosi menggenang di pelupuk matanya. "Ibu saya yang memaksa saya! Ibu saya takut keluarga Pak Raka menuntut keluarga kami dan memasukkan Ayah saya ke penjara karena tuduhan penipuan! Ayah saya sedang sakit keras, Pak! Saya tidak punya pilihan lain!"
"Jadi kamu dan keluargamu menipuku?!" Raka memotong cepat dengan nada membentak yang menggelegar di seluruh penjuru kamar. Pria itu maju satu langkah lagi, membuat Naya terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak tiang kayu tempat tidur. Raka mencengkeram tiang kayu di samping kepala Naya, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat intim namun penuh dengan ancaman.
Naya bisa merasakan napas memburu Raka yang menerpa dahi dan pipinya. Aroma sandalwood dan citrus yang tajam kini berbaur dengan hawa amarah yang pekat.
"Dengar ya, Naya Kanindita..." Raka berbisik tepat di depan wajah Naya dengan nada yang sangat tajam dan penuh penekanan. "Keluargamu sudah bermain-main dengan orang yang salah. Perjodohan ini adalah kesepakatan bisnis dan reputasi keluarga besar Mahendra. Kalian pikir kalian bisa membodohiku dengan menukar pengantin secara diam-diam?"
"Saya juga korban di sini!" balas Naya seraya menatap lurus ke dalam mata Raka. Walaupun dadanya bergemuruh hebat karena jarak mereka yang terlalu dekat, Naya menolak untuk terlihat lemah di depan pria yang paling ia benci ini. "Saya tidak pernah sudi menikah dengan pria arogan, sombong, dan tidak punya perasaan seperti Anda! Kalau saya tahu sejak awal calon pengantin Mbak Kania adalah Pak Raka, saya lebih pilih diseret ke kantor polisi daripada harus berdiri di samping Anda!"