NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:733.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Sesampainya di lokasi, Jena kembali memeriksa penampilan Budi dari ujung kepala sampai kaki. Semuanya harus sempurna. Ia kemudian mengambil jam tangan yang kemarin sudah disiapkannya, lalu menyerahkannya kepada Budi.

"Pakai ini."

Budi menerimanya.

"Biar kelihatan makin meyakinkan," jelas Jena.

Setelah itu, Jena mengeluarkan sebuah iPhone dari dalam tasnya.

"Ini juga."

Budi mengernyit. "Buat apa?"

"Pakai! HP kamu itu kacanya retak. CEO datang ke acara penting pakai HP retak? Bisa-bisa penyamaran kita ketahuan sebelum masuk."

Budi geleng-geleng sambil tersenyum. "Detail banget."

"Karena aku nggak mau gagal." Jena kemudian merapikan kerah jas Budi, memastikan rambutnya tetap rapi, lalu tersenyum. Kini benar-benar tidak ada yang terlihat seperti Budi si penjual roti bakar. Laki-laki itu tampak seperti seorang CEO muda yang datang dengan penuh percaya diri. "Nanti kalau ada pertanyaan yang kamu gak bisa jawab, diam saja, biar aku yang jawab. Eh satu lagi. HP kamu, tinggal aja di mobil, jangan sampai nanti bunyi, terus kamu jawab."

Budi hanya mengangguk, keduanya lalu keluar dari mobil.

"Ayo." Budi menatap lengannya yang siap untuk digandeng Jena.

Jena menarik nafas panjang, lalu menggamit lengan Budi. Keduanya berjalan memasuki hotel, menuju hall tempat resepsi.

Semakin dekat dengan pintu masuk, jantung Jena justru semakin berdebar. Ia takut terjadi sesuatu hal tak terduga yang bisa membuatnya malu. Sebenarnya meminta Budi pura-pura jadi pacarnya benar gak sih, sekarang kok ia jadi takut, takut ada yang mengenali Budi.

Budi yang menyadari perubahan ekspresi Jena menoleh. "Tegang amat?"

Jena menghela napas. "Sedikit."

"Kenapa?"

"Takut nanti ada sesuatu yang terjadi."

Budi tersenyum santai. "Tenang, ada aku.”

Jena langsung menoleh. “Emang kamu bisa apa kalau di sana nanti aku dipermalukan?”

Budi terdiam sesaat. “Bisa apa?” ulangnya, seolah sedang berpikir serius.

Jena menunggu jawabannya.

Budi kemudian menyeringai. “Bisa kabur. Hahaha!”

Jena melotot, dan langsung memukul lengan Budi. "Awas kamu ninggalin aku kabur."

"Jadi, kamu juga mau ikutan kabur nanti?"

"Ya iyalah, daripada malu."

"Tenang, aku juara 1 lomba gendong pasangan pas 17 an kemarin. Nanti kamu aku gendong pas kabur."

Jena berhenti melangkah, menatap Budi lama.

"Kenapa, ada yang salah?" Budi mengernyit.

"Bukannya kamu belum nikah ya? Terus... siapa yang kamu gendong?"

"Lombanya cuma dalam mimpi, hahaha..."

"Sialan!" Jena kembali menjotos lengan Budi.

Budi masih tertawa ketika mereka berhenti tepat di depan pintu Hall. Namun sebelum masuk, ekspresinya berubah. Ia menatap Jena lebih serius. "Kita harus tenang. Kalau terjadi sesuatu, kita hadapi sama-sama.”

Jena terdiam. Untuk sesaat, rasa gugup di dadanya sedikit mereda. “Jangan bikin aku malu.”

“Percaya sama aku.”

Begitu memasuki Hall, Jena langsung merasakan jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Ruangan itu penuh dengan tamu. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit, musik mengalun lembut, dan para undangan sibuk berbincang dalam kelompok-kelompok kecil.

Jena menggandeng lengan Budi lebih erat.

Budi menoleh. “Kenapa?”

“Banyak orang.”

“Ya iyalah. Kalau kuburan, baru sepi."

“Aku takut ada yang mengenali kamu."

Budi tersenyum santai. “Berdoa saja semoga gak ada yang mengenali aku. Santai, kalau kita berdua tegang, nanti malah kelihatan mencurigakan.”

Jena terdiam. Benar juga. Ia menarik napas, kemudian memasang senyum terbaiknya. Baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara seseorang memanggil.

“Jena?”

Langkah Jena mendadak terhenti.

Ia menoleh. Sekelompok perempuan dan laki-laki, berdiri tidak jauh dari mereka. Mata Jena langsung membesar. “Ya ampun…" Itu teman-teman lamanya di SMA dan pasangan mereka.

Mereka segera menghampiri.

“Jena! Kamu datang juga!” Silvi memperhatikan penampilan Jena dari atas hingga bawah, lalu beralih pada laki-laki di sampingnya. “Kami kira kamu nggak datang.” Ia memeluk Jena, lalu cipika cipiki sebagai formalitas.

Jena membalas pelukan itu sambil tersenyum. “Mana mungkin aku gak dateng, setelah di grup kemarin konfirmasi kalau mau dateng." Ia berpelukan dengan teman-teman yang lain.

Budi, ia tersenyum, menyalami para laki-laki dan saling berkenalan.

"Eh, ini siapa?" Tatapan Winda tertuju pada Budi yang berdiri di samping Jena.

Jena mulai gugup. “Kenalin,” ucapnya akhirnya. “Ini…” Ia berhenti sesaat, menelan ludah. “Ini pacarku.”

Mata teman-temannya langsung membesar.

“Jadi bener, kamu punya pacar, Jen?" Aleta memperhatikan Budi dari atas hingga bawah.

Teman-teman yang lain juga sama, sibuk memperhatikan penampilan Budi.

Sengaja Budi sedikit pamer jam, biar lebih meyakinkan.

"Jena gitu loh, ya masa jomblo." Jena tersenyum absurd.

“Sejak kapan nih, kok gak pernah posting foto bareng di sosmed?" Winda mulai kepo.

Jena langsung salah tingkah.

“Sudah lama sebenarnya," Budi yang menjawab. "Hanya saja, Jena tak pernah mau posting foto saya, lagi musim pelakor katanya." Ia menatap Jena.

"Ish, posesif kamu, Jen!" Aleta geleng-geleng.

"Soalnya...ganteng banget sih." Jena makin erat memeluk lengan Budi meski sedikit kaku, tersenyum malu-malu. Tak bisa dipungkiri, diantara teman-temanya yang laki-laki, dan para suami temannya, Budi terlihat yang paling ganteng.

"Cie..." Yang lain langsung menyoraki.

"Sekarang udah gak zaman ganteng jadi prioritas, isi dompet lebih penting." Dimas yang dulu pernah naksir Jena dan ditolak, tampak sewot. Padahal di sampingnya, berdiri sang istri.

"Eh, BTW Mas Budi kerja dimana?" tanya Winda yang juga datang bersama suaminya.

Jena langsung menahan nafas, gugup, takut Budi lupa skrip 3 lembarnya kemarin.

“Saya mengelola perusahaan keluarga.” Singkat, tenang dan berwibawa.

Teman-teman Jena langsung saling pandang.

“Perusahaan keluarga?” ulang Silvi. “Di bidang apa?"

“Investasi dan distribusi.” Budi tampak sangat yakin, membuat aura CEO nya makin tampak nyata.

Jena semakin terkesima. Ternyata dia hafal semuanya. Bahkan intonasinya sama persis seperti yang kemarin mereka latihan.

“Pantas disembunyikan, ternyata selain ganteng, juga kaya," celetuk Aleta. "Kalian serasi banget, cantik dan ganteng, terus sama-sama kaya."

“Iya, kalian cocok banget!” Suami Winda menimpali. "Ngomong-ngomong, nama perusahaannya apa ya? Kali aja, ada kerja sama bisnis dengan perusahaan tempat saya kerja? Soalnya, wajah Budi ini kayak familiar."

Deg

Jantung Jena seperti berhenti berdetak. Mampus kalau sampai suami Winda ternyata pelanggan roti bakarnya Budi. Wajahnya langsung pucat.

"Aruna grup." Budi mengusap punggung tangan Jena, seolah ingin menenangkan dan bilang kalau semuanya pasti baik-baik saja.

"Aruna grup?" Dimas mengerutkan kening. "Kok aku gak pernah denger nama perusahaan itu?"

Jena rasanya mau mati berdiri. Dimas juga anak orang kaya, dia pasti tahu beberapa perusahaan besar dan tahu namanya.

Budi tersenyum. "Ada ribuan perusahaan di Indonesia, Bro. Ngopi lo kurang jauh kayaknya."

Ekspresi Dimas langsung berubah kesal.

"Udah mau dimulai acaranya, kita nyari tempat duduk yuk!" Ajak Aleta.

Jena bernafas lega. Kali ini, ia harus memastikan tidak berada dalam 1 meja dengan Dimas. Ternyata cowok itu tidak berubah, tetap menyebalkan sejak SMA dulu.

"Sayang, duduk." Budi menarikkan kursi untuk Jena.

"Makasih."

Jena langsung duduk, dan sialnya, Dimas begitu cepat menarik kursi di meja yang sama. Round table tersebut, di kelilingi 8 kursi, ada Jena dan Budi, Dimas, Winda, Aleta, dan pasangan mereka masing-masing.

“Kayaknya udah serius, Jen. Kapan rencana nyusul Raka?" tanya Winda.

Jena yang baru meneguk minuman, hampir tersedak gara-gara pertanyaan itu. "E..." Soal ini, tak ada ia bahas dengan Budi.

"Doakan saja secepatnya." Budi menggenggam tangan Jena yang ada di atas meja, menoleh padanya. "Aku terserah Jena. Kapan pun dia siap dilamar, aku pasti langsung datang."

"Ya ampun...So sweet banget sih." Winda yang memperhatikan cara Budi menatap Jena, ikut baper.

"Jen, Budi udah siap tuh! Emang mau nunggu apa lagi, umur juga udah otw 30," ujar Aleta.

Jena menunduk, wajahnya memerah.

"Emang kenapa kalau umur 30?" tanya Budi. "Emang pernikahan itu lomba ya, yang cepat yang menang? Aku dan Jena sih santai saja, menikmati hubungan kami. Buru-buru menikah, kalau ujungnya cerai juga buat apa? Sayang modal nikahnya, iya gak sih?" Ia tersenyum.

"Tapi kan, sebagai perempuan, ada masa suburnya, masa dimana mereka bisa punya anak. Usia 35 sudah gak disarankan hamil lagi loh," ujar Winda.

"Emang tujuan nikah cuma punya anak ya?" Budi mengedarkan pandangan pada teman-teman Jena. "Terus kalau tujuan itu tak tercapai gimana? Hati-hati saat menentukan tujuan menikah. Takutnya, saat tujuan itu tak terdapai, pernikahannya bubar." Ia tersenyum sambil geleng-geleng. "Aku sih gak ada mikir kesana ya. Bagiku, nikah itu untuk bahagia, tujuan utamanya adalah bahagia, bukan anak."

Yang lain langsung kicep, tak lagi bicara.

Jena tersenyum puas melihat ekspresi teman-temannya.

1
sikepang
klo cinta ngapain ke tempat yg ada LC y trus jumpa sama si Juwita, kena jampi² kn jdi y. nyesal gda gunanya pak 🤣
Patrish
iya..memang seperti itu....bertahan hanya untuk anak
Ila Lee
/Sob//Sob//Sob/sudah ya Andika sudah ada rancangan masa tua bersama Bu asri/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Ila Lee
jgn lh jena sindit2 dara terus ingat Din perut mu ada Baby nanti Baby mu ikon peragai mamanya yg tak bagus jfi waktu hamil lakukan kn yg baik yg mematahkan kn jena sudah dewasa dara masih kecil sebagai kakak beri peratuan walau cuma bertegur sapa gitu kn masih keluarga😍😍😍😍
🌷Vnyjkb🌷
bu asri,, Berbahagialah dg benar tanpa ada ganjalan lagi,,, racun d hidupmu sdh lenyap,, sambut cucu dg tubuh yg sehat dan hati penuh sukacita❤️❤️❤️
🌷Vnyjkb🌷
horee horeeeee👏👏👏👏👏❤️❤️ aku tumpengan aahhhhh😜😜😜
🌷Vnyjkb🌷
benarrrr jennn,,,,👍👍 aku aja bayangin hancurnya hati bu asri saat tahu juwi hamil, bahkan sampai milik 2 anak dg andika, meski nau bkn anak andika, apa gak menderita batin saat itu mamamu jen
🌷Vnyjkb🌷
hoeeekkkkkk,,, readers gada yg Percaya!!! cinta abal² d banggakan!!! ingat! ketika km sllu plg k rmh juwi, bu asri merasakan tdk ada arti dan tdk ada harga d matamu!!!
Ila Lee
Andika sekarang jgn lupa warisan tu cucu mu otw tu🤣🤣🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
hooeeekkkkk,,, penyakit kambuhan kyk kamu tu! ada juwi yg lain yaaa km sosor lg!! 😜😜
🌷Vnyjkb🌷
nahhhhhhh momen ini ingatttt jen,, bu asri sdh menahan dg tabah hya utk kamu
🌷Vnyjkb🌷
😜😜asri ada cucu, mantu, anak,, cukuppppp menemani hari² nya,,, laaaa kamuuu??? cari juwi tu, kan km belaaa , km tungguin mulu sebelumnya!!
🌷Vnyjkb🌷
👏👏👏👍👍👍❤️❤️
🌷Vnyjkb🌷
BIG NO Jennnnn!!!! cukuppppp kalian memderita dulu,,, jgn sampai km dan mamamu ngalami lg!!! org kyk bapakmu itu psti Kumat!!!!
🌷Vnyjkb🌷
tuu kaann, bapakmu gak bisa tulus!!! nafsu yg mimpin hidupnya!!
🌷Vnyjkb🌷
maksutnya jennn?? mama mu sdh nahan bertahun tahun looo, tentu bkn keputusan cerai terburu ,sdh d pikirrrr jauuhhhh
🌷Vnyjkb🌷
👏👏👏sukurrrrrrrr,,,, salah sendiri, cinta istri d tukar nafsu, tdk bertobat ee malah d nikahi dan beranak pulaaa, istri mn yg gak sakit ati,,, istri bkn malaikat, pya ambang batas, memaafkan iya, krn ingat masalalu dan anak, tp Kembali yg psti big no!!!
🌷Vnyjkb🌷
👏👏👏👏👏yessss, cpt Ketok Palu, torrrrrr🤭
🌷Vnyjkb🌷
kok baruuu sekaranggg, yg lalu mau ngasih warisan aja hrs dg syarat,, dihhhh krn mau d buang lu sm bu asri, 😜
Ari Atik
ala..

mulut lelaki,lamis banget pak.😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!