NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — Di Antara Kesibukan dan Perhatian

Suara alarm dari ponsel Alisha membangunkannya ketika langit di luar jendela masih tampak sedikit gelap. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, ia meraih ponsel di samping tempat tidur, lalu mematikan alarm sebelum suara itu mengganggu penghuni rumah lainnya.

Alisha duduk di tepi ranjang sambil mengumpulkan kesadarannya. Hari ini ia memiliki jadwal kerja yang cukup padat di Sweet Morning Bakery. Beberapa pesanan kue untuk acara keluarga harus diselesaikan sebelum siang, sementara sore harinya ia berencana mengunjungi ibunya di rumah sakit.

Ia mengembuskan napas pelan, kemudian bangkit untuk bersiap.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian kerjanya, Alisha memeriksa tas kecil yang biasa dibawanya. Dompet, ponsel, kartu identitas, dan catatan pengeluaran rumah sakit sudah berada di tempatnya.

Ia hampir melangkah keluar kamar ketika teringat sesuatu.

"Obat Ibu," gumamnya.

Alisha mengambil ponselnya dan membuka pesan dari pihak rumah sakit. Ia membaca kembali informasi mengenai jadwal pemeriksaan Ratih, memastikan tidak ada perubahan waktu.

Barulah setelah merasa semuanya aman, ia keluar kamar.

Saat tiba di ruang makan, ia mendapati Adrian sudah duduk di sana. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang masih terlipat sampai siku. Sebuah laptop terbuka di hadapannya, sementara secangkir kopi berada di dekat tangan kanannya.

Adrian tampak serius membaca beberapa dokumen.

"Selamat pagi," sapa Alisha.

Adrian mengangkat pandangan. "Pagi."

Alisha meletakkan tasnya di kursi, kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.

"Kamu berangkat sekarang?" tanya Adrian.

"Iya. Hari ini pesanan di toko cukup banyak."

Adrian melirik jam tangannya. "Kamu sudah sarapan?"

"Belum. Aku baru mau mengambil sesuatu."

"Duduklah dulu."

Alisha menoleh. "Kenapa?"

"Makan dulu sebelum berangkat."

Alisha menatapnya selama beberapa detik. Ia tidak menyangka Adrian akan mengingatkan hal sesederhana itu lagi.

"Aku bisa makan nanti di toko."

"Kalau pekerjaanmu sibuk, belum tentu kamu punya waktu."

Nada bicara Adrian terdengar datar seperti biasanya. Ia bahkan sudah kembali melihat layar laptopnya setelah menyelesaikan kalimat tersebut.

Alisha akhirnya duduk.

"Baiklah. Aku makan sedikit."

Mereka menikmati sarapan dalam suasana yang relatif tenang. Sesekali Adrian menjawab pesan di ponselnya, sementara Alisha menghabiskan roti yang disiapkan untuknya.

Ketika Alisha hendak mengambil segelas air, ia melihat cangkir kopi Adrian hampir kosong.

"Kamu cuma minum kopi?" tanyanya.

Adrian menghentikan gerakan tangannya. "Aku sudah makan."

"Kapan?"

"Tadi."

Alisha mengangguk kecil. Ia tidak tahu apakah jawaban itu benar atau Adrian hanya ingin segera mengakhiri percakapan.

Namun, sebelum berangkat, ia berkata, "Jangan terlalu sibuk sampai lupa makan."

Adrian mengangkat wajahnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia tidak segera memberikan jawaban.

"Kamu juga," balasnya akhirnya.

Alisha tersenyum tipis. "Iya."

Setelah berpamitan, Alisha meninggalkan rumah.

Adrian kembali menatap laptopnya. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, ia menyadari bahwa ia masih memikirkan percakapan singkat tadi.

Ia menggeleng pelan, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Tidak ada yang istimewa dari percakapan mereka. Setidaknya, itulah yang berusaha ia yakini.

---

Di Sweet Morning Bakery, suasana sudah ramai ketika Alisha tiba.

Mira sedang memeriksa daftar pesanan, sedangkan Rani sibuk menyiapkan beberapa kotak kue yang harus segera dikirim.

"Alisha, akhirnya datang juga!" seru Mira ketika melihatnya. "Aku butuh bantuanmu memeriksa pesanan ini."

Alisha segera menyimpan tasnya di ruang belakang.

"Pesanan yang mana?"

"Yang untuk acara ulang tahun. Ada dua ukuran kue, tapi aku takut labelnya tertukar."

Alisha menghampiri meja kerja dan mulai memeriksa catatan pesanan satu per satu.

"Yang ini seharusnya ukuran dua puluh sentimeter," katanya sambil menunjuk salah satu kotak. "Sedangkan yang ini ukuran dua puluh lima."

Mira memeriksa catatannya.

"Aduh, benar. Untung kamu lihat."

"Makanya harus diperiksa sebelum dikirim."

Rani yang sedang lewat membawa beberapa kotak langsung tertawa kecil.

"Kalau Alisha sudah memegang daftar pesanan, semuanya pasti diperiksa sampai tiga kali."

"Bukan tiga kali," jawab Alisha. "Kadang empat kali kalau pesanannya banyak."

Mereka tertawa bersama sebelum kembali bekerja.

Menjelang siang, pesanan semakin bertambah. Alisha membantu menghias kue, memeriksa pesanan pelanggan, dan memastikan tidak ada kesalahan pada kemasan.

Karena terlalu sibuk, ia bahkan hampir tidak menyadari ketika ponselnya bergetar di dalam tas.

Baru setelah pekerjaan sedikit mereda, ia mengambil waktu untuk memeriksanya.

Ada satu pesan dari Adrian.

Adrian: Bagaimana pekerjaanmu hari ini?

Alisha mengerutkan kening sebentar. Mereka memang beberapa kali bertukar pesan mengenai pekerjaan dan jadwal ibunya, tetapi Adrian jarang menanyakan kegiatannya tanpa alasan tertentu.

Ia kemudian membalas.

Alisha: Lumayan sibuk. Banyak pesanan yang harus diselesaikan.

Balasan Adrian datang beberapa menit kemudian.

Adrian: Sudah makan siang?

Alisha memandang layar ponselnya, lalu tanpa sadar tersenyum kecil karena teringat sarapan tadi.

Alisha: Belum. Sebentar lagi.

Adrian: Jangan ditunda terlalu lama.

Alisha mengetik balasan singkat.

Alisha: Iya, Pak CEO.

Ia mengirim pesan itu sambil menahan tawa kecil.

Di kantor, Adrian yang baru selesai membaca laporan sempat terdiam ketika melihat balasan tersebut.

Pak CEO?

Sudut bibirnya hampir terangkat, tetapi ia segera mengembalikan ekspresinya seperti semula.

"Sepertinya dia mulai berani bercanda," gumamnya.

Daniel yang baru masuk membawa beberapa dokumen mendengar ucapan itu.

"Maaf, Pak. Anda mengatakan sesuatu?"

"Tidak."

Daniel meletakkan dokumen di atas meja.

"Ini laporan yang Anda minta. Ada beberapa bagian yang perlu ditandatangani sebelum rapat sore."

Adrian mengangguk dan kembali bekerja.

Sementara itu, Alisha benar-benar berhenti sejenak untuk makan siang. Ia tidak ingin Adrian kembali mengingatkannya tentang hal yang sama.

Bukan karena ia merasa harus mematuhi semua perkataan pria itu, melainkan karena ia tahu melewatkan makan siang akan membuat tubuhnya cepat lelah.

Setelah selesai makan, ia kembali bekerja dengan lebih tenang.

Di sela-sela pekerjaannya, Alisha sempat duduk bersama Mira dan Rani saat mereka mendapat waktu istirahat singkat.

"Kamu kelihatan sibuk sekali akhir-akhir ini," ujar Rani sambil membuka botol minumnya. "Selain pekerjaan, kamu juga harus mengurus jadwal ibumu."

Alisha mengangguk. "Iya, tapi aku masih bisa mengaturnya. Aku hanya perlu lebih teliti soal waktu dan pengeluaran."

Mira menatapnya dengan penuh perhatian.

"Kalau ada yang bisa kami bantu, bilang saja. Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian."

Alisha tersenyum tulus.

"Terima kasih. Aku senang punya teman seperti kalian."

"Sudah, jangan sampai menangis. Nanti kuemu ikut asin," canda Rani.

Alisha langsung tertawa.

Suasana sederhana itu membuat pikirannya yang sejak pagi dipenuhi berbagai tanggung jawab terasa sedikit lebih ringan. Setelah waktu istirahat selesai, ia kembali bekerja dengan semangat baru.

---

Sore harinya, Alisha menerima telepon dari rumah sakit.

Ia segera menjauh dari area pelayanan agar dapat mendengar percakapan dengan jelas.

"Selamat sore, apakah benar ini keluarga Ibu Ratih Amanda?" tanya petugas di seberang telepon.

"Iya, benar. Saya anaknya."

Petugas tersebut mengonfirmasi jadwal pemeriksaan Ratih dan mengingatkan Alisha untuk membawa beberapa dokumen yang diperlukan.

Alisha mencatat semuanya dengan teliti.

"Baik, Bu. Terima kasih atas informasinya."

Setelah panggilan berakhir, ia memandangi catatannya sejenak.

Ia bersyukur kondisi ibunya berangsur membaik, tetapi pemeriksaan dan pengobatan tetap membutuhkan biaya. Setiap kali ada jadwal baru, ia selalu berusaha mengatur pengeluaran agar kebutuhan lainnya tidak terbengkalai.

"Alisha?"

Suara Mira membuatnya tersadar.

"Kamu tidak apa-apa?"

Alisha memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Tidak apa-apa. Tadi pihak rumah sakit mengingatkan jadwal pemeriksaan Ibu."

"Sudah ada tanggal pastinya?"

Alisha mengangguk.

"Sudah. Aku harus mengatur jadwal kerja supaya bisa menemani Ibu."

"Kalau kamu perlu bertukar jadwal, bilang saja," ujar Mira. "Kita bisa coba mengaturnya."

Rani yang ikut mendengar percakapan mereka juga mengangguk.

"Iya. Jangan memaksakan diri mengerjakan semuanya sendirian."

Alisha merasa hangat mendengar ucapan kedua temannya.

"Terima kasih. Aku akan memberi tahu kalian kalau memang perlu."

Ia kembali bekerja dengan perasaan sedikit lebih ringan.

Setidaknya, ia tidak benar-benar sendirian menghadapi semua tanggung jawabnya.

---

Di kantor Mahendra Group, hari Adrian berjalan jauh lebih padat daripada biasanya.

Sejak pagi, ia menghadiri rapat dengan beberapa kepala divisi, memeriksa laporan keuangan, dan menyelesaikan sejumlah dokumen yang membutuhkan persetujuannya.

Ketika jam kerja seharusnya hampir berakhir, Daniel kembali masuk ke ruangannya.

"Pak, rapat dengan tim pengembangan bisnis besok dimajukan menjadi pukul delapan tiga puluh."

Adrian mengangkat wajah.

"Siapa yang meminta perubahan?"

"Pak Surya. Ada beberapa hal yang ingin diselesaikan sebelum beliau melakukan perjalanan dinas."

"Baik. Kirimkan jadwal terbarunya."

Daniel mencatat instruksi tersebut.

"Selain itu, ada laporan yang masih menunggu persetujuan Anda. Kalau ingin menyelesaikannya hari ini, kemungkinan Anda baru bisa pulang sedikit lebih malam."

Adrian melirik tumpukan dokumen di atas meja.

"Letakkan di sini."

"Baik, Pak."

Setelah Daniel keluar, Adrian kembali menekuni pekerjaannya.

Ia terbiasa bekerja sampai larut malam. Baginya, menyelesaikan tanggung jawab merupakan hal yang tidak bisa ditawar.

Namun, kali ini ia beberapa kali berhenti untuk meregangkan bahu dan memijat pelipisnya.

Ia hanya kurang tidur selama beberapa hari terakhir. Tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan hal itu.

Setidaknya, begitu pikirnya.

Menjelang malam, Adrian akhirnya menutup laptop dan merapikan dokumen yang tersisa.

Saat mengambil ponselnya, ia melihat pesan Alisha yang dikirim beberapa menit sebelumnya.

Alisha: Aku pulang sedikit terlambat. Ada pesanan yang harus dibereskan. Kalau kamu sudah makan, tidak perlu menungguku.

Adrian membaca pesan itu dua kali.

Ia kemudian mengetik balasan.

Adrian: Baik. Hati-hati di jalan.

Ia sempat ingin menambahkan pertanyaan tentang apakah Alisha sudah makan, tetapi urung melakukannya. Ia tidak ingin mengganggu istrinya yang sedang bekerja.

Setelah memasukkan ponsel ke saku, Adrian berdiri dan mengambil jasnya.

Akan tetapi, ketika keluar dari ruangan, ia menyadari tubuhnya terasa lebih lelah daripada yang ia perkirakan.

Ia berhenti sebentar di depan lift, lalu menarik napas panjang.

Mungkin ia hanya perlu tidur lebih awal malam ini.

---

Alisha tiba di rumah ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam.

Ia meletakkan tas di kamar, mengganti pakaian, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum.

Saat melewati ruang makan, ia melihat Adrian sedang duduk dengan beberapa dokumen di atas meja.

"Kamu belum tidur?" tanyanya.

Adrian menoleh.

"Baru selesai bekerja."

Alisha memperhatikan wajahnya sekilas.

"Kamu kelihatan capek."

"Hanya banyak pekerjaan."

"Kamu sudah makan malam?"

"Sudah."

Alisha mengangguk, lalu menuangkan air ke dalam gelas.

Ia tidak bermaksud mencampuri urusan Adrian. Namun, karena mereka tinggal di rumah yang sama, sulit baginya untuk tidak menyadari keadaan pria itu.

"Kamu jangan terlalu sering tidur larut," katanya sambil meletakkan kembali gelas ke tempatnya. "Nanti malah sakit."

Adrian menatapnya.

"Kamu selalu mengatakan itu akhir-akhir ini."

Alisha mengangkat bahu.

"Karena kamu memang sering bekerja sampai malam."

"Aku sudah terbiasa."

"Terbiasa bukan berarti bagus."

Adrian terdiam sejenak.

Jawaban itu mengingatkannya pada percakapan mereka saat sarapan. Alisha tidak pernah berbicara dengan cara yang dibuat-buat. Ia menyampaikan apa yang menurutnya benar, kemudian melanjutkan kegiatannya tanpa menunggu Adrian memberikan tanggapan.

Anehnya, Adrian tidak merasa terganggu.

"Baiklah," jawabnya akhirnya. "Aku akan berusaha tidur lebih awal."

Alisha mengangguk puas.

"Bagus. Aku mau istirahat dulu. Besok aku harus bangun pagi lagi."

"Alisha."

Perempuan itu berhenti sebelum menaiki tangga.

"Ya?"

"Bagaimana jadwal pemeriksaan ibumu?"

Alisha sedikit terkejut karena Adrian masih mengingatnya.

"Minggu depan. Pihak rumah sakit tadi menelepon untuk mengonfirmasi."

"Kamu sudah mengatur jadwal kerja?"

"Belum. Aku akan membicarakannya dengan teman-teman besok."

Adrian mengangguk pelan.

"Kalau kamu kesulitan mengatur waktu, beri tahu aku."

Alisha memandangnya sebentar.

"Baik. Terima kasih."

Setelah itu, ia melanjutkan langkah menuju kamarnya.

Adrian kembali melihat dokumen di hadapannya, tetapi perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada pekerjaan.

Ia mulai mengetahui jadwal Alisha, mengingat kebiasaannya, dan tanpa sadar memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah dianggap penting.

Ia tahu kapan Alisha biasanya berangkat kerja. Ia tahu perempuan itu sering mengkhawatirkan kesehatan ibunya. Bahkan, ia mulai menyadari bahwa Alisha kerap lupa makan ketika pekerjaannya sedang menumpuk.

Semua itu terjadi begitu saja.

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Mungkin karena mereka tinggal bersama, ia hanya perlu memahami kebiasaan orang yang berbagi rumah dengannya.

Tidak lebih dari itu.

Ia mengambil dokumennya kembali, berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaan yang belum selesai.

---

Di kamarnya, Alisha sedang mengatur alarm untuk keesokan pagi. Setelah memastikan jadwalnya, ia menelepon Ratih untuk menanyakan kondisi ibunya.

Percakapan mereka berlangsung singkat, tetapi cukup membuat Alisha merasa lebih tenang.

"Ibu baik-baik saja, Nak. Kamu juga jangan terlalu lelah," pesan Ratih melalui telepon.

"Iya, Bu. Alisha akan jaga kesehatan."

Setelah mengakhiri panggilan, Alisha meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur.

Sebelum memejamkan mata, ia kembali melihat layar ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Adrian dan membaca pesan singkat yang dikirim pria itu sore tadi.

Hati-hati di jalan.

Alisha tersenyum tipis. Pesan itu sederhana, bahkan mungkin tidak berarti banyak bagi Adrian. Namun, ia mengakui bahwa suaminya belakangan ini lebih sering menanyakan keadaannya.

"Sepertinya dia memang mulai terbiasa denganku," gumamnya pelan.

Ia kemudian meletakkan ponsel di meja samping tempat tidur.

Bagi Alisha, hubungan mereka tetaplah sebuah pernikahan yang memiliki batasan. Ia tidak ingin salah mengartikan perhatian kecil Adrian, apalagi berharap sesuatu yang sejak awal tidak pernah dijanjikan pria itu kepadanya.

"Aku hanya perlu menjalani semuanya dengan baik," bisiknya sebelum menarik selimut.

Tak lama kemudian, Alisha memejamkan mata. Ia berharap esok hari berjalan lancar agar bisa menyelesaikan pekerjaannya dan memiliki waktu untuk menemani Ratih.

Namun, sebelum benar-benar tertidur, pikirannya sempat kembali pada percakapan singkat mereka di ruang makan.

Adrian memang masih sulit ditebak. Pria itu tetap pendiam, serius, dan lebih sering menunjukkan perhatiannya melalui tindakan kecil daripada kata-kata.

Alisha tidak ingin memikirkan hal itu terlalu jauh.

Baginya, selama mereka bisa saling menghormati dan menjalani pernikahan tanpa masalah, semuanya sudah cukup.

Alisha belum memiliki perasaan romantis kepada suaminya. Ia hanya berharap mereka dapat menjalani kehidupan bersama dengan tenang sampai masa perjanjian itu berakhir.

---

Keesokan paginya, Adrian bangun lebih awal daripada biasanya. Setelah bersiap untuk berangkat ke kantor, ia melewati ruang makan dan melihat secarik kertas kecil di atas meja.

Kertas itu berisi daftar belanja yang ditulis Alisha, mulai dari bahan makanan hingga beberapa kebutuhan rumah tangga.

Adrian mengambilnya sekilas, lalu meletakkannya kembali di tempat semula.

Ia baru menyadari bahwa selama ini Alisha cukup teliti mengurus berbagai hal di rumah. Meskipun sibuk bekerja dan memikirkan kesehatan ibunya, perempuan itu tetap berusaha memastikan kebutuhannya sendiri tidak terbengkalai.

Ketika Daniel datang menjemputnya, Adrian mengambil tas kerjanya.

"Pak, apakah kita langsung ke kantor?" tanya Daniel.

"Ya. Ada rapat pukul sembilan, bukan?"

"Benar, Pak."

Adrian melangkah keluar rumah. Namun, sebelum masuk ke mobil, ia sempat menoleh ke arah pintu rumah yang masih tertutup.

Ia teringat bahwa Alisha biasanya berangkat tidak lama setelah dirinya.

Entah mengapa, ia berpikir untuk mengingatkannya agar berhati-hati di jalan nanti. Akan tetapi, ia segera mengurungkan niat itu karena merasa Alisha sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri.

"Pak Adrian?" panggil Daniel ketika melihat atasannya terdiam.

Adrian tersadar. "Ada apa?"

"Tidak ada, Pak. Saya hanya memastikan Anda siap berangkat."

"Ayo."

Mobil pun mulai meninggalkan halaman rumah.

Adrian kembali memusatkan pikirannya pada pekerjaan, tanpa menyadari bahwa belakangan ini ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang berkaitan dengan Alisha, bahkan ketika perempuan itu tidak berada di dekatnya.

Sementara itu, Alisha sedang dalam perjalanan menuju Sweet Morning Bakery. Ia duduk di dalam angkutan sambil memeriksa daftar pesanan yang harus diselesaikannya hari itu. Ia menghitung waktu dalam pikirannya, memastikan tidak ada pekerjaan yang terlewat.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Adrian muncul di layar.

Adrian: Jangan lupa kabari aku kalau kamu perlu pulang lebih awal untuk menemani ibumu.

Alisha membaca pesan itu dengan sedikit heran. Ia tidak menyangka Adrian masih mengingat pembicaraan mereka semalam.

Alisha: Iya, aku akan mengabari kamu kalau memang diperlukan. Terima kasih.

Setelah mengirim balasan, Alisha menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.

"Dia sebenarnya tidak seburuk yang kukira," gumamnya pelan.

Namun, ia segera menggeleng kecil.

Bukan berarti Adrian tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang dekat dengannya. Pria itu tetap pendiam dan terkadang sulit ditebak. Hanya saja, belakangan ini Adrian mulai menunjukkan perhatian melalui hal-hal sederhana.

Alisha tidak ingin memikirkan itu terlalu jauh.

Baginya, selama mereka bisa saling menghormati dan menjalani pernikahan tanpa masalah, semuanya sudah cukup.

Ketika angkutan yang ditumpanginya berhenti di dekat toko roti, Alisha segera turun dan merapikan tasnya.

Ia menarik napas panjang sebelum memasuki Sweet Morning Bakery.

Hari baru telah dimulai, dan masih banyak hal yang harus diselesaikannya.

---

Di sisi lain rumah, Adrian akhirnya menutup dokumen terakhirnya pada malam sebelumnya.

Sebelum menuju kamar, ia sempat memeriksa ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan baru dari Alisha.

Ia mematikan lampu ruang kerja, lalu berjalan menuju kamarnya sendiri.

Malam itu, keduanya kembali beristirahat di kamar yang berbeda.

Tidak ada percakapan panjang, tidak ada janji baru, dan tidak ada perubahan besar dalam hubungan mereka.

Namun, tanpa disadari Adrian, ia mulai memberikan perhatian yang dahulu tidak pernah masuk ke dalam daftar kesibukannya.

Dan tanpa disadari Alisha, kebiasaan kecil itu perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!