Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Pertama di Atas Kaca
Suara pintu Ruang Mediasi 2 yang tertutup rapat bergema dingin di telinga Arini. Ia masih terduduk kaku di atas kursi kayu, menatap kosong ke arah gagang pintu tempat Dimas baru saja melangkah keluar.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan kecil itu. Hakim Mediator memandang Arini dengan sorot mata yang dipenuhi keprihatinan mendalam—bukan keprihatinan atas perceraian itu, melainkan rasa iba pada seorang wanita yang begitu gigih memanggul keangkuhannya di atas pondasi rapuh yang siap runtuh kapan saja.
"Ibu Arini..." tegur Hakim Mediator dengan suara lembut namun tegas. "Proses mediasi hari ini dinyatakan gagal karena Pemohon tetap pada pendiriannya, dan Ibu sendiri tidak menunjukkan iktikad untuk memperbaiki komunikasi secara baik-baik. Berkas perkara akan dikembalikan kepada Majelis Hakim untuk dilanjutkan ke sidang pembacaan permohonan."
Arini tersentak dari lamunannya. Rasa tersinggung yang luar biasa mendadak menyengat dadanya, membakar sisa-sisa keterpakuannya. Ia menegakkan punggungnya dengan kasar, meraih tas kulit mewahnya di atas meja, lalu berdiri dengan dagu terangkat tinggi.
"Tidak perlu direpotkan, Bu Hakim!" sahut Arini tajam, memaksakan senyum sinis di bibirnya. "Saya juga tidak ada niat sedikit pun untuk mempertahankan pernikahan miskin itu! Biar dia selesaikan sendiri urusan pengadilan ini!"
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Arini memutar tubuhnya dan melangkah lebar keluar dari ruang mediasi. Ketukan sepatu hak tingginya menampar lantai koridor pengadilan dengan ritme yang cepat dan penuh kemarahan. Ia melintasi lorong utama gedung Pengadilan Agama tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan, mengabaikan tatapan mata para pengunjung yang memandangnya heran.
Saat melangkah keluar ke pelataran gedung yang masih basah oleh sisa gerimis pagi, mata Arini menangkap sosok Dimas di kejauhan. Pria itu sedang berdiri di dekat gerbang luar bersama Pak Joko dan Sari.
Dari kejauhan, Arini bisa melihat bagaimana Sari tersenyum lembut seraya menyerahkan kembali helm kepada Dimas, sementara Pak Joko menepuk bahu pria itu dengan raut penuh kebanggaan. Tidak ada aura keputusasaan atau kemelaratan pada diri Dimas—pria itu tampak begitu tenang, tegap, dan bermartabat di tengah kesederhanaannya.
Darah Arini mendidih seketika. Gigi atasnya menggigit bibir bawah hingga terasa perih.
"Lihat saja nanti, Dimas!" jerit Arini di dalam batinnya yang kalut. "Kamu pikir kamu sudah menang hanya karena bisa bersikap sok tegar di depan hakim?! Kamu dan perempuan kampung itu tidak ada apa-apanya dibanding kehidupanku sekarang bersama Rian!"
Dengan amarah yang membakar dada, Arini menyambar ponsel dari tasnya, melangkah menuju tepi jalan raya untuk memesan taksi online. Ia ingin secepatnya kembali ke unit apartemen Green Heights Residence—tempat di mana ia merasa menjadi ratu, tempat di mana seluruh kemewahan yang ia pamerkan di ruang sidang tadi menemukan pembuktiannya.
Satu jam kemudian, mobil taksi yang ditumpangi Arini berhenti di pelataran megah apartemen Permata Hijau. Arini melangkah keluar, membayar ongkos tanpa meminta kembalian untuk menunjukkan kelas sosialnya, lalu melangkah mantap melintasi lobi yang harum dan sejuk.
Namun, begitu ia melangkah keluar dari pintu lift di lantai dua belas dan berjalan menyusuri koridor menuju unit 1204, langkah kakinya mendadak terhenti kaku.
Di depan pintu kayu mahoni unit apartemennya, berdiri tiga orang pria berbadan tegap mengenakan kemeja batik kusam dan celana bahan hitam. Dua di antaranya memegang kertas-kertas laporan berkop resmi, sementara satu orang lainnya—seorang pria paruh baya dengan raut wajah keras—sedang berbincang serius dengan dua petugas keamanan apartemen.
Jantung Arini berdegup kencang secara tidak wajar. Ada desiran dingin yang mendadak menyerbu dari telapak kakinya naik ke dada.
"Permisi... ada apa ini?" tanya Arini dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, melangkah mendekati kerumunan itu.
Pria paruh baya berwajah keras itu membalikkan badan, memindai penampilan Arini dari ujung rambut hingga sepatu hak tingginya dengan pandangan menilai yang dingin.
"Apakah Anda Sdri. Arini Wulandari?" tanya pria itu tanpa basa-basi, suaranya berat dan tidak bersahabat.
"I-iya, saya sendiri," jawab Arini gugup, jemarinya meremas tali tas kulitnya erat-erat. "Ada urusan apa ya di depan pintu apartemen saya?"
Pria itu merogoh tas berkasnya, lalu menarik keluar selembar surat resmi bernomor registrasi hukum dan menyodorkannya tepat di hadapan wajah Arini.
"Saya Bambang, perwakilan tim eksekusi dan penagihan dari Bank Optima Perdana," ucap pria itu tegas. "Kami datang untuk menyampaikan Surat Peringatan Ketiga (SP-3) sekaligus pemberitahuan awal penyegelan aset jaminan atas nama kreditor PT Cipta Graha Mandiri."
Wajah Arini seketika memucat pasi. Seluruh warna darah seolah tersedot habis dari paras cantiknya. Kaki yang semula berdiri tegak di atas sepatu hak tinggi itu mendadak gemetar hebat.
"A-apa maksud Anda?!" seru Arini histeris, suaranya melengking meninggi. "Penyegelan?! Ini apartemen milik Rian Pratama! Bapak Rian itu pengusaha sukses! Jangan sembarangan bicara dan menuduh ya!"
Pria bernama Bambang itu terkekeh dingin—sebuah tawa sinis yang menghantam sisa-sisa kesadaran Arini hingga hancur berkeping-keping.
"Bapak Rian Pratama yang Anda sebut sukses itu sudah mangkir dari kewajiban pembayaran cicilan fasilitas jaminan modal kerja selama empat bulan berturut-turut, Bu," terang Bambang tanpa belas kasihan. "Perusahaannya sudah dinyatakan gagal bayar (default), dan seluruh aset operasionalnya sedang dalam proses penyitaan oleh konsorsium bank."
Bambang menunjuk ke bagian bawah lembaran surat peringatan tersebut, tepat pada kolom tanda tangan pihak penjamin perorangan (personal guarantee).
"Dan perlu Anda ketahui, Bu Arini..." lanjut Bambang dengan nada menusuk. "Unit apartemen ini tidak dibeli tunai oleh Pak Rian, melainkan dijadikan jaminan pinjaman atas nama perusahaan. Dan di sini, pada lembar perjanjian perjaminan perorangan yang ditandatangani dua minggu lalu, nama Anda—ARINI WULANDARI—tercatat secara sah sebagai penjamin utama yang bertanggung jawab penuh atas seluruh tunggakan jaminan tempat ini."
Brak!
Dunia di sekitar Arini seolah runtuh seketika. Bunyi berdenging yang sangat pekat memenuhi kedua telinganya. Lembaran kertas yang ditandatanganinya bersama sekretaris Maya dua minggu lalu—lembaran yang ia kira sebagai formalitas fasilitas kemewahan—kini menjelma menjadi jerat gantung yang mencekik lehernya sendiri.
"Tidak... tidak mungkin!" jerit Arini panik, air mata ketakutan mendadak menyeruak dari matanya. Ia merogoh ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat hingga ponsel itu hampir terjatuh ke lantai marmer. "Ini pasti salah paham! Saya akan telepon Rian sekarang! Dia pasti bisa jelaskan semuanya!"
Dengan napas memburu dan dada yang dihantam kepanikan luar biasa, Arini menekan nomor ponsel Rian.
Panggilan tersambung. Suara nada dering terdengar berulang-ulang... satu kali, dua kali, tiga kali... hingga akhirnya suara mesin operator otomatis menjawab dengan nada dingin:
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Arini mencoba lagi. Sekali, dua kali, lima kali. Hasilnya tetap sama.
Ia lalu mencari nomor ponsel Maya, sekretaris pribadi Rian. Namun bernasib sama: nomor wanita itu telah dialihkan dan tidak bisa dihubungi lagi.
Ponsel di genggaman Arini terlepas, jatuh menampar lantai marmer dengan suara klak yang nyaring, membiaskan retakan baru di atas layarnya.
Arini bersandar kaku pada dinding koridor. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, merusak riasan tebal yang pagi tadi ia banggakan di ruang sidang. Kemewahan, gaun mahal, dan kartu kredit berlimit ratusan juta yang beberapa jam lalu ia pamerkan di hadapan Dimas kini menjelma menjadi ilusi beracun yang siap menyeretnya ke dalam jurang kehancuran yang tak bertepi.