"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasanya Seperti Mimpi
Dalam kesederhanaan yang penuh makna, hari ini pernikahan Dimas dan Naina akan digelar. Suasana haru dan bahagia terpancar di sana.
Naina terlihat cantik dan anggun mengenakan kebaya pengantin berwarna putih dan riasan di kepalanya. Wajahnya terlihat manglingi dengan balutan make-up yang sangat pas. Begitu juga Dimas terlihat gagah mengenakan pakaian pengantin khas pria yang juga berwarna putih.
*
Saat semua orang sudah bersiap di ruang tamu, tempat akan dilaksanakan akad, Dimas tampak duduk menyendiri di sudut kamar.
"Semoga tidak ada penyesalan dikemudian hari atas apa yang aku putuskan hari ini." Batin Dimas. Ia terlihat menundukkan kepala, dengan menyanggakan kedua tangannya di lutut.
"Hey, Bro! Kok masih di sini? Acara akan segera di mulai. Penghulu sudah datang." Tiba-tiba Tony menghampiri membuat Dimas sedikit terperanjat.
Dimas berjalan menuju ruang tamu yang sudah ramai orang di ikuti Tony.
"Dimas kenapa, ya. Tumben sekali raut wajahnya kaya gitu?" Batin Tony menangkap ada yang beda dari sahabatnya itu. "Ah! Mungkin efek gugup karena sebentar lagi akan melaksanakan ijab qabul." Tepis Tony.
****
Sekarang Dimas dan Naina duduk bersebelahan.
Dimas terlihat tegang wajahnya karena sebentar lagi ia akan segera mengucapkan kalimat sakral pernikahan.
*
"SAH!" Ucap para saksi bersamaan setelah ijab qobul berhasil di ucapkan Dimas dengan satu nafas.
"Alhamdulillah..." Sambung orang-orang di sana yang menghadiri pernikahan Dimas dan Naina.
Setelah kalimat sakral itu terucap, dan kini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri, Naina menyalami tangan Dimas, dengan gemetar tangan Dimas mengusap pelan kepala Naina. Ada perasaan haru, dan kecemasan disana.
Walau ini acara kecil-kecilan dan hanya mengundang beberapa tetangga dan tekan kerja tapi semua berjalan hikmat.
"Mbak doain kamu bahagia ya, Sayang. Semoga kalian jadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah." Ucap Sofia memegang tangan Naina.
Naina meneteskan air mata. "Aamiin. Terimakasih banyak, Mbak."
"Semoga mas Dimas bisa jadi suami yang baik untuk kamu." Sambung Sofia lagi dengan melirik Dimas dan di balas anggukan oleh pria itu.
Hari semakin sore, acara sudah usai. Tamu pun sudah tidak ada lagi. Tinggal beberapa orang catering yang memang ditugaskan mengurus semua sampai selesai, dari per-laukan sampai perabotan konsumsi, juga beberapa saudara dari kedua mempelai yang terlihat membantu membereskan sisa acara.
Hingga semuanya benar-benar kelar, satu persatu saudara-saudara Sofia, Tony dan Dimas berpamitan.
Tak lupa Dimas dan Naina menyalami semuanya dan mengucapkan terimakasih.
***
Di kamar...
"Nai..." Panggil Sofia lembut pada Naina yang sedang duduk di bibir kasur.
"Iya, Mbak." Jawab Naina, segera membalikkan badan.
Sofia memegang kedua pundak Naina, "Semoga setelah ini kamu menemukan kebahagiaan kamu ya, Nai."
"Terimakasih ya, Mbak." Naina memeluk Sofia erat.
"Kalau ada apa-apa, atau kamu perlu teman cerita, Mbak selalu ada buat kamu." Ucap Sofia yang seolah merasa sangat khawatir.
Naina menggangguk. "Sekali lagi terimakasih banyak ya, Mbak."
Dimas datang, ia mengetuk pintu yang tidak tertutup. Dimas terlihat canggung. Sofia lantas menghampiri.
"Aku titip Naina ya, Mas Dimas." Ucap Sofia dengan tatapan penuh harap.
Dimas melirik Naina, dan kemudian ia menggangguk.
"Ayo bersiap, sebentar lagi kita mau berangkat." Ucap Dimas pada Naina.
***
Malam semakin larut, kini tinggal keluarga inti saja. Dimas berpamitan pada Ayah dan Ibunya serta Tony dan Sofia untuk membawa Naina ke sebuah hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya untuk berbulan madu.
"Aku dan Naina berangkat dulu." Ucap Dimas dengan wajah merahnya.
"Iya. Semoga Ayah cepat dapat cucu." Ucap pak Bandi yang sedari tadi nampak sekali bahagianya. Yang lain pada cengar-cengir mendengar ucapan pak Bandi.
"Hati-hati ya, Nak." Ucap bu Ais mencium Dimas dan Naina bergantian.
"Happy honeymoon." Ucap Sofia saat tiba gilirannya di salami pasutri itu.
"Sukses, ya, Bro!" Tony memeluk Dimas."
Naina sedikit salah tingkah saat tangan Dimas menggandeng tangannya menuju mobil yang sudah di hiasi bunga-bunga bagian depannya.
Dimas mempersilahkan Naina masuk dengan membukakan pintu mobil. Setelah Naina masuk ia pun menyusul masuk melalui pintu kemudi.
Mesin mobil di nyalakan kemudian melaju secara perlahan di ikuti lambaian tangan dari pak Bandi, bu Ais, Tony dan juga Sofia.
Kemana Mahrez? Mahrez sudah tidur sejak tadi sore.
*****
Di dalam mobil Dimas dan Naina diam-diaman. Canggung. Tidak tau apa yang harus di obrolkan.
Pertemuan singkat itu malah mempersatukan mereka untuk menjadi pasangan suami istri. Siapa sangka.
Tapi, inilah takdir. Jodoh, rejeki, maut... tidak ada yang tau.
*
"Kamu laper?" Tanya Dimas memecah keheningan.
"Tidak juga. Tidak bisa makan rasanya."
"Kenapa?"
Ingin menjawab, 'saking senangnya' tapi kata-kata itu tidak bisa di ucapkan Naina. "Tidak apa-apa, Mas." Jawabnya kemudian.
"Yasudah. Nanti makan di hotel saja. Biar lebih relax."
Naina mengangguk.
Dalam keheningan itu, sesekali Naina mencuri pandang pada lelaki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.
"Rasanya seperti mimpi..."