Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Gerbang Hitam
Getaran yang merambat dari Hutan Abyss tadi pagi bukanlah sekadar fenomena alam. Beberapa jam kemudian, pengumuman besar bergema di seluruh penjuru Akademi Arcanova dan Akademi Crimson Crest. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, kedua akademi saingan ini akan mengadakan latihan gabungan di pinggiran Hutan Abyss.
Vivienne berdiri di barisan depan murid Arcanova dengan dagu terangkat tinggi dan tangan terlipat di depan dada. Seragam biru tuanya tampak kontras dengan hutan kelabu yang membentang di hadapan mereka. Di seberang jalan setapak, rombongan Crimson Crest tiba dengan jubah marun mencolok.
“Kebetulan yang sangat menjijikkan,” gumam Vivienne pelan. “Harus berbagi udara dengan anak-anak Crimson Crest yang kasar itu.”
“Oh, ayolah, Vivienne. Jangan terlalu kaku,” suara familier muncul dari belakangnya. Daefiel berjalan santai, menyampirkan lidi sihir di bahunya seolah hendak piknik, bukan memasuki hutan maut. “Bukankah ini kesempatan bagus untuk memamerkan siapa yang lebih unggul? Aku bertaruh mereka akan lari ketakutan saat melihat monster pertama.”
Vivienne meliriknya tajam. “Simpan kesombonganmu, Daefiel. Fokus pada tanda di pergelangan tanganmu. Jangan sampai kau pingsan di tengah hutan karena terlalu banyak bergaya.”
Di sisi lain, rombongan Crimson Crest dipimpin sosok yang tak asing. Lucien Vlad berjalan paling depan, tatapannya lurus dan sedingin es. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Arcanova, seolah kehadiran mereka hanyalah gangguan kecil. Namun, ketika matanya secara tidak sengaja bertemu dengan mata Vivienne, ada kilatan rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka bertiga.
Seorang instruktur senior maju ke depan, suaranya menggelegar. “Dengarkan! Hutan Abyss tidak pernah memiliki bentuk yang sama. Medan yang kalian lalui sekarang bisa berubah menjadi rawa atau tebing dalam hitungan menit. Tugas kalian adalah membasmi monster level rendah di zona luar. Jangan pernah berpisah dari kelompok!”
“Kelompok?” Daefiel tertawa kecil cukup keras hingga terdengar di sekitarnya. “Aku tidak butuh kelompok untuk menghadapi monster-monster lemah itu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri sebelum kalian sempat merapikan jubah.”
Vivienne mendengus pelan, namun ia merasakan denyutan aneh di bawah tulang selangkanya. Tanda Iblis Bayangan itu seolah bereaksi terhadap energi hutan yang pekat.
“Kau terlalu banyak bicara, Daefiel,” suara Lucien tiba-tiba terdengar dekat. Ia telah memisahkan diri dari barisannya dan kini berdiri tepat di antara Vivienne dan Daefiel. “Hutan ini sudah mulai berubah. Lihat ke belakangmu.”
Mereka berbalik. Jalan setapak yang baru saja mereka lalui telah tertutup kabut ungu tebal. Pepohonan bergerak sendiri, batang-batangnya saling merapat menutup jalan pulang. Gerbang hutan tertutup, dan latihan ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.
Kabut semakin pekat, menelan suara instruktur hingga hanya menyisakan kesunyian mencekam. Vivienne merapatkan jubahnya, merasakan hawa dingin tak wajar merayap di kulitnya.
“Sepertinya latihan ini tidak akan semudah yang dikatakan instruktur tadi,” gumamnya, matanya waspada memperhatikan semak berduri yang terus bergeser.
“Justru ini yang kunantikan!” Daefiel menyeringai lebar, meski tangannya sedikit gemetar menahan denyutan di pergelangan. “Monster-monster ini pasti bosan menunggu kita.”
Tiba-tiba, dari balik pepohonan yang meliuk, muncul tiga ekor serigala bertanduk bermata merah menyala. Air liur mereka menetes dan membakar dedaunan kering di bawahnya. Tanpa peringatan, salah satu monster melompat ke arah Vivienne.
“Awas!” seru Lucien.
Dengan gerakan cepat, Vivienne mengangkat tangannya. Cahaya ungu gelap terpancar dari telapak tangannya, membentuk perisai transparan yang menahan terjangan monster itu. “Jangan perintah aku, Lucien! Urus saja bagianmu!”
Daefiel tertawa sambil melompat maju. “Lihat ini!” Ia mengayunkan lidi sihirnya, memanggil bola api merah pekat yang menghantam dada serigala kedua. Ledakan itu membuat monster terpental dan jatuh tersungkur.
Tubuh serigala yang terkena serangan mulai menghilang perlahan. Luka di dadanya mengeluarkan asap hitam pekat, lalu dalam hitungan detik seluruh tubuhnya luruh menjadi kabut gelap sebelum asapnya sirna, seolah tak pernah ada.
“Hanya itu?” ejek Daefiel. Namun sedetik kemudian ia meringis hebat. Simbol retakan di pergelangan tangannya menyala merah terang, mengirimkan rasa sakit menjalar ke seluruh lengannya. “Sial… harganya mulai terasa.”
Serigala ketiga mencoba menyerang Lucien dari belakang. Tanpa menoleh, Lucien menghentakkan kakinya ke tanah. Pola kilat di punggungnya berdenyut, dan sambaran petir biru kehitaman menyambar monster itu hingga hancur berkeping-keping. Seperti sebelumnya, makhluk itu menghilang perlahan, meninggalkan asap hitam yang segera ditelan kegelapan hutan.
Lucien mengatur napasnya yang berat, menahan nyeri yang menjalar di tulang belakangnya. “Berhenti bersikap sombong, Daefiel. Jika kita terus menggunakan kekuatan ini sembarangan, kita tidak akan sampai ke jantung hutan dalam keadaan hidup.”
Vivienne menatap sisa asap hitam yang menghilang. “Dia benar. Monster-monster ini hanya pembukaan. Hutan ini sedang menguji kita, dan aku tidak berencana kalah dari setumpuk asap hitam.”