NovelToon NovelToon
Lupa Bahwa Kau Milikku

Lupa Bahwa Kau Milikku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Tamat
Popularitas:44.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.

Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.

Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Orang Asing di Bawah Satu Atap

...Tamu dari Calapan dan Mulut Pedas Sang Istri...

Mansion di Makati itu biasanya sesunyi kuburan, namun pagi ini suaranya pecah oleh tawa lembut Lee Young Ae dan suara tongkat kayu Nenek Matthias yang mengetuk lantai marmer. Mereka datang jauh-jauh dari Calapan karena kerinduan yang membuncah; enam tahun Matthias di Oxford, dan hanya sekali pria itu pulang saat pemakaman ayahnya lima tahun lalu.

Di ruang makan yang luas, Matthias duduk dengan kemeja kerja yang sudah rapi, namun wajahnya tetap datar. Di seberangnya, Sheena duduk dengan santai. Ia memakai kacamata frame bulat, kaos oversized, dan celana pendek—sangat tidak mencerminkan "Nyonya Muda SM Corp". Ia sedang fokus membaca jurnal medis tebal sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.

"Sheena, sayang... bagaimana malam pertamamu? Matthias tidak membuatmu susah, kan?" tanya Lee Young Ae lembut, membuat Sheena nyaris tersedak.

Sheena menurunkan jurnalnya, menatap ibu mertuanya, lalu melirik Matthias yang bahkan tidak menoleh padanya. "Malam pertama? Ah, lancar sekali, Ibu. Suamiku ini sangat perhatian, dia memberiku kamar yang sangat jauh sampai aku hampir tersesat. Mungkin dia takut aku terpesona melihat wajah tidurnya," jawab Sheena sarkastik dengan nada datar.

Matthias menghentikan denting sendoknya. Ia menatap Sheena dengan sorot mata tajam. "Makan saja bagianmu, jangan bicara sembarangan."

"Wah, dia bisa bicara juga? Kupikir lidahnya tertinggal di Oxford," gumam Sheena cukup keras untuk didengar semua orang.

Nenek Matthias terkekeh, menyukai keberanian cucu menantunya itu. "Matthias, kau ini sudah 24 tahun, sudah memimpin SM Corp. Jangan terlalu kaku. Sheena ini anak bungsu sahabat mendiang ayahmu, perlakukan dia dengan baik."

Matthias hanya mendengus. Di pikirannya, Sheena hanyalah gadis kecil tomboy yang dipaksakan masuk ke hidupnya. Ia tidak tahu bahwa gadis di depannya ini punya suara secantik Billie Eilish atau otak yang mampu menghafal ribuan istilah medis. Baginya, Sheena bukan siapa-siapa.

Setelah mobil yang membawa Ibu Lee Young Ae dan Nenek menghilang dari gerbang mansion, suasana hangat yang sempat tercipta langsung menguap. Matthias berdiri di lobi dengan tangan di saku celana, wajahnya kembali pada mode "penguasa SM Corp" yang tak tersentuh.

Ia melirik Sheena yang masih berdiri di dekat sofa dengan jurnal medis tebal di pelukannya. Bagi Matthias, gadis ini hanyalah distraksi. Dia tidak tahu kalau Sheena adalah mahasiswi kedokteran terpintar, dia tidak tahu Sheena hobi membaca, bahkan dia tidak peduli kalau Sheena harus menempuh perjalanan jauh ke kampus setiap hari.

"Mulai besok, jangan bicara sembarangan di depan Ibuku," ucap Matthias dingin, suaranya menggema di ruangan yang luas itu. "Jangan berpura-pura kita adalah pasangan yang serasi."

Sheena membetulkan letak kacamatanya, menatap Matthias yang tingginya luar biasa itu dengan tatapan malas. Sleepy eyes-nya membuat ia terlihat tidak terintimidasi sama sekali.

"Tenang saja, Tuan Smith yang Terhormat. Aku juga tidak punya bakat jadi aktris," jawab Sheena dengan nada pedas. "Lagipula, melihat wajah kaku milikmu setiap hari sudah cukup menyiksa batin. Kenapa aku harus repot-repot berpura-pura?"

Matthias mengernyitkan dahi. Ia tidak terbiasa dibantah, apalagi oleh gadis mungil yang bahkan tingginya hanya sebatas dadanya.

"Terserah kau mau melakukan apa di rumah ini. Pergi belanja, menghamburkan uang, atau apa pun yang dilakukan gadis seusiamu. Asalkan kau tidak memunculkan batang hidungmu di depanku saat aku sedang bekerja," lanjut Matthias kasar. Ia berasumsi Sheena hanyalah anak bungsu manja yang hanya tahu cara menghabiskan uang ayahnya.

Sheena terkekeh sinis, gigi berkawatnya terlihat sekilas. "Menghamburkan uang? Maaf, jadwalku terlalu padat untuk hal tidak berguna seperti itu. Aku punya kehidupan sendiri yang jauh lebih menarik daripada mengemis perhatian darimu."

"Bagus kalau begitu. Karena bagiku, kau bukan orang penting yang harus kupantau 24 jam."

Matthias berbalik, melangkah pergi menuju ruang kerjanya dengan angkuh. Ia benar-benar menutup mata pada kehidupan Sheena. Ia tidak tahu kalau setiap malam Sheena begadang belajar anatomi, atau fakta bahwa Sheena sering bernyanyi sendiri di kamar dengan suara soulful mirip Billie Eilish untuk mengusir sepi.

Malam harinya, Matthias duduk di meja kerjanya yang mewah. Ia membuka laci rahasia dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya tersimpan sapu tangan biru dengan bordir bunga melati itu.

Ia mengusap kain itu dengan ibu jarinya. Pikirannya melayang kembali ke halte bus di Calapan.

"Di mana kau sekarang?" gumam Matthias lembut, sangat kontras dengan suaranya saat bicara pada Sheena tadi. "Apa kau juga dipaksa menikah dengan orang yang tidak kau cintai seperti aku?"

Matthias menatap bordir bunga itu, sama sekali tidak menyadari ada tulisan SK4 yang terselip di antara benang-benang jahitan tangan ibu Sheena yang sangat rapi. Ia terlalu fokus pada bayangan gadis kecil yang tersenyum manis dengan lesung pipit samar—bayangan yang ia yakini tidak ada pada diri Sheena yang ketus dan tomboy.

Sementara itu, di kamar sayap kiri, Sheena sedang sibuk menandai buku tebalnya dengan stabilo. Ia sempat berhenti sejenak, memegang lehernya yang pegal.

"Sombong sekali si 'Tiang Gapura' itu," gerutu Sheena. "Lihat saja, sampai kau memohon padaku suatu hari nanti, aku tidak akan sudi memberimu obat bahkan jika kau sakit kepala sekalipun!"

Dua orang itu tidur di bawah atap yang sama, membawa potongan masa lalu yang sama, namun dipisahkan oleh ego dan ketidaktahuan yang luar biasa tinggi.

1
Ira Nadira
astga nagaaaaaaaa bagus bgt thorrrr😍😍😍 aku padamu pokoknya mah😍
Bae •: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Ira Nadira
baper bgt kalo punya laki model gini nih🤭, kira2 ada g yah di dunia nyata😁
Ira Nadira
mampus lu rasain😒
Ira Nadira
tp di awal td ada kata2 kalo si mathiass tau Senna pemilik sapu tangan itu kan??
Ira Nadira
yahhh pecah perawan dah😁
Ira Nadira
duh thorrrr🤣kan gw yg salting ihhh malu ahh🤭
bagus, ceritanya ringan dan manis. gak ada konflik. tapi panjangkan lah lain kali ceritanya hahah🤣
Ira Nadira
wahhh salut sama si othorrr keren bgt penulisannya😍😍 hampir g ada typo samsek😍😍
Ira Nadira
astaga astagaaaaaaaa😍😍😍 manis bgt sih akhhh🤣🤣
Ira Nadira
dari awal bab g pernah komen karna saking serunya😍😍
Bae •: makasih ya kak😍
total 1 replies
Naufal hanifah
keren /Good//Good//Good/
Sari Purnama
Hmm..saya suka saya suka saya sukaaaaaaaa
Sari Purnama
ahay deuy..🤭🤭
YuWie
seru sih..tapi klo salah sangkanya dipanjang2 in jadi malz jg ya
YuWie
berubah kah wajah mereka shg tak saling mengenali?
LEECHAGYN
wihh terpanaa juga😭
Anonymous
ceritanya bagus bgttttt...,. sayang terlalu pendekkkkk....
mili
suka cerita nya
falea sezi
keren
Mirda Julianti
karya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!