Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Di Bali, ponsel Alana yang tergeletak di nakas samping tempat tidur bergetar pelan. Alana, yang baru saja terlelap dalam tidur yang paling tenang selama bertahun-tahun, terbangun karena cahaya layar yang menyala.
Ia menyipitkan mata, mengira itu adalah serangan pesan baru dari Ibunya. Namun, begitu melihat nama Pradipta di layar, kantuknya menguap seketika. Jantungnya berdegup tidak keruan saat membaca baris kalimat tersebut.
Seorang Pradipta, yang biasanya hanya mengirim pesan berisi "Laporan jam 8 pagi" atau "Siapkan ruang rapat", kini mengirim kabar mendarat seolah mereka adalah... sepasang kekasih.
Alana duduk bersandar di bantalnya, bibirnya membentuk lengkungan senyum yang tak bisa ia tahan.
Alana: Terima kasih sudah memberi kabar, Pradipta. Tidurlah, Anda punya rapat penting besok pagi. Dan terima kasih sudah membuat langit Bali terasa lebih luas dari biasanya.
Di Jakarta, Pradipta yang sedang menunggu bagasi di conveyor belt melihat balasan itu. Ia menghela napas lega, sebuah senyum tipis tersungging di wajahnya yang lelah. Ia tidak membalas lagi, karena ia tahu Alana butuh istirahat, namun ia menyimpan pesan itu sebagai "bahan bakar" untuk menghadapi hari esok.
Keesokan paginya di kantor pusat Jakarta, suasana terasa berbeda. Pradipta masuk ke ruang rapat dengan aura yang tetap tegas, namun sekretarisnya menyadari sesuatu yang aneh: Pak Pradipta tidak lagi sekaku biasanya. Ia bahkan tidak menegur saat kopi yang disajikan sedikit terlalu manis.
Namun, di tengah kesibukan itu, Pradipta tidak bisa sepenuhnya tenang. Di meja kerjanya, ia melihat berkas pengajuan bantuan biaya pendidikan untuk keluarga karyawan. Pikirannya langsung melayang pada Alana. Ia tahu, setelah Alana memutus aliran dana keluarga itu pasti akan melakukan tindakan nekat.
Pradipta memanggil salah satu tim legalnya.
"Saya ingin kamu memantau akun bank atas nama Alana Caesarea casseline .Jika ada penarikan dalam jumlah besar atau aktivitas pinjaman yang tidak wajar atas namanya dari pihak keluarga, segera beri tahu saya," perintah Pradipta dingin.
"Tapi Pak, bukankah itu privasi karyawan?"
"Lakukan saja. Ini untuk melindunginya dari masalah hukum yang tidak perlu," Pradipta memutar kursinya, menatap jendela besar yang menghadap gedung-gedung beton.
Ia tahu, memberikan Alana "ruang" bukan berarti membiarkannya berjalan di tengah hutan tanpa perlindungan. Pradipta akan menjadi penjaga di bayang-bayang, memastikan bahwa saat Alana berjuang untuk merdeka, tidak ada jerat lama yang diam-diam menarik kakinya kembali ke lumpur.
Sambil menyesap kopinya, Pradipta kembali membuka pesan dari Alana tadi malam. Terima kasih sudah membuat langit Bali terasa lebih luas dari biasanya.
Pradipta berdiri di depan cermin besar di ruang kerjanya, merapikan letak dasi silk berwarna biru gelap yang melingkar di kerah kemejanya. Jadwal hari ini sangat padat; sebuah pertemuan krusial dengan investor asal Singapura menantinya di sebuah restoran mewah di kawasan Sudirman. Namun, fokusnya terpecah.
Tangannya meraih ponsel di atas meja jati. Ada keraguan selama beberapa detik. Sebagai CEO, mengirim pesan personal di jam kerja adalah hal yang sangat tidak efisien menurut prinsipnya yang lama. Tapi hari ini, prinsip itu terasa seperti aturan kuno yang sudah tidak relevan.
Ia mulai mengetik dengan gerakan jempol yang mantap.
Pradipta: Selamat pagi, Alana. Saya harap kamu bangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan hari ini. Jangan terlalu memaksakan diri dengan agenda di lapangan. Bali punya caranya sendiri untuk melelahkan jika kamu tidak waspada. Semangat untuk hari ini.
Setelah pesan terkirim, Pradipta mematikan layar ponselnya. Ada sedikit rasa aneh yang menggelitik di perutnya—sebuah sensasi yang sudah belasan tahun tidak ia rasakan. Ia melangkah keluar ruangan, disambut oleh sekretarisnya yang sudah siap dengan tumpukan berkas.
"Pak, mobil sudah siap di lobi. Pihak klien mengonfirmasi mereka sudah dalam perjalanan," lapor sang sekretaris.
Pradipta mengangguk, auranya kembali mengeras menjadi sosok pemimpin yang otoriter, namun kali ini ada binar yang berbeda di matanya. "Jalan sekarang."