Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Dia datang lagi
Pagi ini Anye sudah kembali ke Kemang Regency, bukan hanya ada Desti dan Maulana saja, kini Angel si anak divisi editing diikutsertakan.
Desti celingukan, sebab pagi ini cerahnya itu tumben-tumbenan hangat-hangat adem, apa yang beda? Jelas ! Karena tak ada tanda-tanda Ganesha terlihat disana.
"Bu, Bu...pak Ganesha ngga ikut proses shooting kan, hari ini?" tanya Desti setengah berbisik, ia mencolek lengan Anye yang sibuk merogoh-rogoh isian tasnya. Desti takut jika ucapannya sampai di telinga orangnya, bisa berabe...pasalnya cctv Ganesha selalu tak terduga, atau kehadirannya yang tak bisa ditebak, bisa hadir secara tiba-tiba seperti kejadian di lift tempo hari.
Anye turut mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tak ada mobil yang terparkir disana selain mobil mereka, hanya dua motor yang di standar satu sementara Maulana masih bercengkrama dengan Angel sambil menurunkan peralatan.
"Ngga ada kayanya. Ngga ngomong atau ngabarin apa-apa sih..." jawab Anye, benar...ia baru menyadari jika hari ini, tak ada Ganesha disana. Lain hal dengan Desti yang sudah mengelus dadanya lega sekaligus memasang wajah cerahnya, Anye justru merasakan hati yang mendadak mencelos kosong. Sibuk kayanya, benaknya seraya menggenggam ponsel.
Pak Yaris datang dengan motornya, langsung bertemu di area parkiran, "waduh keduluan ya. Maaf telat..." ucapnya membuka helm.
Anye tersenyum dibawah sorot matahari pagi, disusul kekehan tipis Maulana, "santai aja pak, kita juga baru nyampe."
"Ambil gambar di unit Bu?"
Anye mengangguk membenarkan.
*Ganesha*
Pagi ini ia harus menghadiri rapat bersama pemegang saham, dimana ada om Armilo, Daddy, dan beberapa lainnya, serta dewan direksi. Ada Sadewa juga disana bersama Syailendra.
Ia tak bisa untuk tak hadir pagi ini. Yahya sudah menyalakan iPad dan menyiapkan bahan rapat yang kemarin sudah ia dapatkan dari beberapa divisi terutama bagian keuangan dan perencanaan.
"Rapat saya buka..." Ganesha sudah berdiri, membuat Sadewa menyudahi game onlinenya, dan Lendra yang menutup room chat dengan seseorang disana. Perhatian para penghuni ruangan tertuju pada Ganesha disana.
/
Pintu ruang meeting yang sempat tertutup selama dua jam itu kini terbuka, menunjukan wajah-wajah tegang nan kritis yang mulai terurai lega.
Ruangan dengan hawa sejuk itu masih menyisakan Jihad dan Milo yang masih mengobrol dengan Dewa dan Lendra.
"Nesh," Daddy Ji memanggilnya, yang seketika menoleh saat melonggarkan dasinya.
"Marketing, aman? Katanya Anyelir yang pegang?" pertanyaan yang to the point itu justru memancing wajah usil Dewa dan Lendra.
"Anye yang itu om? Anyelir yang cantik itu bukan? Mantan menantu bukan?" tembak Lendra, membuat Ganesha memicing singkat.
Sialan, kan?! Begitu kiranya wajah Dewa mengumpati Lendra. Wajah Ganesha, dibandingkan Dewa ia memang pintar mengontrol air mukanya. Seolah tak terusik dengan sikap sengaja Lendra, Ganesha pun mengangguk.
"Iya." jawab Ganesha, Yahya sudah menunduk sambil melipat bibirnya.
"Wahhh!" Om Milo justru bertepuk tangan, "ada roman roman, Nesh? Roman picisan, roman buat rujuk mungkin?" dan ini lebih to the point tanpa tedeng aling-aling.
Sadewa, ia sudah hampir meledakan tawanya, "engga om. Ganesha profesional kok, tenang aja. Yang udah mah--udah ya, Nesh....mantan kan tempatnya di lemari, deket lipatan cawett." Sadewa menepuk pundak Ganesha dimana ia sudah memasang wajah malasnya, seolah mengatakan---*diem Lo. Don't touch me! Lo sama aja ngeledek gue*!
Daddy menggidik acuh, "ya ngga apa-apa. Daddy cuma nanya aja...bagus lah, Anye emang berkompeten kan..."
"Aman dong dad...om, Ganesha sendiri yang milih, Ganesh yang mastiin jalannya proses shot kemarin, ya Nesh? Sampe mau-maunya terjun ke lapangan, panas-panasan..." kembali cerocos Dewa seolah meledeknya dengan membongkar semua kegiatan ilegal Ganesha, tentu saja ia tau...wong bagian tugas lapangan kan seharusnya memang bagiannya, menjadi urusannya. Tapi kembarannya itu justru---segala kerjaan di trabasss.
"Woowww!" Lendra berseru, "bukan main dedikasi pak CEO Jilo corp, hati-hati...biasanya kalo selokasi begitu, bisa jadi cinta lama belom kelar tuh." kekehnya lagi mulai beranjak dari kursi.
"Engga lah. Gue sama Anye...udah punya kehidupan masing-masing." Jawabnya, bukan mereka yang justru mengangguk-angguk saja mendengar jawaban Ganesh meski meragukan, tapi Yahya sudah tersenyum tengil mendengarnya, *really*?
"Salam buat Anye, dari daddy sama momy kalo gitu." Angguk Daddy Ji, memilih melakukan hal yang sama.
/
Ia menjadi yang paling terakhir keluar dari ruang rapat bersama Yahya, mengendurkan dasi yang lagi-lagi ia tarik ke bawah agar tak mencekik, melepas jasnya seolah itu terlalu memeluk.
"Udah jalan lagi kan?" tanya Ganesha pada Yahya. Asistennya itu sungguh tak siap, tak siap menjawab pertanyaan yang tak tau kemana arahnya itu.
"Sorry, pak. Apanya?"
Ada lengu han Ganesha, nyatanya lama tidak menjadi jaminan Yahya akan langsung tau maksud hatinya.
Namun sejurus kemudian, Yahya bersuara lagi, "proyek, marketing, shooting atau----"
"Ya itu."
Yahya mengangguk paham, menarik senyumnya tipis, "oh, udah. Pak Yaris yang temani tim Bu Anye." Yahya menarik tangan melihat jam, "lagi on the way kayanya."
"Mau cek kesana lagi?" Wajah Yahya itu seperti sengaja sekali, dipasang dengan raut mengejek sama halnya Dewa dan Lendra tadi.
Ganesha berdehem, "ngga." Jawabnya diangguki Yahya, *oke*.
Lain pukul 10, lain pula pukul 1 siang. Karena nyatanya, ketika pak Yaris mengatakan mereka sedang makan siang, Ganesha mendadak meminta Yahya membawanya ke Kemang Regency. Selabil ini toddler 30 tahunan ini.
/
Beberapa bungkus nasi Padang menjadi menu makan siang mereka kali ini, dan Maulana serta Desti yang membelinya saat Anye dan Angel mulai menyusun video di kantor pemasaran, untuk selanjutnya mereka akan mengeditnya.
Mulai dari pamflet online yang telah dikerjakan Angel kemarin dan Anye sempat merevisinya.
"Ini ntar perlu ACC dari pak Yaris...." tunjuknya sibuk.
"Makan siang guysss!"
"Pak, ayo pak!" ajak Maulana pada pak Yaris.
Anye, ia duduk melingkar bersama mereka, Desti sibuk membagikan.
"Punya gue pake paru balado kan, Des?" Angel menyeru sambil menyiapkan minumnya.
"Punya gue ada dendengnya!" Maulana ikut ikutan heboh.
"Punya Bu Anye dulu, rendang ya Bu, sama dendeng?" Desti menyerahkan milik Anyelir terlebih dahulu.
"Thanks Desti." Jawab Anye antusias menerimanya.
"Wah anjirrr, mantep lah!" Maulana sudah membuka bungkusan nasi miliknya membuat aromanya menyeruak wangi, seketika perut-perut lapar itu semakin bertambah lapar dibuatnya, termasuk pak Yaris.
"Pak, sebelum makan liat dulu hasil kerja saya ini...ACC ngga?" Angel mendorong laptop miliknya dan memperlihatkan pamflet yang nanti akan dijadikan iklan unit Kemang Regency.
"Udah kaliii Ngel, ntar lagi...makan dulu aja. Orang lapar mana bisa kerja..." Sahut Desti bersiap mencomot nasi dengan selera yang bertumpuk di ujung lidah. Jemarinya itu mencampurkan nasi berbumbu dengan potongan daging dalam porsi suapan besar.
Desti sudah membuka mulutnya. Namun dari arah luar terdengar deru mesin mobil halus, meski tak ada yang notice dengan itu.
Tap...tap...
"Wah lagi pada makan siang, ya? Pas banget jamnya..." itu suara Yahya.
Pluk!
Nasi yang sudah siap landing di mulut bersiap menyatu dengan saliva-saliva menggiurkan mendadak jatuh dari kepalan tangan Desti melihat sosok yang datang. Anyelir turut melihat setelah berhasil melahap nasi ke dalam mulutnya dan mengunyah itu.
Sosok datar itu muncul di belakang badan Yahya.
.
.
.
dahlah mw nyemangatin bang Ganesh buat berjuang ngeyakinin Anye bahwa dia tuh pantas dan mw merubah sifat jeleknya buat Anye... moga Anye nerima
cinta di tolak fitnah bertindak