NovelToon NovelToon
Call Man Service

Call Man Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Dikelilingi wanita cantik / Teen
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.

Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Hari-hari berikutnya berlalu seperti rutinitas yang dingin dan mekanis. Setiap pagi pukul 06:45, Xiao Han sudah berdiri di depan gang kontrakan, mengenakan seragam supir hitam rapi yang disediakan Lin Qing—kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, dasi tipis, dan sepatu kulit mengkilap. Mercedes hitam mengkilap selalu datang tepat waktu, Lin Qing turun sebentar untuk menyapa, lalu naik ke jok belakang sambil membawa tablet dan secangkir kopi takeaway.

Xiao Han membuka pintu untuknya seperti biasa, mengangguk hormat, lalu kembali ke kursi supir tanpa banyak bicara. Sejak malam makan malam keluarga itu, kata-katanya semakin sedikit. Dia menjawab hanya kalau ditanya, suaranya datar, tatapannya selalu lurus ke jalan di depan. Lin Qing memperhatikan perubahan itu, tapi awalnya tidak berkomentar.

Di perjalanan menuju kantor pusat Lin Group, mobil meluncur mulus di jalan tol pagi yang masih lengang. Lin Qing menatap punggung Xiao Han melalui kaca spion tengah. Wajah pria itu tegang, rahangnya sedikit mengencang setiap kali lampu merah berhenti.

“Kamu diam sekali akhir-akhir ini,” katanya pelan, suaranya lembut tapi tegas seperti biasa.

Xiao Han tidak langsung menjawab. Dia menunggu sampai mobil bergerak lagi.

“Maaf, Bu Lin. Saya fokus nyetir.”

Lin Qing menghela napas kecil, lalu mencondongkan tubuh ke depan agar bisa melihat wajahnya lebih jelas.

“Xiao Han. Kamu tidak perlu memanggil aku ‘Bu Lin’ kalau kita berdua saja. Dan kamu tidak perlu jadi seperti robot setiap kali di depanku.”

Xiao Han tetap diam. Tangan kirinya memegang setir lebih erat.

Lin Qing melanjutkan, suaranya lebih rendah.

“Aku tahu apa yang mereka bilang malam itu menyakitimu. Kata-kata Kak Hao dan Xue… itu memang kasar. Tapi kamu tidak perlu memikulnya sendirian.”

Xiao Han akhirnya menjawab, suaranya pelan tapi jelas.

“Mereka benar, Qing. Saya memang tidak pantas. Saya sopir. Dulu tukang antar surat. Saya tahu tempat saya.”

Lin Qing menggeleng pelan, lalu menyentuh bahu Xiao Han dari belakang jok—sentuhan ringan tapi penuh perhatian.

“Kamu tidak perlu khawatir dengan hubungan kita!” katanya tegas, tapi nada suaranya hangat. “Kita hanya sebagai mitra kerja. Setiap yang kamu lakukan—mengantar aku, menemani meeting, tidur bersamaku—semuanya akan aku bayar. Jelas. Transparan. Tidak ada janji palsu.”

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Keluargaku… abaikan saja. Mereka selalu begitu terhadap siapa pun yang bukan dari lingkaran mereka. Aku juga tidak akan benar-benar menjadikanmu sebagai suamiku. Itu cuma kata-kata yang aku pakai supaya mereka diam. Supaya mereka tidak terus memaksa aku menikah dengan anak konglomerasi lain yang aku benci.”

Xiao Han menatap jalan di depan. Lampu lalu lintas berubah hijau, mobil melaju lagi. Tapi kata-kata Lin Qing seperti angin yang menyapu sebagian kabut di dadanya.

“Jadi… ini cuma pekerjaan?” tanyanya pelan.

“Iya,” jawab Lin Qing. “Pekerjaan yang sangat menguntungkan buatmu. Dan… kalau kamu mau, pekerjaan yang juga membuatku tidak kesepian. Tapi tidak lebih dari itu. Tidak ada ikatan selamanya. Tidak ada janji pernikahan sungguhan. Kamu bebas keluar kapan saja.”

Xiao Han diam lagi. Kali ini bukan karena marah atau malu, tapi karena sedang mencerna. Lin Qing tidak memaksa. Dia kembali duduk tegak, membuka tabletnya, tapi sesekali melirik spion untuk memastikan Xiao Han baik-baik saja.

Sepanjang hari itu, sikap Lin Qing penuh perhatian kecil yang halus: menyuruh Xiao Han istirahat lebih lama saat menunggu di parkir, memesan makan siang untuk dua orang dan membawanya ke mobil, bahkan mengirim pesan singkat saat meeting panjang:

"Istirahat ya. Jangan lupa minum air."

Sore harinya, saat mobil kembali meluncur pulang, Lin Qing bicara lagi.

“Besok pagi kita ke bandara jam 5. Aku ada meeting di Singapura seharian. Kamu ikut, tapi nggak perlu masuk ruang meeting. Kamu bisa jalan-jalan di Orchard Road kalau mau. Atau tidur di hotel. Aku bayar semuanya.”

Xiao Han mengangguk pelan. “Baik.”

Lin Qing tersenyum tipis—senyum yang jarang dia tunjukkan di depan orang lain.

“Kamu mulai terbiasa lagi bicara sama aku. Bagus.”

Mobil berhenti di depan gang kontrakan. Xiao Han turun, membukakan pintu untuk Lin Qing seperti biasa. Tapi sebelum wanita itu masuk ke mobil lagi, dia berhenti sejenak.

“Xiao Han… terima kasih sudah bertahan. Aku tahu ini tidak mudah buatmu.”

Xiao Han menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil.

“Terima kasih juga… karena masih memperlakukanku seperti manusia, bukan cuma sopir.”

Lin Qing tersenyum lagi—kali ini lebih hangat—lalu masuk ke mobil. Sopir cadangan yang menunggu mengambil alih setir, dan Mercedes hitam itu meluncur pergi.

Xiao Han berdiri di mulut gang, memandang lampu belakang yang menghilang. Dadanya masih berat, tapi tidak sesesak sebelumnya. Kata-kata Lin Qing tadi malam seperti obat penenang: ini hanya pekerjaan. Bukan pernikahan. Bukan selamanya.

Tapi di sudut hatinya, ada bayangan kecil Aria yang tersenyum di taman danau, dan janji untuk menjemputnya besok sore di kampus.

Dia menghela napas panjang, lalu melangkah masuk ke gang menuju rumah.

Besok pagi Singapura.

Besok sore Aria.

Dua dunia yang semakin menjauh, tapi entah kenapa, keduanya masih terasa nyata di dadanya.

1
Wang Chen
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Wang Chen
ummm♥️
Wang Chen
/Determined//Determined//Determined/
Wang Chen
oh my Vina♥️♥️
Wang Chen
fhb
Wang Chen
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
😍/Drool//Drool/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Determined//Determined//Determined/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Luar biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
lanjut
APRILAH
Chapter 16, sabar ya🙏
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Lanjutkan
APRILAH: Asyiappp
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
🤭🤭/Determined//Slight/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Aaaaa tidak... itu Vina ku
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Vina I love you
APRILAH
Chapter 11, sabar ya guys
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: 🤭/Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
tapi aman sih harusnya, Aria cukup lembut dan baik
APRILAH: iya sih
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
mantul
APRILAH: 🤭/Grin//Proud/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!