NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Tiga hari setelah pemakaman Ara, Elena memutuskan untuk pergi ke kota.

Bukan keputusan yang ia pikirkan panjang-panjang. Lebih seperti kesimpulan yang datang sendiri di suatu pagi ketika ia terbangun, menatap sisi kasur sebelah kiri yang kosong, dan menyadari bahwa ia tidak bisa terus seperti ini.

Rumah itu terlalu penuh dengan hal-hal yang menyakitkan. Banyak kenangan tentang Ara, yang setiap kali mengingatnya dada Elena terasa sesak dan sulit untuk bernafas.

Sandal mungil berwarna merah milik Ara yang masih ada di depan pintu. Bekas tangan kecil di dinding. Selimut bintang kuning yang masih terlipat di pojok kasur karena ia tidak sanggup menyingkirkannya tapi juga tidak sanggup terus melihatnya setiap hari.

Kalau ia terus di sini ia akan tenggelam. Dan Evan masih butuh ibunya untuk tetap kuat menemaninya.

Jadi pagi itu ia pergi ke rumah Bu Ratih dengan Evan di sampingnya dan satu pertanyaan yang sudah terlalu lama ia tunda.

"Ibu melihat Adrian di mana tepatnya? Gedung apa, daerah mana?"

Bu Ratih menatapnya sebentar sebelum menjawab, menatap dengan cara perempuan tua yang sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang harus ia katakan.

"Kamu mau ke sana?"

"Ya."

Bu Ratih menghela napas.

"Elena, waktu itu ibu tidak cerita semuanya." Ia memulai pelan. "Ibu tidak hanya melihat Adrian sekali. Dua kali. Pertama waktu keluar dari kantornya bersama seorang perempuan. Kedua keesokan harinya, mereka masuk ke restoran bersama." Bu Ratih menggeleng. "Bukan seperti rekan kerja biasa. Ibu sudah tua, Elena. Ibu tahu bedanya."

Hening sesaat.

Di sampingnya Evan sibuk memperhatikan motif kursi Bu Ratih tapi Elena tahu anak itu mendengarkan setiap kata.

"Gedungnya di mana, Bu?"

Bu Ratih menyebutkan nama jalan, nama gedung, ciri-cirinya. Elena mendengarkan dan menyimpan semuanya tanpa menuliskan apapun karena ada hal-hal yang tidak perlu ditulis untuk diingat.

"Terima kasih, Bu." Elena berdiri.

"Kamu yakin?"

"Tidak." Elena menjawab jujur. "Tapi saya harus pergi. Lebih baik tidak tahu di tempat yang baru daripada terus tidak tahu di tengah semua ini."

Bu Ratih tidak berkata apa-apa lagi. Mungkin memang tidak ada yang perlu dikatakannya lagi karena takut memperburuk suasana hati Elena.

Malamnya Elena membereskan satu tas ransel kecil untuk dirinya dan Evan. Tidak banyak. Cukup untuk beberapa hari, cukup untuk satu perjalanan yang ia tidak tahu ujungnya seperti apa.

Di dalam dompet lusuhnya ia selipkan satu foto Ara yang terlipat hati-hati.

Sebelum tidur Evan menatapnya dari atas bantal.

"Kita mau ketemu ayah?"

"Ibu mau bicara dengan ayah." Elena memilih kata untuk menjawab. "Ada yang perlu dibicarakan."

"Ayah tahu kita mau ke sana?"

"Belum."

Evan diam sebentar. "Nanti ayah kaget dong."

"Mungkin." Elena mengecup kening anaknya. "Tidur."

Evan memejamkan mata. Tapi sebelum benar-benar tidur ia bersuara lagi, sangat pelan hampir tidak terdengar.

"Bu, kalau ayah tidak mau pulang gimana?"

Elena menatap langit-langit.

"Tidur dulu, Evan."

Jawaban yang bukan jawaban yang seharusnya. Tapi malam itu tidak ada jawaban yang lebih jujur dari itu.

Keesokan paginya, bus berangkat pukul delapan pagi.

Bu Ratih mengantar sampai terminal dengan mata yang berkaca-kaca dan mulut yang terus berpesan hal-hal praktis agar tidak menangis. Elena memeluknya sebentar, tidak lama, tidak dengan kata-kata panjang. Cukup pelukan ringan dan anggukan saat Bu Ratih terus berpesan agar baik-baik disana.

Evan duduk di sisi jendela, hidungnya menempel di kaca, matanya lebar menatap jalan raya yang mulai terbentang.

"Bu, kotanya masih jauh?"

"Lumayan."

"Berapa jam?"

"Tidur saja dulu."

Evan cemberut tapi menurut.

Bus melaju menembus pagi yang masih abu-abu. Elena menatap ke luar jendela, melihat kampung yang perlahan mengecil dan menghilang di kejauhan, pohon mangga di ujung jalan, gundukan tanah merah di bawahnya, semua yang ia tinggalkan dan semua yang tidak bisa ia bawa.

Ibu pergi dulu ya, Nak, ia berkata dalam hati.

Ibu tidak bisa terus menangis di sana.

Bus semakin kencang. Dan Elena menatap ke depan. Menatap masa depan yang belum ia ketahui.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!