Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tessa berdiri di tengah ruangan pribadi Madam Tifanny, gaun merah marun yang dipilihkan asisten Madam menempel pas di tubuhnya. Sedikit terbuka di bagian bahu dan punggung, memperlihatkan kesan elegan tapi sekaligus membuatnya merasa rentan. Rambutnya digelung rapi, makeup menekankan mata gelapnya yang kini berkilau tegang.
Ia menatap cermin panjang, menarik napas panjang. “Aku… tidak mau ini,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
“Ini akan membuatmu lebih dilihat,” kata asisten Madam sambil menyesuaikan kalung mutiara di leher Tessa. “Ingat, ini bukan untukmu. Ini untuk malam ini. Tugasmu adalah tetap diam dan mematuhi.”
Tessa menelan ludah. Ia merasa seperti boneka yang siap dilelang, cara berdiri, gerak tangan, matanya, seolah menolak sepenuhnya tanpa harus bersuara.
Tessa akhirnya ditampilkan di tengah aula, beberapa pria sudah mulai mengamati Tessa. Beberapa tersenyum puas, beberapa menatap dengan minat berlebihan. Tessa berdiri di panggung kecil, tetap diam, wajahnya menunduk sedikit, tapi semua gerakan tessa tidak luput dari tatapan intens nick,
Tessa belum menyadari bahwa Nick ada diantara pria-pria yang duduk disana.
Nick bisa melihat dengan sangat jelas bahwa tessa tidak nyaman.
Acara dipandu langsung oleh asisten kepercayaan madam tifanny,
Madam Tifanny mendekati meja Nick, menatapnya penuh perhitungan. “Lihat gadis itu. Posisi, postur, kecantikan, kulit putih bersih, dan bisa saya pastikan, dia masih perawan, semuanya siap. Anda bisa menilai sekarang, jika berminat”
Nick tidak mempedulikan kata-kata wanita disampingnya, Ia hanya mengamati. Hati-hati.
Setiap pria yang menatap Tessa tampak ingin menawar, dan suasana mulai memanas. Beberapa pria mulai membisikkan angka, merayu secara halus.
Tessa menelan ludah, merasakan rendah dirinya, tapi tetap teguh berdiri. Ia tidak akan menyerah sepenuhnya, tidak akan menunjukkan ketakutannya secara jelas.
Nick menyusun strategi di kepalanya. Ia harus bergerak cepat, mengamankan Tessa sebelum siapa pun bisa “memiliki” hak atasnya.
Madam Tifanny tersenyum tipis pada Nick, menyadari aura dominasi pria itu, tapi ia juga tahu, malam ini bisa menjadi permainan kekuasaan yang mahal, dan ia ingin mengambil keuntungan sebanyak mungkin.
Nickolas mulai memainkan strateginya, Ia menoleh pada madam tifanny,
"Aku ingin tahu bagaimana bisa kau mendapatkan gadis itu? dia tidak terlihat seperti tawaranmu yang lain, bukan?" Nick mencoba membuka cara pertamanya,
Madam tifanny bisa melihat maksud dari pertanyaan tamu besarnya itu, "Sejujurnya mendapatkan nya tidak mudah, gadis itu harus membayar hutang orang tua nya,"
"Maksudmu orangtua nya sengaja menjualnya kepadamu?" Nick baru mendengar fakta yang membuatnya menatap tessa dengan tatapan berbeda,
"Ya begitulah, kadang memang anak harus membantu orangtua nya kan,"
"Tidak dengan cara seperti itu, berapa total hutang orangtuanya?" Nick mencoba negosiasi,
"Lima miliar belum termasuk bunga nya," jelas madam tifanny,
Nick hanya tersenyum tipis,
Hmm... hanya segitu rupaya, tapi dia harus merendahkan harga dirinya diatas panggung sialan itu,
"Apakah kau tahu, tifanny, gadis yang berdiri diatas sana, entah kau percaya atau tidak," Nick mengeluarkan buku nikah nya dengan tessa,
Madam tifanny membuka buku kecil itu dan membaca perlahan, Ia membelalakan matanya setelah tahu,
"Tidak mungkin..." Madam tifanny menutup mulutnya karena terkejut,
"Kalau aku melunasi semua hutangnya, apakah kamu akan membebaskan istriku?" Nick menatap Madam tifanny yang mulai sadar dengan serius,
"Maaf....maafkan saya Tuan Adhitama... sa...saya benar-benar tidak tahu soal ini," Ia merasa takut dan khawatir kesalahan nya yang fatal ini akan menghancurkan bisnisnya, sebab mudah bagi seorang nick menghabisi bisnis siapapun yang menganggu hidupnya,
"Bagaimana tawaranku?" Nick bertanya sekali lagi,
"Aku tidak akan menganggu bisnismu, jika kau berhenti menganggu istriku!" Nick menekan kalimatnya,
"Baik... baik Tuan, Silahkan tunggu diruangan itu," Madam Tifanny menunjuk sebuah ruangan terpisah untuk berbicara dengan Nick,
Madam Tifanny memanggil assistennya,
"Batalkan tawaran,"
"Loh, kenapa madam? harga sedang tinggi-tingginya,"
"Batalkan sekarang atau kita semua akan hacur, arahkan gadis itu untuk bertemu denganku diruanganku," tegas madam tifanny,
"Baik, madam,"
Assisten itu membatalkan penawaran kepada para tamu dan menjelaskan alasan yang menurutnya masuk akal agar para tamu tidak merasa dipermainkan,
Tessa yang merasa bingung hanya diam.
"Madam menunggumu diruangannya,"
"Baik,"
Tessa berjalan menuju ruangan disebelahnya, Ia mengetuk pintu dan masuk, Tessa terkejut saat melihat siapa orang yang bersama madam tifanny.
Nickolas.
Nick langsung menoleh begitu tessa masuk dan menutup pintu,
"Jadi bagaimana tifanny?" Nick mengarahkan pandangannya lurus kepada wanita didepannya.
"Aku hanya butuh 10 miliar, Tuan, bukankah itu harga yang sepadan?" madam tifanny, menyerahkan selembar kertas,
Nick langsung memproses pembayaran saat itu juga,
"Sudah,"
"Aku tidak akan menganggumu jika kau tidak mengangguku," jelas nick.
Nick berjalan mendekati tessa,
"Kita pulang sekarang,"
Tessa berjalan mengekor dibelakang nickolas, dengan masih menyimpan tanda tanya,
Sesampainya didalam mobil, mereka masih setia dengan diam nya masing-masing,
"Jadi, kau membeliku?" Suara tessa memecah keheningan itu,
"Apa kau bisa beritahuku cara lain untuk mengeluarkanmu dari sana selain dengan cara itu?" Nick menjawab tanpa menatap tessa, fokus menyetir mobilnya,
"Apa aku terlihat seperti barang dimatamu?" mata tessa mulai memanas,
"Kau terlalu banyak berpikir," jawaban ambigu itu lagi,
"Bisa tidak kau jawab saja pertanyaanku, tanpa mengalihkan kata-katamu!" nada suara tessa mulai meninggi, membuat nick menghentikan mobilnya mendadak,
Nick tersenyum tipis, dengan tangan mencengkeram erat stir mobilnya, lalu menatap tajam tessa,
"Apa ini ucapan terimakasihmu karena sudah kutolong lagi?" Nick menarik kasar dagu tessa agar tessa menatapnya,
"Jangan membuatku kehilangan kesabaran, tessa," Nick menekan setiap kata yang Ia ucapkan,
Tessa mengalihkan pandangannya keluar jendela, mobil mulai berjalan lagi dijalanan malam yang tidak terlalu ramai,
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna