NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Benteng yang Tak Tergoyahkan

Suasana di lantai eksekutif pagi itu terasa tegang, namun Hana berusaha mempertahankan ritme kerjanya seolah tidak ada sirkus yang sedang berlangsung di gerbang depan. Dari jendela besar ruangannya, ia tidak bisa melihat kerumunan itu secara langsung, namun ia tahu dari laporan tim keamanan bahwa Deni dan beberapa anggota keluarga Aris lainnya masih bertahan di trotoar. Mereka membawa poster karton bertuliskan tuntutan agar "Manajer Kejam" mencabut laporan polisi terhadap Pak Mulyono yang mereka klaim sedang sakit sakaratul maut di dalam sel.

"Bu Hana, tim Humas sudah berkoordinasi dengan kepolisian sektor setempat," lapor Shinta yang masuk ke ruangan Hana tanpa mengetuk pintu. Wajah wanita itu tampak serius. "Aksi mereka tidak berizin. Polisi sudah memberikan peringatan pertama untuk membubarkan diri karena mereka mengganggu ketertiban umum dan akses masuk objek vital."

Hana mengangguk, jemarinya bertaut di atas meja. "Terima kasih, Mbak Shinta. Tolong pastikan tidak ada staf kita yang terpancing untuk memberikan pernyataan apa pun kepada mereka, atau merekam kejadian itu untuk diunggah ke akun pribadi."

"Sudah saya instruksikan melalui memo internal, Bu. Tapi masalahnya, ada satu akun TikTok yang sedang melakukan siaran langsung dari seberang jalan. Penontonnya sudah mencapai ribuan. Narasinya sangat menyudutkan Ibu sebagai 'kacang yang lupa kulitnya'."

Hana memejamkan mata sejenak. Inilah era digital; kebenaran sering kali kalah cepat dari air mata buatan yang disiarkan secara langsung. "Biarkan saja. Jika kita melayani mereka di sana, kita hanya akan memberikan konten tambahan bagi mereka. Biarkan hukum yang bicara."

Menjelang jam makan siang, ketenangan Hana kembali diuji. Adrian masuk ke ruangannya dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca. Ia membawa sebuah tablet yang menampilkan rekaman siaran langsung tersebut.

"Hana, kamu harus lihat ini. Tapi saya minta kamu tetap tenang," ujar Adrian.

Di layar tablet, Hana melihat bibi Aris sedang menangis tersedu-sedu di depan kamera ponsel seorang pemuda. Di sampingnya, Deni berteriak-teriak menyebut nama Hana dengan lantang.

"Hana! Keluar kamu! Kamu tega memenjarakan pamanmu sendiri yang sudah sepuh! Ingat waktu kamu belum jadi apa-apa, siapa yang kasih restu kamu nikah sama Aris? Sekarang kamu sudah kaya, sudah jadi simpanan bos, kamu lupa sama keluarga!"

Kalimat "simpanan bos" itu membuat jantung Hana mencelos. Ia melirik Adrian yang rahangnya tampak mengeras. Fitnah itu sudah merambah ke ranah profesional dan personal dengan sangat kejam.

"Mereka sudah keterlaluan, Adrian," bisik Hana. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena rasa hina yang luar biasa.

"Saya sudah memerintahkan tim hukum untuk menambah pasal pencemaran nama baik dan fitnah keji dalam laporan tambahan sore ini," ujar Adrian tegas. "Tapi Hana, polisi meminta salah satu dari kita atau perwakilan resmi untuk menemui mereka didampingi petugas mediator. Mereka menolak bubar sebelum ada pernyataan langsung."

Hana berdiri. Kursinya berderit di atas lantai parket. "Saya yang akan menemui mereka."

"Tidak, Hana. Itu berbahaya. Mereka sedang emosi dan haus panggung," cegat Adrian.

"Jika saya terus bersembunyi di atas sini, narasi 'manajer sombong' itu akan semakin kuat. Saya akan menemui mereka, tapi bukan di trotoar. Bawa mereka ke ruang mediasi di pos keamanan depan. Saya ingin bicara dengan Deni, empat mata, didampingi polisi."

Ruang mediasi di pos keamanan gedung itu terasa sempit dan pengap. Hana duduk di satu sisi meja kayu panjang, didampingi oleh Baskara dan dua petugas polisi. Di seberangnya, Deni duduk dengan wajah pongah yang dipaksakan, meski matanya tidak berani menatap langsung ke arah Hana.

"Jadi, apa mau kalian sebenarnya, Den?" tanya Hana membuka pembicaraan. Suaranya datar, tanpa emosi, sangat kontras dengan teriakan Deni di luar tadi.

"Kami mau Paman Mulyono dibebaskan! Dia sudah tua, Han. Dia sakit jantung. Kamu tega kalau dia mati di sel?" sahut Deni dengan nada tinggi.

Baskara menyela dengan tenang. "Saudara Deni, klien saya tidak memenjarakan Pak Mulyono karena dendam. Pak Mulyono ditangkap karena bukti otentik pemerasan senilai satu miliar rupiah. Ada rekaman suara, ada saksi ahli, dan ada barang bukti. Ini bukan delik aduan yang bisa dicabut begitu saja seolah-olah ini urusan keluarga."

"Halah! Itu kan bisa diatur! Hana kan punya uang banyak, punya bos kaya. Bilang saja itu salah paham!" seru Deni lagi.

Hana mencondongkan tubuhnya ke depan. "Deni, dengarkan saya baik-baik. Selama lima tahun saya jadi kakak iparmu, berapa kali saya bantu bayar cicilan motormu? Berapa kali saya kasih uang diam-diam supaya Ibu tidak marah karena kamu tidak kerja? Saya diam bukan karena saya bodoh, tapi karena saya menghargai ikatan keluarga."

Deni terdiam sejenak, wajahnya sedikit berubah.

"Tapi saat kalian mulai memeras saya, mengancam karier saya, dan memfitnah saya dengan kata-kata kotor di depan umum... saat itulah ikatan itu putus," lanjut Hana. "Saya tidak akan mencabut laporan. Justru sore ini, saya menambahkan laporan baru atas nama kamu dan bibimu karena fitnah 'simpanan bos' yang kalian teriakkan tadi."

Deni membelalak. "Kamu... kamu mau memenjarakan aku juga?"

"Jika itu harga yang harus dibayar agar kalian berhenti mengganggu hidup saya, maka ya," jawab Hana tegas. "Polisi sudah merekam semua ucapanmu di depan gedung tadi. Itu bukti yang sangat kuat untuk menjebloskanmu ke sel yang sama dengan pamanmu."

Petugas polisi di samping Hana mengangguk. "Benar, Saudara Deni. Tindakan Anda sudah masuk kategori pengrusakan nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Kami sarankan Anda bubar sekarang juga sebelum kami melakukan penahanan di tempat."

Nyali Deni menciut seketika. Ia menyadari bahwa Hana yang berdiri di depannya bukan lagi wanita lemah yang bisa diintimidasi dengan air mata atau ancaman moral. Hana yang sekarang adalah seorang profesional yang memegang hukum di tangannya.

"Pulanglah, Deni. Urus ibumu dengan uang halal. Jangan lagi jadi boneka Pak Mulyono atau ambisi picik keluarga yang lain. Ini peringatan terakhir saya," ujar Hana sambil berdiri.

Hana berjalan kembali menuju lobi utama dengan pengawalan ketat. Saat ia melewati gerbang, ia melihat kerumunan kecil itu mulai membubarkan diri dengan lesu setelah Deni keluar dan memberikan kode. Spanduk-spanduk karton itu ditinggalkan begitu saja di trotoar, seperti sampah yang tidak lagi berguna.

Adrian sudah menunggu di lobi. Ia melihat Hana berjalan dengan punggung tegak, meskipun matanya tampak sangat lelah.

"Sudah selesai?" tanya Adrian.

"Untuk hari ini, ya," jawab Hana. Ia merasa energinya terkuras habis.

"Mari, saya antar pulang. Kamu butuh istirahat. Bi Inah sudah saya telepon agar menyiapkan makan malam yang enak," ujar Adrian sambil membimbing Hana menuju mobil.

Di dalam mobil, Hana menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Ia melihat jalanan Sudirman yang mulai padat oleh pekerja yang pulang kantor. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena tidak terpancing emosi tadi. Namun, di sudut hatinya, ia tahu bahwa luka ini akan membekas lama. Menghadapi mantan keluarga di jalur hukum adalah hal paling pahit yang pernah ia lakukan.

"Kamu melakukan hal yang benar, Hana," bisik Adrian seolah bisa membaca pikirannya. "Terkadang kita harus membakar jembatan agar masa lalu tidak bisa menyeberang lagi ke masa depan kita."

Hana mengangguk pelan. "Saya hanya ingin hidup tenang, Adrian. Kenapa itu terasa sangat mahal harganya?"

"Karena ketenanganmu adalah ancaman bagi mereka yang terbiasa hidup dari kekacauan orang lain," jawab Adrian bijak.

Malam itu, saat sampai di apartemen, Hana disambut pelukan hangat dari Bi Inah. Aroma sup ayam jahe memenuhi ruangan, memberikan rasa nyaman yang tulus. Hana duduk di meja makan, menatap kursi kosong di hadapannya. Ia teringat masa-masa ia makan dalam diam di bawah tekanan Aris. Dibandingkan dengan itu, kesunyian di apartemennya sekarang terasa seperti melodi yang indah.

Hana mengambil ponselnya, membuka blokir sementara untuk melihat satu pesan yang masuk dari pengacara Aris. Pesan itu berisi permohonan maaf tertulis dari Aris dari dalam sel, yang tampaknya dipaksa oleh situasi hukum yang semakin menjepitnya. Hana membacanya tanpa ekspresi, lalu menghapusnya secara permanen.

Ia tidak butuh maaf yang lahir dari ketakutan. Ia hanya butuh keadilan yang lahir dari kebenaran.

Besok adalah hari baru. Proyek Vietnam menanti, dan Hana tahu ia harus kembali menjadi Manajer Senior yang tangguh. Benteng yang ia bangun mungkin terasa dingin, tapi di dalamnya, ia akhirnya menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Perjuangan untuk mempertahankan martabatnya mungkin akan terus berlanjut, tapi malam ini, Hana tidur dengan nyenyak, tahu bahwa ia tidak lagi menjadi tawanan siapa pun.

1
arniya
Aris bukan d penjara??!
Mom Ilham
anaknya hana apa khabarnya ya
Lia Kiftia Usman
karyamu asyiik dibaca..thor..
Sefna Wati: terima kasih kkk sudah mampir baca novel karyaku ya ...
sehat selalu ya🥰🥰
jangan lupa tinggalkan like nya ya dan mampir di novel lainnya mana tau kakak juga suka dengan cerita yang lain🥰🥰🥰🥰
🥰🥰🥰
total 1 replies
Nor
Kok ceritanya aneh yaa, kenapa tiba² ada surat tanah peninggalan almarhum ayah hana. sebenarnya ayah hana itu masih hidup atau sudah meninggal?
Sefna Wati: kalau mau tau kelanjutannya baca terus ya kak biar gak penasaran 🥰🥰🥰
total 1 replies
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!