Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Hana berdehem kecil, lalu menerima mikrofon dari petugas, dan siap dengan wajah tenang mulai berkata, "Saya hanya ingin meluruskan jika semua tuduhan itu, tidak benar adanya, Hakim Ketua. Namun disini saya tidak ingin menambah runyam permasalahan yang terjadi. Padahal, pada kenyataanya dari tanggal 2, putri saya yang baru lahir itu di nyatakan meninggal hari itu juga. Selama 27 hari, saya masih dalam keadaan nifas, dan belum dapat merawat diri, atau sekedar meng'iyakan' permintaan Penggugat untuk berhubungan badan. Namun usut punya usut, pihak tergugat malah ada main dengan sahabat saya sendiri," Hana menatap Dzaki sejenak. "Bukan begitu, Pak Dzaki yang terhormat?!"
Dzaki menegang, begitu keluarganya yang datang.
Hana kembali menatap Hakim Ketua. "Bahkan, selama saya mengalami masa nifas itu, suami saya sangat jarang pulang ke rumah dengan alasan penampilan saya yang kurang menarik. Tapi setelah saya tahu yang sebenarnya, itu sudah cukup, dan memang berpisah menjadi jalan satu-satunya yang kami pilih."
Hakim Ketua manggut-manggut. Wajahnya serius, sorot matanya menatap dengan kuat. "Anda dapat memproses perselingkuhan itu menjadi pidana, sesuai undang-undang yang tertulis," timpalnya.
Hana menggelengkan kepala lemah. "Rencana saya awalnya memang seperti itu, namun ketika penggugat sudah melayangkan surat cerainya... Saya rasa, memperpanjang masalah hanya akan membuang waktu saya saja. Saya tetap ingin bercerai, apapun yang terjadi!"
Dzaki sudah mengepalkan tanganya bertumpu pada sisi kursi. Ia bagaikan maling yang tertangkap di siang bolong.
Hakim Ketua beralih kearah Dzaki. Wajah pria itu gelisah, sejak tadi bahkan sesekali menghembuskan napas kecil demi mengurangi rasa gemetarnya.
"Saudara Dzaki, Anda saat ini masih dapat bernapas bebas, sebab Istri Anda tidak melaporkan perselingkuhan-"
Tiba-tiba saja ucapan Ketua Hakim di serobot oleh Bu Diah. "Maaf, Hakim ketua... Disini saya hanya mau menjelaskan, bahwa putra saya tidak pernah berselingkuh selama menjadi suami dia!" tunjuknya tajam kearah Hana.
Dan seketika, ruangan itu mendadak tegang.
Madha yang duduk disebrang, sejak tadi sudah menggeretakan rahangnya menatap hal anarkis yang keluarga Dzaki lakukan.
Tok!
"Ibu, Anda harap tenang! Pihak keluarga tidak di perkenankan mengcampuri jalanya sidang. Meskipun putra Anda sendiri!" Hakim Ketua menatap kesal, bahkan sampai mengetukan palunya satu kali.
Hana hanya tersenyum miring menatap keluarga mantan suaminya itu, yang sangat memalukan. "Dasar nggak tahu malu," cibir batinnya.
Selama hampir 15 menit itu, akhirnya sidang berjalan lancar kembali. Hana yang sudah ihklas, dan memohon agar segera mendapat ketukan palu, kini kembali lagi membuka suara.
"Dan untuk masalah gugatan nafkah, saya tidak meminta banyak, Hakim Ketua. Saya hanya ingin mempertahankan apa yang menjadi milik pribadi saya saja!" seru Hana kembali menegakan wajahnya.
Hakim ketua beralih menatap Dzaki. "Saudara Dzaki, sesuai yang tertulis, apakah Anda memang berniat memberikan rumah itu sebagai kompensasi perceraian?!"
Dzaki mengangguk patuh. "Meskipun dalam rumah itu saya juga ikut andil mengisi barang-barangnya, namun saya ihklas memberikanya sebagai kompensasi, Hakim Ketua."
Hana tersenyum miring, merasa malu sendiri dengan kalimat ngelindur suaminya.
Sementara Bu Diah, wanita tua itu sudah bangkit. Wajahnya merah padam, napasnya mulai naik turun merasa tidak terima.
"Saya tidak setuju, Hakim Ketua!" sahutnya dengan suara lantang. Bu Diah sama sekali sudah tebal wajah, merasa acuh di tatap banyaknya orang. "Rumah yang di huni Hana saat ini, itu semua atas hasil jerih payah putra saya. Dan... Saya sebagai Ibunya meminta harta gono gini, sebab diantara keduanya tidak memiliki putri sebagai penguat!"
Hakim Ketua itu sampai mengernyit, merasa baru kali ini menemukan client yang sebegitu kerasnya mambahas harta gono gini.
"Bu, tapi disini sudah tertulis, jika putra Anda memberikan rumah itu sebagai bentuk kompensasi," jawab Hakim Ketua dengan tegas.
Madha, pria itu baru bangkit setelah mengambil mikrofon diatas meja. Ia yang sejak tadi diam menyimak, lidahnya menggeliat ketika mendengar kalimat-kalimat gila dari mantan mertua sang adik.
"Maaf, saya menyahut ucapan Bu Diah. Disini, saya sebagai walinya saudari Hana, hanya ingin MELURUSKAN saja!" tekan Madha. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tak terpengaruh. "Rumah yang di huni kedua belah pihak itu, murni hadiah dari saya atas pernikahan adik saya-Hana. Dan, tidak ada uang serupiah pun dari pihak penggugat. Jadi, jika Bu Diah meminta harta gono gini, saya rasa itu seperti lelucon saja. Bu... Apa Anda tidak malu?!" tandas Madha tersenyum miring. "Terimakasih!" barulah setelah itu dirinya duduk kembali.
Keyla menarik pundak Ibunya agar duduk kembali. Meskipun hati Bu Diah terasa panas, namun tetap saja keinginannya itu bagaikan galian sumur yang tak ada habisnya--Hanya terlihat sia-sia.
Dzaki tertunduk diam.
"Untuk jalanya sidang ini, saya tegaskan PUTUS hari ini juga!"
Tok!
Hana menghembuskan napas lega. Ia menatap sang Kakak dengan senyum simpul menantinya.
Setelah bertanda tangan, Hana bersama sang Kakak saling bersalaman pada pihak Hakim, dan bergegas keluar terlebih dulu.
Melihat itu, Dzaki bergegas mengejar mantan Istrinya keluar.
"Hana, tunggu sebentar!" Dzaki berhasil menahan lengan Istrinya.
Hana menoleh, menarik kasar tanganya, lalu melipatnya di dada. "Ada apa lagi? Masih belum terima tentang harta gono gini?"
Dzaki menggelengkan kepala lemah. Wajahnya bagaikan orang yang menahan rasa sesal. "Hana... Setidaknya kita masih bisa tetap berkomunikasi setelah ini."
Hana berdecih. Senyumnya hambar, merasa sakit bercampur benci. "Ingat, Dzaki! Begitu sudah memutuskan cerai, maka di masa mendatang, kita hanyalah orang asing! Tidak adalagi basa basi apalagi komunikasi!" tekan Hana dengan suara beratnya. "Dan semoga saja kamu tidak menyesal sudah melepaskan aku!"
Tangan Hana kembali di tarik oleh kakaknya, lalu segera pergi dari hadapan pengkhianat itu.
Dzaki hanya mengepalkan tanganya dalam. Wajahnya menahan rasa kecewa, namun batinya bergolak ingin secepatnya melupakan Hana.
Didalam mobil itu, Hana menyandarkan punggungnya, benar-benar merasa lega tak berdasar. Namun, dibalik matanya terpejam kini, baru saja ia melihat puing-puing hatinya yang tertiup angin. Rasa lega bercampur sesag, menciptakan kesan lemas yang cukup menguras tenaganya.
"Han, setelah ini... Kamu jangan lagi memikirkan tentang pria bejad itu. Fokus lah menata diri dan hidupmu. Mas yakin, setelah badai, pasti akan muncul pelangi. Jadi, tetap lah bersemangat!" seru Madha memberi semangat.
Hana menoleh, wajahnya sudah benar-benar merasa ikhlas. Senyum diwajahnya juga telihat damai.
"Pasti kalau itu, Mas! Aku akan fokus lagi buat masa depanku. Makasih ya, Mas...."
Madha mengangguk, sambil mengusap lembut kepala adiknya.
"Mas Madha nggak boleh tahu kalau aku bekerja. Dia pasti akan marah, karena masa nifasku saja belum selesai," Hana menutupinya dengan senyuman.
Sementar di lain tempat.
Bu Diah masih merasa tak terima dengan keputusan hakim tentang harta goni gini itu. "Kamu ini gimana sih, Dzaki! Seharusnya kamu menuntut gono gini sama Hana! Kan lumayan meskipun hanya dapet 10 atau 20 juta. Lagian ya... Ibu ini butuh duit untuk merangkap arisan Ibu bulan lalu!"
Dzaki tak menghiraukan. Pria itu lebih memilih masuk begitu saja kedalam mobil, lalu bergegas pergi dari pengadilan.
Sementara Diah, wanita tua itu merasa kesal putranya tak lagi seperhatian dulu. "Bu... Ayo kita pulang! Nggak ada gunanya kita datang kesini kalau nggak menghasilkan," gadis berusia 20 tahun itu menekuk wajahnya.
Bu Diah hanya mampu menahan napas berat. "Kamu tenang aja, nanti biar Ibu bicara sama Mona. Ibu yakin, uangnya Dzaki sekarang dia yang pegang. Udah, ayo pulang!"
...----------------...