Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.
Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.
Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?
"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Kursor yang Berkedip
Bab 10: Kursor yang Berkedip
Waktu digital masih membeku di angka 23:48, namun di pusat semesta kecilku—sebuah kolom chat WhatsApp yang masih steril—sesuatu sedang bergerak. Ia bukan karakter huruf, bukan pula emoji. Ia adalah sebuah garis vertikal tipis, berwarna biru elektrik, yang muncul dan menghilang dengan ritme yang menyiksa.
Kursor itu berkedip.
Secara teknis, ini hanyalah representasi visual dari sistem operasi yang menyatakan kesiapannya untuk menerima input data. Namun, dalam analisis kognitifku yang sedang berada di puncak paranoia, kursor itu menjelma menjadi metronom takdir. Setiap kedipannya terasa seperti denyut bom waktu yang tertanam tepat di pusat kesadaranku.
Ada. Tiada. Ada. Tiada.
Aku membedah frekuensi kedipan tersebut. Sekitar satu kedipan per detik. Satu Hertz. Frekuensi yang seharusnya menenangkan jika ia berada di layar monitor rumah sakit yang memantau detak jantung stabil, namun di sini, ia terasa seperti ejekan visual terhadap keragu-raguanku yang tak berujung. Kursor itu seolah-olah bernapas, menghirup keberanianku saat ia muncul, dan mengembuskan rasa takutku saat ia menghilang.
Setiap kali garis biru itu menghilang, ada fraksi milidetik di mana kolom chat itu benar-benar kosong, meninggalkan ruang putih yang luas dan mengintimidasi. Putih yang melambangkan kekosongan sejarah jika aku memilih untuk tetap diam. Dan setiap kali ia muncul kembali, ia berdiri tegak seperti prajurit kecil yang menantangku:
"Kapan kau akan menekan satu saja tombol di bawah sini?"
Secara mikroskopis, aku memperhatikan bagaimana cahaya dari kursor itu memantul di permukaan layar yang mulai kotor oleh residu minyak jempolku dari Bab 7. Pendarannya menciptakan bayangan biru mikro di tepi garis putih kolom chat. Aku merasa kursor itu memiliki kepribadian. Ia sombong. Ia tahu bahwa dialah satu-satunya objek yang bergerak secara konsisten di tengah kelumpuhan fisikku.
Aku mencoba melakukan sinkronisasi antara kedipan kursor itu dengan detak jantungku yang masih berantakan.
Kursor menyala—jantung berdegup.
Kursor padam—napas tertahan.
Sinkronisasi ini justru memperburuk kondisi mentalku. Aku mulai merasa bahwa jika aku tidak menekan tombol huruf saat kursor itu sedang menyala, maka pesanku tidak akan pernah terkirim dengan niat yang benar. Ini adalah bentuk obsesif-kompulsif yang dipicu oleh tekanan ekstrim. Aku terjebak dalam siklus observasi yang tidak produktif, menghabiskan sekian banyak siklus otak hanya untuk menatap sebuah garis digital.
"Kursor ini tahu," bisikku dalam hati. "Ia tahu bahwa aku pecundang."
Aku membedah posisi kursor tersebut. Ia berada di sisi paling kiri, menempel pada garis margin, menunggu karakter pertama. Jika aku mengetik satu huruf saja, kursor itu akan bergeser ke kanan, memberikan ruang bagi karakter berikutnya.
Pergeseran itu, secara matematis, adalah sebuah progres. Namun bagiku, pergeseran itu adalah langkah menuju titik tanpa kepulangan. Selama kursor itu masih berada di titik nol, aku masih punya kesempatan untuk mundur. Begitu ia bergeser, hukum kausalitas akan mulai bekerja.
Aku merenggangkan sedikit jari telunjukku yang tidak sedang memegang ponsel, mencoba mengalihkan ketegangan motorik. Namun mataku tetap terkunci pada garis biru itu. Kedipannya mulai terasa seperti detak jarum jam yang menghakimi di Bab 3. Bedanya, jarum jam digital menunjukkan sisa waktu global, sementara kursor ini menunjukkan sisa waktu pribadiku.
Analisis logisku mencoba menenangkan diri: Ini hanyalah baris kode. Sebuah fungsi 'blink' dalam bahasa pemrograman CSS atau Java. Namun, emosiku menjawab: Ini adalah lidah takdir yang sedang menjulur, mengejek setiap milidetik yang kau buang tanpa arti.
Aku memperhatikan pantulan cahaya dari gedung-gedung sekitar Bundaran HI yang jatuh di layar ponsel. Cahaya neon merah dan hijau dari papan iklan raksasa sesekali melintasi kolom chat, mengubah warna kursor biru itu menjadi ungu atau sian sesaat. Gangguan optik ini membuat kursor itu tampak seolah-olah bergetar lebih cepat.
Apakah ponselku sedang mengalami lag? Ataukah persepsiku yang sudah terlalu distorsi?
Aku mencengkeram ponsel sedikit lebih erat. Keringat di telapak tanganku (Bab 7) kini membuat sensasi dingin saat angin malam berembus, namun fokusku pada kursor tidak goyah. Aku mulai membayangkan kursor itu sebagai ujung dari sebuah pena yang dicelupkan ke dalam tinta emosiku. Tinta itu sudah penuh, sudah siap tumpah, namun tanganku tetap membeku di atas kertas digital ini.
"Arka?"
Suara Lala kembali memecah keheningan pribadiku. Aku tidak menoleh. Aku takut jika aku menoleh, kursor itu akan berhenti berkedip dan duniaku akan benar-benar berhenti.
"Iya, La?" jawabku, mataku tetap terpaku pada garis biru itu.
"Kamu lagi nunggu balasan dari siapa sih? Kok dilihatin terus?"
Pertanyaan itu adalah sebuah ironi yang tajam. Aku tidak sedang menunggu balasan. Aku sedang menunggu keberanianku sendiri untuk membuat kursor itu bergerak. Namun, dari sudut pandang Lala, aku mungkin terlihat seperti orang yang sedang cemas menunggu kabar penting dari orang lain. Aku tidak bisa menjelaskan padanya bahwa kursor yang berkedip ini adalah cermin dari jiwaku yang sedang gemetar.
"Bukan apa-apa. Cuma... aplikasinya agak lemot," alibiku, sebuah kebohongan teknis yang lemah.
Aku kembali fokus. Kursor itu masih di sana. Ada. Tiada. Ada. Tiada.
Aku menyadari bahwa kursor ini adalah simbol dari 'sekarang'. Ia mewakili momen saat ini yang terus berganti. Jika aku tidak bertindak saat kursor itu berkedip di menit 23:48 ini, maka kursor yang sama akan terus berkedip di menit 23:49, 23:50, hingga akhirnya 00:00 tiba dan ia akan menghilang saat layar ponselku mati karena kehabisan baterai atau waktu.
Secara mikroskopis, aku memperhatikan tepi garis kursor tersebut. Ada sedikit efek anti-aliasing yang membuatnya tidak benar-benar tajam jika dilihat dari jarak sedekat ini. Piksels di sekitarnya tampak sedikit berpendar. Keindahan teknis yang sia-sia di tengah tragedi romantis.
Aku memutuskan. Aku harus menghentikan tarian kursor ini. Aku harus memberinya beban berupa karakter huruf. Aku tidak bisa membiarkannya terus mengejekku dengan kekosongan. Namun, saat aku memantapkan posisi jempolku untuk menekan huruf 'L' (Lala), sebuah gangguan visual lain muncul di cakrawala pandanganku.
Seseorang di depanku baru saja menyalakan flash kamera ponselnya untuk memotret kemeriahan Bundaran HI.
Cahaya putih itu meledak dalam retinaku, menghapus kursor biru itu dari pandanganku selama beberapa detik. Duniaku putih seketika.
Dalam kebutaan sementara itu, satu-satunya yang tersisa di benakku adalah bayangan kursor yang berkedip, kini tercetak di dalam kelopak mataku yang tertutup. Ia masih di sana, bahkan dalam kegelapan, terus menghitung mundur keberanianku yang kian menipis.