NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8. pengakuan yang mengubah segalanya

Lampu kamera menyala terlalu terang.

Sakira hampir tidak bisa membuka mata ketika kilatan blitz bertubi-tubi menyerangnya. Suara wartawan saling tumpang tindih, berebut pertanyaan seperti tak sabar menunggu darah pertama.

“Apakah benar Anda adalah wanita yang bersama CEO Raga tadi malam?”

“Hubungan apa yang sebenarnya terjadi?”

“Apakah ini hanya sensasi atau ada pernikahan rahasia?”

Sakira menelan ludah.

Tangannya dingin. Lututnya terasa lemah. Tapi di sampingnya, berdiri Raga—tegak, tenang, ekspresi datar seperti biasa. Jas hitamnya rapi tanpa cela. Tatapannya tajam dan penuh kontrol.

Pria itu tidak panik. Tidak goyah.Berbeda dengan dirinya.

Beberapa jam lalu, mereka masih berdebat di ruang kerja Raga. Sekarang mereka berdiri di lobi gedung perusahaan, menjadi konsumsi publik.

“Pegang tanganku,” bisik Raga pelan tanpa menoleh.

Sakira terdiam.

“Apa?”

“Kalau kamu terlihat ragu, saham perusahaan bisa turun.”

Nada suaranya tenang. Dingin. Rasional.

Seperti biasa.

Dengan jantung berdebar keras, Sakira menggenggam tangan Raga. Hangat. Kuat. Kokoh.

Entah kenapa, sentuhan itu membuatnya sedikit lebih stabil.

Raga maju selangkah mendekati mikrofon.

“Saya akan menjawab semuanya sekaligus,” katanya tegas. Suaranya berat dan berwibawa. Seketika ruangan hening.

“Sakira adalah wanita yang sedang menjalin hubungan serius dengan saya.”

Suara kamera semakin ramai.

Jantung Sakira seperti berhenti.

Menjalin hubungan serius?

Itu bukan bagian dari kontrak mereka.

Raga menoleh padanya sekilas. Tatapannya penuh peringatan.

Ikuti saja.

Sakira menarik napas panjang.

Benar,” ucapnya akhirnya, suaranya bergetar di awal tapi kemudian stabil “Kami memang bersama.”

Kalimat itu keluar.

Dan dalam satu detik, hidupnya berubah.

Di dalam mobil hitam milik Raga, suasana begitu sunyi.

Sakira menatap ke luar jendela. Tangannya masih gemetar.

“Kita tidak pernah sepakat soal hubungan serius,” katanya pelan.

Raga menyandarkan punggungnya. “Situasi berubah.”

“Dengan menyatakan kita menjalin hubungan serius, itu berarti—”

“Itu berarti publik tidak akan mencari wanita lain untuk dijadikan kambing hitam.”

Sakira menoleh tajam. “Jadi aku tameng?”

Raga menatapnya. “Kamu bagian dari kontrak.”

Jawaban itu seperti tamparan.

Sakira tertawa kecil, pahit. “Kontrak kita hanya tentang berpura-pura menjadi pasangan untuk menyelamatkan reputasimu, bukan menjual perasaan ke publik.”

“Apa kamu keberatan?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi tajam.

Sakira terdiam.

Keberatan?

Tentu saja. Tapi bukankah sejak awal ia tahu ini hanya transaksi?

“Tidak,” jawabnya akhirnya lirih.

Raga mengangguk puas. “Bagus.”

Mobil berhenti di depan apartemen Sakira.

Sebelum ia turun, Raga berkata pelan, “Mulai hari ini, kamu akan pindah ke penthouseku.”

Sakira membeku. “Apa?”

Media akan mengawasi. Kalau kita tidak tinggal bersama, mereka akan curiga.”

“Raga, itu tidak ada dalam kontrak.”

“Kita bisa merevisinya.”

Sakira menatapnya tak percaya.

“Dan kalau aku menolak?”

Raga menatapnya dalam-dalam. “Kamu tidak akan.”

Nada itu bukan ancaman. Tapi kepastian.

Dan entah kenapa, Sakira tahu ia benar.

Malam itu, Sakira berdiri di balkon apartemennya, memandangi kota yang gemerlap.

Angin malam menyentuh wajahnya, tapi pikirannya lebih kacau dari badai.

Ia membuka ponselnya.

Berita tentang dirinya dan Raga sudah tersebar di mana-mana.

Wanita Misterius Penakluk CEO Raga”

“Calon Istri CEO?”

“Hubungan Serius atau Rekayasa?”

Komentar publik lebih kejam dari yang ia kira.

Perempuan itu pasti cari uang.

Dia tidak selevel dengan Raga.

Pasti cuma wanita penghibur.

Sakira mematikan layar.

Dadanya sesak.

Kenapa ia harus peduli? Ini hanya kontrak.

Tapi kata-kata itu tetap menyakitkan.

Keesokan harinya, ia tiba di kantor pusat perusahaan Raga.

Bukan sebagai karyawan biasa.

Tapi sebagai “wanita CEO”.

Tatapan orang-orang berubah.

Bisik-bisik terdengar di belakangnya.

Ia berusaha berjalan tegak.

Di dalam lift, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang wanita masuk.

Elegan. Anggun. Mata tajam penuh kebencian.

Vanessa.

Wanita yang selama ini dikabarkan dekat dengan Raga.

Vanessa tersenyum tipis. “Jadi kamu.”

Sakira menatapnya tenang. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Kamu terlihat biasa saja.”

Senyum itu menusuk.

Sakira membalas dengan tenang. “CEO Raga tampaknya tidak setuju.”

Lift terasa makin sempit.

Vanessa mendekat sedikit. “Kamu pikir bisa bertahan lama? Kamu cuma permainan sementara.”

Sakira menahan emosinya. “Mungkin. Tapi untuk saat ini, saya yang berdiri di sampingnya.”

Pintu lift terbuka.

Vanessa keluar lebih dulu.

Tapi sebelum pergi, ia berbisik, “Hati-hati. Dunia Raga tidak semudah yang kamu bayangkan.”

Di ruang kerja Raga, suasana tegang.

“Aku tidak suka kamu bertemu Vanessa sendirian,” ucap Raga dingin.

“Kamu mengatur semua pergerakanku sekarang?”

“Aku melindungimu.”

Sakira tertawa kecil. “Lucu. CEO seperti kamu peduli soal perlindungan?”

Raga mendekat. Terlalu dekat.

“Jangan uji aku.”

Tatapan mereka bertemu.

Ada sesuatu di sana. Bukan hanya kontrak. Bukan hanya kepentingan.

Tapi sesuatu yang mulai berubah.

Tiba-tiba pintu diketuk keras.

Asisten Raga masuk dengan wajah panik.

“Tuan Raga… ada masalah besar.”

Raga menoleh tajam. “Apa?”

Seseorang membocorkan dokumen kontrak pribadi Anda.”

Sakira membeku.

Kontrak.

Kontrak mereka.

Jantungnya terasa jatuh ke perut.

“Media sudah mulai mendapatkannya,” lanjut sang asisten.

Ruangan terasa dingin.

Kalau kontrak itu tersebar, semuanya akan hancur.

Reputasi Raga. Perusahaan. Dan dirinya.

Raga berdiri perlahan. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan, tapi matanya menggelap.

“Siapa yang tahu soal kontrak itu?”

“Hanya Anda… dan Nona Sakira.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Sakira merasa napasnya tercekat.

Tatapan Raga perlahan beralih padanya.

Tidak ada tuduhan.

Tapi ada keraguan.

Dan itu lebih menyakitkan. “Aku tidak membocorkannya,” ucap Sakira pelan.

Raga menatapnya dalam diam.

Beberapa detik terasa seperti jam.

“Aku tahu,” katanya akhirnya.

Tapi entah kenapa, suara itu tidak sekuat biasanya.

Ponsel Raga berdering.

Ia mengangkatnya.

Wajahnya berubah.

“Ya… kirimkan sekarang.”

Ia menutup telepon dan menatap Sakira.

“Kontrak itu sudah sampai ke media.”

Dunia Sakira runtuh.

“Dalam hitungan jam, semuanya akan tayang.”

Sakira menelan ludah.

“Kalau publik tahu hubungan kita hanya kontrak… maka semua pengakuan tadi pagi akan menjadi kebohongan.”

Raga berjalan mendekat.

“Kita punya dua pilihan.”

“Apa?”

“Menyerah dan hancur.”

“Atau?”

Raga menatapnya dalam-dalam.

“Kita ubah kontrak itu… menjadi kenyataan.”

Sakira membeku.

“Maksudmu?”

“Kita umumkan pertunangan.”

Jantungnya berhenti berdetak.

“Raga, kamu gila?”

“Mungkin.”

Tatapan pria itu tidak lagi dingin seperti biasanya.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda.

Lebih personal.

Lebih nyata.

“Kalau kita bertunangan, kontrak itu tidak akan lagi terlihat seperti kebohongan.”

“Itu keputusan hidup, bukan strategi bisnis!”

Raga memegang bahunya.

“Sejak kamu masuk ke hidupku, tidak ada lagi yang murni bisnis.”

Kalimat itu membuat udara terasa berat.

Di luar ruangan, suara gaduh mulai terdengar.

Media sudah tiba di gedung.

Waktu mereka hampir habis.

“Sakira,” ucap Raga pelan. “Kamu percaya padaku?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi jawabannya akan menentukan segalanya.

Sakira menatap pria di depannya.

CEO dingin yang awalnya hanya transaksi.

Kini menjadi pusat hidupnya.

Apakah ini masih kontrak?

Atau sudah berubah menjadi sesuatu yang tak bisa ia kendalikan?

Di luar, suara wartawan semakin keras.

Keputusan harus diambil sekarang.

Dan Sakira tahu…

Apapun yang ia pilih, tidak ada jalan kembali.

Bersambung… 🔥

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!