"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Ratu yang Kembali ke Istana Cahaya
Devan Mahendra tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati. Setelah insiden pengusiran Sophia, pria itu benar-benar menjalankan rencananya. Ia tidak hanya memberikan akses, tapi ia ingin menjadikan Clarissa sebagai senjata pemusnah massal di pesta tahunan Business Excellence Award malam ini—pesta yang dulu selalu dihadiri Clarissa sebagai bintang utama.
"Gunakan ini. Aku tidak ingin ada alasan bagimu untuk terlihat pecundang di depan mereka," ucap Devan sambil menunjuk sebuah kotak beludru hitam di atas meja rias butik eksklusif yang ia sewa khusus.
Clarissa membuka kotak itu. Sebuah gaun emerald satin dengan potongan backless yang berani berkilau di bawah lampu kristal. Di sampingnya, terdapat kalung berlian yang nilainya cukup untuk membeli sepuluh kontrakan Lestari.
Clarissa tersenyum tipis. Ia memandang pantulan dirinya di cermin besar. Wajah Lestari yang tadinya kusam kini tampak bercahaya setelah sentuhan tangan penata rias profesional. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai leher jenjangnya.
"Kau tampak... berbeda," bisik Devan yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Mata pria itu tidak lepas dari pantulan bahu polos Clarissa.
"Tentu saja. Bukankah Anda ingin seorang 'Ratu', Tuan Devan?" Clarissa berbalik, membuat jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa inci. Aroma parfum amber dari Devan menyerang indranya, menciptakan ketegangan yang membuat jantungnya berdegup tak beraturan.
Devan mengulurkan tangannya, mengelus rahang Clarissa dengan ibu jarinya. "Jangan biarkan emosimu mengacaukan rencana. Malam ini, kau hanya Konsultanku. Mengerti?"
"Tentu. Aku akan menjadi asisten yang sangat... patuh," jawab Clarissa dengan nada menggoda yang membuat rahang Devan mengeras.
Gedung Grand Ballroom hotel bintang lima itu dipenuhi cahaya keemasan. Karpet merah membentang, menyambut para elit bisnis Jakarta. Di tengah kerumunan, Kenzo tampil sangat percaya diri dengan setelan jas hitamnya, sementara Angelica bergelayut di lengannya dengan gaun merah yang mencolok.
"Sayang, lihat semua orang menatap kita. Mereka pasti tahu kalau sekarang K-Corp ada di tangan kita sepenuhnya," bisik Angelica dengan nada sombong.
Kenzo tertawa, menyesap champagne-nya. "Tentu saja. Tanpa Clarissa yang kaku itu, kita jauh lebih bersinar. Malam ini adalah perayaan kemenangan kita."
Namun, suasana riuh itu tiba-tiba sunyi senyap saat pintu besar ballroom terbuka. Semua mata tertuju pada pasangan yang baru saja masuk. Devan Mahendra melangkah masuk dengan aura dominan, dan di lengannya, seorang wanita cantik dengan gaun hijau zamrud berjalan dengan keanggunan yang tidak manusiawi.
"Siapa wanita di samping Tuan Devan itu? Cantik sekali!"
"Lihat auranya, dia sangat mirip dengan mendiang Clarissa Wijaya!"
Bisikan itu sampai ke telinga Kenzo. Ia menoleh dan seketika tangannya gemetar hingga gelas di genggamannya hampir jatuh. Mata itu... dagu yang terangkat itu... ia sangat mengenalnya.
"Tidak mungkin..." gumam Kenzo. "Lestari?"
Angelica mendelik. "Apa? Si tukang pel dekil itu? Mana mungkin! Itu pasti model internasional yang disewa Devan!"
Devan dan Clarissa berjalan mendekati area VIP, tepat ke arah Kenzo dan Angelica berdiri. Clarissa bisa merasakan kemarahan yang meluap di dadanya saat melihat wajah pengkhianat itu, namun ia tetap memasang senyum paling menawan di bibirnya.
"Tuan Kenzo, Nona Angelica. Senang bertemu kalian di sini," suara Clarissa terdengar jernih dan berkelas, sama sekali tidak ada sisa suara gadis desa milik Lestari.
Kenzo terperangah. "Kau... kau benar-benar Lestari? Bagaimana bisa seorang pelayan berubah menjadi..."
"Pakaian hanya pembungkus, Tuan Kenzo. Yang penting adalah apa yang ada di dalamnya," potong Clarissa tajam. Ia menoleh ke arah Angelica yang sedang menatap kalung berliannya dengan mata merah karena iri. "Nona Angelica, gaun merahmu sangat... mencolok. Sayang sekali, warnanya terlalu terang untuk menutupi rasa cemas di wajahmu."
"Kau! Dasar jalang miskin! Beraninya kau bicara begitu padaku!" Angelica mengangkat tangannya, hendak menyiramkan minuman ke wajah Clarissa.
Namun, sebelum tangan itu bergerak, Devan sudah menangkap pergelangan tangan Angelica. Cengkeramannya begitu kuat hingga Angelica merintih kesakitan.
"Jangan pernah mencoba menyentuh wanitaku di depanku, Nona Angelica. Kecuali kau ingin Mahendra Group menarik semua investasi dari perusahaan suplier keluargamu malam ini juga," ancam Devan dengan suara rendah yang mematikan.
Kenzo segera menarik Angelica mundur. "Maaf, Tuan Devan! Dia hanya sedikit emosional. Tapi... apa maksud semua ini? Kenapa Anda membawa pelayan saya ke pesta ini?"
Clarissa maju satu langkah, menatap tepat ke dalam manik mata Kenzo. "Aku bukan lagi pelayanmu, Kenzo. Aku adalah orang yang akan memastikan semua kebohonganmu tentang 'Angel Cloud' terbongkar di depan dewan komisaris besok pagi."
Wajah Kenzo seketika pucat pasi. "Darimana kau tahu soal..."
"Aku tahu segalanya, Kenzo. Bahkan hal-hal yang kau pikir sudah terkubur bersama mobil yang terbakar itu," bisik Clarissa tepat di telinga Kenzo, membuat pria itu merinding ketakutan.
Clarissa kemudian berbalik dengan anggun, membiarkan Kenzo membeku dalam ketakutannya sendiri. Devan mengikutinya dari belakang, memberikan tatapan peringatan terakhir pada Kenzo.
Di balkon gedung yang sepi, Clarissa menghirup udara malam yang dingin. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena adrenalin yang masih terpompa.
"Kau melakukannya dengan baik," ucap Devan yang tiba-tiba muncul di sampingnya, menyampirkan jasnya ke bahu polos Clarissa.
"Ini baru permulaan, Devan. Aku ingin mereka kehilangan segalanya. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya berada di dasar lantai yang selama ini aku pel," jawab Clarissa dengan mata yang berkilat penuh dendam.
Devan menatap profil samping Clarissa. Keberanian dan kecerdasan wanita ini benar-benar mengusiknya. "Kenapa kau begitu membenci mereka? Kau bicara seolah-olah kau adalah Clarissa yang asli."
Clarissa menoleh, menatap Devan dengan tatapan sendu. "Bagaimana jika aku katakan... kalau jiwa Clarissa memang tidak pernah pergi?"
Devan terdiam. Ia menarik Clarissa ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang hangat dan protektif. "Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya. Lestari atau Clarissa... yang aku tahu, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Saat Devan hendak menundukkan kepalanya untuk mencium Clarissa, ponsel Clarissa di dalam tas kecilnya bergetar hebat. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk lagi.
[Lihat ke bawah, Kakak. Hadiah kecil untukmu.]
Clarissa dan Devan serentak melihat ke bawah, ke arah area parkir. Di sana, mobil Kenzo meledak hebat hingga menciptakan bola api raksasa. Teriakan histeris terdengar dari dalam gedung.
Clarissa membeku. Itu bukan rencananya. Ada orang lain yang sedang bermain di bayangan. Seseorang yang jauh lebih berbahaya dari Kenzo.
"Seseorang sedang mencoba menjebakku..." bisik Clarissa dengan wajah pucat.