Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Vampir
"Ka...kak...tidak..kakak harus bertahan!" Aira menangis dengan sedih.
Ember yang mencoba untuk tersenyum, memandang adiknya. "Aira...aku...aku tidak bisa...melanjutkannya lagi". Dengan suara terbata menahan rasa sakit
Aira yang masih menangis, mengangkat tangannya dan mencoba untuk menghentikan darah yang keluar dari luka kakaknya. "Kakak, jangan bicara! Aku akan mencari bantuan!"
Ember yang mencoba untuk menahan sakit, tangannya menghentikan Aira yang hendak pergi. "Aira...dengarkan aku. Aku tidak bisa...melanjutkannya lagi...aku ingin kamu...membalas dendam...untuk kita semua"
Aira yang masih menangis, menggelakkan kepala. "Tidak, kakak! Kamu harus bertahan! Aku tidak bisa hidup tanpa kamu!"
Ember yang mencoba untuk tersenyum, memandang adiknya. "Aira...aku akan selalu...ada di hatimu...jangan lupa...aku mencintaimu"
"Tidak..tidak!" Teriak Aira. "Hanya kakak satu-satunya yang Aira miliki sekarang. Kakak harus tetap hidup!". Bantahnya.
Ember melepaskan kalung pusaka yang telah ayahnya, Raja Skypia berikan dahulu. "Pakailah ini Aira. Ini akan menjadi bekal untukmu nanti". Ucap Ember melemah.
Aira menggeleng. "Tidak! itu milikmu...selamanya milikmu. Kamu harus hidup kak!". Aira terus membantah dengan tangan dipenuhi darah Ember yang tak berhenti keluar.
"Ah sial!...kenapa darahnya tidak berhenti keluar. Andaikan aku memiliki kekuatan..". Aira semakin panik.
"Hentikan Aira, jangan membuang energimu untukku". Ember semakin melemah.
"Kakak! Buka matamu kak!...aku mohon". Ucap Aira bergetar
Tubuh Ember yang lemah, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Aira yang masih menangis, memeluk kakaknya dengan erat.
"Kakak...kakak...tidak...tidak mungkin" Aira menangis dengan sedih, tidak bisa menerima kenyataan bahwa kakaknya telah pergi.
"Kalian jahat!...Kalian meninggalkanku di sini sendirian. Kenapa kalian tidak membawaku pergi?". Racau Aira ditengah tangisannya.
Aira menangis sampai tertidur sambil memeluk tubuh Ember yang sudah tak bernyawa. Tangisannya berhenti, tapi tidak dengn suara letupan dan gemuruh bangunan yang runtuh di seberang sana.
...
Keesokan harinya tubuh Ember masih terbaring di tanah. Aira yang masih memeluk kakaknya, mencoba untuk mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersama kakaknya.
Aira yang masih menangis, akhirnya menyadari bahwa dia tidak bisa tinggal di situ lebih lama. Dia harus pergi dan mencari cara untuk membalas dendam kepada Raja Ignis.
Dengan susah payah, Aira melepaskan pelukan dari kakaknya dan berdiri. Dia memandang ke arah tubuh kakaknya yang terbaring di tanah, lalu mengambil kalung pusaka yang diberikan oleh Ember.
"Aku akan membalas dendam, kakak. Aku akan membuat Raja Ignis membayar atas apa yang telah dia lakukan," kata Aira dengan suara yang penuh dengan tekad.
Aira yang masih menangis, memandang ke arah hutan yang gelap. Dia tahu bahwa dia harus pergi dan mencari cara untuk membalas dendam.
Aira, seorang putri es yang kuat, berdiri di atas gunung yang tinggi, menatap ke arah kerajaan yang terbakar. Api yang berkobar-kobar, menghancurkan segala yang ada di depannya.
"Ayahanda...apa yang dahulu kau jaga dengan baik, kita telah hancur". Lirih Aira.
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Aira menoleh ke arah suara itu, dan melihat seorang pria misterius dengan mata yang berkobar-kobar seperti api, berjalan menuju ke arahnya.
"Siapa kamu?" tanya Aira, suaranya dingin dan tajam.
Aira bersikap waspada dengan pria dihadapannya. Ini kali pertama Aira bertemu dengan orang lain selain orang-orang yang hidup di dalam istana.
Pria itu menatap Aira ramah, ia melihat dari atas sampai bawah membuat Aira tak nyaman.
Aira menyadari bahwa seluruh pakaian kerajaannya yang dipenuhi darah kakaknya inilah yang memancing pria itu datang.
"Siapa kamu?". Aira mengulangi pertanyaannya.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat". Ujar pria itu.
"Kalau aku tidak mau?". Sergah Aira.
"Bukankah kamu ingin membalaskan dendammu pada Raja Ignis?". Pria itu tak sengaja menyeringai hingga menampilkan ujung gigi taringnya .
Aira menyadari kalau pria yang ada di hadapannya bukanlah manusia. Aira perlahan berjalan mundur. "Tidak! Kau bukan manusia! ". Ucap Aira percaya diri.
Pria itu menyunggingkan senyumnya. "Kenapa kau mengatakan hal yang mustahil?"
"Kau vampir!". Ucap Aira tegas.
Aira mengambil langkah mundur. "Pergi sebelum aku-..."
"Memangnya kamu memiliki kuasa apa untuk mengusirku?". Pria itu tertawa puas. "Statusmu yang tinggi sangatlah tidak cocok untuk tubuhmu yang lemah".
Aira merasa was-was karena pria itu bukan tandingannya. "Apa yang kamu mau? Aku tidak memiliki harta!".
Pria itu tertawa lagi, menunjukkan gigi taringnya yang tajam. "Harta? Ha! Aku tidak butuh harta. Aku butuh sesuatu yang lebih berharga... kekuasaan."
Aira merasa bulu kuduknya berdiri saat pria itu mendekatinya, mata api birunya berkedip dengan intensitas yang membuat Aira merasa seperti dia sedang ditelan oleh kegelapan.
"Kamu... kamu ingin menggunakan aku untuk membalaskan dendam?" tanya Aira, suaranya bergetar, mencoba untuk menyembunyikan ketakutannya. Pria itu tersenyum lagi, dan Aira bisa melihat kilatan kegembiraan di matanya.
"Tidak hanya itu," suaranya rendah dan menggugah. "Aku ingin kamu menjadi milikku. Dengan kekuatan esmu, kita bisa menguasai dunia ini, membuat mereka semua tunduk di bawah kaki kita." Aira merasa jijik dengan tawaran itu, tapi dia tahu bahwa dia harus tetap tenang jika ingin memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentangku," kata Aira, mencoba untuk mengalihkan perhatian pria itu. "Aku tidak akan pernah menjadi budakmu."
Pria itu tertawa lagi, dan Aira bisa merasakan napasnya yang dingin di wajahnya. "Ah, aku tahu lebih banyak tentang kamu daripada yang kamu pikir," katanya, suaranya penuh dengan kepercayaan diri.
"Aku tahu kamu ingin membalaskan dendam atas kematian keluargamu, aku tahu kamu ingin menghancurkan Raja Ignis... dan aku bisa membantumu melakukan itu." Aira merasa seperti dia sedang terjebak, tidak tahu bagaimana cara untuk melarikan diri dari situasi ini.
"Apa rencanamu?". Aira mencoba memancing gairah pria itu.
"Tapi dengan satu syarat," tambah pria itu, matanya berkedip dengan intensitas. "Kamu harus menjadi milikku."
Aira merasa dirinya ditarik ke arah pria itu, dan dia tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu sebelum terlambat. Dengan langkah cepat, Aira berlari meninggalkan pria itu. Aira berpikir kalau pria itu membiarkannya pergi, namun apa yang ia perkirakan ternyata salah.
Aira berlari dengan napas yang terengah-engah, jantungnya berdetak kencang karena ketakutan. Dia bisa mendengar suara langkah kaki pria itu di belakangnya, semakin dekat dan dekat. Aira mencoba untuk meningkatkan kecepatannya, tapi pakaiannya yang berat membuatnya sulit untuk bergerak.
"Hah... hah..." Aira terengah-engah, mencoba untuk menarik napas. Dia tahu bahwa dia tidak bisa berlari selama-lamanya. Pria itu pasti akan menangkapnya jika dia tidak melakukan sesuatu.
Tiba-tiba, Aira melihat sebuah pohon besar di depannya. Dia berlari ke arah pohon itu dan mencoba untuk memanjatnya.
"Aku akan menemukanmu kemana pun kau pergi. Karena ini adalah wilayahku" Pria itu tertawa dan mencoba untuk menangkap Aira,
Tetapi Aira berhasil memanjat pohon itu dan bersembunyi di balik dedaunan. Aira mencoba untuk menahan napasnya, mendengarkan suara pria itu yang semakin dekat.
Pria itu bisa mendengar suara napas Aira yang berat, pria itu menghentikan langkah kakinya yang sampai di bawah pohon.
"Kamu tidak bisa bersembunyi selamanya, putri es," kata pria itu, suaranya penuh dengan kepercayaan diri. "Aku akan menemukanmu, dan ketika aku melakukannya... kamu akan menjadi milikku."
"Aku tahu kau ada di atas sana. Turunlah sebelum aku menarikmu kehadapanku". Ucap pria itu tanpa menoleh ke atas pohon itu.