Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Langkah Luna gontai saat menapaki anak tangga mansion Storm yang dingin dan sunyi. Begitu pintu kamar jati itu tertutup rapat, ia langsung menguncinya. Napasnya memburu, jemarinya yang gemetar mulai membuka satu per satu kancing kemeja birunya yang terasa mencekik.
Di depan cermin besar setinggi tubuh, Luna berdiri terpaku. Ia memutar tubuhnya ke samping, menyampingkan kain kemejanya. Di sana, di balik kulit perutnya yang biasanya rata dan kencang karena balet, kini tampak sebuah lengkungan yang nyata. Itu bukan lemak yang bergelambir. Itu adalah benjolan keras yang halus, sebuah kubah kecil yang melindungi kehidupan.
"Tidak mungkin ini lemak..." bisiknya dengan suara parau.
Ia teringat kotak test pack yang dilemparkan Hera di mobil. Dengan langkah ragu, ia merogoh laci meja riasnya. Luna masuk ke kamar mandi dengan jantung yang berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Menit-menit menunggu hasil itu terasa seperti ribuan tahun.
Dan saat ia melihatnya... dua garis merah. Sangat jelas. Sangat tegas.
Luna jatuh terduduk di lantai porselen. Air matanya tumpah begitu saja. Di kepalanya berputar kata-kata Zayn tadi siang, Zella itu anjing mami!
"Bisa-bisanya... bisa-bisanya aku hamil saat aku tahu Zella hanyalah seekor anjing!" Luna berteriak frustrasi. Rasa sesak, marah, dan haru bercampur menjadi satu ledakan emosi. Ia berlari ke balkon kamarnya, berdiri di bawah langit senja yang mulai menggelap, dan berteriak sekeras-kerasnya ke arah cakrawala.
"ZAYN GRACIANO, KAU PRIA BRENGSEK!"
Hera yang sedang bersantai di kolam renang bawah langsung tersentak. Ia berlari kencang menuju kamar kakaknya, menggedor pintu dengan panik. "Luna! Luna! Ada apa? Kau terluka? Apa ada yang sakit?"
Luna membukakan pintu dengan wajah yang basah oleh air mata dan tangan yang memegang alat tes kecil itu. "Aku hamil, Hera..." ucapnya lesu, nyaris ambruk. "Aku benar-benar hamil."
Hera tertegun, lalu senyum lega sekaligus cemas terbit di wajahnya. "Aku sudah menduganya, Luna! Sudah kubilang jangan percaya pada kata stres itu."
"Tapi kau tahu yang lebih gila?" Luna memukul bahu Hera pelan sambil terisak. "Zella itu anjing, Hera! Anjing Golden Retriever! Zayn mengatakan dia bosan padaku, menolakku mentah-mentah, dan membiarkanku menangis setiap malam hanya karena dia lebih memprioritaskan rasa sayangnya pada anjing maminya daripada aku yang memohon-mohon seperti pengemis! Huaaaaa!"
Luna menangis sejadi-jadinya di bahu Hera. Antara malu karena sudah cemburu pada binatang, dan marah karena taktik Zayn yang sangat picik.
Hera, di sisi lain, berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Bayangan Zayn yang sangar dan bertato ternyata menggunakan seekor anjing sebagai "kekasih gelap" untuk mengusir Luna benar-benar komedi gelap tingkat tinggi.
"Tenanglah, Luna. Setidaknya sekarang kita tahu tidak ada wanita London lain," hibur Hera sambil menepuk-nepuk punggung kakaknya. "Ayah dan Ibu sudah berangkat ke New York tadi sore, mereka tidak akan kembali selama sebulan. Kita punya waktu untuk memikirkan bagaimana cara menyembunyikan perutmu ini nanti. Tapi sekarang, Zayn harus tahu."
Hera meraih ponselnya. "Aku akan menghubungi si brengsek itu sekarang."
"Jangan!" Luna menyambar ponsel Hera. Mata birunya yang sembab mendadak berkilat penuh tekad. "Aku tidak akan memberitahu soal darah dagingnya hanya lewat telepon. Itu terlalu mudah untuknya. Aku ingin melihat wajahnya yang bodoh itu saat tahu dia sudah menghina ibu dari anaknya sebagai barang membosankan."
Luna menyeka air matanya dengan kasar. Keangkuhannya sebagai Putri Storm kembali muncul, tapi kali ini dengan alasan yang lebih kuat. "Telepon Arlo. Tanyakan di mana Zayn sekarang."
Hera segera menghubungi Arlo. Setelah beberapa menit berbincang, Hera menutup telepon dengan seringai kecil. "Arlo bilang Zayn ada di apartemennya. Dia tidak pergi ke bengkel malam ini. Katanya dia sedang mengurung diri sambil menenggak wiski karena menyesal sudah membentakmu di parkiran tadi."
"Bagus," Luna meraih jaket panjang untuk menutupi perutnya. "Antar aku ke apartemennya sekarang, Hera. Aku punya perhitungan yang harus diselesaikan."
Di dalam mobil, suasana terasa sangat tegang. Luna terus menggenggam test pack itu di dalam saku jaketnya. Ia membayangkan bagaimana reaksi Zayn. Apakah pria itu akan tetap bersikap dingin? Ataukah dia akan berlutut di kakinya setelah tahu Zella-nya tidak bisa memberikan anak seperti dirinya?
"Kau yakin akan menemuinya sekarang?" tanya Hera sambil memacu mobil membelah jalanan kota. "Wajahmu masih pucat, Luna."
"Harus, Hera. Aku tidak bisa tidur satu malam lagi dengan beban ini sendirian. Dia harus tahu kalau anak-anak yang dia sebut tadi siang bukan sekadar imajinasi," jawab Luna tegas.
Sesampainya di gedung apartemen Zayn yang terletak di distrik industri yang modis namun tenang, Luna turun dengan langkah yang tidak lagi gemetar. Ia tidak lagi peduli pada bau parfum yang menyengat atau rasa mual yang mungkin menyerang. Fokusnya hanya satu, pintu apartemen nomor 402.
Luna berdiri di depan pintu kayu berwarna gelap itu. Ia menarik napas panjang, menekan bel dengan kasar berkali-kali.
Pintu terbuka dengan sentakan. Zayn berdiri di sana, hanya mengenakan celana kain hitam tanpa atasan. Rambutnya berantakan, matanya merah, dan aroma alkohol tercium samar dari napasnya. Begitu melihat Luna, Zayn tertegun. Gelas di tangannya nyaris terjatuh.
"Luna? Kenapa kau kemari..."
Sebelum Zayn sempat menyelesaikan kalimatnya, Luna melangkah masuk dengan paksa, mendorong dada bidang Zayn agar ia bisa masuk ke dalam ruangan.
"Tutup pintunya, Zayn," perintah Luna dingin.
Zayn menurut, ia menutup pintu dengan bingung. "Luna, soal tadi siang di kampus... Zella benar-benar anjing mami, aku bersumpah. Aku hanya..."
"Aku tidak peduli lagi soal anjing mamimu, Zayn!" Luna berbalik, menatap Zayn dengan tatapan yang menghujam. "Kau bilang kau bosan denganku? Kau bilang kau tidak ingin mengkhianati anjingmu itu dengan menyentuhku lagi?"
Zayn menunduk, wajahnya tampak sangat menyesal. "Aku hanya ingin kau membenciku agar kau tidak terancam oleh Ayahmu, Lun. Aku tidak pernah bosan. Aku mencintaimu sampai gila."
Luna mengeluarkan alat tes dari sakunya dan melemparnya ke dada Zayn. Alat itu mendarat di lantai setelah mengenai perut Zayn.
"Lihat itu. Lihat hasil dari malam bosan yang kau katakan itu," suara Luna mulai bergetar lagi. "Kau mungkin bisa berbohong soal anjing, Zayn. Tapi kau tidak bisa membohongi kehidupan yang sekarang sedang tumbuh di rahimku karena kebodohanmu yang tidak mau menarik diri malam itu."
Zayn membeku. Ia memungut alat plastik kecil itu dengan tangan yang bergetar hebat. Matanya menatap dua garis merah itu seolah itu adalah benda paling suci di dunia.
Detik berikutnya, Zayn jatuh berlutut di depan Luna, air matanya jatuh tanpa suara, kepalanya bersandar tepat di depan perut Luna yang kini ia sadari memang telah membawa dunianya.
"Maafkan aku, Luna... maafkan aku sayang..." bisik Zayn sambil terisak, tangannya yang kasar kini menyentuh lembut perut Luna, seolah takut akan menghancurkan sesuatu yang berharga di sana.
Luna berdiri tegak, meski air matanya kembali mengalir, ia membelai rambut Zayn dengan kasar. "Kau berutang penjelasan yang sangat panjang padaku... dan kau berutang permintaan maaf pada anak-anak ini karena menyebut mereka sebagai beban yang membosankan."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰