NovelToon NovelToon
Di Balik Kontrak Ibu Susu

Di Balik Kontrak Ibu Susu

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Pernikahan Kilat / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah / Ibu susu / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆JUARA YAAW PERIODE 3 2025 TEMA KREATIF "IBU SUSU"🏆

Dituduh pembunuh suaminya. Diusir dari rumah dalam keadaan hamil besar. Mengalami ketuban pecah di tengah jalan saat hujan deras. Seakan nasib buruk tidak ingin lepas dari kehidupan Shanum. Bayi yang di nanti selama ini meninggal dan mayatnya harus ditebus dari rumah sakit.

Sementara itu, Sagara kelimpungan karena kedua anak kembarnya alergi susu formula. Dia bertemu dengan Shanum yang memiliki limpahan ASI.

Terjadi kontrak kerja sama antara Shanum dan Sagara dengan tebusan biaya rumah sakit dan gaji bulanan sebesar 20 juta.

Namun, suatu malam terjadi sesuatu yang tidak mereka harapkan. Sagara mengira Shanum adalah Sonia, istrinya yang kabur setelah melahirkan. Sagara melampiaskan hasratnya yang ditahan selama setelah tahun.

"Aku akan menikahi mu walau secara siri," ucap Sagara.

Akankah Shanum bertahan dalam pernikahan yang disembunyikan itu? Apa yang akan terjadi ketika Sonia datang kembali dan membawa rahasia besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Bu Elia berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada. Tatapan matanya tajam, setajam pisau yang siap menebas siapa pun yang berani mengusik harga dirinya.

Di depannya, berdiri seorang pria berwajah lelah dengan rambut yang sebagian sudah memutih, Pak Samil, ayahnya Shanum. Baju pria itu kusam, sepatunya kotor sisa perjalanan jauh. Namun, dalam sorot matanya, tersimpan harapan besar yang begitu rapuh.

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Bu Elia sinis. Nada suaranya dingin, seolah tiap kata keluar untuk melukai.

“Mau jenguk Shanum, Bu. Bukannya minggu ini waktunya dia lahiran?” jawab Pak Samil, menunduk sopan, menahan gugup. Ujung jarinya meremas-remas topi lusuh di tangan, seakan berusaha menahan getar di dadanya.

Namun, jawaban yang datang bukan kabar gembira, melainkan badai yang menghancurkan segala harapan.

“Dia sudah pergi dari sini setelah membunuh Alvin,” ujar Bu Elia lantang, suaranya memecah udara pagi seperti petir.

“Astaghfirullahaladzim!” seru Pak Samil kaget. Tubuhnya serasa kehilangan tulang, napasnya memburu, langkahnya goyah. Dunia di sekelilingnya mendadak kabur.

“Tidak mungkin. Shanum tidak mungkin melakukan hal sekejam itu, Bu. Dia mencintai Alvin! Dia menghormati suaminya. Shanum itu anak yang penurut,” lanjut Pak Samil dengan suaranya bergetar, antara marah dan hancur.

Bu Elia mendengus keras.

“Heh, dia itu kabur sama laki-laki lain! Anak dalam perutnya juga bukan anak Alvin! Selamanya aku tidak akan pernah mengakui anak itu sebagai cucuku. Camkan itu!” teriaknya, penuh kebencian yang memancar dari wajahnya. Suaranya menggema, menembus pagar, bahkan menarik perhatian para tetangga yang diam-diam mengintip dari balik tirai.

Pak Samil terpaku. Seolah seluruh darah dalam tubuhnya berhenti mengalir. Kedua matanya berkaca-kaca, menatap sosok perempuan yang kini menjadi dinding kokoh antara dirinya dan anaknya. Ia datang dari jauh, menempuh perjalanan seharian penuh dengan harapan kecil bisa menatap wajah Shanum dan cucunya. Akan tetapi yang ia dapat hanyalah tuduhan dan hinaan.

Tanpa ampun, Bu Elia membanting pintu. Suara kerasnya membuat kaca jendela bergetar, seolah ikut menangis bersama langit yang kembali meneteskan gerimis.

Di depan pintu yang kini tertutup rapat, Pak Samil berdiri terpaku. Tangannya menggenggam topi lusuh di dada. Air matanya jatuh tanpa suara, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi pipinya yang keriput.

"Shanum ... kamu di mana, Nak? Ayah datang untuk mencari kamu," gumam Pak Samil lirih, nyaris tak terdengar. Suaranya serak, penuh luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata.

Ia menengadah ke langit. “Ya Allah, di mana pun putriku berada, lindungilah dia. Jangan biarkan anakku tersesat di dunia yang kejam ini.”

Dengan langkah gontai dan tubuh lunglai, Pak Samil meninggalkan rumah besannya itu. Dalam perjalanan pulang ke desa, doa dan air mata menjadi teman setianya. Setiap kali angin malam berhembus, hatinya terasa semakin kosong, seolah ada bagian dari dirinya yang tercerabut dan tak akan pernah kembali.

***

Shanum sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah lelah namun teduh. Di pelukannya, Abyasa menyusu dengan lahap. Bayi mungil itu seolah tidak ingin lepas dari kehangatan wanita yang menyusuinya. Tangan yang kecil menggenggam kuat ujung baju Shanum, seolah berkata: "Aku butuh Ibu."

Bibir Shanum mengukir senyum lembut, tapi matanya berkaca-kaca.

“Kalau menyusu seperti ini, lama sekali kamu, Nak,” bisik Shanum pelan. “Berbeda dengan Arsyla, dia cepat kenyang. Kamu benar-benar kuat, ya?”

Pintu kamar terbuka tiba-tiba.

“Shanum, aku sudah—” suara bariton Sagara terhenti.

Matanya membulat ketika melihat Shanum sedang menyusui. Seketika, wajahnya menegang, lalu memalingkan pandangannya cepat-cepat. Begitu pula Shanum yang spontan memunggungi arah pria itu. Pipinya panas, jantungnya berdegup tak karuan.

Sagara berdeham gugup. “Nanti … kamu datang ke ruang kerjaku!” katanya singkat sebelum menutup pintu dan pergi dengan langkah cepat. Ia menuju kamarnya, mencoba menenangkan pikirannya di balik uap air hangat dari bathtub. Berjuang melawan pikiran-pikiran yang tak sepantasnya muncul.

Beberapa jam kemudian, Shanum berdiri ragu di depan pintu ruang kerja. Tangannya menggenggam ujung jilbab, menunduk dalam.

Sagara duduk di sofa, bertumpang kaki, wajahnya datar seperti biasa. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat.

"Apa ini ayahmu?" tanyanya tanpa basa-basi. "Orangku sudah pergi ke rumahmu di kampung. Dia sakit dan langsung dibawa ke rumah sakit."

Shanum membeku. Jantungnya berdebar tak karuan. Tangannya gemetar saat membuka amplop itu dan begitu melihat foto di dalamnya, tubuhnya melemas.

Foto itu memperlihatkan ayahnya terbaring di atas brankar, tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat seperti kehilangan cahaya hidup.

“Ya Allah, Ayah ....” Suara Shanum pecah. Air mata menetes satu per satu, jatuh di atas foto yang kini ia dekap di dada. “Kenapa jadi begini, Ayah? Sakit apa beliau, Pak?”

Sagara menatap wanita muda itu lama, lalu berkata pelan, “Tenang saja. Ayahmu sudah mendapatkan perawatan dari dokter terbaik. Dia sakit karena terlalu memikirkan kamu. Tapi sekarang, dia sudah lebih baik. Setelah tahu kamu baik-baik saja.”

Shanum menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. “Terima kasih, Pak. Bapak sudah mau mencari keberadaan Ayah saya,” ucapnya lirih sambil menyeka air matanya.

Sagara menggeser paper bag ke arahnya. “Ini ponsel untukmu. Sudah ada nomor kontak ayahmu di dalamnya.”

Shanum menatap benda itu seolah tak percaya. “Terima kasih, Pak. Bapak, sangat baik sekali,” ucapnya dengan suara bergetar, senyum tipis mengembang di bibirnya yang masih basah oleh air mata. Dalam hatinya, ia tahu kebaikan itu mungkin dibayar mahal, tetapi ia tetap bersyukur.

Sagara hanya berdehem kecil. “Dua ponsel itu dipotong dari gaji kamu bulan depan,” ujarnya datar.

Shanum mengangguk cepat, meski dadanya perih. “Iya, Pak. Terima kasih banyak.”

Shanum beranjak keluar perlahan, menunduk dalam. Begitu pintu tertutup di belakangnya, air matanya kembali jatuh. Ia memeluk foto ayahnya erat-erat sambil berbisik lirih.

“Ayah, aku rindu sama Ayah. Aku mohon bertahanlah. Tunggu aku pulang."

Di balik pintu, Sagara hanya menatap punggungnya yang menjauh, lalu menarik napas panjang. Entah mengapa, di balik sikap dinginnya, ada sesuatu di dadanya yang ikut sesak, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

***

Hari ini crazy up, ya. Dari kemarin sinyal jelek.

1
Erna Lubis
saya suka alur ceritanya
Sandisalbiah
lagian Shanum itu ibu kandung Abyasa, jelas dia punya hak penuh atas anknya mengingat Aby masih balita dan itu gak bisa di tuntun perwaliannya atau gak asuhnya apalagi kondisi Sahnum yg mendukung dgn segala finansialnya.. Elia kan cuma nenek dan dia pun gak punya pekerjaan harusnya pengadilan udah bisa jadikan itu semua sebagai pertimbangan utk menentukan hak asuh.. aneh..
Sandisalbiah
karakter Shanum itu baik dan lemah lembut tp terlalu lemah, seakan gak punya niat buat belah diri ... jelas Elia dan Alana yg berbuat buruk padanya tp di tetap diem seakan semua fitnah yg mereka sebarkan itu kebenaran yg dia Terima dgn kediamannya itu.. hah.. gemes juga jadinya
Sandisalbiah
hadehh.. gerah banget setiap baca bab yg ada dua anomali gak jelas ini.. buruk sifat, akhlak, prilaku.. lengkap semua keburukan di borong.. mana awet lagi gak langsung di eliminasi dr cerita..
Sandisalbiah
dasar maruk.. keadilan buat Alvin atau sekedar niat buat memuaskan ego anda.. nyonya Eli..
Sandisalbiah
ibu dan adik almarhum Alvin juga banyak dosa pd Shanum tp mereka tetap hidup dan semakin sombong dgn mulut beracun mereka itu.. apa gak ada tuh azab buat dua perempuan demit itu
Sandisalbiah
Sonia ingin melepaskan Sagara buat Shanum sebagai bentuk kasih sayang terakhir utk org² yg dia cintai.. suami dan juga saudara kembarnya... Shanum yg pertama mengalah utk kebahagiaan Sonia dan kini Sonia ingin menyerahkan kebahagiaan utk Shanum dlm detik terakhir hidupnya
Sandisalbiah
dua org polisi tdk sanggup menahan satu perempuan yg tangannya sudah terborgol...? itu Soraya yg sring banget atau polisinya lemah.. ampun deh
Sandisalbiah
manusia kalau hatinya di penuhi rasa iri dan dengki maka dia tdk akan pernah mensyukuri apa yg dia punya, apa yg ada di sekelilingnya tp hatinya akan tetap di penuhi ambisi utk memiliki dan mengalahkan yg lain sampai meng halalkan segala cara
Sandisalbiah
dan korbannya adalah ayah kandung Abyasa.. suami Shanum... kudu di hukum yg berat itu perempuan sundal
Sandisalbiah
Soraya.. ih.. pengen banget itu betina segera mendekam di hotel prodio
Sandisalbiah
jelas Soraya jd tersangka utama... dan semoga kasusnya segera terungkap
Sandisalbiah
Soraya ini hatinya penuh dgn kelicikan dan culas... jgn bilang kalau dia lah dalang di balik hilangnya Sonia paska melahirkan... krn dia sepertinya juga terobsesi pd Sagara
Sandisalbiah
setidaknya Shanum memiliki Abyasa..
Sandisalbiah
keputusan Sagara dgn menikah lagi emang salah, dan gak ada perempuan yg mau di madu seperti yg nyonya Kartika katakan itu benar tp pembelaan mereka yg terkesan berlebihan utk seseorang yg jelas² meninggalkan suami dan menelantarkan anaknya sendiri.. itu aneh...
Sandisalbiah
dan biasanya setelah saling terbuka dan membuka hati itu anomali lama bakal muncul menghancurkan semuanya... sosok Sonia yg lama menghilang bakal kembali dan ujungnya Shanum kembali menjadi sosok terbuang dgn luka hati dan laranya
Sandisalbiah
bab ini juga ada typo Thor... tertulis " ada tawa dr tiga laki² " kan si kembar cewek cowok ya..
Sandisalbiah
Shanum harus tetap menempati kamar pengasuh dan bila minat Sagara akan mendatanginya dgn alasan agar dia tdk di cap sebagai wanita penghilang dan menanggung malu, terus kalau sampai Shanum hamil emang gak bakalan jd bulan²an mulut org.. mikir gak itu laki yg punya nafsu besar tp gak punya hati
Sandisalbiah
takdir Shanum yg selalu di genangi lautan air mata.. miris banget, dia tetap akan jd yg tersisi
Sandisalbiah
kenapa ank kembar Sagara justru mirip dgn Shanum dan almarhum suaminya, jgn bilang mereka di tukar pas Shanum melahirkan krn dia yg dlm kondisi tdk sadar...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!