Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN AMBIL SALAH SATU DARI MEREKA
Drama penculikan di pusat perbelanjaan itu menjadi puncak dari segala trauma yang pernah dialami Rosa. Siang itu, mal sedang berada pada puncak keramaiannya. Rosa, yang kini tengah mengandung empat bulan, membawa Arlo ke sebuah indoor playground mewah yang dikenal memiliki sistem keamanan paling ketat. Ada pagar pembatas, petugas yang berjaga di pintu masuk, dan setiap anak wajib menggunakan gelang sensor khusus.
"Arlo sayang, Mama ke toilet sebentar ya? Hanya di sebelah sana. Arlo main mandi bola saja, jangan keluar area ini, oke?" ucap Rosa lembut sambil mengusap kepala putra kecilnya. Arlo mengangguk antusias, matanya berbinar menatap ribuan bola warna-warni. "Iya, Mama! Arlo main bola!" Rosa pun melangkah pergi dengan perasaan tenang. Namun, rasa tenang itu hanya bertahan lima menit. Saat ia kembali ke area pagar pembatas, sosok mungil berbaju biru yang sangat ia kenali sudah tidak ada di sana.
"Mbak! Anak saya mana? Arlo mana?!" tanya Rosa pada petugas penjaga. Petugas itu tampak kebingungan dan mulai gemetar. "Lho, tadi ada seorang wanita yang mengaku bibinya, dia bilang disuruh Ibunya untuk menjemput karena ada keadaan darurat. Karena gelang sensornya cocok, kami izinkan keluar." Dunia seolah runtuh di bawah kaki Rosa. "Bibinya? Saya tidak pernah menyuruh siapa pun! Anak saya diculik!" teriak Rosa histeris. Suaranya melengking, menarik perhatian seluruh pengunjung mal yang mulai berkerumun.
Dengan tangan gemetar hebat, Rosa merogoh tasnya dan menekan nomor Arsen. Begitu suara suaminya terdengar di ujung telepon, pertahanan Rosa hancur seketika. "Mas.. Arlo, Mas! Arlo hilang! Seseorang mengambilnya dari playground!" tangis Rosa pecah dengan napas yang tersengal-sengal. "Sayanb, tenang! Aku sedang di jalan, aku hubungi Dana sekarang untuk lockdown gedung itu. Jangan bergerak dari sana!" suara Arsen terdengar menggelegar, penuh amarah yang tertahan namun berusaha menenangkan istrinya.
Namun, Rosa tidak bisa hanya diam menunggu. Insting seorang ibu membakarnya. Ia mulai berlari menyusuri lorong-lorong mal yang luas sambil memanggil nama anaknya. "Arlo! Arlo!" teriaknya tanpa memedulikan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya. Di tengah pelariannya, tiba-tiba rasa nyeri yang tajam menghujam perut bawahnya. Kram. Rosa meringis, memegangi perutnya yang mulai mengeras akibat stres dan kelelahan mendadak. Ia bersandar di pilar toko, peluh dingin bercucuran di pelipisnya. Sabar, Sayang... jangan sekarang, bisiknya pada janin di rahimnya. Namun, bayangan Arlo yang ketakutan lebih kuat dari rasa sakitnya, ia terus menyeret kakinya yang mulai lemas.
Rosa terus menyisir lantai demi lantai hingga ia sampai di sebuah sudut yang agak sepi, tepat di depan sebuah toko es krim bergaya klasik. Di sana, di salah satu meja paling pojok, ia melihat punggung kecil yang sangat ia kenali. Arlo sedang duduk di sana, memegang sebuah cone es krim, sementara di hadapannya duduk seorang wanita yang mengenakan topi lebar dan kacamata hitam. "Arlo!" teriak Rosa parau. Wanita itu tersentak dan menoleh. Begitu kacamata itu diturunkan, Rosa merasa dadanya dihantam kenyataan pahit. Wanita itu adalah Laras, ibu kandung Arlo yang seharusnya sudah menghilang dari kehidupan mereka.
Penjaga playground yang merasa bersalah dan seorang satpam yang sejak tadi mengikuti Rosa langsung merangsek maju. Satpam itu dengan sigap menarik Arlo ke pelukan Rosa, sementara petugas lainnya memegang kedua lengan Laras dengan kuat agar tidak melarikan diri. "Mbak Laras... maksudnya apa culik anak saya kayak gini?!" tanya Rosa dengan suara bergetar karena emosi dan rasa sakit di perutnya yang semakin menjadi-jadi.
Laras tidak melawan, ia hanya tertunduk lesu. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan tubuhnya tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. "Aku cuma ingin melihatnya, Rosa... Aku cuma rindu," ucap Laras dengan suara serak. "Rindu? Dengan cara membawanya pergi tanpa izin? Kamu tahu betapa paniknya aku?!" bentak Rosa. Ia memeluk Arlo erat-erat, seolah tidak mau melepaskannya lagi. Arlo sendiri tampak bingung, ia menatap Laras dengan tatapan asing. Bagi Arlo, wanita di depannya ini hanyalah orang asing yang tiba-tiba memberinya es krim.
"Hadi menghancurkanku, Rosa. Setelah sidang itu, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku hanya ingin merasakan sekali saja kalau aku masih punya seorang putra," isak Laras pilu. "Kamu kehilangan hak itu saat kamu meninggalkannya di bawah hujan deras setahun yang lalu!" Suara berat itu muncul dari belakang dengan nada yang sangat dingin. Arsen datang dengan langkah lebar, wajahnya tampak sangat murka. Di belakangnya, Dana dan beberapa petugas keamanan mal langsung mengepung area toko es krim tersebut.
Arsen langsung meraih Rosa dan Arlo ke dalam pelukannya yang kokoh. Begitu merasakan kehadiran suaminya, seluruh kekuatan Rosa seolah menguap. "Mas, perutku... sakit sekali," bisik Rosa sebelum akhirnya kesadarannya mulai kabur karena tekanan mental yang luar biasa. Arsen dengan sigap menggendong istrinya, sementara Arlo diamankan oleh petugas. "Bawa Laras ke kantor polisi! Pastikan dia tidak pernah bisa mendekati radius lima kilometer dari keluargaku lagi!" perintah Arsen pada Dana tanpa menoleh sedikit pun pada Laras yang terus menangis memohon ampun.
Arsen segera melarikan Rosa ke rumah sakit terdekat. Di dalam mobil, ia terus menggenggam tangan istrinya sambil memastikan Arlo baik-baik saja di sampingnya. Kejadian hari ini menyadarkan Arsen bahwa musuh mereka bukan hanya orang-orang seperti Hadi, tapi juga luka lama yang terus mencoba menarik mereka kembali ke masa lalu. Dua jam kemudian, dokter menyatakan Rosa dan janinnya dalam kondisi aman, meski Rosa harus menjalani bed rest total selama beberapa hari. Laras pun resmi diproses hukum atas dugaan penculikan, memastikan bahwa ke depannya, tidak akan ada lagi celah bagi siapa pun untuk mengusik kebahagiaan keluarga kecil mereka.
Suasana di dalam mobil berubah menjadi kepanikan yang sunyi namun mematikan. Arsen yang sedang mengemudi dengan kecepatan tinggi langsung menoleh sebentar, wajahnya yang kaku berubah menjadi pucat pasi saat melihat arah pandangan Rosa.
"Sayang, ada darah..." ucap Rosa lirih. Suaranya hampir tidak terdengar, bergetar hebat di antara isak tangis yang tertahan.
Tangan kanannya masih menggenggam jemari kecil Arlo dengan cengkeraman yang sangat kuat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, anak itu akan lenyap lagi dari pandangannya. Sementara tangan kirinya menyentuh paha, di mana noda merah mulai merembes di balik kain roknya. Ketakutan akan kehilangan Arlo tadi kini bertumpuk dengan ketakutan kehilangan bayi di rahimnya.
"Tahan, Sayang! Tahan! Sedikit lagi sampai!" Arsen berteriak, suaranya pecah karena kalut. Ia menekan klakson berkali-kali, membelah kemacetan jalanan dengan nekat.
Arlo yang duduk di antara mereka mulai menangis karena merasakan ketegangan orang tuanya. "Mama... Mama sakit?" tanya Arlo sambil memegang pipi Rosa yang dingin.
"Mama nggak apa-apa, Arlo. Mama di sini," bisik Rosa sambil meringis menahan nyeri yang semakin hebat di perut bawahnya. Air matanya terus mengalir, ia menatap Arlo lalu menatap perutnya bergantian. "Tolong jangan ambil salah satu dari mereka... tolong," doanya dalam hati dengan putus asa.
Arsen meraih tangan Rosa yang sedang menggenggam Arlo, menyatukan tangan mereka bertiga di atas kursi mobil. "Aku nggak akan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kalian. Kita sudah sejauh ini, Sayang Kamu kuat, anak kita di dalam sana juga kuat. Jangan menyerah!"
Begitu sampai di lobi darurat rumah sakit, Arsen langsung melompat keluar dan berteriak memanggil perawat. Ia menggendong Rosa yang sudah sangat lemas namun masih tetap tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada Arlo. Akhirnya, Dana yang baru saja tiba dengan mobil lain segera menyambar Arlo dan menggendongnya.
"Arlo sama Om Dana dulu, Rosa! Fokus ke kandunganmu!" teriak Dana meyakinkan.
Saat Rosa dilarikan di atas tandu menuju ruang tindakan, matanya terus mencari sosok Arlo sampai pintu tertutup rapat. Arsen berdiri di depan pintu ruang operasi dengan baju yang terkena noda darah istrinya, napasnya memburu, dan amarahnya kepada Laras kini berubah menjadi doa yang paling tulus agar istri dan calon anaknya bisa selamat.