NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Naga

Kembalinya Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Belati dari Bayangan

Kabut pagi yang dingin masih enggan beranjak dari kaki Bukit Harimau, menyelimuti padang rumput yang kini berubah menjadi permadani merah.

Di tengah keheningan yang menyakitkan itu, Tetua Tian Kin berlutut dengan tubuh gemetar.

Wajahnya yang semula perkasa kini pucat pasi, guratan usia tampak jelas di bawah cahaya fajar yang remang.

Rambut putihnya yang biasanya terikat rapi, kini terurai acak-acakan, menyentuh tanah yang bersimbah darah.

Dahulu ia adalah pilar yang disegani, namun dalam sekejap mata, ia hanyalah seorang lelaki tua ringkih yang telah kehilangan seluruh kedigdayaannya.

Di hadapannya, Wang Long berdiri tegak bagaikan gunung karang yang tak tergoyahkan.

Di sisi kiri, Sin Yin berdiri dengan pedang yang masih terhunus, bilah tipisnya memantulkan cahaya pucat, seolah masih haus akan keadilan.

Sementara itu, Yue Liang Shu bersandar pada batu besar, tangan kirinya menekan dada yang terasa sesak akibat luka dalam, namun matanya tetap tajam mengawasi keadaan.

Tian Kin terbatuk kecil, memuntahkan sisa-sisa tenaga yang hancur. “Kalian… kalian jauh lebih kejam daripada sekadar mencabut nyawaku,” rintihnya parau.

Wang Long menjawab dengan nada yang datar namun berwibawa, “Aku sudah bilang sejak awal, Tian Kin. Mati itu terlalu mudah. Hidup dengan menanggung beban dosa tanpa kekuatan untuk melarikan diri, itulah hukuman yang sesungguhnya.”

Sin Yin menyilangkan tangan di depan dada, aura kedinginannya menyebar. “Berhentilah meratap seperti pecundang. Jika kau masih ingin mempertahankan sisa martabatmu, katakan di mana markas utama Partai Tengkorak Hitam!”

Tian Kin tersenyum tipis, sebuah senyum getir yang penuh rahasia. “Dan jika aku tetap membisu? Apa yang bisa kalian lakukan pada mayat hidup seperti aku?”

Yue Liang Shu tertawa hambar, suaranya parau karena luka. “Kau sudah tidak punya apa-apa lagi, Tian Kin. Bahkan tombak pusakamu pun kini tergeletak kaku, tak lagi sudi mengakuimu sebagai tuan. Bicara adalah satu-satunya cara agar kau tidak membusuk di sini.”

Tian Kin perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Wang Long yang berkilat emas. “Kau sangat ingin membalas kematian orang tuamu, bukan? Bau darah malam itu… aku masih bisa merasakannya.”

Mata Wang Long seketika berubah sedingin es kutub. Udara di sekitar mereka mendadak terasa berat, menekan rumput-rumput di bawah kaki mereka. “Jangan berani-berani menyebut mereka dengan mulut kotormu yang penuh dusta.”

“Kalau begitu, buatlah kesepakatan denganku,” ujar Tian Kin dengan suara yang melemah. “Lepaskan aku dari tempat terkutuk ini, dan aku akan membimbingmu hingga ke gerbang luar markas mereka.”

Sin Yin mendengus meremehkan, ujung pedangnya bergetar pelan. “Kau kira kami adalah anak kecil yang mudah kau kelabuhi dengan janji palsu?”

Wang Long perlahan berlutut, menyejajarkan tatapannya dengan Tian Kin. Jarak mereka begitu dekat hingga Tian Kin bisa merasakan hawa murni yang sangat kuat dari tubuh pemuda itu.

“Aku tidak akan melepaskanmu,” bisik Wang Long dengan keteguhan yang tak tergoyahkan. “Tapi jika kau bicara jujur sekarang, aku akan memastikan kau mendapatkan perlindungan dan tidak akan berakhir mati sebagai pengemis hina di jalanan.”

Tian Kin menatap mata Wang Long cukup lama, mencari secercah keraguan yang ternyata tak ia temukan. “Apa jaminannya bagi orang sepertiku?”

“Aku adalah pewaris tunggal Pedang Naga Sembilan Langit. Di dunia persilatan, kata-kataku lebih berat daripada segunung emas,” jawab Wang Long tegas.

Sunyi senyap kembali menguasai tempat itu. Angin berdesir melewati rerumputan yang memerah, membawa aroma logam yang menusuk hidung. Akhirnya, Tian Kin tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan kayu kering.

“Baik… baik… dendam memang merupakan guru yang hebat. Ketahuilah, Naga Muda, markas utama mereka bukan berada di puncak gunung tandus atau di tengah hutan rimba seperti yang dikira banyak pendekar bodoh.”

Sin Yin menyipitkan mata, insting pembunuhnya menajam. “Kalau bukan di sana, lalu di mana?”

Tian Kin menarik napas panjang, mengumpulkan sisa tenaganya. “Di bawah tanah. Mereka merayap seperti tikus di kegelapan.”

Yue Liang Shu tersentak kaget hingga punggungnya menjauh dari batu. “Bawah tanah? Di tengah dataran utara?”

Tian Kin mengangguk lemah. “Di balik reruntuhan Kuil Dewa Tanah yang sudah tua… di wilayah perbatasan utara yang sunyi. Ada lorong rahasia tersembunyi tepat di bawah patung batu besar…”

Wang Long menatap tajam, mencoba menggali informasi lebih dalam. “Wilayah utara sangat luas, Tian Kin. Berikan lokasi yang lebih spesifik!”

Tian Kin tersenyum samar, seolah sedang menikmati kepingan terakhir dari rahasianya. “Itulah sebabnya tak satu pun sekte besar pernah menemukannya… kalian selama ini mencari ke langit, padahal mereka ada di bawah telapak kaki kalian…”

Sin Yin melangkah maju, ujung pedangnya kini hanya berjarak satu inci dari tenggorokan Tian Kin. “Katakan, di kota mana?”

Tian Kin membuka mulutnya, hendak mengucapkan satu kata terakhir yang menentukan. “Di kota—”

Sret!

Suara desingan tipis membelah udara pagi yang lembap. Gerakannya begitu cepat, nyaris tak terlihat oleh mata biasa.

Mata Wang Long membelalak seketika. Intuisi naganya menjeritkan bahaya yang luar biasa. “Menunduk!” bentaknya sekuat tenaga.

Namun semuanya terjadi dalam sepersekian detik. Sebuah belati hitam legam yang tidak memantulkan cahaya sedikit pun, melesat dan menancap dengan kekuatan luar biasa tepat di punggung kiri Tian Kin.

Ujung belati itu menembus hingga ke depan dada, merobek jantung sang mantan tetua.

“Kh…!” Darah segar menyembur deras dari mulut Tian Kin. Tubuhnya tersentak hebat seolah dihantam godam raksasa.

Sin Yin berputar secepat kilat bagaikan bayangan malam yang marah. Pedang tipisnya menyapu udara ke arah asal datangnya belati tadi dengan jurus "Bidadari Membelah Kabut".

Namun, serangannya hanya menebas udara kosong. Yang tersisa hanyalah kabut pagi yang bergoyang dan pepohonan yang diam seribu bahasa.

Yue Liang Shu memaksa tubuhnya yang terluka untuk berdiri tegak, pedang hitamnya sudah di depan dada. “Itu bukan lemparan sembarangan… tenaga dalamnya sangat halus dan dilepaskan dari jarak yang sangat jauh…!”

Wang Long dengan sigap menahan tubuh Tian Kin yang mulai lunglai dan roboh ke tanah. “Siapa yang berani melakukannya?!” teriaknya menggelegar ke arah rimbunnya hutan.

Tak ada jawaban. Hanya gema suaranya sendiri yang terpantul di dinding-dinding bukit.

Tian Kin tersenyum pahit, darah merah pekat mulai membanjiri bibir dan dagunya. “Lihat…? Bahkan… tuan-tuan yang kupuja… tak pernah percaya padaku…”

Wang Long mendekatkan telinganya ke bibir Tian Kin yang mulai mendingin. “Bertahanlah! Katakan sekali lagi, kota mana?!”

Tian Kin berusaha keras menggerakkan lidahnya yang mulai kaku. “Di… bawah… patung… serigala… yang menangis…”

Matanya membelalak lebar, cahaya kehidupan di dalamnya meredup dengan cepat. Napasnya terhenti dalam satu hembusan panjang. Tubuhnya menjadi lunglai sepenuhnya di pelukan Wang Long.

Sunyi kembali mencekam. Sin Yin menggertakkan gigi hingga berbunyi, urat di tangannya menonjol. “Dibungkam tepat di depan mata kita. Benar-benar penghinaan!”

Yue Liang Shu mendekat, matanya yang berpengalaman mengamati belati hitam yang masih tertanam dalam di punggung mayat itu. “Lihat lambangnya… tengkorak hitam di gagangnya tampak biasa, namun ukiran di sisi bilahnya… ini bukan belati standar pasukan elit.”

Wang Long mencabut belati itu perlahan. Darah hitam menetes, membasahi ujung jarinya. “Bukan lemparan tenaga kasar,” gumamnya dengan nada berat. “Tenaganya sangat halus, terfokus pada satu titik, dan melesat nyaris tanpa suara. Ini adalah karya seorang ahli pembunuh bayaran tingkat puncak.”

Sin Yin menyisir hutan dengan pandangan matanya yang tajam. “Orang itu sudah mengawasi kita sejak pertarungan dimulai. Menunggu saat yang paling tepat untuk mematikan saksi kunci.”

Yue Liang Shu menambahkan dengan suara rendah, “Dan ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa tinggi untuk berani menyerang saat kita bertiga sedang waspada sepenuhnya. Ini adalah peringatan.”

Angin dingin kembali berdesir, membawa aroma maut yang baru. Wang Long bangkit berdiri perlahan, memegang belati hitam itu erat-merta. Auranya yang tenang namun berat kembali menyelimuti dirinya, seolah naga di dalam dirinya sedang mengasah cakar.

“Kuil Dewa Tanah. Patung serigala yang menangis,” ucap Wang Long mantap.

Sin Yin mengangguk, pedangnya kini kembali masuk ke dalam sarung dengan suara denting yang tajam. “Itu petunjuk yang cukup. Kita akan memburu serigala itu sampai ke liang tanahnya.”

Yue Liang Shu menarik napas panjang, mencoba menstabilkan tenaga dalamnya. “Perjalanan kita ke utara tak akan lagi menjadi sekadar perjalanan biasa. Mereka telah mengirimkan malaikat maut mereka sendiri untuk menghentikan kita.”

Wang Long menatap matahari yang mulai merangkak naik, menyinari dunia yang penuh dengan kemelut ini. “Memang tidak pernah ada jalan yang mudah untuk sebuah keadilan.”

Ia menatap jasad Tian Kin untuk terakhir kalinya. “Bakar jasadnya. Meski ia seorang pengkhianat, bagaimanapun ia pernah menjadi tetua tinggi Sekte Bulan Bintang. Jangan biarkan jasadnya dihinakan oleh binatang liar.”

Sin Yin mengangguk pelan. Tak lama kemudian, api kecil mulai berkobar, melahap jasad sang pengkhianat. Asap hitam tipis membubung tinggi ke langit pagi, menjadi nisan sementara di kaki Bukit Harimau.

Di balik rimbunnya pepohonan yang jauh, sepasang mata misterius terus mengamati pemandangan itu sejenak sebelum akhirnya sosoknya menghilang bagaikan asap yang tertiup angin.

Kini, tujuan mereka telah terpatri dengan jelas:

Utara.

Kuil Dewa Tanah.

Misteri Patung Serigala.

Namun, siapakah sebenarnya sang pelempar belati misterius itu? Musuh baru yang jauh lebih berbahaya telah menampakkan bayangannya. Dan ia adalah seseorang yang cukup bernyali untuk mencabut nyawa tepat di hadapan Sang Naga.

Bersambung… 🐉

1
rozali rozali
👍👍👍👍
Idwan Syahdani: makasih... tongkrongin terus ya... lanjutannya.. 🤭🤭
total 1 replies
Idwan Syahdani
siap, malam ini akan ada 2 - 3 bab ya...
rozali rozali
laaanjut lg thor.
Idwan Syahdani: tunggu ya malam ini kita tambah 2 - 3 bab..
total 1 replies
Nanik S
Kenapa tidak ada cincin ruang untuk menaruh pedangnya
Idwan Syahdani: ini bukan novel Kultuvator kakak.. ini novel silat klasik..
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Hadir...cukup menarik
Nanik S
Wang Long ..dimana Mei Lin adiknya
Idwan Syahdani: nanti mereka bertemu saat sama-sama sudah jadi pendekar..
total 1 replies
Idwan Syahdani
aman kak, semua novel akan tamat kok, sabar ya...
Dian Pravita Sari
dlogok cerita kok gak da yg tamat kl blm siap jgn modal. janji dankejar kontrak makan duit pulsa aja di otak yang gak da rasa tanggung jenmenueledaikan cerita
Idwan Syahdani: semua novel akan saya tamatin kok kak... stay cun aja ya...
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, pertama untuk dukung novel barunya.
Idwan Syahdani: makasih kak... pa kabar, nggak ikut di n.v.a kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!