NovelToon NovelToon
Ibu Susu Bayi Sang Duda

Ibu Susu Bayi Sang Duda

Status: tamat
Genre:Duda / Janda / Selingkuh / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Hari yang seharusnya menjadi momen terindah bagi Hanum berubah menjadi mimpi buruk. Tepat menjelang persalinan, ia memergoki perselingkuhan suaminya. Pertengkaran berujung tragedi, bayinya tak terselamatkan, dan Hanum diceraikan dengan kejam. Dalam luka yang dalam, Hanum diminta menjadi ibu susu bagi bayi seorang duda, Abraham Biantara yaitu pria matang yang baru kehilangan istri saat melahirkan. Dua jiwa yang sama-sama terluka dipertemukan oleh takdir dan tangis seorang bayi. Bahkan, keduanya dipaksa menikah demi seorang bayi.

Mampukah Hanum menemukan kembali arti hidup dan cinta di balik peran barunya sebagai ibu susu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01. Pengkhianatan

Malam itu, Hanum baru saja kembali dari rumah mertuanya. Hanum melihat rumah yang begitu sepi tetapi melihat ada mobil sang suami di luar, itu artinya Galih telah pulang. Hanum berjalan menuju lantai dua di mana kamarnya berada, Hanum membuka pintu kamar dengan langkah berat. Perutnya yang sudah sembilan bulan membuat tubuhnya goyah, tapi hatinya jauh lebih goyah lagi saat mendengar suara-suara dari balik pintu. Tawa renyah seorang perempuan barengan dengan bisikan mesra seorang pria.

Deg.

Jantungnya berdetak kencang, tangannya bergetar ketika mendorong daun pintu. Dan dunia seolah runtuh di hadapannya. Galih suaminya, ayah dari anak dalam kandungannya, sedang berbaring bersama seorang wanita di ranjang pernikahan mereka. Rambut panjang, riasan tebal, dan tawa penuh kemenangan itu sangat Hanum kenal. Perempuan itu adalah Lilis Karlina, mantan pacar Galih saat duduk di bangku SMA.

Hanum membeku, tubuhnya seakan lumpuh, dadanya sesak. “Galih…?” suaranya parau, penuh ketidakpercayaan.

Galih hanya mendengus, tak tampak panik atau menyesal. Dia malah duduk santai, menyampirkan lengannya di bahu Lilis. “Kenapa? Kamu udah lihat sendiri, kan? Nggak ada yang perlu dijelasin lagi.”

“Galih! Kamu sadar nggak aku ini istrimu? Ibu dari anakmu?!” Hanum meraung, air matanya langsung pecah. Lilis terkekeh, menatapnya dengan pandangan merendahkan.

“Istrimu? Ah, Hanum. Jangan naif ... Galih nggak pernah cinta sama kamu. Kalian menikah karena paksaan wasiat orang tuanya, bukan karena hati. Galih milikku sejak dulu, dan sekarang aku datang untuk mengambil kembali yang seharusnya jadi punyaku.”

“Diam, kamu Lilis!” Hanum melangkah maju, tubuhnya gemetar. “Kamu nggak punya hak merebut suamiku!”

Namun Galih justru berdiri, menahan bahu Hanum kasar agar tidak mendekati Lilis. “Cukup, Hanum! Aku muak hidup sama kamu. Dari awal aku nggak pernah mau menikah sama kamu. Semua karena wasiat orang tuamu! Kamu pikir aku bahagia?”

Hanum menatap suaminya dengan mata membelalak, seolah seluruh udara di paru-parunya menghilang. “Galih…” suaranya patah. Dia mencoba berbalik pergi, ingin keluar dari kamar itu sebelum tubuhnya roboh oleh luka batin yang terlalu dalam. Namun Lilis dengan cepat meraih lengannya, mencegahnya.

“Mau kabur ke mana, hah? Kau bahkan nggak bisa melindungi suamimu dari aku!”

“Lepaskan aku, Lilis!” Hanum berteriak, mencoba melepaskan genggamannya.

Dalam sekejap, Lilis mendorongnya kuat. Hanum kehilangan keseimbangan. Tubuhnya yang hamil besar terhuyung, jatuh menghantam pembatas lantai atas dan lalu tubuhnya terlempar ke bawah.

Dugh!

Jeritan Hanum mengguncang rumah.

"Aagrh!"

Darah langsung mengalir deras di antara kedua kakinya. Tubuhnya menggeliat, kedua tangannya mencoba melindungi perutnya.

“Anak … anakku … tolong…” suaranya nyaris tak terdengar. Galih hanya berdiri di atas tangga, menatap tubuh istrinya yang berlumuran darah. Wajahnya datar, tanpa secuil pun rasa bersalah. Lilis tersenyum puas, lalu menoleh pada Galih.

“Lihat? Selesai sudah masalahmu. Kalau bayi itu mati, kamu bebas. Kamu bisa menikah denganku tanpa beban.”

Galih mendengus, lalu menuruni tangga dengan langkah santai. Dia berdiri di samping tubuh Hanum yang merintih kesakitan, menatapnya dengan pandangan penuh jijik.

“Kamu dengar, Hanum?” suaranya dingin. “Kalau bayi itu mati … aku bebas dari kamu. Dan jujur saja, aku berharap memang begitu.”

Air mata Hanum jatuh deras, memandangi wajah suaminya yang dulu ia cintai setengah mati. “Galih … kamu … tega…”

Namun Galih hanya berpaling, menggenggam tangan Lilis. “Ayo, Lilis kita pergi dari sini. Biar orang lain yang urus dia.”

"Galih! Jangan pergi! Ku mohon..." Hanum menjerit lagi, darah terus membanjiri lantai marmer. Tapi suara langkah kaki Galih dan Lilis yang menjauh lebih menusuk hatinya daripada rasa sakit di tubuhnya.

Air mata menetes dari sudut matanya, bukan hanya karena sakit fisik, tapi juga karena hatinya hancur berkeping. Suaminya, pria yang ia cintai, lebih memilih membela perempuan lain yang telah merenggut rumah tangganya. Dengan sisa tenaga, Hanum mencoba menggerakkan tangannya, meraih sesuatu agar bisa bangkit. Namun tubuhnya terlalu lemah. Ia merangkak pelan, meninggalkan bercak darah di lantai marmer rumah itu.

"Galih…" suaranya nyaris tak terdengar, lirih memanggil. Namun lelaki itu hanya menoleh sebentar dengan wajah dingin.

"Sudahlah, Hanum ... jangan drama. Kamu yang memulai semua ini."

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada luka di tubuhnya. Hanum menggigit bibirnya, menahan isak. Ia terus merangkak menuju pintu. Setiap sentuhan marmer terasa seperti duri yang menusuk kulitnya. Saat tubuhnya hampir melewati ambang pintu, sebuah suara mengejutkan terdengar.

"Astaghfirullah, Bu Hanum!" seruan panik datang dari arah pagar. Seorang tetangga, Ibu Marni, melihat jelas bagaimana Hanum merangkak dengan kondisi mengenaskan. Tanpa pikir panjang, wanita itu berlari menghampiri, menunduk, lalu berteriak meminta pertolongan orang-orang di sekitar.

"Cepat! Tolong angkat Bu Hanum! Dia pendarahan!"

Beberapa warga yang mendengar segera berdatangan. Mereka terkejut melihat Hanum dalam keadaan sekarat, sementara mereka baru saja melihat mobil Galih yang meninggalkan rumah pada malam itu.

Hanum hanya bisa memejamkan mata, tubuhnya diangkat oleh warga, dibawa tergesa menuju mobil tetangga yang siap melarikannya ke rumah sakit. Dalam benaknya, ia hanya sempat berbisik dalam hati, 'Tuhan … jika memang Engkau masih beri aku hidup, jangan biarkan anakku terlahir dalam rumah yang penuh pengkhianatan ini…'

1
echa purin
👍🏻
Carrot Enak
lemah.. pantes ae di injak2..
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝘼𝙗𝙧𝙖𝙝𝙖𝙢 𝙠𝙪𝙧𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙧𝙖𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙜𝙖𝙨 𝙠𝙚 𝙧𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙟𝙙 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚𝙠𝙖𝙣, 𝙠𝙧𝙣 𝙘𝙢 𝙖𝙣𝙘𝙖𝙢𝙖𝙣2 𝙖𝙟𝙖 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩 𝙧𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙝 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙖𝙦 𝙠𝙞𝙧𝙖 𝘼𝙗𝙧𝙖𝙝𝙖𝙢 𝙙𝙤𝙣𝙜𝙤😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙤𝙩𝙬 𝙗𝙪𝙘𝙞𝙣 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝘼𝙗𝙧𝙖𝙝𝙖𝙢2 𝙠𝙤𝙬𝙚 𝙠𝙞 𝙗𝙩𝙝 𝙃𝙖𝙣𝙪𝙢 𝙜𝙖𝙬𝙚 𝙖𝙣𝙠𝙢𝙪 𝙠𝙤𝙠 𝙢𝙡𝙝 𝙠𝙤𝙬𝙚 𝙨𝙞𝙣𝙜 𝙣𝙜𝙜𝙚𝙩𝙖𝙠2 𝙃𝙖𝙣𝙪𝙢, 𝙩𝙖𝙠 𝙨𝙡𝙚𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙥𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙬 𝙣𝙜𝙠𝙤 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙞𝙣𝙜𝙚𝙩 𝙨𝙢 𝙞𝙣𝙖𝙧𝙤𝙝 𝙠𝙡𝙤 𝙠𝙮𝙠 𝙜𝙞𝙣𝙞 😭😭😭🤣🤣
Ruk Mini
kadang org jahat boleh lh d bales asal setimpal, tpi memaaf kn jauh lbh hebat mmg sulit, aq sgt terkesan thor jon kehidupan yg berliku mmg hrs ttp d jalani inilh hidup ky Rollercoster, akhir yg sgt epik, tq thor d tgg karya" mu lgi🙏👍👍👍
Just_Emma
hanuuuummmm 😍😍😍
Zalmah Adiwi
novel pertama yg sy baca..keren bngt cerita..demen bngt dg tokoh bian..😍😍
Surya Panjaitan
baru bab 2. udh tegang x aku.. 👍👍
TRIDIAH SETIOWATI
bagus ceritanya
Imelda Mell Lele
wah ending yg bagus Thor..aq suka/Smile//Smile//Smile/
ig@__02chani: halo kakak 🙋🏻‍♀️ salam kenal.. jika berkenan & suka novel nuansa korea yg santai & humoris boleh mampir jg di novel "Chef Do", saya up tiap hari kak, terima kasih🙏🏻👍
total 1 replies
Ida Jubaidah
diatas di tulis kotak bekalnya diletakkan abraham duatas meja kerjanya...di bagian ini kenapa jadi dipegang sama hanum ya thor
lia permata
kerennn
Ryan Dynaz
cerita yg bagus..
Kamiem sag
luarbiasa bodoh dan kemahnya Hanum
cerita ini kira-kira direka tahun berapa sih thor???? kok masih ada orang kaya sebodoh dan selemah Hanum??? kan dia bisa bilang ke pelayan etalase " tolong cek cctv biar tau siapa yg memadukkan perhiadan itu kedalam tasnya Hanum???? "
ailehhhhh!!!!! cerita ini mentololkan pembaca
Kamiem sag
Hanum... selemah itu... akutak suka
apa salahnya Hanum membela diri, menunjukkan bahwa Lilis adalah pelakor dan pembunuh biar Lilis terkejut dan malu
tapi dasar!! Hanum lemah!!!
Kamiem sag
untuk menyusui bayi Kevin kan gak harus nikah
bisa kan cukup jadi ibu susu? bisa juga menyusui dgn menerima upah??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!