NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Nama yang Hilang di Musim Dingin

Hujan masih mengguyur Manhattan.

Alexander dan Daniel tetap berdiri di depan kaca ICU. Cahaya monitor memantul di wajah mereka, menyisakan bayangan letih dan kecemasan yang belum juga reda.

Tiba-tiba—

Ponsel Daniel bergetar di dalam saku jasnya.

Ia sedikit terkejut. Jarang sekali ayahnya menelepon di jam seperti ini.

Daniel melangkah menjauh beberapa langkah dari Alexander, lalu melihat layar ponselnya.

Papa.

Napasnya tertahan sejenak.

Ia menjawab panggilan itu.

“Pronto, Papa.”

Suara berat namun berwibawa terdengar dari seberang sana.

“Daniel.”

Itu suara Vincenzo Salvatore De Luca — pria yang namanya dikenal di dunia bisnis Eropa dan Amerika, sekaligus sosok yang disegani dalam bayangan dunia gelap yang tak pernah benar-benar mati.

“Aku dan Mama sudah tiba di Manhattan,” lanjut suara itu tegas namun lelah. “Kami sedang di rumah sakit tempatmu praktik.”

Daniel terdiam sejenak.

Malam ini.

Tentu saja.

Tanggal ini.

Tanggal yang tak pernah dilewatkan keluarganya selama dua puluh tahun terakhir.

“Aku akan menjemput kalian, Papa.”

Di seberang sana terdengar suara lembut ibunya menyela.

“Daniel sayang…”

Suara itu milik Isabella Conti De Luca.

Ada getar haru di dalamnya.

“Kami… seperti biasa. Datang untuk Valentina.”

Daniel menutup mata sesaat.

Valentina.

Alessandra Valentina De Luca.

Nama yang selalu menjadi doa, sekaligus luka.

Adik perempuannya.

Yang hilang dua puluh tahun lalu.

Diculik.

Saat usianya baru empat bulan.

Daniel masih kecil waktu itu, tapi ia mengingat semuanya.

Tangisan ibunya.

Tatapan ayahnya yang berubah menjadi baja.

Dan rumah besar mereka yang tak pernah lagi terasa hangat.

“Kami berharap,” suara Isabella terdengar pelan, hampir seperti bisikan, “mungkin tahun ini Tuhan mempertemukan kami dengannya.”

Daniel tak mampu menjawab segera.

Ia menelan emosi yang tiba-tiba terasa berat di tenggorokan.

“Aku akan turun sekarang, Mama.”

Panggilan berakhir.

Daniel berdiri terpaku beberapa detik.

Alexander memperhatikannya dari kejauhan.

“Ada apa?” tanyanya akhirnya.

Daniel menarik napas panjang, mencoba kembali tenang.

“Orang tuaku datang.”

Alexander mengangguk.

“Bisnis?”

Daniel tersenyum samar.

“Tidak.”

Ia menoleh kembali ke kaca ICU, memandang Valeria yang masih terbaring lemah.

“Setiap tahun, di tanggal ini… mereka datang ke rumah sakit ini.”

Alexander sedikit mengernyit.

“Kenapa?”

Daniel terdiam beberapa saat sebelum menjawab.

“Dua puluh tahun lalu, adikku diculik.”

Hening.

Alexander memandangnya serius.

“Usianya empat bulan.”

Kata-kata itu membuat udara terasa lebih dingin.

“Kami tidak pernah menemukannya. Tidak ada jejak. Tidak ada tuntutan tebusan yang jelas. Hanya… hilang.”

Hujan di luar semakin deras, seolah mengiringi kenangan pahit itu.

“Orang tuaku selalu datang ke sini,” lanjut Daniel pelan, “karena terakhir kali sinyal yang dilacak mengarah ke Manhattan.”

Alexander terdiam.

Daniel mengusap wajahnya.

“Setiap tahun mereka berharap… mungkin suatu hari, takdir akan mempertemukan kami kembali.”

Alexander memandang Daniel, lalu kembali menatap Valeria.

Sesuatu di hatinya terasa aneh.

Empat bulan.

Diculik.

Dua puluh tahun lalu.

Ia mengingat cerita samar tentang Valeria yang ditemukan dan diasuh oleh pasangan petani di Meksiko.

Tanpa identitas.

Tanpa asal-usul jelas.

Namun Alexander menepis pikiran itu.

Terlalu kebetulan.

Terlalu tidak masuk akal.

Daniel menoleh pada Alexander.

“Aku harus menjemput mereka.”

Alexander mengangguk.

“Aku akan tetap di sini.”

Daniel ragu sejenak, menatap Valeria sekali lagi.

“Jaga dia.”

Alexander menatapnya serius.

“Selalu.”

Daniel pergi menyusuri lorong panjang rumah sakit.

Setiap langkahnya terasa berat.

Lift terbuka, dan ia turun ke lobi utama.

Di sana berdiri dua sosok elegan.

Vincenzo, dengan jas hitam sempurna, aura kepemimpinan terpancar jelas dari setiap gerakannya.

Di sampingnya, Isabella, anggun dalam gaun gelap, namun matanya menyimpan kesedihan yang tak pernah benar-benar hilang.

“Daniel,” Isabella langsung memeluk putranya begitu melihatnya.

Daniel membalas pelukan itu.

“Bagaimana praktikmu?” tanya Vincenzo singkat, namun matanya meneliti wajah anaknya.

“Baik, Papa.”

Isabella menatap sekeliling rumah sakit dengan mata berkaca-kaca.

“Setiap kali aku masuk ke sini… aku selalu membayangkan, mungkin suatu hari aku melihat seorang gadis muda dengan mata seperti milikku…”

Daniel terdiam.

Vincenzo menggenggam tangan istrinya.

“Kita belum menyerah.”

Isabella mengangguk pelan.

“Aku bermimpi tentangnya semalam,” bisiknya. “Dia tumbuh menjadi gadis cantik. Sangat cantik.”

Jantung Daniel berdetak sedikit lebih cepat.

Tanpa sadar, bayangan Valeria terlintas di pikirannya.

Cantik.

Cerdas.

Usianya… hampir sama.

Tidak.

Ia kembali menepis pikiran itu.

Terlalu kebetulan.

Vincenzo menatap Daniel.

“Apa kau sedang menangani pasien malam ini?”

Daniel ragu.

“Ada seorang pasien… penting.”

“Penting?” tanya Isabella lembut.

Daniel mengangguk.

“Seorang gadis. Ia… hampir kehilangan nyawanya malam ini.”

Isabella memegang dadanya.

“Semoga Tuhan menjaganya.”

Daniel mengangguk pelan.

Mereka berjalan menuju lift.

Di dalam lift yang sunyi, Isabella berkata pelan, “Jika Valentina masih hidup… usianya dua puluh tahun sekarang.”

Daniel membeku.

Dua puluh tahun.

Valeria juga…

Pintu lift terbuka.

Mereka melangkah keluar.

Tanpa sengaja, Isabella melihat ke arah koridor ICU.

Dari kejauhan, ia melihat Alexander berdiri di depan kaca.

Dan di dalam ruangan itu… samar-samar terlihat sosok seorang gadis berambut panjang terbaring di ranjang.

Isabella berhenti.

“Aku ingin melihatnya,” katanya tiba-tiba.

Daniel menegang.

“Melihat siapa, Mama?”

“Gadis itu.”

Vincenzo menoleh, sedikit heran.

Daniel ragu.

Namun entah mengapa… ia tak mampu menolak.

Mereka berjalan mendekati ICU.

Alexander melihat Daniel datang bersama kedua orang tuanya.

Tatapan mereka bertemu.

Daniel memperkenalkan.

“Alexander, ini Papa dan Mama.”

Alexander mengangguk hormat.

Vincenzo menatapnya dengan sorot tajam seorang pria yang terbiasa membaca orang.

Kemudian Isabella menoleh ke kaca ICU.

Dan melihat Valeria.

Ia membeku.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Jari-jarinya gemetar.

“Vincenzo…” bisiknya.

Di balik kaca, Valeria terbaring tenang.

Cahaya lampu ICU menyoroti wajahnya.

Hidungnya.

Bentuk bibirnya.

Lengkungan alisnya.

Isabella mengangkat tangan perlahan, menyentuh kaca.

Air mata jatuh tanpa ia sadari.

“Matanya…” suaranya bergetar. “Bentuk wajahnya…”

Daniel menatap ibunya bingung.

“Mama?”

Isabella menoleh perlahan pada suaminya.

“Dia… mirip sekali dengan Valentina.”

Dunia seakan berhenti berputar.

Alexander menegang.

Daniel membeku.

Vincenzo menatap gadis di balik kaca itu dengan intens.

Tatapannya berubah.

Bukan lagi sekadar pengamatan.

Melainkan… pengenalan.

Namun takdir masih bermain diam.

Belum ada kepastian.

Belum ada bukti.

Hanya perasaan.

Dan harapan yang telah lama terkubur.

Isabella terisak pelan.

“Jika dia bukan putriku… maafkan aku karena berharap.”

Daniel memandang Valeria dengan jantung berdebar tak menentu.

Untuk pertama kalinya sejak adiknya hilang…

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Dan tanpa mereka sadari—

Malam itu bukan hanya tentang cinta dan kecemburuan.

Tapi tentang masa lalu yang perlahan bangkit.

Tentang seorang bayi empat bulan yang diculik dua puluh tahun lalu.

Tentang seorang gadis desa yang kini terbaring kritis di ICU Manhattan.

Dan tentang takdir…

Yang mulai membuka pintunya sedikit demi sedikit.

1
Forta Wahyuni
jgn jd lelaki murahan ya alex, tegas jgn mudah luluh dan ksh celah. aq jijik klu lelakinya murahan, mau peluk2, cium2 or lbh dr itu n menyesal minta maaf n balikan lg. jgn mau valeria klu si alex model bgitu, hempaskan buang jauh krn lelaki bukan alex doank. kau seorang putri, jenius n mendekati sempurna, lelaki yg lbh dr alex bnyk n klu dia plin plan tinggalkan tdk ada kata beri kesempatan.
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!