NovelToon NovelToon
Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
​Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
​Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
​Ketika Reina akhirnya mengu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Rahasia yang Tersingkap Setengah

Pagi itu, suasana rumah masih terasa mencekam sisa pertengkaran semalam. Dimas sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke rumah sakit. Ia meninggalkan tas kerjanya di atas meja kecil, sebuah keteledoran langka yang dipicu oleh rasa lelah yang luar biasa.

​Reina, yang sedang mencari kunci cadangan laci riasnya, tanpa sengaja menyenggol tas kain milik Dimas hingga isinya berhamburan. Matanya yang tajam menangkap sebuah benda yang tak asing: sebuah stetoskop merk Littmann edisi terbatas dan sebuah map kulit berwarna gelap.

​Dengan gerakan kasar, Reina membuka map tersebut. Matanya membelalak membaca lembaran-lembaran di dalamnya. Surat izin praktik, sertifikat spesialis bedah saraf, dan beberapa dokumen rumah sakit atas nama Dimas Alvaro.

​"Dimas!" teriak Reina, suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah.

​Dimas keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih mengalung di leher. Langkahnya terhenti saat melihat map itu ada di tangan istrinya. Jantungnya berdegup kencang. Apakah ini saatnya semuanya terbongkar? Apakah Reina akan tahu tentang kepemilikan dua rumah sakit besar itu?

​"Apa ini?" tanya Reina sambil melempar map itu ke dada Dimas. "Jadi selama ini kamu bekerja sebagai dokter? Bukan serabutan?"

​Dimas menarik napas panjang, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. "Iya, Reina. Aku bekerja di rumah sakit. Aku sudah mencoba mengatakannya, tapi kamu selalu memotong pembicaraanku."

​Reina justru tertawa terbahak-bahak, jenis tawa yang penuh dengan penghinaan. "Dokter? Paling juga cuma dokter umum honorer yang gajinya habis buat bayar cicilan motor, kan? Pantas saja kamu selalu pulang malam dan terlihat kuyu. Kamu pikir dengan menjadi dokter rendahan begini, derajatmu bisa menyamai aku?"

​Dimas tertegun sejenak, lalu embusan napas lega keluar dari mulutnya secara perlahan. Ternyata, kesombongan Reina adalah pelindung terbaik bagi rahasia besarnya. Reina terlalu memandang rendah orang lain hingga ia tidak mampu melihat kemungkinan bahwa suaminya bukan sekadar "dokter rendahan", melainkan orang yang membayar gaji ribuan dokter.

​"Kenapa diam? Malu karena ketahuan kalau profesimu pun tidak seberapa?" Reina mencibir sambil merapikan blusnya. "Tetap saja, dokter rumah sakit biasa tidak akan pernah bisa membeli tas Hermes untukku. Jangan harap aku bangga, Dimas. Simpan saja stetoskop berisikmu itu."

​Reina melenggang pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Dimas yang masih berdiri terpaku. Dimas tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. Ia merasa aman, untuk saat ini.

​Beberapa jam kemudian, Dimas sudah berada di lingkungan Rumah Sakit Medika Utama. Ia baru saja menyelesaikan kunjungannya ke bangsal VVIP dan hendak kembali ke ruangannya. Namun, saat melewati area taman yang menghubungkan gedung utama dengan kantin, ia melihat pemandangan yang menarik perhatiannya.

​Seorang gadis dengan dress bunga-bunga kecil setia dengan gaya Korea yang manis tengah kewalahan membawa empat kantong plastik besar. Rambutnya disanggul lepas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya yang putih. Itu Kathryn.

​Gadis itu membawa bermacam-macam jajanan, kotak susu, hingga keranjang buah yang tampak sangat berat. Dimas mempercepat langkahnya, menghampiri gadis yang tampak sedang berusaha mengatur napas itu.

​"Butuh bantuan? Sepertinya itu sangat berat," ujar Dimas dengan nada suara yang lembut dan sopan.

​Kathryn tersentak kecil, ia mendongak dan mendapati pria tinggi yang kemarin menahannya saat hampir jatuh. Wajahnya seketika merona merah. "Eh, Dokter yang kemarin... tidak usah, Dokter. Saya bisa sendiri, kok. Ini cuma tinggal sedikit lagi sampai ke kamar inap."

​"Tapi tanganmu sampai merah begitu," Dimas menunjuk jemari Kathryn yang tertekan beban plastik.

​"Benar-benar tidak apa-apa, saya tidak mau merepotkan"

​Krak!

​Suara plastik robek memutus kalimat Kathryn. Benar saja, salah satu kantong plastik berisi jeruk dan apel bolong di bagian bawah karena tak kuat menahan beban. Buah-buahan itu menggelinding di atas lantai aspal taman.

​Kathryn mematung, wajahnya yang cantik kini berubah menjadi sangat malu. Ia menunduk dalam, berusaha menutupi wajahnya yang semakin merah. "Aduhh... memalukan sekali," bisiknya hampir tak terdengar.

​Dimas tidak bisa menahan tawanya. Ia berjongkok, mengumpulkan jeruk-jeruk itu satu per satu dengan gerakan yang tenang. Setelah terkumpul, ia berdiri dan menatap Kathryn yang masih menunduk.

​"Sekarang, tidak ada alasan untuk menolak, kan?" Dimas tersenyum sangat tampan. Senyum yang jarang sekali ia tunjukkan di rumah, sebuah senyum yang bisa membuat siapa pun merasa nyaman.

​Kathryn memberanikan diri menatap Dimas. Ia merasa jantungnya berdebar sedikit lebih cepat melihat ketampanan pria di depannya. "Terima kasih banyak, Dokter...?"

​"Dimas. Panggil saja Dimas," potongnya dengan ramah.

​"Terima kasih, Dokter Dimas. Nama saya Kathryn," sahutnya pelan, suaranya terdengar seperti denting lonceng di telinga Dimas. "Maaf ya, saya jadi selalu bertemu Dokter dalam keadaan kacau seperti ini."

​Dimas mengambil alih dua kantong plastik terbesar dari tangan Kathryn. "Tidak masalah. Oh ya, anak yang kemarin itu... adikmu?"

​Kathryn menggeleng kecil saat mereka mulai berjalan berdampingan menuju gedung rawat inap. "Bukan, itu Sean, ponakan saya. Papanya sedang ada urusan bisnis di luar kota, jadi saya yang menjaganya. Dokter Dimas bekerja di sini?"

​"Iya, saya bertugas di sini," jawab Dimas singkat, tanpa menjelaskan jabatannya.

​"Hebat ya. Pasti Dokter Dimas sangat pintar. Sean tadi menanyakan 'Paman Superman' yang menolongnya kemarin. Ternyata orangnya Mas Dimas," Kathryn berceloteh dengan polos, membuat Dimas merasa dihargai dengan tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

​Langkah kaki mereka membawa mereka sampai ke depan kamar nomor 302. Dimas meletakkan barang-barang itu di meja depan kamar.

​"Terima kasih sekali lagi, Dokter. Mau mampir sebentar?" tawar Kathryn sopan.

​Dimas melirik jam tangannya. Ia ingin sekali masuk, namun ia harus tetap menjaga profesionalitasnya agar identitasnya tidak cepat terbongkar oleh pihak rumah sakit yang mungkin sedang memperhatikannya.

​"Mungkin lain kali, Kathryn. Saya masih ada jadwal visit," ujar Dimas. "Jaga kesehatanmu juga, jangan sampai jatuh sakit karena terlalu sibuk mengurus ponakan."

​Kathryn mengangguk mantap dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Siap, Dokter!"

​Dimas berbalik arah, berjalan menjauh dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Namun, di ujung koridor, ia melihat Dokter Adrian berdiri dengan tangan bersedekap dan seringai nakal di wajahnya.

​"Sopan sekali ya, Pak Pemilik Rumah Sakit, membawakan belanjaan untuk seorang gadis cantik," goda Adrian.

​Dimas hanya menggelengkan kepala, namun ia tak bisa menutupi binar di matanya. "Dia berbeda, Adrian. Dia benar-benar berbeda."

​Sementara itu, di sebuah cafe mewah di pusat kota, Reina sedang berkumpul dengan teman-teman sosialitanya. Ia memamerkan tas barunya dan menceritakan betapa suksesnya bisnisnya.

​"Eh, Reina, suamimu itu masih kerja serabutan?" tanya salah satu temannya dengan nada meremehkan.

​Reina mendengus, lalu menyesap kopinya dengan gaya anggun. "Ternyata dia dokter. Tapi yah, cuma dokter rendahan di rumah sakit daerah. Paling gajinya cuma cukup buat beli bensin mobilku sebulan. Aku bahkan malas membahasnya."

​Teman-temannya tertawa, tidak tahu bahwa di saat yang sama, asisten pribadi Dimas sedang menandatangani dokumen pengalihan aset yang bisa membuat cafe Reina bangkrut dalam semalam jika Dimas menghendakinya.

​Namun, Dimas masih menunggu. Ia ingin melihat seberapa jauh Reina akan melangkah sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Dan di sisi lain, ia mulai bertanya-tanya, apakah kehadiran Kathryn dalam hidupnya adalah sebuah kebetulan, ataukah awal dari sebuah takdir baru yang ia dambakan?

1
Anonymous
ayo up terus thor makin seru niii
Yensi Juniarti
lama2 saya GK suka sifat ketryin ini ...
terlalu berlebihan
Yensi Juniarti
maaf ya tor.. itu terlalu childrens..
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Dwi Winarni Wina
kayaknya dokter dimas sangat cocok sama khatrin, daripada istrinya itu selalu menghina dan rendahkan...
Dwi Winarni Wina
istri durhaka berani melawan suami, dosanya besar Sekali itu...
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ira Janah Zaenal
ayo Dimas tinggalkan berkasmu segera ke rumah kediaman Dharmawangsa ... kath sedang membutuhkanmu😍😍
Sri Khayatun
ceritanya bagus ..suami yg sabar dan istrinya durhaka..saya suka
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 🙏🏻
total 1 replies
Sri Khayatun
semoga dia jadikan kahtrin sebagai istrinya kelak...
Sri Khayatun
aku mampir thorr
Ira Janah Zaenal
up up up💪💪💪
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Ira Janah Zaenal
semangat dokter Dimas meraih hati ount kathryn😍😍💪💪
jajangmyeon
up
brawijaya Viloid
😎😎
brawijaya Viloid
keren nihh ceritanya
Anonymous
mulai tumbuh ni benih" cinta 🤭
Anonymous
krg ajar bgt, lgian dimas terlalu sabar
Anonymous
waw keren ada gambarnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!