Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Rumah
"Halo ma, aku pulang!"
"Leon! Sudah lama kamu tidak kembali, nak."
"Hehehehe...."
Leon memeluk ibunya dengan erat. Rumah keluarga mereka memiliki dua lantai, namun, berlokasi di jalan gang-gang kecil yang cukup sulit bahkan bagi dua motor untuk saling melintas.
"Kamu sudah makan?"
"Belum ma."
"Ambil piringmu! Dagingnya baru saja masak."
Ibunya baru saja selesai memasak salah satu menu yang akan dijual. Lantai satu rumah mereka dijadikan sebuah warung makan kecil. Meskipun itu kecil, rumah mereka berlokasi di kawasan kost-kostan murah yang dipenuhi banyak mahasiswa.
"Apa Wilona dan Elisa sudah berangkat?"
"Mereka ada kelas jam 8 tadi."
"Sayang sekali. Padahal aku membawa bolu kesukaan Wilona."
Wilona adalah adik perempuan Leon, sedangkan Elisa adalah sahabat Wilona. Keduanya merupakan mahasiswa Universitas Bandung, salah satu Universitas negeri terbaik di Indonesia.
Keduanya juga penerima beasiswa bidikmisi, yang merupakan beasiswa bagi mahasiswa dengan ekonomi keluarga kurang mampu. Karena rumahnya sangat dekat dari Universitas Bandung, tidak perlu mencari tempat tinggal lain.
Dua semester pertama penerima beasiswa bidikmisi diwajibkan untuk tinggal di asrama. Namun pada semester ketiga, mereka dapat tinggal di tempat lain.
Untungnya pada waktu itu, Leon mulai tinggal di villa gurunya, sehingga kamarnya menjadi kosong. Jadi ibunya menawarkan Elisa untuk menempati kamar tersebut, daripada menghabiskan uang lagi menyewa sebuah kost.
"Bolu apa itu?"
"Bolu Emanda. Leon bawa banyak ma. Mama mau?"
"Ya mama mau."
Setelah menghabiskan piringnya, Leon ikut menikmati rasa bolu bakar yang dipilih oleh ibunya.
"Mmmm, sangat enak."
"Siapa dulu yang membawanya."
"Dasar. Lagipula, kamu membeli terlalu banyak!"
"Hahahaha, tidak masalah ma, ada Wilona dan Elisa juga. Sudah lama juga aku pulang ke rumah."
Sore hari, Leon mendengar suara motor yang akrab dari luar.
"Waaah... Ini motor kak Leon. Ma, ma, apa kak Leon pulang?"
"Kakakmu ada di atas."
"Kami pulang bibi."
"Ya, selamat datang di rumah, Elisa."
"Kakak, mana oleh-olehnya?"
Meski baru kepalanya saja yang terlihat dari tangga, Leon melihat adiknya tersenyum menantikan apa yang telah dia bawa pulang.
"Ambil di kulkas sana."
"Halo kak Leon."
Di belakang Wilona, Elisa menyapa Leon dengan malu-malu.
"Halo Elisa. Bagaimana kuliahnya?"
"Baik-baik saja kak."
Namun percakapan mereka dihentikan oleh teriakan senang Wilona.
"Hore... Bolu Emanda!!! Kamu yang terbaik kak."
Leon juga mengajak Elisa untuk makan bersama. Masih ada empat kotak bolu, kue kering, dan juga roti. Itu bahkan hanya setengahnya. Setengah lagi sudah Leon simpan ke dalam inventory.
"Jangan terlalu banyak makan sekarang. Apakah kalian tidak ingin aku bawa makan di luar?"
"Harus tempat yang enak!"
"Iya... Iya..."
Tentu yang mengatakan itu adalah adiknya. Kemudian Leon melanjutkan.
"Tapi sebelum itu, kita akan pergi ke mall dulu."
"Hehehehe, aku cinta kakak. Kamu juga kan Elisa?"
"Wi-wilona... Apa maksudmu."
Elisa memerah dan gugup menanggapi candaan Wilona. Setelah itu, para gadis mulai mandi dan mempercantik diri sebelum pergi ke mall.
"Hati-hati di jalan."
""Kami berangkat ma.""
"Kami berangkat bibi."
Dengan kelicikan Wilona, Leon akhirnya membonceng Elisa di sepeda motornya. Sementara Wilona membawa motor sang ibu. Tentu Leon tidak akan menolak gadis cantik dan manis seperti Elisa. Bahkan, Leon sebenarnya menyukai Elisa. Selain penampilannya, dia sungguh gadis yang sangat baik.
Hanya saja sebelumnya, Leon menarik garis karena dia tahu masa depan Elisa yang menjanjikan. Sementara dia saat itu bekerja dengan gurunya dengan pendapatan yang cukup besar, dia tidak tahu sampai kapan itu akan berlanjut.
Master Robert juga sudah cukup tua. Jika usianya sudah habis, Leon harus mencari pekerjaan lain dengan pendapatan yang berkali-kali lipat lebih rendah.
Namun saat ini, Leon tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti itu lagi!
"Cukup ramai ya..."
Mall yang mereka kunjungi berada cukup dekat dari rumah mereka, namanya siwalk. Setelah memarkirkan motor di basement, ketiganya mulai menjelajahi pusat perbelanjaan dengan langkah santai.
"Ada kue kak!"
"Bukankah di rumah sudah banyak?"
"Hehehehe."
"Ayo kita ke sana dulu."
Leon menunjuk sebuah toko yang menjual perlengkapan menulis.
"Pilih manapun yang kalian mau. Elisa, kamu juga bisa memilih yang kamu suka."
"Tidak kak Leon. Aku hanya melihat-lihat saja."
"Hahahahah, ayo Elisa. Karena kakakku sudah mengatakannya, maka kamu tidak perlu khawatir."
Wilona menarik tangan Elisa menuju rak-rak terdekat. Pada akhirnya, Elisa hanya memilih sebuah notebook dan pulpen dengan total harga sekitar enam puluh ribu. Berbeda dengan adiknya yang memborong berbagai macam perlengkapan.
Setelah itu, Leon membawa keduanya menuju berbagai tempat seperti toko pakaian, peralatan makeup, sepatu, dll.
"Kamu yakin tidak menginginkan apapun?"
"Tidak perlu kak. Aku sudah sangat berterimakasih dengan notebook dan pulpennya."
"Maka sisa kegiatan kita hanyalah menemani gadis licik itu berbelanja."
Elisa tertawa manis mendengar sebutan Leon terhadap Wilona.
Jam delapan, ketiganya tiba di sebuah rumah makan yang terkenal dengan menu iga bakar andalannya.
"Sudah lama kita tidak ke sini kak."
"Mmm. Kalau tidak salah, untuk merayakan kelulusanmu di Universitas Bandung bukan?"
"Benar."
Setelah menemukan tempat duduk, Leon membiarkan Wilona dan Elisa memilih terlebih dahulu, dengan pilihan yang sama yaitu iga bakar.
"Hanya satu?"
"Tentu saja. Apa kakak ingin aku bertambah gemuk?"
"Kamu sangat kurus. Kamu dan Elisa tidak perlu khawatir dengan hal sepele seperti itu."
"Ini tidak sepele, kakak bodoh!"
Mengabaikan perkataannya, Leon memesan iga bakar, tongseng, sate kambing, dan sup iga. Jika keduanya memang tidak sanggup melanjutkan, Leon sanggup menghabiskan semuanya.
Setelah kultivasinya berada di tahap keempat, sementara dia tidak akan kelaparan meski tidak makan selama satu hari, namun dia juga dapat menghabiskan porsi makanan dalam jumlah yang sangat besar!
"Bagaimana kuliahnya? Apa ada kendala?"
"Tidak juga, aku dapat mengikuti semua pelajaran di kelas."
"Apa dia bohong Elisa?"
Leon menoleh ke Elisa untuk mengkonfirmasi pernyataan Wilona. Keduanya berada di jurusan yang sama. Pada tahun pertama, mereka juga berada di asrama yang sama. Mereka menjadi semakin dekat dan menjadi sahabat yang selalu bersama di universitas.
"Tidak kak. Kami juga selalu belajar bersama."
"Lihat?"
"Lalu bagaimana dengan kegiatan di luar kelas?"
"Kami tidak ikut organisasi apapun selain himpunan jurusan. Tidak banyak kegiatan di sana selain rapat yang tidak penting."
Sambil menunggu pesanan, ketiganya berbincang-bincang bersama. Terutama Leon yang menginterogasi Wilona terkait kehidupan perkuliahannya. Karena Leon sudah memiliki banyak uang, meski dia belum memberitahu siapapun, dia ingin agar adiknya tidak mengalami halangan dalam kehidupan mahasiswa dikarenakan ekonomi keluarga yang kurang.
Setelah menghabiskan semua hidangan, Leon juga memesan iga bakar untuk ibunya di rumah.
'Hahhh... Aku tidak dapat bermeditasi di sini.'
Kembali di rumah, Leon tidur di atas kasur di ruang tamu lantai dua. Kamar Leon sebelumnya kini telah menjadi kamar Elisa. Sementara kamar Wilona bersebelahan, kamar ibunya berada di lantai satu. Seperti biasa ketika Leon pulang, tidak ada ruangan lain yang tersedia baginya. Sehingga Leon tidak memiliki privasi untuk berkultivasi.
Leon bangun pagi tepat pada pukul enam pagi.
"Pagi kak. Hah? Mau kemana kamu?"
Wilona keluar dari kamar dan terkejut melihat Leon yang sudah memakai pakaian training.
"Lari pagi di lapangan."
Lapangan olahraga Universitas Bandung berada cukup dekat dari rumah. Jadi Leon memutuskan untuk lari pagi di sana.
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita ketemuan nanti! Kelasku dan Elisa hari ini selesai jam 10, kemudian dilanjutkan jam 2 siang. Kami akan mengajakmu melihat-lihat kampus setelah kelas pagi."
"Oke. Hubungi saja aku nanti."
Di lapangan, beberapa orang memperhatikan seorang pria muda di trek lari telah berlari dengan tempo yang sangat cepat selama hampir satu jam.
"Lihat orang itu. Bukankah dia sudah lama berlari?"
"Kecepatannya bahkan sama ketika aku melakukan sprint."
"Ya. Tapi dia tidak melakukan sprint. Dia tetap mengambil langkah yang cukup panjang, meskipun dengan tempo yang cepat."
Di trek lari, Leon sudah banyak berkeringat. Tapi dia masih belum benar-benar kelelahan. Malahan, tubuhnya terasa segar ketika dia terus berlari.
Sementara orang yang memperhatikan Leon sebelumnya sudah pulang, Leon telah berlari dalam tempo cepat yang stabil selama dua jam penuh!