Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 7 - SATU ORANG YANG TAK PERCAYA
Momen itu berlangsung hanya beberapa detik.
Mata Ara bertemu mata Gill. Gill menatapnya dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali, datar seperti permukaan danau di pagi hari sebelum angin datang, lalu turun kembali ke bajunya. Temannya Marco yang berbadan besar itu masih sibuk menepuk-nepuk dadanya, pipinya merah padam, dan dari jarak dua bangku Ara bisa mendengar suaranya yang masih sedikit tersedak.
Ara memalingkan wajah ke arah mejanya sendiri.
Cepat.
Terlalu cepat sampai lehernya hampir kram.
"Ara." Suara Via, pelan, tepat di sebelah telinganya. "Tenang. Mungkin dia nggak denger."
"Dia ada dua bangku di belakang kita, Via."
"Kantin berisik."
"Temannya nyembur nasi ke bajunya karena kaget waktu aku sebut namanya."
Via tidak langsung menjawab itu.
Diana dan Lina duduk diam, keduanya menahan ekspresi masing-masing dengan tingkat kepuasan yang berbeda. Diana sudah menekan bibirnya rapat-rapat tapi bahunya bergerak-gerak. Lina memilih untuk tiba-tiba sangat tertarik pada pola di atas mejanya.
"Oke," Via akhirnya berkata, nada suaranya benar-benar berusaha untuk netral. "Mungkin dia denger."
"Via."
"Tapi belum tentu dia paham konteksnya."
"Temannya nunjuk ke arah meja kita sambil berbisik ke dia."
"...Oke mungkin dia paham konteksnya."
Ara menarik napas panjang, menatap makanan di depannya yang tiba-tiba tidak lagi terlihat menarik. Perutnya masih lapar tapi ada sesuatu di dadanya yang menggantung tidak karuan dan membuat makan terasa seperti hal yang sulit dilakukan sekarang.
Nama itu keluar begitu saja.
Gill.
Ara tidak merencanakan itu. Sama sekali tidak. Ia hanya membuka mulutnya untuk menyebut nama siapa saja, nama pertama yang muncul, nama yang paling tidak akan menimbulkan komplikasi karena tidak ada seorang pun yang akan benar-benar mengaitkan Ara dengan cowok pendiam yang bahkan tidak tahu namanya sendiri sampai tadi.
Tapi itulah nama yang keluar.
Dan sekarang nama itu sudah mengambang di udara di atas meja ini, sudah didengar oleh empat orang, dan kemungkinan besar sudah didengar oleh orang lain yang ada di kantin, dan yang lebih parah oleh orangnya sendiri yang duduk dua bangku di belakang.
Ara ingin menelepon ibunya dan meminta dijemput sekarang juga.
"Udah," Via berkata akhirnya, kali ini lebih tegas. "Lupain dulu. Makan."
"Gimana caranya lupain—"
"Makan, Ara."
Ara menatap Via. Via menatap balik dengan ekspresi yang tidak menerima argumen lebih lanjut.
Ara mengambil sendoknya.
Makan.
Diana dan Lina kembali ke makanan mereka masing-masing juga, meski sesekali Diana melirik ke arah meja di belakang dengan ekspresi yang menyampaikan bahwa ia sangat tertarik dengan perkembangan situasi ini tapi cukup bijak untuk tidak mengatakannya dengan keras.
Sisa makan siang berlangsung dalam obrolan kecil yang dipaksakan. Lina bercerita tentang tugas Matematika yang belum dikerjakan. Diana mengeluh soal sepatu barunya yang ketat. Via merespons secukupnya. Ara mendengarkan dan mengangguk di waktu yang tepat sambil tidak sepenuhnya hadir di percakapan itu.
Ia tidak menoleh ke belakang sekalipun selama sisa makan siang itu.
Tidak sekali pun.
---
Jam pelajaran setelah makan siang adalah Fisika, dan Ara duduk di kelasnya dengan catatan terbuka di depannya, pena di tangan, dan kepala yang sudah memutuskan untuk tidak bekerja sama.
Pak Hendra menjelaskan tentang gelombang di depan kelas. Papan tulis penuh dengan rumus dan diagram. Beberapa siswa bertanya. Pak Hendra menjawab. Semua berlangsung normal dan teratur dan sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang terjadi di kantin tadi.
Tapi Via duduk tepat di belakang Ara di kelas ini, dan sekitar dua puluh menit setelah pelajaran dimulai, ada kertas kecil yang diselipkan pelan ke sisi meja Ara dari belakang.
Ara mengambilnya tanpa menoleh.
Membuka lipatannya di bawah meja.
*Sejak kapan kamu suka Gill?*
Tulisan Via. Huruf-hurufnya tajam dan miring ke kanan seperti selalu.
Ara memandangi kertas itu beberapa detik. Lalu mengambil penanya, menulis di sudut bawah kertas itu, dan menggesernya kembali ke belakang.
Beberapa detik kemudian kertas itu kembali.
*Itu bukan jawaban.*
Di bawah tulisan Via ada coretan balasan Ara yang berbunyi: *Nggak tau.*
Ara menatap kertas itu lagi. Lalu menulis lagi, lebih kecil kali ini, berharap huruf-huruf kecil itu entah bagaimana terdengar lebih meyakinkan dari yang akan ia ucapkan dengan suara.
*Tadi spontan. Tapi aku mau cerita nanti.*
Kertas kembali. Kali ini hanya ada satu kata dari Via.
*Oke.*
Ara melipat kertasnya dan memasukkannya ke saku seragamnya.
Pak Hendra menghapus diagram di papan tulis dan mulai menggambar yang baru. Kapur berderak di permukaan papan hitam. Seseorang di baris depan bertanya tentang amplitudo. Pelajaran berlanjut.
Ara menulis rumus gelombang di catatannya dan di dalam kepalanya mulai menyusun cerita.
Karena satu hal yang ia tahu dari tadi adalah bahwa ia harus meyakinkan Via. Bukan besok, bukan minggu depan, tapi setelah pelajaran ini selesai. Via adalah orang yang membaca orang terlalu baik, dan kalau Ara datang tanpa jawaban yang setidaknya terdengar masuk akal, Via akan langsung tahu bahwa semuanya hanya karangan.
Jadi Ara harus mengarang dengan baik.
Ia menghela napas pelan di atas catatannya.
Ini bukan kebiasaan yang ia banggakan.
---
Pelajaran selesai lima menit sebelum bel pulang berbunyi, dan Pak Hendra menggunakan lima menit itu untuk mengingatkan tentang kuis minggu depan yang disambut dengan erangan kolektif dari seluruh kelas.
Begitu bel berbunyi, Via sudah berdiri di samping bangku Ara sebelum Ara selesai memasukkan catatannya ke dalam tas.
"Cerita," Via berkata langsung. Tidak ada pembukaan, tidak ada basa-basi. Persis Via.
Ara menutup resleting tasnya. "Di sini?"
"Kelas udah mau kosong. Nggak ada yang dengerin."
Ara menoleh. Memang benar, sebagian besar siswa sudah berhamburan keluar. Beberapa masih berkemas, tapi tidak ada yang duduk cukup dekat untuk mendengar percakapan yang diucapkan dengan volume normal.
Ara menarik napas.
Baik.
"Aku ngerasa nggak enak sama dia sejak kemarin," Ara mulai, memilih titik awal yang setidaknya seratus persen jujur. "Soal insiden di kantin. Aku nggak sempat minta maaf yang bener, dan itu ganggu aku."
Via mendengarkan. Matanya tidak berkedip.
"Tadi malam aku ke minimarket," Ara melanjutkan, masih jujur sampai bagian ini, "dan ketemu dia di sana. Dia sama adiknya. Aku coba minta maaf lagi, dia cuek, dan entah kenapa itu bikin aku..." Ara berhenti sebentar, mencari kata yang tepat, "...penasaran. Sama dia."
"Penasaran," Via mengulang kata itu. Datar. Tidak menerima, tidak menolak.
"Iya." Ara mempertahankan kontak mata karena membuang pandangan sekarang akan terlihat seperti bohong. "Dia nggak perlakukan aku seperti orang lain. Dia... cuek. Dan itu beda. Dan entah kenapa beda itu bikin aku kepikiran."
Hening sebentar.
Via memiringkan kepalanya satu sentimeter. Kebiasaan kecil yang muncul ketika ia sedang memproses sesuatu dan belum memutuskan pendapatnya.
"Jadi," Via berkata akhirnya, "kamu suka dia karena dia cuek sama kamu?"
"Bukan suka dalam artian yang..." Ara membuka tangannya, mencari gestur yang bisa membantu menjelaskan. "Aku nggak tau. Itu juga yang bikin aku bingung sendiri. Tapi waktu kamu nanya tadi, nama itu yang keluar."
"Nama itu yang keluar," Via mengulangi kata-kata Ara dengan nada yang tidak bisa Ara baca sepenuhnya.
"Iya."
Via diam lagi. Lebih lama kali ini.
Ara menunggu, mempertahankan ekspresinya, tidak buru-buru mengisi keheningan karena mengisi keheningan dengan terlalu cepat adalah hal pertama yang membuat kebohongan terdeteksi.
"Aku nggak percaya," Via berkata akhirnya.
Ara berkedip. "Hah?"
"Aku nggak percaya." Via mengangkat bahunya ringan, tapi matanya serius. "Bukan berarti kamu bohong. Mungkin kamu juga nggak bohong ke diri sendiri. Tapi aku nggak percaya kamu udah sampai di tahap punya perasaan ke orang yang bahkan namanya aja kamu baru tau kemarin."
Ara membuka mulutnya.
"Makanya," Via melanjutkan sebelum Ara sempat menjawab, "aku mau tanya langsung ke orangnya."
Ara menutup mulutnya kembali.
"Via, jangan—"
"Kenapa nggak?"
"Karena itu—" Ara mencari alasan yang masuk akal. "Itu aneh. Kamu nggak kenal dia. Dan dia bukan tipe orang yang—"
"Yang apa?"
"Yang bisa diajak ngobrol sembarangan." Ara mengingat tatapan dingin di minimarket semalam, cara Gill mengabaikannya seolah Ara adalah suara jangkrik yang tidak perlu direspons. "Dia bukan orang yang mudah didekati, Via. Kamu sendiri yang bilang itu kemarin."
"Iya, aku bilang itu ke kamu." Via mengambil tasnya dari sandaran kursi. "Tapi aku bukan kamu. Aku nggak semudah itu diabaikan."
Ara melihat tekad di wajah Via dan tahu bahwa tidak ada kalimat di dunia ini yang akan mengubah keputusan yang sudah Via buat.
"Via." Ara mencoba sekali lagi. "Tolong jangan."
"Kenapa? Kalau emang beneran, harusnya kamu nggak keberatan aku nanya ke dia."
Itu logika yang benar dan Ara sangat membencinya.
"Aku keberatan karena itu akan jadi canggung," Ara berkata, kali ini jujur sepenuhnya. "Kita hampir nggak kenal dia. Dan kalau dia jawab dengan cara yang..."
"Dengan cara yang apa?"
Ara menghela napas. "Dia nggak akan jawab dengan baik, Via. Itu yang aku takutkan."
Via menatapnya satu detik lagi, lalu menarik tali tasnya ke bahu. "Kita lihat saja."
Dan ia berjalan keluar kelas sebelum Ara sempat mengatakan apa pun lagi.
---
Malam itu Ara berbaring di kasurnya dengan posisi yang persis sama seperti malam sebelumnya, menatap langit-langit yang sama, dengan pikiran yang lebih penuh dari malam sebelumnya.
Besok Via akan menemui Gill.
Ara sudah bisa membayangkan bagaimana jadinya. Via dengan caranya yang langsung dan tidak mengenal tedeng aling-aling, mendatangi seseorang yang tidak pernah repot-repot merespons orang di sekitarnya dengan lebih dari tatapan dingin dan keheningan.
Itu akan menjadi bencana.
Atau Gill akan mengabaikan Via sepenuhnya, yang akan membuat Via lebih penasaran dan lebih nekat.
Atau Gill akan berkata sesuatu yang membuat Via makin tidak percaya dan seluruh cerita Ara akan runtuh.
Ara memejamkan matanya.
Kenapa nama itu yang keluar tadi?
Dari semua nama yang ada, dari semua orang yang ia kenal atau tidak kenal di sekolah itu, kenapa otaknya memilih Gian William yang bahkan memanggilnya cewe gila?
Ara tidak punya jawaban yang memuaskan untuk itu.
Yang ia punya hanyalah gambar yang terus muncul setiap kali ia mencoba tidak memikirkannya. Seorang anak kecil dengan es krim terlalu besar di tangannya. Lampu neon minimarket yang terlalu terang. Dan satu suara datar yang mengucapkan namanya tanpa usaha apa pun untuk terdengar sopan.
'Cewe gila tadi siang.'
Ara menarik selimutnya sampai menutupi wajahnya.
Ia perlu tidur.
Besok pasti akan menjadi hari yang panjang.
---
Keesokan paginya, Ara belum selesai meletakkan tasnya di bangku ketika Via sudah muncul di sampingnya, rambut hitam pendeknya sedikit berantakan seperti biasa, tapi ada sesuatu di ekspresi wajahnya yang berbeda dari kemarin.
Sesuatu yang menyerupai, kalau Ara tidak salah membacanya, kekesalan.
"Via?" Ara langsung waspada. "Kamu udah—"
"Aku udah nanya ke dia tadi pagi," Via langsung berkata, menjatuhkan dirinya ke kursi sebelah Ara tanpa basa-basi. "Di lorong dekat ruang guru."
Ara menelan ludah. "Dan?"
"Dan dia bilang aku gila."
Hening sebentar.
"Dia bilang kamu gila?" Ara mengulang.
"Kata-kata pastinya adalah 'pergi sana, orang gila.'" Via mengucapkan itu dengan intonasi yang meniru nada datar Gill cukup akurat, lalu meletakkan tasnya di meja dengan bunyi yang tidak perlu sekeras itu. "Dia bahkan nggak noleh lama ke arah aku. Langsung buang muka balik ke ponselnya. Nggak sopan banget."
Ara memandangi Via selama tiga detik.
Lalu, tanpa ia rencanakan, tanpa bisa ia tahan, sesuatu di dadanya bergerak ke atas dan keluar dalam bentuk suara.
DIa setuju.
Bukan karena membela Via, bukan karena benar-benar berpikir dengan jernih tentang siapa yang benar dan salah di situasi ini. Tapi karena ternyata mendengar bahwa Gill memperlakukan Via dengan cara yang persis sama seperti ia memperlakukan Ara membuat sesuatu di dalam diri Ara yang tadinya kesal sendirian sekarang merasa ada temannya.
"Emang nggak sopan," Ara berkata, dan ia sungguhan ketika mengatakannya.
Via menoleh. "Setuju?"
"Setuju." Ara menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dia emang gitu. Waktu aku minta maaf aja dia jawab dengan manggil aku cewe gila."
Via mendengus. "Cewe gila? Dia panggil kamu gitu?"
"Di minimarket kemarin malam."
"Dan kamu suka orang kayak gitu?"
Ara terdiam sebentar, menyadari bahwa ia baru saja menjerumuskan dirinya sendiri.
"Aku bilang aku penasaran," Ara meluruskan dengan hati-hati. "Bukan langsung suka."
"Sama aja."
"Tidak sama."
"Ara." Via menatapnya dengan ekspresi yang menyampaikan bahwa ia tidak punya waktu untuk perbedaan kecil. "Intinya, dia nggak sopan ke aku dan ke kamu. Dan aku nggak percaya kamu beneran ada perasaan ke dia." Ia mengeluarkan buku catatannya dari tas. "Tapi aku juga nggak mau salah. Jadi aku masih belum memutuskan percaya atau nggak."
Sebelum Ara sempat merespons, suara dari arah pintu kelas membuat keduanya menoleh.
Mike masuk ke kelas XI-A dengan caranya yang selalu kelihatan seperti ia tahu ke mana harus berjalan di ruangan mana pun. Rambutnya rapi, seragamnya sempurna, dan senyumnya sudah terpasang ketika matanya menemukan Ara dan Via di bangku mereka.
Ia menghampiri mereka, berdiri di sisi meja Ara. "Pagi." Lalu, tanpa jeda yang cukup, tanpa pembukaan yang lebih panjang, ia bertanya, "Ara, aku mau tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Gosip itu, yang di kantin itu bener?"
Ara merasakan Via di sebelahnya berhenti bergerak.
Dan Ara merasakan dirinya sendiri belum punya jawaban yang siap untuk pertanyaan itu dari mulut Mike secara langsung.