"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Papa Azeus
Satu jam berlalu, dan Azeus mulai kehilangan akal. Raungan knalpot mogenya sudah membelah setiap sudut aspal di komplek elit itu, tapi sosok Aluna tak kunjung terlihat. Keringat dingin membasahi pelipisnya di balik helm. Rasa frustrasi itu memuncak sampai ia hampir membanting motornya di pinggir jalan. Azeus meraup wajahnya kasar, dadanya sesak oleh bayangan Aluna yang mungkin sudah naik taksi dan pergi sejauh mungkin darinya.
Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik.
Hanya berjarak beberapa blok dari tempat Azeus berhenti, Aluna ternyata masih berada di dalam komplek. Ia duduk tenang di bangku sebuah taman komplek yang asri, tersembunyi di balik rimbunnya pohon peneduh. Di depannya, seekor kucing persia milik penghuni lain, yang entah bagaimana bisa keluyuran, sedang asyik mengendus-endus ujung sepatunya.
Aluna tampak ceria, seolah beban berat semalam menguap sejenak saat ia mengelus bulu halus kucing itu.
"Kamu tersesat juga ya? Sama dong kayak aku. Tapi kamu lucu, nggak kayak orang itu... sukanya bohong," gumam Aluna sambil tertawa kecil, mengajak bicara si kucing yang hanya mengeong manja.
Ia sejenak melupakan koper mininya yang tergeletak di samping bangku. Di bawah sinar matahari yang menembus celah daun, wajah Aluna terlihat sangat damai, kontras dengan Azeus yang sedang sekarat karena ketakutan kehilangan dirinya.
Tiba-tiba, suara knalpot yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Aluna tersentak, senyumnya hilang seketika. Ia refleks menarik kopernya dan bersiap untuk bersembunyi lagi di balik pilar taman.
.
Setelah knalpot moge Azeus menderu menjauh dari area taman, Aluna menghela napas panjang. Ia mengusap kepala si kucing persia itu untuk terakhir kalinya.
"Aku pergi ya, Pus. Kamu cepat pulang, jangan sampai dicariin pemilik kamu kayak aku... eh, aku kan nggak dicariin," gumam Aluna getir, suaranya parau menahan sesak.
Aluna menarik koper mininya, bersiap melangkah menuju gerbang luar. Namun, sebuah mobil sedan hitam mewah perlahan melambat dan berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil terbuka, menampakkan wajah tegas Ayah Azeus.
"Naik, Aluna," perintah Ayah Azeus singkat namun berwibawa.
Aluna membeku. Ia menggeleng pelan sambil mengeratkan pegangan pada kopernya.
"Maaf, Om... Aluna mau pulang saja. Aluna nggak mau tinggal di sana lagi. Aluna nggak pantas."
Ayah Azeus menatap Aluna dengan pandangan yang sulit diartikan. Beliau tahu apa yang terjadi semalam, dan beliau tahu putranya sedang gila mencari gadis ini di sudut lain komplek.
"Kalau begitu, ikut Papa. Kamu tidak akan kembali ke rumah itu. Papa punya apartemen kosong yang aman. Kamu bisa tinggal di sana sementara waktu," ujar Ayah Azeus.
Aluna terdiam. Ia menatap sosok pria paruh baya di depannya. Ada rasa hangat yang aneh, Aluna merasa ini adalah sosok Ayah yang sebenarnya, yang melindunginya di saat ia merasa hancur. Aluna mengerti, tawaran ini bukan sekadar tempat tinggal, tapi cara Ayah Azeus membantunya menghindar dari Azeus yang posesif dan liar.
Akhirnya, Aluna hanya bisa menurut. Ia masuk ke dalam mobil, membiarkan koper lamanya diletakkan di bagasi.
Di dalam mobil yang melaju tenang keluar dari komplek, Ayah Azeus melirik spion, melihat moge Azeus yang masih berputar-putar jauh di belakang sana. Biarkan saja si posesif itu berpikir, batin Ayah Azeus dingin. Beliau ingin memberi pelajaran pada putranya bahwa memiliki seseorang bukan berarti bisa bersikap semena-mena atau bermain-main dengan perasaan.
.
Waktu seolah membeku bagi Azeus sejak hari kepergian Aluna. Ayahnya melakukan permainan yang sangat rapi dokumen home schooling di rumah dibilang dibatalkan, membuat Azeus mengira Aluna benar-benar hilang ditelan bumi. Padahal, di sebuah apartemen mewah yang letaknya tak jauh dari pusat bisnis, Aluna sedang berjuang hebat. Tanpa gangguan obsesi Azeus, Aluna belajar dengan tenang, mengejar ketertinggalan setahunnya di bawah bimbingan guru privat terbaik pilihan Papa Azeus.
Beberapa bulan kemudian, Aluna berhasil menempuh ujian susulan khusus. Saat ia memegang ijazah SMA Trihasta yang masih bau tinta, air matanya menetes. Ia lulus. Semua berkat ketegasan Ayah angkatnya yang ingin melindunginya dari sisi liar Azeus.
Namun di luar sana, dunia Azeus runtuh berkeping-keping.
Asap rokok dan bau alkohol murahan memenuhi sudut Basecamp. Di tengah remang cahaya, Azeus duduk tersungkur di lantai, bersandar pada ban motor besarnya yang kini berdebu. Rambutnya gondrong tak terurus, kemejanya kusut, dan matanya merah bukan karena marah, tapi karena mabuk berat setiap malam.
"Nana... kamu di mana, Na..." racau Azeus parau, tangannya gemetar memegang botol kaca yang tinggal separuh.
Raka dan Dion berdiri tak jauh dari sana dengan wajah penuh keprihatinan. Mereka belum pernah melihat Azeus sehancur ini, bahkan saat ia diusir ayahnya setahun lalu pun, Azeus masih punya semangat. Tapi sekarang? Azeus seperti mayat hidup.
"Udah, Ze. Cukup. Lo bisa mati kalau begini terus," ujar Gathan dingin, tapi ia merebut botol itu dari tangan Azeus dengan paksa.
"Balikin! Gue mau Nana! Kenapa Papa sembunyiin dia dari gue?!" teriak Azeus histeris, lalu tiba-tiba ia menangis sesenggukan di bahu Gathan. Si badboy narsis itu benar-benar berantakan.
Malam semakin larut saat Raka dan Dion akhirnya membopong Azeus pulang ke rumah mewah itu. Langkah mereka berat, menyeret tubuh Azeus yang sudah tidak berdaya karena pengaruh alkohol.
Begitu pintu depan terbuka, Ayah Azeus sudah berdiri di ruang tengah dengan tangan bersedekap. Beliau menyaksikan pemandangan memilukan itu—anak laki-laki kebanggaannya yang dipersiapkan jadi CEO, kini tampak seperti sampah jalanan yang tak punya harga diri.
"Om. Azeus mabuk lagi di bascamp," lapor Raka pelan sambil terus memapah Azeus menaiki tangga meliuk yang dulu jadi saksi bisu kecelakaan Nana.
Ayah Azeus hanya diam, namun rahangnya mengeras. Ada rasa bimbang yang mulai mengusik hatinya. Di satu sisi, ia ingin melindungi Aluna dari pengaruh buruk Azeus. Namun di sisi lain, ia tidak tega melihat putra semata kudanya menuju kehancuran total. Beliau menatap punggung Azeus yang diseret menuju kamar, bertanya-tanya apakah keputusannya menyembunyikan Aluna adalah langkah yang tepat, atau justru akan membunuh putranya sendiri perlahan-lahan.
^^^
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca rumah mewah tersebut, namun aura di dalamnya masih terasa mendung. Azeus terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat sisa alkohol semalam. Setelah mandi lama di bawah guyuran air dingin untuk mengusir rasa pening, ia turun ke lantai bawah dengan langkah gontai.
Wajahnya pucat, matanya sayu, dan tak ada lagi siulan narsis yang biasa terdengar. Azeus hendak melangkah melewati ruang makan begitu saja. ia tak punya selera untuk menelan apa pun. Namun suara bariton ayahnya menghentikan langkahnya.
"Duduk, Azeus. Sarapan. Ada yang ingin Papa bicarakan," perintah Ayahnya tanpa menoleh dari koran di tangannya.
Azeus menurut dengan wajah datar, seolah nyawanya sudah hilang separuh. Ia duduk di kursi seberang ayahnya, memandang piring sarapannya dengan tatapan kosong.
Ayah Azeus meletakkan korannya, menatap putra semata wayangnya yang hancur itu dengan tatapan menyelidik.
"Papa tidak tahan melihat kamu seperti mayat hidup setiap hari. Jadi, Papa akan bantu kamu mencari Aluna."
Azeus tersentak. Kepalanya mendongak cepat, matanya yang tadi redup mendadak berkilat penuh harapan.
"Maksud Papa?"
"Papa akan menyewa tangan kanan profesional dan tim detektif swasta terbaik. Biayanya fantastis, tapi mereka dijamin bisa melacak siapa pun, di mana pun," lanjut Ayahnya dengan nada tenang, padahal sebenarnya ia sedang memainkan sandiwara besar karena Aluna ada di apartemen miliknya sendiri.
Azeus hampir saja bersorak, namun ayahnya mengangkat tangan, memberi isyarat ada harga yang harus dibayar.
"Asal dengan satu syarat, Azeus," Ayahnya mencondongkan tubuh, auranya kembali mengintimidasi sebagai seorang CEO.
"Mulai besok, kamu harus berhenti mabuk-mabukan. Kamu harus memakai jas, berangkat ke kantor, dan mulai mengelola perusahaan cabang yang sudah Papa siapkan. Tunjukkan kalau kamu laki-laki yang layak untuknya."
Tanpa berpikir dua kali, Azeus menggebrak meja dengan semangat yang kembali berkobar.
"Setuju! Apa pun syaratnya, Zeus lakukan! Asal Aluna ketemu, Pa. Zeus bakal lakuin apa pun!"
Azeus tidak sadar bahwa ini adalah cara ayahnya mendidiknya agar menjadi pria yang mapan dan bertanggung jawab. Ayahnya tersenyum miring dalam hati, rencana untuk mengubah si badboy menjadi pemimpin perusahaan profesional sedang berjalan sempurna, sambil tetap menjaga harta karun putranya itu di tempat yang aman.