NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: MALAM KELAM DI MARKAS KENPEITAI

Malam turun tanpa bintang.

Langit seperti kain hitam yang ditarik terlalu rapat, menutup cahaya apa pun yang mencoba masuk. Di markas Kenpeitai, lampu-lampu kuning menyala dingin, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji.

Melati melangkah pelan di lorong kayu yang berbau minyak dan besi. Setiap suara sepatu tentara memantul keras di dinding, teratur, tanpa emosi. Tempat itu tidak terasa seperti bangunan—lebih seperti mesin.

Ia tidak tahu berapa lama sudah berada di sana. Waktu kehilangan bentuk ketika hidup berhenti menjadi pilihan.

Pintu di ujung lorong terbuka.

Seorang tentara memberi isyarat masuk.

Ruangan itu sederhana, hampir kosong. Sebuah meja rendah. Rak berisi dokumen. Jendela tertutup kertas tipis yang membuat dunia luar tampak kabur seperti mimpi yang tidak ingin diingat.

Dan di sana, berdiri Kenjiro.

Seragamnya rapi, wajahnya tenang seperti air yang terlalu diam untuk dipercaya. Pedang katana diletakkan di meja, tidak sebagai ancaman, tetapi sebagai sesuatu yang selalu ada.

Melati berhenti beberapa langkah dari pintu.

Kenjiro menatapnya lama.

Tidak terburu-buru. Tidak lapar seperti pria lain yang pernah menatapnya. Justru itu membuat jantung Melati lebih tidak tenang—karena ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keinginan.

“Duduk,” katanya.

Melati menurut. Lututnya terasa ringan seperti bukan miliknya.

Sunyi duduk di antara mereka.

Di luar, suara interogasi samar terdengar—teriakan yang ditahan, langkah cepat, benda jatuh. Dunia di luar ruangan itu penuh kekerasan, tetapi ruangan ini terasa seperti pusat badai: tenang dan berbahaya.

“Kamu takut padaku,” Kenjiro berkata, bukan bertanya.

Melati tidak menjawab.

Kenjiro tidak memaksa jawaban. Ia berjalan mendekat perlahan, jarak berkurang tanpa suara dramatis. Kehadirannya terasa seperti tekanan udara sebelum hujan besar.

“Aku tidak membutuhkan cinta,” katanya. “Aku membutuhkan kepastian.”

Melati menelan ludah. Kata itu terasa asing dalam konteks hidupnya.

“Kepastian apa?” suaranya sangat kecil.

Kenjiro berhenti cukup dekat untuk membuat napasnya terasa.

“Bahwa sesuatu di dunia ini tidak palsu.”

Melati tidak mengerti sepenuhnya, tetapi ia merasakan arah kalimat itu. Cara Kenjiro menatapnya bukan seperti menilai kecantikan—melainkan seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang tidak rusak di tengah reruntuhan.

Dan itu menakutkan.

Kenjiro mengangkat dagu Melati dengan gerakan ringan. Tidak kasar. Tidak lembut. Hanya pasti.

“Kamu masih berdoa,” katanya.

Air mata langsung memenuhi mata Melati meski ia berusaha menahannya.

“Itu satu-satunya yang tersisa,” bisiknya.

Ada sesuatu yang berubah di mata Kenjiro saat mendengar itu. Bukan belas kasihan. Sesuatu yang lebih rumit—ketertarikan yang bercampur kegelisahan, seperti ia tidak mengerti kenapa hal itu penting baginya.

Malam bergerak pelan.

Percakapan berhenti. Kata-kata menjadi tidak berguna.

Kenjiro tidak pernah menjadi pria yang meminta izin pada dunia. Hidupnya dibentuk oleh perintah, kemenangan, kehilangan, dan keyakinan bahwa kelembutan adalah kemewahan yang mematikan.

Namun di hadapan Melati, ada keretakan kecil yang justru membuatnya lebih berbahaya.

Ia tidak marah.

Tidak terburu.

Hanya… memutuskan.

Melati merasakan keputusan itu sebelum sesuatu terjadi. Firasat sering datang lebih dulu daripada kenyataan.

“Kenapa aku selalu dipilih… tanpa ditanya?” suaranya pecah.

Kenjiro diam lama.

“Karena dunia tidak bertanya pada yang lemah,” jawabnya akhirnya.

Jawaban jujur lebih menyakitkan daripada kebohongan.

Malam menjadi saksi sesuatu yang tidak perlu dijelaskan dengan detail untuk terasa berat. Bukan ledakan. Bukan kekerasan yang gaduh. Justru sunyi itulah yang membuatnya tragis—ketika seseorang kehilangan batas dirinya bukan dalam keributan, tetapi dalam kepastian orang lain.

Lampu tetap menyala.

Dunia tetap berjalan.

Dan Melati merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh lagi.

Ia tidak berteriak.

Bukan karena tidak sakit. Tetapi karena sebagian dirinya sudah terlalu lelah untuk melawan.

Di dalam hatinya, satu hal terus berulang: nama Tuhan. Pelan. Terputus. Seperti seseorang yang memegang tali terakhir agar tidak jatuh sepenuhnya.

Kenjiro berhenti ketika menyadari Melati tidak melawan, tetapi juga tidak hadir. Tubuh di hadapannya ada, tetapi pikirannya jauh—berlindung di tempat yang tidak bisa ia jangkau.

Hal itu justru mengganggunya.

Ia mundur beberapa langkah.

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya tidak sepenuhnya tenang.

“Kamu menghilang,” katanya pelan.

Melati tidak menjawab. Air matanya jatuh tanpa suara.

Kenjiro menatapnya lama, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak diajarkan perang: bahwa kemenangan bisa terasa kosong ketika yang tersisa hanyalah keheningan.

Ia mengambil kain dan meletakkannya di dekat Melati—gerakan kecil, hampir canggung, seolah tubuhnya tahu sesuatu yang pikirannya belum akui.

“Aku tidak membencimu,” kata Melati tiba-tiba, suara pecah. “Aku hanya… tidak mengerti kenapa hidupku selalu diambil.”

Kenjiro tidak pernah ditanya pertanyaan seperti itu.

Ia hidup di dunia di mana mengambil adalah bahasa utama.

Namun kata-kata Melati tidak terdengar seperti tuduhan. Lebih seperti kelelahan yang sangat dalam.

“Aku juga tidak pernah memilih banyak hal,” jawabnya pelan. “Tapi aku belajar tidak berhenti.”

Melati menutup mata. Kalimat itu mungkin benar bagi Kenjiro, tetapi tidak membuat lukanya lebih ringan.

Malam semakin larut.

Di luar, markas tetap hidup dengan ritme perang. Di dalam ruangan itu, dua manusia duduk dalam jarak yang tidak bisa diukur dengan langkah.

Kenjiro akhirnya duduk di lantai, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

“Aku tidak menginginkan boneka,” katanya. “Aku menginginkan seseorang yang tetap bernapas meski dunia menekannya.”

Melati menatapnya dengan mata merah.

“Aku tidak kuat,” bisiknya jujur.

Kenjiro menggeleng kecil.

“Kamu masih berdoa. Itu lebih kuat dari banyak tentara yang pernah kupimpin.”

Pujian itu terasa aneh. Hampir menyakitkan.

Karena kekuatan yang ia miliki bukan pilihan—melainkan satu-satunya cara bertahan.

Kenjiro berdiri lagi, kembali ke jarak formal seolah emosi yang muncul barusan terlalu berbahaya untuk dibiarkan lama.

“Mulai malam ini,” katanya, suara kembali dingin, “tidak ada yang menyentuhmu tanpa izinku.”

Kalimat itu terdengar seperti perlindungan dan kepemilikan sekaligus.

Melati memahami paradoks itu dengan cepat.

Ia bukan bebas.

Ia hanya berpindah tangan.

Namun di antara semua hal yang hilang, satu hal tetap bertahan: ia masih bisa berbisik kepada Tuhan.

Ketika Kenjiro keluar ruangan, Melati akhirnya runtuh sepenuhnya. Tangisnya tidak keras—hanya getaran panjang yang terasa seperti tubuhnya mencoba membuang beban yang terlalu besar.

Ia bersujud di lantai tatami yang dingin.

Kata-kata doanya tidak rapi. Tidak indah. Kadang hanya potongan kalimat. Kadang hanya napas.

“Tolong jangan tinggalkan aku…”

Di lorong, Kenjiro berhenti mendengar suara tangis yang ditahan itu.

Tangannya mengepal tanpa sadar.

Ia sudah melihat ribuan orang hancur. Itu tidak pernah mengganggunya. Perang menuntut jarak.

Tetapi ada sesuatu tentang Melati—bukan kecantikannya, bukan kelemahannya, melainkan cara ia tetap memanggil sesuatu yang tidak bisa disentuh siapa pun.

Kenjiro tidak menyukai perasaan itu.

Perasaan yang membuat keputusan terasa tidak sepenuhnya bersih.

Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang terbiasa memberi perintah tanpa ragu. Untuk pertama kalinya, ada pertanyaan kecil yang muncul: apakah kepemilikan selalu berarti kemenangan?

Ia tidak menjawabnya.

Perwira tidak dibentuk untuk ragu.

Namun sejak malam itu, Melati bukan hanya seseorang yang ia ambil. Ia menjadi sesuatu yang lebih berbahaya—seseorang yang ia pikirkan.

Obsesi sering lahir bukan dari keinginan, tetapi dari hal yang tidak bisa dipahami.

Di dalam ruangan, Melati akhirnya terdiam. Air mata habis, tenaga habis, tetapi napas masih ada.

Ia menyentuh dadanya, memastikan jantungnya masih berdetak.

Masih hidup berarti masih ada kemungkinan. Sekecil apa pun.

Di luar, angin malam membawa bau asap dan laut. Dunia belum berhenti rusak. Perang belum selesai. Perebutan belum berakhir.

Dan di tengah semua itu, seorang gadis desa berusaha menjaga satu hal terakhir yang tidak bisa dirampas sepenuhnya: harapan bahwa Tuhan masih melihatnya, bahkan di tempat paling gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!