NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Mobil sedan yang menjemput mereka berhenti tepat di kawasan Champs-Élysées, jantung mode dunia.

Rizal menggandeng tangan Aisyah dengan erat saat mereka memasuki deretan berbelanja di butik mewah yang tampak begitu elegan dengan etalase kaca yang berkilauan.

Di dalam sebuah butik ternama, Rizal langsung meminta pelayan pribadi untuk membawakan koleksi musim dingin terbaru.

Ia membiarkan Aisyah mencoba beberapa mantel berbahan wol halus dan sutra.

"Mas, yang ini harganya terlalu mahal," bisik Aisyah saat melihat label harga pada sebuah mantel berwarna cashmere yang sangat anggun.

Rizal hanya tersenyum tipis dan menggeleng. Ia justru mengambil sebuah tas kulit eksklusif dan sepasang sepatu bot yang serasi, lalu menyerahkannya pada pelayan.

Rizal memanjakan Aisyah dengan hadiah-hadiah indah, seolah ingin mengganti setiap tetes air mata yang pernah jatuh di pipi istrinya dengan senyuman.

"Tidak ada yang terlalu mahal untukmu, Sayang. Selama ini kamu sudah memberikan segalanya untuk keluarga kita. Biarkan hari ini aku yang memanjakanmu," ujar Rizal sambil memakaikan sebuah syal sutra lembut di leher Aisyah.

Aisyah hanya bisa menatap pantulan dirinya di cermin besar.

Ia tampak begitu berkelas dan cantik, namun yang membuatnya merasa paling berharga bukanlah barang-barang mewah itu, melainkan cara Rizal menatapnya—dengan penuh rasa hormat dan cinta yang tulus.

Setelah selesai di butik pakaian, Rizal membawa Aisyah ke sebuah toko perhiasan legendaris di sudut jalan.

Di sana, ia memilihkan sebuah kalung berlian dengan desain simpel namun sangat mewah.

"Ini untuk menandai awal yang baru," ucap Rizal saat memasangkan kalung itu di leher Aisyah.

"Bahwa cintaku padamu akan selalu berkilau, tak peduli seberapa gelap badai yang kita lalui."

Aisyah memeluk lengan suaminya dengan penuh haru.

Hari itu, jalanan Paris menjadi saksi bagaimana seorang Rizal menunjukkan bahwa penyesalan terdalamnya telah berubah menjadi kasih sayang yang tak terbatas.

Setelah puas berbelanja, Rizal membawa Aisyah menuju ikon paling spektakuler di Paris.

Mereka melewati antrean panjang dan langsung menuju lift pribadi yang membawa mereka ke ketinggian 125 meter di atas permukaan tanah.

Mereka pun mulai menikmati makan siang romantis di restoran mewah di atas Menara Eiffel (Le Jules Verne).

Dari meja yang berada tepat di samping jendela kaca besar, seluruh kota Paris terlihat seperti miniatur yang cantik dengan atap-atap abu-abunya yang khas.

Aroma masakan kelas dunia dan denting gelas kristal menambah kemewahan suasana itu.

Namun, di tengah suasana yang manis itu, ketenangan Aisyah terusik.

Beberapa meja di seberang mereka tampak sekelompok turis asal Indonesia dan beberapa ekspatriat yang terus berbisik sambil menatap ke arah meja mereka.

Tiba-tiba, seorang wanita muda yang tampak modis memberanikan diri mendekat. Ia menatap Rizal dengan mata berbinar-binar.

"Maaf, apakah Anda Bapak Rizal, CEO dari Rizal Group? Saya sangat mengagumi sepak terjang bisnis Anda di Jakarta! Bolehkan saya meminta foto bersama?" tanya wanita itu dengan nada yang sangat antusias, hampir mengabaikan keberadaan Aisyah di sana.

Rizal yang selalu bersikap profesional hanya tersenyum tipis, namun hal itu justru memicu kecemburuan Aisyah saat melihat wanita yang meminta foto Rizal yang mereka kenal sebagai CEO muda yang sukses dan tampan.

Aisyah mendadak merasa dadanya sesak melihat bagaimana wanita itu mencoba berdiri sangat dekat dengan suaminya saat bersiap mengambil foto.

Aisyah hanya diam, menyesap jusnya dengan tatapan datar, sambil memperhatikan tangan wanita itu yang seolah-olah ingin menyentuh lengan Rizal.

Di dalam hatinya, ia baru menyadari bahwa suaminya bukan hanya miliknya di mata dunia, melainkan sosok yang dikagumi banyak wanita.

Melihat perubahan raut wajah istrinya, Rizal segera mengambil jarak setelah satu kali jepretan foto.

"Terima kasih, tapi saya sedang menikmati waktu pribadi dengan istri saya," ucap Rizal dengan nada tegas namun sopan.

Setelah wanita itu pergi dengan wajah sedikit kecewa, Rizal menoleh ke arah Aisyah yang masih memalingkan wajah ke arah jendela.

"Sayang, ada apa? Kenapa tiba-tiba diam?" tanya Rizal sambil mencoba meraih tangan Aisyah di atas meja.

Rizal memperhatikan istrinya yang kini sibuk mengaduk-aduk hidangan di piringnya tanpa minat, padahal tadi ia sangat antusias dengan menu foie gras di depannya.

Senyum geli mulai tersungging di bibir Rizal. Ia sangat mengenal ekspresi itu; Aisyah sedang menahan kesal.

Rizal yang menggoda Aisyah karena cemburu pun mulai melancarkan aksinya.

Ia sengaja memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan tangan sambil menatap Aisyah lekat-lekat.

"Wah, tiba-tiba udaranya jadi lebih dingin ya, Sayang? Padahal penghangat ruangan di restoran ini sudah maksimal," ujar Rizal dengan nada jenaka yang dibuat-buat.

Aisyah hanya bergumam tanpa menoleh,

"Mungkin karena efek ketinggian, Mas."

Rizal terkekeh pelan.

"Atau mungkin karena ada yang sedang membeku di depanku ini? Padahal tadi di bawah, wajahnya hangat sekali waktu belanja. Kenapa sekarang jadi seperti salju di luar?"

Aisyah akhirnya menoleh, matanya menyipit menatap suaminya.

"Mas senang ya diminta foto sama wanita cantik tadi? Sampai-sampai dia lupa kalau ada istrinya duduk di sini."

Tawa Rizal pecah seketika, namun ia segera merendahkan suaranya agar tidak mengganggu tamu lain.

Ia meraih tangan Aisyah, menggenggamnya erat-erat di atas meja.

"Sayang, dengarkan aku," bisik Rizal sambil mengusap punggung tangan Aisyah dengan ibu jarinya.

"Di Jakarta, di Paris, atau di belahan dunia mana pun, orang boleh saja mengenal aku sebagai CEO. Mereka boleh minta foto, mereka boleh mengagumi. Tapi hanya ada satu wanita yang punya 'sertifikat' kepemilikan atas diriku seutuhnya, dan dia sedang duduk di depanku sekarang dengan wajah cemberut yang sangat menggemaskan."

Pipi Aisyah merona merah. Ia mencoba menarik tangannya, tapi Rizal malah mempererat genggamannya.

"Lagipula," lanjut Rizal dengan kedipan mata,

"wanita tadi hanya dapat foto. Tapi kamu? Kamu dapat orangnya, dapat cintanya, dan dapat seluruh isi dompetnya. Jadi, siapa yang menang?"

Aisyah tidak bisa menahan senyumnya lagi. Ia tertawa kecil sambil mencubit pelan tangan Rizal.

"Mas benar-benar ya, bisa saja bicaranya."

"Nah, begitu dong. Senyum itu jauh lebih indah daripada pemandangan Paris di bawah sana," goda Rizal lagi, membuat suasana kembali mencair dan penuh romansa.

Setelah ketegangan kecil di atas Menara Eiffel mencair, Rizal membawa Aisyah turun menuju dermaga kayu di tepian air.

Langit Paris mulai berubah warna menjadi jingga keemasan yang memukau.

Rizal mengajak Aisyah menaiki kapal pesiar di Sungai Seine saat matahari terbenam, sebuah momen yang paling dinantikan oleh banyak pasangan di kota ini.

Kapal perlahan membelah arus sungai yang tenang.

Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, membawa kesejukan di tengah pelukan hangat Rizal dari belakang.

Sambil memandang deretan bangunan bersejarah yang mulai menyalakan lampu-lampunya, Rizal membisikkan kata-kata yang membuat hati Aisyah bergetar.

"Terima kasih atas kesempatan yang sudah kamu berikan untukku, Sayang," ucap Rizal dengan nada yang sangat tulus.

"Aku tahu aku bukan laki-laki sempurna. Tapi dengan sabarmu, kamu mengangkat derajatku seperti ini, menjadikanku suami yang merasa sangat berharga."

Aisyah membalikkan tubuhnya, menatap lekat mata suaminya yang memantulkan cahaya senja. Ia menyentuh pipi Rizal dengan lembut.

"Mas, ini semua karena usahamu," balas Aisyah dengan rendah hati.

"Aku hanya memberikan bantuan sedikit, memberikan doa dan dukungan. Tapi yang berjuang untuk bangkit, yang bekerja keras dari nol setelah semua keterpurukan itu adalah kamu sendiri."

Rizal menggeleng pelan, lalu mengecup kening Aisyah cukup lama.

"Tanpa bantuanmu yang 'sedikit' itu, aku mungkin masih terjebak dalam rasa sakit hati dan kegagalan. Kamu adalah kekuatanku, Aisyah."

Di atas kapal yang terus melaju melewati jembatan-jembatan indah Paris, mereka berdiri berpelukan.

Matahari yang tenggelam di cakrawala seolah membawa pergi semua kenangan pahit mereka, menyisakan cahaya baru yang akan menyinari perjalanan cinta mereka ke depan.

1
Lizam Alby
lohhh ko Rizal yg JD wali kan dia bpak sambung
my name is pho: terima kasih kak. Thor revisi sebentar
total 1 replies
mfi Pebrian
cerita nya bagus......semangat untuk up nya yah KK.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya" Dialah sang pewaris" terimakasih
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!