Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedalaman Yang bisu
Dinding baja The Seeker mengeluarkan suara berderit pelan, sebuah protes mekanis terhadap tekanan air yang semakin hebat saat jarum analog di panel kendali melewati angka lima ratus meter. Di dalam kapsul sempit itu, Adam hanya ditemani oleh cahaya remang dari monitor navigasi dan suara napasnya sendiri yang terdengar berat di balik masker oksigen. Di luar jendela kecil berbahan akrilik tebal, dunia telah berubah menjadi tinta hitam yang pekat. Cahaya matahari telah lama mati di kedalaman ini, menyisakan ruang bagi kegelapan yang purba.
Adam menatap layar sonar. Titik-titik hijau berkedip, menunjukkan topografi dasar laut yang kasar. Namun, di tengah hamparan lembah bawah laut yang sunyi itu, muncul sebuah struktur yang tidak masuk akal. Sebuah bayangan raksasa berbentuk silinder yang berdiri tegak, memanjang dari kerak bumi seolah-olah ingin menembus permukaan air.
"The Anchor," bisik Adam. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Struktur itu tidak terlihat seperti bangunan buatan manusia modern. Dindingnya tidak terbuat dari beton atau baja yang dilas, melainkan material gelap yang nampak seperti kristal hitam yang halus, namun mampu menahan tekanan ribuan ton air. Cahaya biru elektrik merambat di sepanjang permukaannya seperti urat saraf yang berdenyut. Setiap denyutan itu mengirimkan getaran frekuensi rendah yang membuat dada Adam terasa sesak, seolah jantungnya dipaksa mengikuti irama mesin tersebut.
Tiba-tiba, sistem komunikasi kapal selamnya berderak. Sebuah sinyal masuk, namun bukan dari Silas atau Hage emon. Sinyal itu berupa rangkaian nada yang harmonis, namun menyayat hati.
"Adam... apakah kau melihatnya?"
Adam tersentak. Itu suara Liora. Namun, suaranya terdengar jernih, seolah ia berada tepat di sampingnya, bukan di dermaga yang kacau tadi.
"Liora? Bagaimana kau bisa masuk ke frekuensi ini?"
"Aku menggunakan transmiter yang diberikan Hendrawan sebelum aku tertangkap. Aku sedang berada di ruang interogasi mereka sekarang, Adam. Tapi mereka tidak sadar kalau kesadaranku sedang terhubung dengan jaring frekuensi mereka sendiri. Jangan berhenti. Kau harus masuk ke pusat kendali melalui gerbang termal di bagian bawah silinder itu."
"Liora, bertahanlah! Aku akan segera mematikan sistem ini," Adam mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski ia tahu peluangnya sangat tipis.
"Jangan cemaskan aku. Ingat apa yang kau bilang tentang takdir? Mereka pikir mereka mengontrol segalanya, tapi mereka tidak bisa mengontrol ruh yang menolak untuk tunduk. Cepat, Adam! Tekanan udara di atmosfer mulai berubah. Aku bisa merasakan orang-orang di luar sana mulai jatuh..."
Adam menekan tuas kemudi, mengarahkan The Seeker mendekati dasar silinder raksasa itu. Di sana, ia melihat sebuah pintu berbentuk lingkaran yang dikelilingi oleh simbol-simbol geometri yang berpijar. Itu bukan kode akses athe gard. Itu adalah sesuatu yang lebih tua.
Ia menyambungkan komputer kapal selamnya ke port eksternal silinder tersebut. Jemarinya yang gemetar mulai mengetikkan barisan algoritma bypass yang ia rancang selama di terowongan tadi. Ia mencoba memetakan logika mesin ini. Ini bukan sekadar mesin; ini adalah sebuah re so.na.tor yang memanfaatkan medan magnet bumi.
"Kalian tidak hanya ingin menguasai manusia," gumam Adam sambil menatap barisan data yang mengalir di layarnya. "Kalian mencoba meretas sistem operasi bumi itu sendiri."
Data yang muncul di layar Adam menunjukkan hal yang mengerikan. The Anchor sedang menyerap panas dari inti bumi dan mengubahnya menjadi gelombang infrasonik. Gelombang ini, jika disinkronkan dengan satelit di langit, akan menciptakan jaring yang menutupi seluruh planet. Manusia di dalam jaring itu akan menjadi seperti boneka yang bisa diatur suasana hatinya, kesehatannya, hingga kematiannya melalui frekuensi tertentu.
Sebuah peringatan merah berkedip di monitor: DANGER: EXTERNAL. INTER. DETEKSI .
Dua drone bawah laut milik Hage emon berbentuk seperti hiu logam tanpa mata muncul dari kegelapan, meluncur cepat ke arah The Seeker. Mereka tidak menembakkan peluru, melainkan gelombang akustik yang langsung menghantam lambung kapal selam Adam. BUM!
Kapal selam itu terpelanting hebat. Kepala Adam terbentur panel kendali, membuat pandangannya kabur dan darah mulai mengalir di pelipisnya. Alarm tanda kebocoran berbunyi melengking, memekakkan telinga.
"Tidak... sekarang..." Adam berusaha meraih tuas penyeimbang.
Di layar sonar, ia melihat drone-drone itu berputar untuk serangan kedua. Adam tahu, The Seeker tidak dirancang untuk bertempur. Ini adalah peti mati jika ia terus bersembunyi di dalam.
"Liora, jika kau mendengarku... aku akan keluar. Aku akan masuk ke silinder itu secara manual," Adam berteriak melalui radio.
Ia meraih baju selam bertekanan tinggi yang ada di kompartemen belakang. Ini adalah tindakan bunuh diri. Tekanan di luar sana bisa menghancurkan tulang manusia dalam sekejap jika ada sedikit saja kebocoran pada baju selam tersebut. Namun, melihat bayangan burung-burung yang jatuh dari langit dalam ingatannya, Adam tidak punya pilihan lain.
Ia mengenakan helmnya, mengunci sistem oksigen, dan masuk ke ruang dekompresi kecil di bagian bawah kapal selam. Saat air mulai masuk memenuhi ruangan sempit itu, Adam merasakan tekanan yang luar biasa menindih tubuhnya. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah ayahnya, membayangkan ketenangan doa-doa yang pernah ia remehkan.
"Hanya kepada Mu aku berserah," bisiknya.
Pintu keluar terbuka. Adam terdorong keluar ke dalam kegelapan samudera yang luas. Di hadapannya, silinder raksasa itu berdiri seperti tuhan palsu yang angkuh. Drone-drone hiu itu berhenti menyerang kapal selam dan kini mengalihkan sensor mereka ke arah sosok kecil manusia yang melayang di air.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat drone itu mendekat, cahaya biru dari silinder The Anchor tiba-tiba berubah menjadi putih terang. Sebuah gelombang kejut terpancar dari struktur itu, melumpuhkan sirkuit elektronik drone-drone tersebut hingga mereka tenggelam ke dasar laut seperti sampah besi yang tak berguna.
Silinder itu seolah-olah "mengenali" Adam. Atau lebih tepatnya, ia mengenali frekuensi kejujuran dan kepasrahan yang dibawa Adam dalam jiwanya.
Pintu lingkaran di hadapannya terbuka perlahan, mengeluarkan suara dengungan yang terasa seperti nyanyian kuno. Adam berenang masuk, meninggalkan kegelapan laut menuju cahaya putih yang menyilaukan di dalam jantung The Anchor.
Di dalam sana, ia tidak menemukan kabel atau kabel serat optik. Ia menemukan sebuah ruangan yang terbuat dari air yang dipadatkan oleh energi, di mana di tengah-tengahnya melayang sebuah kristal besar yang berdetak. Dan di depan kristal itu, berdiri sebuah proyeksi hologram dari seseorang yang sangat ia kenal.
Silas.
Tapi bukan Silas yang angkuh di layar monitor. Ini adalah Silas dengan wajah yang nampak sangat tua, penuh luka, dan matanya tidak menunjukkan kekuasaan, melainkan ketakutan yang tak terhingga.
"Kau akhirnya sampai, Adam," suara hologram itu bergetar. "Selamat datang di ujung peradaban. Sekarang kau akan mengerti, kenapa kami harus melakukan semua ini."
Adam berdiri di atas lantai air yang keras, menatap musuhnya. "Ceritakan padaku, Silas. Sebelum aku menghancurkan semua kegilaan ini."