Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Nadine gemetar kecil, membuat Aditya segera mempererat genggamannya untuk menenangkan. "Jangan takut. Aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun yang belum kamu siap."
Nadine menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang berisik. "Hanya... sedikit gugup, Mas. Selama ini saya hanya belajar tentang hak dan kewajiban suami istri dari kitab, sekarang... sekarang semua ini nyata."
Aditya mendekat, aroma sabun mandi yang segar dari tubuhnya mulai tercium oleh Nadine. Ia meletakkan tangan kanannya di atas kepala Nadine, tepat di atas jilbab instan yang masih dipakainya, lalu membacakan doa yang diajarkan dalam agama saat malam pertama.
"Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi..."
Mendengar suara berat Aditya melantunkan doa itu, pertahanan Nadine runtuh dalam artian positif. Rasa takutnya berganti menjadi rasa aman yang luar biasa. Ia merasa benar-benar dilindungi.
"Mas..." bisik Nadine pelan.
"Iya, Sayang?"
"Boleh tolong... lepaskan jarum jilbab saya? Tangan saya mendadak lemas," ucap Nadine dengan suara yang hampir hilang karena malu.
Aditya terpaku sejenak, lalu tersenyum sangat manis. Dengan gerakan yang luar biasa hati-hati, seolah sedang melakukan pekerjaan paling presisi dalam hidupnya, ia melepas satu per satu penghalang itu. Saat kain jilbab itu terlepas dan memperlihatkan rambut hitam legam Nadine yang tergerai indah, Aditya terpana.
"Kamu... jauh lebih indah dari yang kubayangkan, Sayang," bisik Aditya tulus.
Malam itu menjadi saksi bagaimana dua jiwa yang berbeda kasta dan latar belakang bersatu dalam ikatan yang suci, penuh dengan rasa hormat dan cinta yang murni, sebelum akhirnya mereka terlelap dalam pelukan hangat sebagai suami istri yang sah.
___
Satu bulan setelah malam yang penuh malu-malu itu, sebuah garis dua pada testpack mengubah segalanya. Kabar itu datang di suatu pagi yang dingin, saat aroma roti jahe baru saja keluar dari oven.
Nadine keluar dari kamar mandi dengan tangan bergetar, memberikan benda kecil itu pada Aditya yang sedang bersiap membuka gerbang bengkel.
"mmmas....., ini" Nadine menyerahkan test pack pada suaminya, Aditya menerimanya dengan tangan bergetar....Aditya terdiam seribu bahasa. Ia menatap benda itu, lalu menatap Nadine, dan tanpa sadar air mata jatuh di pipi sang CEO yang biasanya berhati baja.
"Nadine... Sayang ...ini benar?" bisiknya tidak percaya.
Nadine mengangguk malu-malu. "Ada nyawa kecil di sini, Mas. Di dalam sini sedang tumbuh titipan Allah."
"Alhamdulillah ya Allah...." ucap Aditya dengan mulut bergetar....Aditya langsung bersujud syukur di atas lantai bengkel yang masih berbau oli. Baginya, ini adalah pencapaian yang jauh lebih besar daripada memenangkan tender proyek otomotif bernilai triliunan. Ia bangkit, lalu dengan sangat hati-hati, seolah Nadine adalah kaca yang bisa pecah, ia memeluk istrinya dengan sangat erat namun lembut.
Sejak hari itu, Aditya berubah menjadi suami yang siaga satu. Ia tidak lagi membiarkan Nadine mengangkat loyang kue yang berat. Memasak, atau melakukan pekerjaan rumah apapun, semuanya Aditya yang mengambil alih.
"Mas, ini cuma roti sisir, bukan ban truk. Nadine masih kuat," protes Nadine saat Aditya merebut nampan dari tangannya.
"Tidak ada bantahan, Sayang. Tugasmu sekarang hanya memberikan instruksi dan menghias kue. Biar kuli panggulmu ini yang mengerjakan bagian kasarnya," jawab Aditya sambil mengecup kening Nadine sekilas sebelum kembali ke dapur.
Setiap malam, rutinitas mereka menjadi sangat romantis dengan cara yang sederhana:
Saat Nadine kelelahan berdiri di toko, Aditya akan menyiapkan air hangat dicampur garam. Ia duduk di lantai, memangku kaki Nadine, dan memijatnya dengan penuh kasih. "Kaki ini sudah membawa pangeran kecilku jalan-jalan seharian, dia pasti capek," ucap Aditya sambil tersenyum.
Sebelum tidur, Aditya akan duduk di belakang Nadine yang sedang murojaah. Ia meletakkan telapak tangannya di perut Nadine yang mulai sedikit membuncit. "Mas ingin dia hafal suara ayahnya yang sedang mendengarkan ibunya mengaji," bisiknya.
Jika Nadine mengidam sesuatu di jam dua pagi, Aditya tidak akan mengeluh. Ia akan menyalakan motor trail tuanya, berkeliling desa mencari martabak atau sekadar buah mangga muda, lalu pulang dengan wajah penuh kemenangan.
Anehnya, seiring dengan kehamilan Nadine, rezeki mereka mengalir seperti air bah. Bengkel Aditya dikenal sebagai bengkel paling jujur; ia sering memperbaiki motor tukang ojek secara gratis atau hanya meminta dibayar dengan doa.
Sementara itu, toko kue Permata Nadine menjadi primadona. Orang-orang bukan hanya datang untuk rotinya yang enak, tapi juga karena ingin melihat aura kebahagiaan pasangan itu. Aditya sering terlihat membantu Nadine di toko dengan tangan yang masih sedikit terkena noda oli, menciptakan pemandangan yang unik dan hangat.
"Mas, lihat tabungan kita," ucap Nadine suatu sore sambil menunjukkan buku tabungan mereka. "Kita sudah bisa membangun rumah yang Mas janjikan dulu."
Aditya memeluk pundak Nadine dari belakang. "Rumah itu akan segera berdiri, Sayang. Dengan kebun bunga mawar dan melati di belakangnya, dan perpustakaan kecil untukmu mengajar ngaji anak-anak desa."
***
Suatu sore, mereka duduk di depan bengkel sambil menyesap teh melati. Nadine menyandarkan kepalanya di bahu Aditya, tangannya mengusap perutnya yang kini sudah berusia lima bulan.
"Mas, berjanjilah padaku satu hal," bisik Nadine tiba-tiba.
"Apa itu, Sayang?"
"Jika suatu saat nanti aku tidak bisa mendampingimu... pastikan anak kita tahu bahwa ayahnya adalah pria paling hebat yang pernah kutemui. Ceritakan padanya betapa Mas sangat mencintai kami."
Aditya mencium pucuk kepala Nadine, hatinya mendadak terasa getir tanpa sebab. "Jangan bicara begitu. Kita akan menua bersama, Nadine Sayang. Sampai rambut kita memutih, sampai anak ini punya anak lagi. Aku tidak akan membiarkan apa pun memisahkan kita."
Nadine tersenyum, menutup matanya dengan damai di pelukan suaminya.
" Aku sangat mencintaimu sayang.... di usiaku yang sudah 28 tahun, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta, Aku tidak pernah memiliki seorang kekasih,namun saat pertama kali melihat mu, hati ini sudah langsung terikat, saat itu... Aku melupakan semuanya, dan tujuan utama ku adalah memiliki mu, dan kini , Alloh telah mengabulkan doa-doa ku " ucap Aditya dengan sungguh-sungguh.
Nadine mendongak, menatap wajah teduh suaminya saat menatap dirinya juga" Aku juga mencintaimu mas....saat ini, besok, dan selamanya.... tidak akan ada yang pernah menggantikan namamu di hatiku " balas Nadine lembut.
" berjanjilah sayang, apapun yang akan terjadi nanti, kau akan selalu percaya padaku, " ucap Aditya sungguh-sungguh, hatinya mulai gelisah memikirkan masalah keluarga nya , yang mungkin saat ini masih mencari keberadaan dirinya...
" apapun yang akan terjadi, jadilah Nadine yang kuat, jadilah Nadine yang hebat, Nadine yang tidak bisa di tindas, mas...ingin , anak kita memiliki orang tua yang tangguh untuk menghadapi dunia yang kejam " Aditya mengusap bahu istrinya yang sedang menyender di bahunya.
Nadine mengangguk," tentu saja mas... Alloh bersama kita"