NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — Lana

Acara peluncuran produk Aldrich Group berbeda dari gala dinner bulan lalu.

Kalau gala dinner punya suasana amal yang hangat di permukaannya meski dingin di bawahnya, peluncuran produk ini lebih jujur tentang dirinya sendiri — ini acara bisnis yang menggunakan estetika pesta sebagai packaging, dan semua orang yang hadir tahu itu dan memilih hadir anyway karena networking yang terjadi di sela-sela champagne dan hors d'oeuvre adalah alasan sebenarnya.

Venue-nya di lantai tiga puluh sebuah gedung di kawasan SCBD yang berbeda dari gala bulan lalu — lebih modern, lebih bersudut tajam, dengan instalasi cahaya di langit-langitnya yang terlihat mahal dan memang mahal. Undangan yang hadir campuran antara kolega bisnis, mitra strategis, dan beberapa wajah media yang Kenzo sudah identifikasi di briefing singkat kemarin.

Aku memakai gaun biru gelap yang Kenzo rekomendasikan — panjang sampai betis, potongan yang tidak memerlukan perjuangan ekstra untuk bergerak nyaman, dengan detail kecil di bagian bahu yang membuat keseluruhan penampilannya lebih dari sekadar formal tanpa berlebihan. Revano menjemputku dari wing kiri pukul enam tepat, melihatku dengan cara yang sudah jadi caranya menyatakan cukup tanpa kata, dan kami turun ke lobi.

Standar. Sudah hapal polanya.

Tiga puluh menit pertama di venue berjalan dalam ritme yang sudah tidak asing.

Revano memperkenalkan, aku menyapa, percakapan mengalir ke arah yang sudah bisa kuprediksi — latar belakangku, pekerjaan, bagaimana kami bertemu dalam versi yang sudah dikalibrasi. Tangannya di punggung bawahku, sinyal yang sudah jadi bahasa tubuh kami di situasi seperti ini tanpa pernah secara eksplisit disetujui tapi ada dan berfungsi.

Aku sudah cukup nyaman untuk tidak perlu menghitung caraku berdiri atau mengkalibrasi senyumku setiap lima menit. Itu kemajuan dari dua bulan lalu yang tidak kecil.

Di antara satu kelompok percakapan ke kelompok berikutnya, aku melihat dari sudut mata seseorang berdiri di dekat bar yang panjang di sisi kiri ruangan.

Gaun merah. Postur yang tidak perlu berusaha untuk terlihat seperti milik di sana — jenis milik yang sudah ada sejak lama dan tidak perlu dibuktikan lagi. Rambut hitam panjang yang jatuh ke bahu dengan cara yang terlihat mudah tapi tidak.

Aku tidak langsung tahu siapa.

Tapi ada sesuatu di caranya berdiri — atau mungkin di caranya menatap ke arah kami dengan mata yang menemukan Revano tepat dua detik setelah kami memasuki area yang bisa terlihat dari tempatnya berdiri — yang membuat sesuatu di ujung kesadaranku berdiri tegak tanpa diminta.

Revano merasakannya sebelum aku selesai mengidentifikasi apa yang dirasakan — bahunya bergerak satu sentimeter, cara langkahnya tidak berubah tapi ada sesuatu di dalam gerakannya yang berubah. Seperti sistem yang baru saja diinput variabel baru dan sedang menyesuaikan diri.

Perempuan itu meletakkan gelasnya di bar dan berjalan ke arah kami.

Caranya berjalan seperti caranya berdiri — tidak terburu-buru, tidak ragu, dengan kecepatan yang mengomunikasikan bahwa dia yang menentukan kapan sampai, bukan situasinya.

"Rey."

Satu kata. Dengan nada yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang sudah menggunakan nama itu berkali-kali di ruang yang tidak publik — nada yang menyimpan konteks yang tidak perlu diucapkan karena sudah ada di cara mengatakannya.

Dia memeluk Revano.

Bukan pelukan pipi yang formal seperti yang biasa terjadi di acara seperti ini. Tangannya sebentar ada di bahunya, badan yang mendekat dengan jarak yang mengisyaratkan familiaritas — dua detik, mungkin tiga. Revano menerimanya dengan postur yang tidak kaku tapi juga tidak melebur. Presisi yang terasa seperti sudah pernah diperhitungkan sebelumnya, atau mungkin memang sudah sangat terlatih.

"Lana." Suara Revano ketika melepas. Satu kata, datar — bukan dingin, tapi dengan jarak yang sangat spesifik di dalamnya.

Lana berbalik ke arahku.

Senyumnya sudah siap sebelum badannya selesai berputar — bukan senyum yang dibuat cepat, tapi senyum yang sudah ada dan memilih untuk ditampilkan sekarang. Matanya menyapuku dalam waktu yang terasa seperti sepersekian detik tapi cukup menyeluruh untuk meninggalkan perasaan sudah dibaca lebih dari yang ditunjukkan.

"Ini pasti Ariana." Tangannya terulur. "Aku Lana. Teman lama Revano."

Teman lama. Dua kata yang diletakkan dengan sangat hati-hati di antara dua kata yang lain yang tidak dipilih.

Aku menjabat tangannya. "Senang bertemu. Aku Ariana."

"Aku tahu." Senyumnya tidak berubah. "Revano tidak banyak cerita, tapi berita bahagia menyebar dengan caranya sendiri."

Kalimat yang terdengar manis. Yang kalau diurai lebih lanjut menyimpan sesuatu di lapisan keduanya yang tidak sepenuhnya manis — atau mungkin aku yang terlalu banyak membaca. Aku belum bisa memutuskan mana.

Lana bergabung dalam percakapan berikutnya dengan cara yang sangat natural.

Terlalu natural — dengan cara orang yang tidak memerlukan orientasi karena sudah hapal ruangannya, sudah hapal orang-orangnya, sudah hapal cara bergerak di sekitar Revano tanpa perlu bertanya apakah ada tempat untuknya.

Dia tidak mengabaikanku. Justru sebaliknya — memasukkanku dalam setiap percakapan dengan cara yang dari luar terlihat inklusif dan hangat. Bertanya tentang pekerjaanku dengan ketertarikan yang terlihat genuine. Mengomentari gaunku dengan pujian yang spesifik, bukan basa-basi. Tertawa di waktu yang tepat dengan cara yang tidak dipaksakan.

Semua tanda seseorang yang ramah dan beradab.

Tapi ada sesuatu — sesuatu yang tidak bisa kupegang cukup lama untuk diidentifikasi tapi terus ada di tepi persepsi — tentang cara dia melakukan semua itu. Seperti seseorang yang sangat tahu batas sebuah garis dan memilih untuk berdiri tepat di atasnya, tidak melanggar tapi juga tidak mundur.

Revano berbicara kepada Lana dengan ekonomi kata yang lebih ketat dari standarnya yang sudah hemat. Menjawab kalau ditanya, tidak menambahkan kalau tidak perlu, tidak menutup percakapan tapi juga tidak membukanya lebih dari yang perlu. Tangannya tetap ada di punggung bawahku sepanjang waktu — tapi malam ini aku merasakan tekanan yang berbeda. Bukan lebih keras. Lebih sadar.

Lebih seperti pernyataan yang disampaikan bukan ke aku, tapi ke ruangan.

Lana pergi ke kelompok lain dua puluh menit kemudian.

Pamit dengan senyum yang sama, dengan kalimat yang sopan dan tidak meninggalkan celah untuk ditafsirkan, dengan cara yang tidak menoleh setelah berbalik. Revano mengangguk sekali ketika dia pergi.

Aku melanjutkan acara.

Percakapan dengan tiga kolega mitra yang pertanyaannya bisa kujawab dengan nyaman. Satu perkenalan dengan kepala divisi sesuatu yang namanya masuk dari satu telinga dan keluar dari yang lain karena pikiranku ternyata tidak sepenuhnya hadir meski tubuhku ada di sana. Momen ketika Revano meninggalkanku sebentar untuk berbicara dengan seseorang yang perlu bicara dengannya secara privat — dan aku berdiri dengan segelas air mineral dan melakukan apa yang kubenci dilakukan, yaitu menyadari ke mana mataku bergerak ketika tidak ada agenda yang mengikatnya.

Ke arah gaun merah di sisi ruangan.

Lana sedang bicara dengan seseorang yang tidak kukenal, tertawa dengan cara yang terdengar dari jarak ini, memegang gelasnya dengan cara yang sama seperti ketika pertama kulihat di dekat bar. Tidak melihat ke arahku. Tidak melihat ke arah Revano — atau setidaknya, tidak ketika aku sedang melihat ke arahnya.

Aku mengalihkan pandangan ke jendela dan memutuskan untuk berhenti melacak pergerakan orang yang bukan urusanku.

Berhasil selama empat menit.

Revano kembali ke sisiku pukul delapan lebih sedikit.

"Kita bisa pulang dalam tiga puluh menit," katanya pelan di telinga, sambil matanya tetap ke arah ruangan — cara yang sudah jadi standar untuk komunikasi privat di situasi publik. "Ada yang perlu diselesaikan dulu."

"Oke."

Tiga puluh menit itu aku jalani dengan cara yang dari luar tidak berbeda dari satu jam sebelumnya. Senyum yang sama, percakapan yang sama, postur yang sama.

Yang berbeda hanya sesuatu di bagian dalam dada yang sudah aku coba abaikan sejak gaun merah itu pertama kali memasuki pandanganku — sesuatu yang tidak punya nama yang tepat tapi punya tekstur yang tidak nyaman dan tidak mau pergi hanya karena aku memintanya.

Aku tidak suka perasaan itu.

Bukan karena menyakitkan — lebih karena tidak seharusnya ada. Karena tidak ada hak bagiku untuk merasakannya. Karena kontrak kami tidak menyertakan klausul tentang apa yang boleh dan tidak boleh dirasakan ketika mantan kekasih suami kontrakmu muncul di acara dengan gaun merah dan pelukan yang menyimpan memori otot.

Tapi perasaan dan hak atas perasaan rupanya tidak selalu berjalan beriringan.

Di perjalanan pulang, tidak ada yang membuka percakapan selama dua puluh menit.

Aku menatap Jakarta di luar jendela. Revano menatap yang lain — entah jendela di sisinya atau sesuatu di dalam kepalanya, tidak bisa kubedakan.

Supernya mengemudi. Lampu kota berlalu.

Lalu Revano berkata, tanpa konteks pendahuluan, dengan nada yang lebih datar dari datar biasanya:

"Kami sudah tidak berhubungan dua tahun."

Aku menoleh ke arahnya.

"Kamu tidak bertanya," lanjutnya, masih menatap ke depan. "Tapi aku pikir kamu perlu tahu."

Sepuluh detik berlalu sebelum aku bisa menyusun respons yang tidak terdengar seperti salah satu dari dua ekstrem yang ingin kuhindari — terlalu tidak peduli yang bohong, atau terlalu peduli yang mengungkapkan lebih dari yang seharusnya diungkapkan.

"Terima kasih sudah memberitahu," kataku akhirnya.

Revano mengangguk sekali. Tidak menambahkan apapun.

Dan kami tidak bicara lagi sampai lift penthouse tertutup dan terbuka di lantai tiga puluh dua.

Di wing kiri, aku menutup pintu kamar dan berdiri di depan cermin kamar mandi.

Gaun biru gelap yang masih rapi. Riasan yang masih ada. Wajah yang dari luar terlihat seperti wajah orang yang baru pulang dari acara yang berjalan baik.

Yang tidak terlihat dari luar adalah apa yang ada di baliknya.

Aku duduk di tepi kasur. Melepas anting, meletakkannya di meja rias. Melepas sepatu, meletakkan di tempatnya.

Dan kemudian duduk diam selama waktu yang tidak kuhitung dengan pikiran yang dengan sangat tidak kooperatif kembali ke dua hal secara bergantian: cara mata Lana menemukan Revano tepat dua detik setelah kami masuk ke ruangan, dan cara Revano mengatakan kami sudah tidak berhubungan dua tahun di dalam mobil dengan nada yang lebih datar dari datar — nada yang digunakan orang ketika menyampaikan sesuatu yang penting dengan cara yang paling tidak memperlihatkan betapa pentingnya.

Dua hal yang masing-masing tidak seharusnya mengganggu tidurku malam ini.

Aku menatap langit-langit.

Menarik napas panjang.

Dan mengakui dengan sangat diam kepada diri sendiri — satu pengakuan kecil yang tidak perlu disuarakan ke siapapun malam ini, yang bisa tetap tinggal di dalam dan tidak kemana-mana — bahwa gaun merah itu, dan pelukan tiga detik itu, dan senyum yang tidak sepenuhnya bisa kubaca itu, sudah mengerjakan sesuatu di tempat yang seharusnya tidak bisa dikerjakan.

Dan bahwa aku tidak tahu harus melakukan apa dengan sesuatu itu selain membiarkannya ada untuk malam ini, menutup mata, dan berharap pagi akan memberikan perspektif yang lebih bersih dari yang tersisa sekarang.

— Selesai Bab 24 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!