Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 – Serangan Emosional Arsen
Pagi itu, mansion Wijaya terasa berat. Udara hangat pagi yang biasanya memberi rasa nyaman, kini terasa penuh tekanan. Staf berjalan dengan langkah lebih tegas, telepon terus berdering, dan setiap notifikasi di laptop Alya membuat napasnya terasa sesak. Ia duduk di kursi ruang kerja, menatap layar laptop dengan fokus penuh, mencoba menenangkan diri. Namun tekanan yang datang bukan sekadar laporan bisnis atau rumor media. Kali ini, serangan Arsen menyasar inti mereka: emosi dan kepercayaan diri Alya.
Sebuah email masuk, subjeknya singkat namun tajam: “Apakah Alya benar-benar pantas?”
Di dalamnya, foto-foto lama Alya dari masa kuliah dan pekerjaan sebelumnya tersebar, disertai komentar samar tentang kegagalan kecil dan rumor masa lalu yang mencoba meragukan kompetensinya. Bahkan, ada petikan artikel lama yang mencoba mengaitkan Alya dengan keputusan-keputusan kontroversial di pekerjaan sebelumnya.
Alya menahan napas, merasakan tekanan itu seperti gelombang yang menekan dadanya. Ia tahu, ini adalah ujian nyata. Ini bukan hanya tentang menghadapi Arsen atau media; ini adalah ujian terhadap ketahanan mental dan emosionalnya sendiri.
Bima duduk di sampingnya, menatap layar yang sama. Namun matanya tenang, terlatih. “Ini cuma trik Arsen,” ucapnya pelan. “Dia ingin kau bereaksi. Dia ingin publik melihat emosi yang tak terkendali. Jangan beri dia kesempatan itu.”
Alya menarik napas panjang, menutup mata, membiarkan pikiran dan perasaannya bersatu. Ia membayangkan semua malam yang mereka lewati bersama, semua badai yang mereka tangani, dan semua risiko yang berhasil mereka atasi sebagai satu tim. Ia menyadari satu hal: kekuatan mereka bukan berasal dari ketenaran atau kekayaan, tapi dari kesadaran penuh akan satu sama lain, dan keputusan sadar untuk tetap berdiri bersama dalam badai apa pun.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alya mulai mengetik balasan untuk beberapa investor dan media. Setiap kata dipilih dengan hati-hati, nada tetap netral, fakta jelas, dan tidak ada sedikit pun emosi yang bisa dimanfaatkan Arsen. Bima mengawasi, memberikan masukan singkat: kalimat ini lebih tegas, kata itu jangan disalahartikan, nada ini harus profesional tapi tetap menunjukkan ketenangan.
Namun tekanan tidak berhenti di situ. Satu per satu, komentar publik dan email provokatif mulai masuk. Investor minoritas mulai mempertanyakan keputusan Alya, mengaitkan ketidakhadirannya dalam beberapa pertemuan penting dengan rumor lama, seakan-akan menyiratkan ketidakmampuannya memimpin perusahaan. Media sosial meledak dengan spekulasi dan sindiran halus, beberapa akun anonim bahkan mulai memposting komentar yang mencoba menyinggung hubungan Alya–Bima, memutar narasi seolah pernikahan mereka hanyalah formalitas tanpa kepercayaan.
Alya menatap layar, menahan rasa sakit yang ingin muncul di matanya. Ia sadar, ini bukan sekadar ujian profesional. Ini adalah serangan emosional yang menargetkan rasa percaya diri dan citra pribadinya. Tetapi ia juga tahu bahwa rasa takut dan emosi yang dibiarkan muncul akan menjadi senjata Arsen.
Bima menunduk, menempatkan tangannya di bahu Alya. “Lihat aku,” katanya. “Kita akan lewati ini, Alya. Tidak ada yang bisa memisahkan kita—tidak investor, tidak media, tidak satu pun serangan dari Arsen. Selama kita memilih satu sama lain, kita tidak akan terkalahkan.”
Alya menghela napas, menatap Bima dengan mata yang mulai berkaca-kaca, tapi bukan karena takut. Ia merasakan ketenangan yang aneh—kepercayaan yang tumbuh dari pengalaman bersama dan pengakuan bahwa mereka tidak hanya menghadapi dunia, tetapi menghadapi masa lalu, tekanan, dan kemungkinan kegagalan sebagai satu kesatuan.
Seiring siang menjelang sore, Arsen menaikkan intensitas serangannya. Ia mulai menyasar orang-orang terdekat Alya—mantan rekan kerja, teman lama, bahkan keluarga jauh yang bisa dihubungi untuk menyebarkan opini negatif. Setiap kali Alya mencoba menenangkan diri, ada pesan, ada email, atau komentar yang memancing keraguan.
Namun Alya dan Bima tetap sinkron. Mereka membagi peran: Alya menangani publikasi, klarifikasi, dan komunikasi langsung, sementara Bima mengawasi pasar, investor, dan jaringan internal. Setiap langkah diatur sedemikian rupa sehingga serangan Arsen tidak bisa memecah konsentrasi mereka.
Di balkon mansion, Alya menatap kota yang berkelap-kelip di bawah. Ia merasakan lelah yang luar biasa, tapi bukan lelah karena menyerah—melainkan karena berjuang keras, tapi bersama Bima. Ia menyadari bahwa serangan ini bukan untuk menghancurkan mereka secara langsung, tetapi untuk menguji fondasi hubungan dan kepercayaan mereka.
Bima berdiri di belakangnya, menempatkan tangannya di bahu Alya. “Badai ini lebih besar dari sebelumnya,” katanya pelan. “Tapi kita tidak takut. Kita tahu apa yang kita hadapi, dan kita tidak sendirian. Kita selalu bersama. Kita akan menaklukkan semuanya, Alya. Bersama.”
Alya menunduk sedikit, merasakan hangatnya genggaman itu. Ia tersenyum tipis, mata bersinar dengan tekad baru. Ia tahu, badai kali ini lebih berat, lebih personal, dan lebih menantang. Tapi ia juga sadar satu hal: selama mereka tetap berdiri bersama, memilih satu sama lain setiap hari, tidak ada serangan emosional, rumor, atau manipulasi yang bisa memisahkan mereka.
Malam menjelang, mansion kembali hening. Telepon dan notifikasi berhenti sejenak. Lampu perlahan dipadamkan satu per satu. Alya menutup mata, merasakan satu keyakinan baru menyelimuti hatinya: bahwa kekuatan mereka bukan dari kontrak atau jabatan, tetapi dari keberanian, kesadaran, dan cinta yang tumbuh perlahan namun semakin kuat setiap hari.
Di keheningan itu, Alya dan Bima tahu satu hal pasti: Arsen boleh saja menyerang habis-habisan, menyeret masa lalu, dan memutar opini publik. Tapi mereka tidak akan tergoyahkan. Selama mereka tetap bersama, tidak ada badai—apapun bentuknya—yang mampu menghancurkan fondasi yang baru mereka bangun.
Malam itu berakhir dengan keheningan yang penuh makna. Alya menatap Bima, dan meski tidak ada kata-kata romantis yang berlebihan, mereka berdua merasakan satu kekuatan yang sama: kekuatan untuk menghadapi dunia, masa lalu, dan badai apa pun—bersama, sebagai partner sejati,yang tak tergoyahkan.
Alya merasakan detak jantungnya berpacu, bukan karena takut, tapi karena kesadaran yang mendalam akan tanggung jawab dan pilihan mereka. Setiap langkah yang mereka ambil, setiap strategi yang mereka rancang, dan setiap keputusan yang mereka buat bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk mempertahankan fondasi yang baru mereka bangun—kepercayaan, loyalitas, dan cinta yang semakin kokoh.
Bima menatap Alya dengan pandangan yang tenang namun penuh arti. Ia tidak perlu kata-kata panjang atau gestur dramatis. Kehadirannya sendiri menjadi jangkar, simbol bahwa apapun yang datang, mereka tidak akan goyah. Alya merasakan hangatnya energi itu meresap ke seluruh tubuhnya, membangkitkan keberanian dan ketenangan yang sebelumnya sulit ia raih sendirian.
Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip, seperti ribuan mata yang mengintip dunia mereka—investor, media, bahkan Arsen yang mungkin sedang mengamati. Namun malam ini, semua itu terasa jauh. Alya menyadari bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari status, jabatan, atau uang. Kekuatan itu lahir dari kesadaran mereka berdua, bahwa selama mereka tetap memilih satu sama lain, tidak ada badai yang mampu menghancurkan mereka.
Bima memegang tangan Alya dengan lembut, memberikan dukungan tanpa syarat. “Kita akan selalu berdiri bersama,” ucapnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin malam. “Tidak ada yang bisa memisahkan kita—bukan masa lalu, bukan rumor, bukan tekanan, dan bukan siapa pun yang mencoba menghancurkan kita.”
Alya menutup mata sejenak, merasakan kekuatan itu meresap. Ia menyadari bahwa malam ini bukan sekadar penutupan hari, melainkan pengukuhan: mereka adalah satu kesatuan yang lebih kuat dari apapun, siap menghadapi badai yang lebih besar dari sebelumnya. Setiap ancaman yang datang hanyalah batu loncatan untuk memperkuat fondasi mereka.
Mereka berdiri dalam keheningan, merasakan getaran kota di bawah kaki mereka, mengetahui bahwa ancaman akan terus datang. Tetapi sekarang, kepercayaan dan cinta yang tumbuh perlahan memberi mereka senjata paling ampuh: kesadaran penuh, keberanian tanpa ragu, dan keyakinan bahwa selama mereka tetap bersama, tidak ada badai, tekanan, atau rahasia yang mampu memisahkan mereka.
Dan saat lampu terakhir mansion padam, Alya menatap langit malam, merasakan satu kenyataan yang tak tergoyahkan: bahwa kekuatan mereka bukan berasal dari kontrak atau jabatan, tetapi dari keberanian memilih satu sama lain setiap hari, dari kesadaran penuh akan konsekuensi, dan dari cinta yang tumbuh perlahan namun semakin kuat setiap saat.
Malam itu menutup fase lama dan membuka fase baru. Alya dan Bima bukan lagi pasangan kontrak, bukan lagi sekadar suami–istri formal, tetapi partner sejati—siap menghadapi dunia, masa lalu, dan badai apa pun dengan hati teguh, pikiran jernih, dan cinta yang menjadi benteng mereka dari segala ancaman.