NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 5 - Hilang Akal

Alexa hanya terdiam menatap mata ayahnya dengan perasaan kecewa. Sejujurnya, dia malu karena ada orang asing yang menyaksikan berapa hancurnya keluarganya.

Sekilas, dia melihat ke arah lemari di mana Steven berada dan tidak mendapati ada tanda - tanda pergerakan di sana membuatnya merasa sedikit lega. Paling tidak, Steven menyaksikan apa yang terjadi, tapi tidak terlibat.

"Kita kubur jasad ibumu nanti malam, tanpa ada yang tahu," pupus Alex.

"Bedeb4h!" kutuk Alexa

Dia tak bisa membayangkan betapa malangnya ibunya yang harus meninggal dengan cara seperti itu—dan tetap mendapatkan perlakuan buruk bahkan setelah kematiannya.

Lirikan tajam Alex langsung menusuk jantung Alexa setelah mendengar makian dari putrinya itu.

"Katakan sekali lagi!" bentaknya—mencekik leher Alexa.

Kepala belakang Alexa membentur dinding cukup kuat membuat pandangannya sesaat buram. Kedua tangannya berusaha melepas cengkeraman Alex tapi kekuatannya tidak ada apa - apa.

"Beraninya berkata buruk pada orang tuamu!"

"Ay... Ayah yang mengajariku semua kata - kata kotor itu." Alexa membalas sambil meringis kesakitan.

Nafasnya hampir habis saat Alex semakin mengeratkan cengkeramannya. Tak ada yang bisa dia lakukan. Alexa juga merasa siap untuk mati.

Hanya saja... dia berharap kematiannya diundur beberapa jam ke depan karena masih ingin membebaskan Steven dari dalam rumahnya lebih dulu.

Ada rasa bersalah karena telah membawa Steven masuk ke rumahnya itu. Awalnya dia berniat menolong tanpa tahu kejadian sebesar itu akan disaksikan Steven yang mungkin memicu trauma pada hidupnya.

Tiba - tiba, keduanya dikejutkan dengan pintu yang didobrak secara paksa.

Cengkeraman kuat di leher Alexa terlepas—tubuh Alexa melorot ke lantai terbatuk - batuk. Tenggorokannya terasa perih dan nafasnya tak terkontrol.

"Angkat tangan!"

Alexa memandang ke ambang pintu di mana ada tiga orang polisi yang berdiri di sana. Salah satu dari mereka menodongkan p1stol ke arah Alex—yang refleks mengangkat tangannya dengan wajah ketakutan.

Dia melangkah mundur berusaha menghindar.

Sementara Alexa masih bingung, mengapa polisi datang tepat setelah kejadian p3mbunuhan yang dilakukan ayahnya. Dia tidak merasa melaporkan, bahkan tidak berniat melaporkan ayahnya pada polisi.

Karena Alex, adalah satu - satunya yang dia punya. Terlepas dari apa yang sudah Alex lakukan padanya dan ibunya.

"Ada apa ini?" tanya Alex masih melangkah mundur.

"Kami mendapat laporan bahwa anda melakukan p3mbunuhan terhadap istri anda sendiri," ucap salah satu petugas polisi.

"Alexa, kamu..." Alex melotot ke arah putrinya penuh ancaman.

Alexa menggeleng kuat berusaha meyakinkan ayahnya bahwa bukan dia yang melaporkan. Tapi perhatiannya langsung tertuju pada pada tetangga yang mulai berkumpul di luar rumah untuk mengetahui apa yang terjadi.

Tak hanya memilukan, semuanya menjadi memalukan.

"Tangkap dia!" Polisi yang menodongkan pistol memberi perintah pada dua petugas lainnya yang berdiri di belakangnya.

Kedua petugas mendekat, tapi Alex langsung menarik Alexa dan kembali menggunakan p1sau yang masih ada di tangannya—menempelkannya ke leher Alexa tanpa ragu.

"Satu langkah saja kalian mendekat, aku akan m3nyayat lehernya!" ancamnya berteriak.

Seketika bisik - bisik tetangga menjadi kericuhan karena teriakan mereka yang turut merasa takut dengan ancaman Alex.

Petugas pun akhirnya diam saling memandang seolah mencoba mencari cara agar bisa meringkus Alex tanpa ada yang terluka.

"Kenapa? kalian takut?" tawa Alex menggelegar.

Dia gila. Bukan karena efek 4lkohol yang dikonsumsinya.

Seolah puas dengan apa yang telah dilakukannya, Alex justru tertawa mengerikan di hadapan semua orang, tanpa rasa malu yang mungkin sudah hilang sejak lama.

"Dalam hitungan ketiga, saya akan meleskan peluru jika anda tidak melepaskan gadis itu!" Kini Polisi yang mengancam Alex.

Alex menyeret Alexa mundur hingga hingga sampai ke ujung ruangan. Tepat di depan lemari di mana Steven berada.

Ujung p1sau yang lancip sudah menyentuh kulit leher Alexa yang langsung bereaksi ngeri. Bukan karena takut terluka atau takut mati, dia hanya memikirkan bagaimana nasib jasad ibunya jika dia juga menyusul secepat itu.

"Tembak saja! Aku akan membawa putri dan istriku bersamaku." Alex kembali menunjukkan tawa gilanya.

Dada Alexa terasa sesak. Dia benar - benar masih berharap apa yang dialaminya hanyalah mimpi buruk dan segera bangun dari mimpi itu. Dia ketakutan, tak tahu harus berbuat apa.

Melihat jasad ibunya yang terletak di lantai saja, hatinya teriris, dunianya runtuh.

"Ayah, aku minta maaf," bisik Alexa.

Tak ada tanggapan dari Alex. Alexa hanya merasa kkalau ujung p1sau yang sempat menempel dengan kulitnya kini sedikit menjauh.

"Aku tidak bisa menjadi putri seperti yang Ayah inginkan. Atas nama Ibu, aku juga minta maaf," lanjutnya dengan suara gemetar.

Hatinya sudah lama mati jika mengenai Ayahnya. Dia tidak merasa membutuhkan Alex din kehidupannya, tidak pernah berkomentar apa pun jika para tetangga menegurnya karena sikap buruk Alex yang merugikan banyak orang.

Karena sejak mendapat banyak pukulan dari Alex, dia tidak ingin mengakui bahwa Alex adalah ayahnya.

"Aku tidak butuh sosok ayah yang baik. Aku cuman mau Ayah." Tanpa sadar, air matanya menetes mengenai tangan Alex.

"Ayah tidak luluh hanya karena kamu menjual kesedihan, Alexa!" balas Alex.

BRAK!

BUGH!

Karena pintu kemari tiba - tiba terbuka dengan kasar dan membentur tubuh Alex, tubuh Alex terhuyung maju mendorong tubuh Alexa dan mereka jatuh ke lantai.

Saat itu juga, Steven muncul dan langsung mengambil pisau yang ada di tangan Alex, melemparnya jauh dari jangkauan Alex sembari menginjak punggung Alex menahannya agar tidak bangkit.

"SIAPA KAMU?!" bentak Alex.

Polisi dengan cepat meringkus Alex dan membergolnya.

"Kamu nggak apa - apa?" tanya Steven pada Alexa yang masih memandang Steven tidak percaya kalau Steven keluar dari persembunyiannya.

Setelah sadar, Steven langsung menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena orang - orang mulai mencari tahu siapa dirinya yang tiba - tiba muncul bak pahlawan.

"Alexa, Ayah tidak mau di penjara. Alexa, tolong Ayah!" teriak Alex memohon ketika dia diseret menuju kantor polisi.

Tak ada yang bisa Alexa lakukan. Dia hanya memandang ketika Ayahnya diseret pergi—mendapatkan cacian dari para tetangga. Alex sempat terlihat ingin menyerang orang - orang tapi Polisi menghentikan itu.

Alih - alih menanggapi Steven, Alexa merangkak mendekati jasad ibunya. Dia mengelus wajah Ibunya beberapa saat sebelum akhirnya tangisnya pecah. Dia histeris sembari memeluk tubuh ibunya.

Punggungnya terasa dielus lembut. Tapi Alexa juga merasakan tangan yang mengelusnya itu, gemetar hebat.

"Kamu yang melaporkan Ayah ke polisi?" tanya Alexa serak.

Dia memandang Steven tajam membuat Steven langsung melepas tangannya dari punggung Alexa setengah terkejut.

"I - iya. Aku takut pria itu juga m3mbunuh kamu," jawab Steven apa adanya.

"Lalu kamu pikir, bagaimana kehidupanku ke depannya?! Sudah cukup aku kehilangan Ibuku, kenapa kamu membuat aku harus kehilangan Ayahku juga?!" bentak Alexa di tengah isak tangisnya.

Steven mematung tak mengerti. Dia hanya menolong, bukan bermaksud membawa Alexa ke luka yang lebih besar.

Hanya menyaksikan apa yang terjadi saja, Steven merasa trauma begitu berat. Apalagi Alexa. Itu sebabnya dia berniat menolong Alexa agar tidak mendapatkan perlakuan jahat dari Ayahnya.

Dia tidak pernah menyangka kalau itu adalah hal yang salah.

"A - aku..."

"Sebaiknya kamu pergi," usir Alexa.

"Tapi... Aku hanya menolong. Aku juga bakal nemenin kamu sampai semuanya—"

"PERGI!" Suara Alexa meninggi.

Mau tak mau, Steven akhirnya bangkit masih dengan lutut yang gemetaran karena kejadian tadi benar - benar terus terputar di otaknya menjadikan itu bayang - bayang yang menakutkan.

Dengan menggunakan kerah bajunya, dia menutup sebagian wajahnya dan berlari keluar agar orang - orang tidak melihat jelas wajahnya.

"Alexa benar - benar anak yang malang. Dia sudah nggak punya siapa - siapa lagi."

"Kalau tidak ada yang menemani, khawatir kalau dia bakalan mencoba mengakhiri hidupnya."

Langkah Steven terhenti ketika mendengar orang - orang yang bergosip.

Dia seolah setuju dengan ucapan orang - orang. Bahkan, pertemuannya dengan Alexa adalah karena Alexa mencoba mengakhiri hidupnya.

"Sialan! dia marah setelah aku bantu. Sebaiknya aku nggak usah peduli lagi," keluh Steven kesal. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!