Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Khawatir nya Justin di Ruang UKS
Suasana di dalam kelas Gedung B terasa semakin pengap bagi Liana. Suara dosen yang sedang menjelaskan materi akuntansi biaya terdengar seperti dengungan lebah yang menjauh. Pandangan Liana mulai berkunang-kunang, bintik-bintik hitam menari di depan matanya. Rasa perih di lambungnya kini berubah menjadi rasa mual yang hebat, disertai keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
"Li... Liana? Muka lo beneran putih banget, Li!" Dhea berbisik panik sambil mengguncang lengan sahabatnya.
Liana mencoba menjawab, namun lidahnya terasa kelu. "Dhe... pusing..."
Hanya itu kata terakhir yang sanggup ia ucapkan sebelum dunianya mendadak gelap total. Tubuh Liana lunglai, merosot dari kursi kayu dan jatuh ke lantai kelas.
"LIANA! PAK, LIANA PINGSAN!" teriak Dhea histeris, membuat seluruh isi kelas mendadak gaduh.
Sementara itu, di lorong lantai satu yang menghubungkan Gedung A dan Gedung Administrasi, Justin sedang berjalan cepat bersama beberapa anggota inti UKM Basket. Mereka dijadwalkan menghadiri rapat koordinasi penting dengan pihak Rektorat mengenai anggaran turnamen yang dimajukan. Ponsel di saku Justin bergetar terus-menerus, menandakan Raka dan Kaila sudah menunggunya di ruang rapat.
Saat melewati depan ruang UKS, langkah Justin terhenti ketika ia melihat seorang mahasiswa berlari keluar dengan wajah panik.
"Sus! Sus! Tolong di Gedung B, ada maba pingsan di kelas Pak Bram! Mukanya pucat banget!" teriak mahasiswa itu pada perawat yang baru saja ingin masuk ke UKS.
Justin yang mendengar kata "Gedung B" dan "maba" merasa jantungnya seperti diremas. Firasatnya langsung tertuju pada satu orang: Liana. Gadis yang tadi pagi berlatih keras dengannya tanpa sarapan.
"Tin, ayo! Rektor udah nunggu," ajak salah satu pengurus UKM.
Justin tidak menjawab. Tanpa memedulikan tatapan heran teman-temannya, ia berbalik arah dan berlari kencang menuju Gedung B. Masa bodoh dengan rapat rektorat, masa bodoh dengan anggaran. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah wajah pucat Liana.
Begitu sampai di lantai dua Gedung B, Justin menerobos kerumunan mahasiswa di depan pintu kelas. Ia melihat Dhea yang sedang menangis sambil memangku kepala Liana.
"Minggir!" bentak Justin tegas.
Ia langsung berlutut, menyusupkan lengannya di bawah leher dan lutut Liana, lalu mengangkat tubuh gadis itu dalam satu gerakan bridal style. Dhea tersentak kaget namun segera berdiri dan mengikuti Justin dari belakang sambil terisak.
"Kak Justin, Liana tadi pagi belum makan..." isak Dhea.
Rahang Justin mengeras. Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun, namun langkah kakinya yang lebar dan cepat menunjukkan betapa ia sedang berpacu dengan waktu. Ia mengabaikan setiap pasang mata yang menatapnya dengan penuh tanya di sepanjang koridor.
Di ruang UKS yang beraroma antiseptik, Justin merebahkan Liana di atas ranjang periksa dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu terbuat dari porselen yang mudah retak. Dokter kampus segera melakukan pemeriksaan singkat, memeriksa denyut nadi dan pupil mata Liana.
"Dia hanya kelelahan dan tekanan darahnya sangat rendah, ditambah lambungnya sedang kambuh karena kosong. Saya beri suntikan nutrisi dan vitamin, biarkan dia istirahat sampai sadar," jelas sang dokter.
Justin duduk di kursi plastik di samping ranjang. Ia menatap wajah Liana yang masih terpejam rapat. Bibir gadis itu pucat, tangannya terasa dingin saat Justin menyentuhnya sejenak. Dhea berdiri di sudut ruangan, sesekali menyeka air matanya.
Ponsel Justin berbunyi lagi. Layar berkedip: Kaila (5 Missed Calls), Raka (3 Missed Calls).
Justin mematikan suara ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku tanpa niat membalas satu pun. Ia tetap di sana, menjaga Liana dalam keheningan yang menyesakkan.
Tiga puluh menit kemudian, kelopak mata Liana bergerak kecil. Ia melenguh pelan sebelum akhirnya membuka matanya perlahan. Langit-langit putih dan bau obat-obatan membuatnya bingung sesaat.
"Sudah bangun?" suara berat yang sangat familiar terdengar di sampingnya.
Liana menoleh dan mendapati Justin duduk di sana dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Matanya menatap tajam, namun jika dilihat lebih dekat, ada kilat kekhawatiran yang ia sembunyikan dengan rapat.
"Kak... Justin?" bisik Liana parau.
"Lo itu bodoh atau gimana?" semprot Justin tiba-tiba, membuat Liana tersentak. "Sudah tahu mau latihan fisik jam enam pagi, kenapa nggak makan? Mau cari mati di lapangan gue?"
Liana menunduk, merasa bersalah. "Maaf, Kak... tadi telat bangun..."
"Alasan klasik," Justin mendengus, meski hatinya merasa lega karena gadis itu sudah sadar.
Seorang perawat masuk membawa nampan berisi segelas teh hangat dan semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan uap. "Ini dimakan ya, Dek, supaya tenaganya pulih."
Justin mengambil nampan itu dari tangan perawat. Ia menggeser duduknya lebih dekat ke ranjang, lalu menyendok sedikit bubur dan meniupnya pelan.
"Buka mulut lo," perintah Justin sambil menyodorkan sendok ke depan bibir Liana.
Liana membelalak. Pipinya yang tadi pucat kini mendadak merona merah karena kaget. "Eh? Enggak usah, Kak. Saya bisa sendiri."
Liana mencoba meraih sendok itu, namun Justin dengan cepat menjauhkan tangannya. "Tangan lo masih gemetar begitu mau pegang sendok? Jangan membantah. Gue nggak mau lo pingsan lagi dan ngerepotin orang lain."
"Tapi Kak, saya malu..." bisik Liana melirik ke arah Dhea yang sedang pura-pura melihat ke jendela (meskipun telinganya dipasang lebar-lebar).
"Buka mulutnya, Liana. Satu... dua..." Justin memberikan tatapan intimidasi yang biasanya ia gunakan untuk menghukum pemain yang salah dribble.
Liana akhirnya menyerah. Ia membuka mulutnya pelan dan menerima suapan pertama dari tangan sang Kapten Basket paling ditakuti se-kampus. Rasa hangat dari bubur itu menjalar ke perutnya, namun debaran di jantungnya jauh lebih hangat.
Justin menyuapinya dengan telaten, sendok demi sendok, memastikan Liana menghabiskan porsinya. Setiap kali Liana mengunyah, Justin memperhatikannya dengan saksama. Keheningan di antara mereka terasa sangat berbeda kali ini—bukan lagi tentang kapten dan maba, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih dalam yang bahkan Justin sendiri belum berani mengakuinya.
"Habisin. Jangan ada sisa," ucap Justin pelan, suaranya kini sudah tidak sekeras tadi.
Di balik pintu UKS, beberapa mahasiswa yang lewat sempat mengintip dan tertegun. Berita hari ini pasti akan meledak: Justin Adhinata, si Gunung Es, ternyata bisa jadi begitu lembut saat menyuapi seorang gadis.