Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Terakhir Raja Dewa!
Raja Dewa itu tidak memberinya kesempatan. Begitu Xu Hao berhenti, tangannya sudah terarah. Dua jari menunjuk tepat ke arah Xu Hao.
"MATI!"
Dari ujung jarinya, bola energi ilahi melesat. Bola itu sebesar kepala, tapi saat melesat, ia berubah bentuk. Menjadi seekor harimau raksasa. Harimau itu besar, mencapai seratus meter, dengan belang emas dan mata menyala. Cakarnya terbuka lebar, siap mencabik Xu Hao. Harimau itu melesat cepat.
Xu Hao merasakan kekuatan serangan itu. Ini bukan serangan biasa. Ini bisa membunuhnya.
Ia tidak gentar. Jari telunjuknya menunjuk ke arah harimau itu.
"Terbentuklah."
Dari ujung jarinya, akar-akar mulai tumbuh. Bukan akar biasa, tapi akar yang terbuat dari energi ilahi murni. Akar-akar itu melilit, menjalin, membentuk sebuah tombak panjang. Tombak itu hitam keunguan, dipenuhi rune-rune Dao Pemberontakan.
"Pergi."
Tombak itu melesat. Di udara, ia meninggalkan jejak cahaya ungu. Harimau dan tombak bertemu di tengah.
DUARRRR!!!!
Ledakan dahsyat terjadi. Cahaya emas dan ungu bercampur, menciptakan bola energi raksasa yang meledak ke segala arah. Sungai di bawah tersedot ke atas. Pasir di tepi beterbangan. Kedua serangan hancur bersamaan.
Xu Hao tidak berhenti. Ia menghilang dari tempatnya.
Detik berikutnya, ia muncul di samping Raja Dewa. Di tangannya, pedang spiritual ungu telah terbentuk. Tebasan cepat melesat ke leher Raja Dewa.
Namun Raja Dewa bukan lawan biasa. Pengalaman bertempurnya ribuan tahun membuat refleksnya luar biasa. Ia menghindar dengan geseran tipis, pedang itu hanya melewati beberapa sentimeter dari lehernya.
Begitu menghindar, ia langsung membalas. Kaki kanannya berputar, tendangan keras menghantam perut Xu Hao.
DUSS!
Xu Hao terpental. Tubuhnya melesat ke belakang seperti meteor. Ia menabrak tebing di seberang sungai, membuat tebing itu runtuh menimpanya.
Raja Dewa tidak memberi waktu. Ia melesat cepat mengejar, suaranya menggema.
"Kau bilang ingin memberikan kematian yang layak padaku! Jadi jangan kecewakan aku!"
Saat mendekati reruntuhan tebing, ia mengangkat kedua tangannya. Di atas langit, awan-awan mulai berkumpul. Awan itu gelap, pekat, berputar membentuk pusaran raksasa. Dari pusaran itu, sebuah tangan raksasa muncul. Tangan itu sebesar gunung, dengan urat-urat menonjol dan kuku tajam.
Tangan itu turun, mencengkram Xu Hao yang baru saja keluar dari reruntuhan.
KRAKK!
Xu Hao tertangkap. Cengkraman tangan raksasa itu mengerikan. Tulang-tulangnya berbunyi, dadanya sesak, darah muncrat dari mulutnya.
Raja Dewa menghela nafas, melihat Xu Hao yang berlumuran darah di dalam genggaman. "Apa aku terlalu melebih-lebihkanmu?"
Xu Hao tersenyum. Senyum tipis di tengah darah yang mengalir.
"Tidak."
KRAKKK!
Tangan raksasa itu hancur. Xu Hao melesat keluar dari kepalan yang hancur, tubuhnya berlumuran darah tapi matanya menyala ungu terang. Di udara, ia membentuk segel dengan satu tangan. Gerakannya singkat, cepat.
Seketika, ruang di sekeliling mereka retak. Retakan-retakan hitam muncul di mana-mana, merambat seperti jaring laba-laba. Dalam sekejap, seluruh area pertempuran berubah. Mereka kini berada di ruang dimensi, dikelilingi kehampaan hitam dengan bintang-bintang jauh berkelap-kelip.
Xu Hao tersenyum. Darah masih mengalir dari bibirnya, tapi senyumnya penuh keyakinan. Dia ingin mengakhiri ini.
"Sekarang terimalah serangan terkuatku saat ini."
Raja Dewa itu bersemangat. Matanya berbinar, auranya melonjak. "Tunjukkan semuanya!"
Ia tidak menahan diri lagi. Seluruh kekuatannya dikeluarkan.
"HAaaaaaaaaaa!"
Aura emas meledak dari tubuhnya. Ledakan demi ledakan terjadi, setiap ledakan melipatgandakan kekuatannya. Tubuhnya mulai membesar, mencapai ratusan meter. Di ruang dimensi yang tak terbatas, ia berdiri seperti dewa sejati. Mahkota di kepalanya bersinar terang, roda ilahi di belakangnya berputar cepat, memancarkan cahaya yang menerangi seluruh kehampaan.
Ini adalah wujud asli Raja Dewa. Kekuatan mutlak seorang dewa.
Ia mengayunkan tangannya. Satu ayunan sederhana, tapi kekuatannya cukup untuk membunuh siapa pun di tingkat Raja Dewa bintang satu. Mungkin bahkan bintang dua.
Xu Hao tidak gentar. Di atasnya, sesuatu telah terbentuk.
Sebuah pilar hitam. Pilar itu besar, sangat besar, mencapai ribuan meter. Ia terbuat dari manifestasi Dao Pemberontakan murni. Hitam pekat, dengan kilauan ungu di dalamnya, berputar lambat. Rune-rune kuno muncul dan menghilang di permukaannya, setiap rune mewakili satu aspek pemberontakan terhadap takdir.
Untuk menciptakan besi hitam ini, Xu Hao harus membayar mahal. Darah muncrat deras dari mulutnya, membasahi seluruh dadanya, tubuh dan jiwanya menjadi sangat lemah. Wajahnya pucat pasi, tapi matanya tetap tajam.
Ia mengarahkan tangannya ke depan. Pilar hitam itu bergerak, perlahan pada awalnya, lalu semakin cepat.
"Kuharap di kehidupan berikutnya, kau bisa menjadi orang yang lebih baik."
Pilar itu melesat.
Raja Dewa tetap mengayunkan tangannya. Di wajahnya, senyum bersemangat masih terukir. Ia tahu ini serangan terakhir. Ia tahu ini mungkin kematiannya. Tapi ia tidak menyesal.
Tangannya bertemu pilar.
Sesaat, dunia seakan berhenti.
Lalu ledakan.
BOOMMMMMMMM!!!
Cahaya hitam dan emas memenuhi seluruh ruang dimensi. Gelombang kejut menghantam ke segala arah, membuat bintang-bintang di kejauhan berkedip dan padam. Ruang dimensi itu sendiri hampir runtuh.
Xu Hao terpental ke belakang. Tubuhnya melayang tak terkendali di kehampaan, beberapa kali berputar cepat seperti gasing, sebelum akhirnya berhenti. Darah mengalir deras dari mulut, hidung, bahkan matanya.
Namun ia masih sadar. Ia masih bisa melihat.
Di kejauhan, tubuh raksasa Raja Dewa mulai hancur. Perlahan, dari kaki, lalu naik ke atas. Tubuh itu hancur menjadi partikel cahaya emas, berhamburan di ruang dimensi. Wajahnya masih tersenyum.
Xu Hao berbalik. Ia melambaikan tangannya ke belakang, sebuah salam perpisahan.
"Terima kasih atas pertarungannya. Meskipun singkat, itu membantuku mengukur kekuatan Raja Dewa."
Raja Dewa itu tersenyum tipis. Bibirnya bergerak, meskipun tidak ada suara yang keluar. Tapi Xu Hao bisa membaca kata-kata itu.
"Terima kasih kembali, junior."
Ledakan terakhir. Tubuhnya hancur sepenuhnya, bersama jiwanya. Tidak ada yang tersisa. Raja Dewa itu memilih mati dengan hormat, daripada jiwanya ditelan atau diperbudak.
Ruang dimensi perlahan pulih. Retakan-retakan menutup, dan dalam beberapa detik, mereka kembali ke dunia nyata. Sungai mengalir, pasir putih membentang, dan mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana.
Xu Hao turun perlahan. Kakinya hampir tidak kuat menopang tubuh. Darah masih mengalir dari berbagai luka. Tapi ia tetap berdiri.
Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji berlari mendekat. Wajah mereka berseri-seri, penuh kekaguman.
"Senior sesat kami memang tiada tandingannya!" seru Jin Bao dengan semangat. Matanya berbinar, tinjunya mengepal.
Mei Mei menambahkan, "Benar sekali! Sangat kuat! Senior mampu mengalahkan Raja Dewa! Itu luar biasa!"
Xu Hao menghela nafas lega. Ia menatap mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar. Semua musuh telah tewas. Dua puluh tujuh Dewa Langit dan satu Raja Dewa. Tidak ada yang tersisa.
Ia menatap ketiganya. "Apa yang kuperintahkan tadi kalian lakukan?"
Ketiganya serempak menunjukkan botol kecil di pinggang mereka. Botol-botol itu kini terisi penuh dengan bola-bola cahaya redup. Jiwa-jiwa dewa.
"Sudah senior!" kata mereka bersamaan.
Xu Hao bertanya lagi, "Cincin penyimpanan mereka?"
Ketiganya menjawab. "Kami amankan, senior."
Xu Hao mengangguk puas. "Bagus. Sekarang kita pergi menjauh sejauh mungkin. Kita cari tempat aman untuk meningkatkan kultivasi, sebelum melakukan ujian."
Ketiganya mengangguk setuju. Mereka sudah tidak sabar untuk memproses semua jiwa dan harta rampasan perang ini.
Tanpa buang waktu, mereka melesat ke langit. Mei Mei memimpin di depan, diikuti Jin Bao dan Jin Yuji. Xu Hao di belakang, tubuhnya masih lemah tapi semangatnya membara.
Di bawah mereka, sungai mengalir tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Mayat-mayat bergelimpangan di pasir, perlahan mulai membusuk. Pertempuran sengit itu telah usai.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"