Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suara azan subuh menggema dari masjid di ujung kompleks perumahan. Lantunannya lembut menembus kesunyian pagi yang masih gelap. Di kamar lantai dua rumah besar milik Hesti, Kyara perlahan terbangun.
Kelopak matanya berkedip beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya redup yang masuk dari balik tirai.
Refleks, tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya. Alis Kyara sedikit berkerut. "Doni nggak pulang?" gumamnya pelan. Ia bangun setengah duduk, rambutnya sedikit berantakan. Tangannya menyingkirkan selimut dari tubuhnya. "Dia tidur di man-" Belum sempat kalimat itu selesai, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Kyara langsung menoleh ke arah pintu.
Sosok Doni muncul di sana. Kemejanya sedikit kusut, rambutnya agak berantakan, dan wajahnya tampak lelah. Ia berjalan masuk sambil menutup pintu perlahan. "Mas ... kamu baru pulang?" tanya Kyara.
Doni mengangguk santai. "Iya, Kya." Ia berjalan mendekat sambil meregangkan bahunya seolah benar-benar kelelahan. "Jadi pas aku beli rokok di minimarket tadi malam," katanya mulai bercerita tanpa diminta, "Aku ketemu sama teman kuliahku." Kyara menatapnya tanpa banyak ekspresi. "Dia ngajak aku ke apartemennya," lanjut Doni. "Terus kita ngobrol ngalor ngidul. Nggak terasa ... tahu-tahu udah subuh aja."
Doni tersenyum tipis. "Maaf ya?"
Kyara menatap wajah suaminya beberapa detik. Lalu ia tersenyum kecil. "Iya, Mas." Nada suaranya terdengar tenang. "Tapi apa kamu nggak bakal ngantuk nanti di kantor?"
Doni mengibaskan tangannya santai. "Hari ini aku ambil cuti." Kyara sedikit mengangkat alis. "Jadi aku bisa tidur sepuasnya," lanjut Doni sambil melepas jaketnya dan melemparkannya ke kursi meja rias. "Mengganti malam tadi yang kugunakan buat bergadang."
Kyara mengangguk pelan. "Ya udah." Ia menyingkirkan selimut dan turun dari ranjang. "Kalau gitu aku mau ke kamar mandi dulu. Mules," katanya sambil berjalan menuju pintu kamar mandi. "Sekalian mandi sama ganti pembalut."
"Iya, Kya," jawab Doni sambil menguap lebar. "Aku mau tidur dulu." Ia bahkan sudah menjatuhkan tubuhnya ke ranjang sebelum Kyara masuk ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi tertutup. Air keran terdengar mulai mengalir. Di dalam kamar mandi, Kyara berdiri di depan wastafel beberapa detik sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak tenang. Terlalu tenang.
Jika ini terjadi dulu, mungkin Kyara sudah bertanya lebih jauh. Tentang siapa teman kuliah itu. Apartemennya di mana. Bahkan mungkin ia akan cemburu, marah tertahan, curiga dan akhirnya menangis sesenggukan.
Namun sekarang ... Kyara tadi hanya menatap wajah suaminya sendiri dengan tatapan datar. Ia tahu Doni sedang berbohong. Instingnya sebagai istri mengatakan itu. Tapi kali ini ... ia tidak peduli.
Kyara membuka lemari kecil di kamar mandi untuk mengambil pembalut baru. "Pergilah ke mana pun kamu mau, Doni," gumamnya pelan.
Sementara itu, Doni sudah menarik selimut sampai dada. Matanya langsung terpejam, kelelahan sehabis bertempur dengan Nayla.
____
Pagi mulai merayap masuk ke dalam rumah tiga lantai milik Hesti. Cahaya matahari perlahan menembus jendela-jendela besar di ruang tamu lantai satu.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Kyara turun dari lantai dua dengan langkah pelan. Rambutnya yang masih sedikit lembap ia ikat sederhana ke belakang.
Seperti biasa, hal pertama yang ia lakukan adalah mulai membereskan rumah.
Ia mengambil sapu di sudut dapur, lalu menyapu lantai ruang makan yang masih sepi. Setelah itu ia merapikan kursi-kursi, membersihkan meja, dan mengelap beberapa permukaan yang tampak berdebu.
Gerakannya sudah sangat terlatih. Sepuluh tahun melakukan pekerjaan yang sama membuat semua itu terasa otomatis.
Setelah selesai menyapu, Kyara masuk ke dapur. Ia membuka kulkas, mengambil beberapa bahan, lalu mulai menyiapkan sarapan.
Suara wajan yang mulai panas dan aroma bawang putih yang ditumis perlahan memenuhi dapur.
Biasanya pada jam seperti ini, Kyara sudah terburu-buru. Setelah sarapan siap, ia harus segera bersiap pergi ke rumah makan milik Hesti untuk bekerja sampai sore. Namun pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Kyara berdiri di depan kompor sambil mengaduk masakan, lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
Hari ini, ia tidak perlu pergi ke rumah makan. "Akhirnya ... aku bisa sedikit santai dan bernapas lega," ujarnya sambil tersenyum tipis.
Setelah sarapan selesai dimasak, Kyara menata makanan di meja makan dengan rapi. Nasi hangat, telur dadar, tumis sayur, dan teh hangat sudah siap. Ia menarik kursi dan duduk sebentar, memandangi meja makan yang biasanya penuh dengan perintah dan teguran dari Hesti. Namun pagi ini suasananya terasa berbeda.
Lebih tenang.
Kyara mengambil cangkir tehnya dan menyeruput sedikit. Hangatnya minuman itu membuat tubuhnya terasa lebih ringan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa dikejar-kejar waktu. Ia tidak perlu bersiap buru-buru. Tidak perlu mendengar bentakan. Tidak perlu berdiri berjam-jam melayani pelanggan.
Kyara menyandarkan punggungnya ke kursi. "Rasanya aneh juga," gumamnya pelan. Ia terbiasa hidup dalam kesibukan yang melelahkan. Sekarang ketika tiba-tiba diberi waktu luang, ia malah merasa sedikit canggung. Namun perlahan senyum tipis kembali muncul di bibirnya. Setidaknya ini adalah awal yang baik.
Kyara melirik sekilas ke arah tangga yang menuju lantai dua. Doni pasti masih tidur nyenyak di kamar. Ia tidak berniat membangunkannya. Lagipula, lelaki itu bilang mengambil cuti hari ini.
Kyara menyesap lagi tehnya. Pikirannya kembali pada rencana yang semalam ia susun. Tentang kartu debit, tentang tabungan. Tentang masa depan yang ingin ia bangun sendiri.
Hari ini ia punya waktu lebih banyak. Mungkin setelah semua pekerjaan rumah selesai, ia bisa pergi sebentar. Mengecek saldo kartu itu. Memastikan semuanya berjalan sesuai rencananya.
Kyara berdiri dari kursinya dan kembali merapikan dapur. Gerakannya tetap tenang, seperti biasanya. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Perasaan lega. Dan juga harapan kecil. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama ... Kyara bisa sedikit berleha-leha. Dan diam-diam mulai menyiapkan langkah untuk hidup yang baru.
____
"Ya Tuhan ... aku sebenarnya malas harus bersikap baik sama si Kya. Mauku terus membentak-bentak dia seperti biasa. Tapi kata Doni, sekarang aku harus pura-pura baik sama dia. Demi menjaga nama baik keluarga. Heuhhh! Males banget." Sambil bercermin di kamarnya, Hesti tak henti menggerutu. "Semoga Doni cepat dapat jalan keluar yang terbaik, agar si Kya kembali jadi istri dan menantu yang penurut seperti sediakala." Ia beranjak keluar dari kamarnya. Langsung berjalan menuju dapur. "Ky-" Hesti nyaris berteriak, tapi ia ingat perkataan Doni. "Ah, aku lupa kalau harus bersikap baik sama si Kyara," batinnya mengingatkan. Akhirnya ia menghela napas pendek. "Kya ..." Seruannya lembut mendayu.
Dan hal itu membuat Kyara yang sedang memisahkan cucian membeliakkan mata saking kagetnya. "Itu beneran Mama Hesti? Dia manggil aku dengan suara selembut itu ..." Kyara mengulum senyum, sebelum menyahuti seruan ibunya. "Iya, Ma. Aku di ruang mencuci!" teriak Kyara membalas seruan ibu mertuanya.
Tak lama, Hesti muncul. Wajahnya yang biasa judes bak kompeni, kini terlihat lebih adem. Hesti langsung meraih tangan Kyara. "Kya ... Mama minta maaf, karena selama ini sudah bersikap buruk ke kamu. Mama ingin memperbaiki semuanya, Kya. Tolong beri Mama kesempatan?" Hesti memasang wajah sendu yang dibuat-buat. Air mata bawangnya keluar, meski sulit.
Kyara terbahak tawa dalam hatinya. "Aduh, ekspresi Mama Hesti lucu banget sih. Dia sungguh nggak pantes pura-pura baik kayak gini. Tapi tak apalah, setidaknya aku tak akan dibentak-bentak dan diperintah ini dan itu lagi olehnya." Kyara membalas genggaman tangan mertuanya. "Aku sudah memaafkan Mama."
"Aaa ... terima kasih, Kya." Tanpa diduga, Hesti langsung memeluk Kyara. "Mama janji tidak akan membentak-bentak kamu lagi."
"Iya, Ma." Kyara membalas pelukan Hesti.
_______
Setelah Hesti pergi ke rumah makan dan Dini berangkat ke kampus, Kyara kembali ke kamarnya untuk membangunkan Doni. Menyuruh suaminya itu sarapan.
"Mas, bangun! Udah jam setengah delapan. Sarapan dulu gih," ujarnya sambil mengguncangkan tubuh Doni.
Doni menggeliat, lalu menguap. "Nanti ajalah, Kya. Aku masih ngantuk."
Kyara tak memaksa, "Hm, ya sudah. Kalau gitu aku mau izin keluar sebentar. Mau ke pasar. Aku mau beli baju."
"Pergilah. Habiskan saja uang yang tadi malam kuberikan. Satu lagi, pin kartu yang kuberikan padamu adalah tanggal pernikahan kita," ucap Doni dengan mata yang masih terpejam.
Kyara menyunggingkan senyum tipis. "Iya, Mas. Aku pergi dulu ya."
"Hm." Doni hanya bergumam, lalu dengkurannya kembali terdengar.
"Alhamdulillah." Kyara bersorak kecil dalam hatinya. Ia buru-buru mengambil tas, memasukkan hp, kartu atm dari suaminya dan uang tunai. Tak lupa, ia juga mengambil kardigan milik Oma Amisha yang kemarin dipinjamkan wanita tua itu. "Sekalian aku anterin kardigan ini ke rumah Oma Amisha ah." Ia berlalu keluar dari dalam kamar.
Kyara mengunci pintu gerbang, lalu melangkah santai menuju rumah Oma Amisha yang ada di sebelah rumah mertuanya. "Untung gerbangnya terbuka," gumamnya sambil masuk dan bergegas menuju pintu depan. "Assalamu'alaikum!" serunya lantang.
Tak perlu menunggu waktu lama, pintu kayu bercat putih di depannya langsung terbuka. "Wa'alaikumsalam." Oma Amisha muncul sambil mengulas senyum meneduhkan seperti biasanya. "Eh, Teh Kya," sapanya ramah.
Kyara membungkukkan setengah badannya. "Oma, saya mau mengembalikan kardigan ini. Terima kasih," ucapnya pelan.
"Ooh ... iya." Oma Amisha menerima kardigan yang diberikan Kyara. "Mari masuk dulu, Teh," lanjutnya.
"Terima kasih, Oma. Lain kali saja. Saya mau ke pasar," tolak Kyara dengan halus.
"Ohh ... ya sudah. Hati-hati kalau begitu, Teh."
"Iya, Oma." Kyara pun berpamitan. Memutar badan dan berlalu dari rumah itu.
Setelah Kyara pergi, seorang lelaki muda berperawakan tinggi berwajah tampan muncul dari belakang tubuh Oma Amisha. "Oma, yang tadi itu siapa?"
Oma Amisha menoleh ke belakang. "Kyara, tetangga Oma. Rumahnya di sebelah."
"Cantik ya?" ucap si pemuda sambil tersenyum.
"Cantik lah, dia kan perempuan ... Kama." Oma Amisha menepuk perut cucunya.
"Maksudku ... aku tertarik sama dia, Oma," celetuk Kama sambil tertawa.
"Hush!" Dicubitnya lengan Kama oleh Oma Amisha, sehingga pemuda itu meringis.
"Oma kenapa nyubit aku?" protesnya.
"Kyara itu sudah menikah."
Kama membulatkan mata, lalu mendesah. "Yah ..."
________
Kyara turun dari angkot, langkahnya begitu ringan menuju sebuah minimarket yang ada di dekat pasar. Ia berniat mengecek saldo yang ada di kartu debit yang diberikan Doni. "Mudah-mudahan isinya banyak," ucapnya sebelum masuk ke minimarket itu.
Sesampainya di depan mesin ATM, Kyara langsung memasukkan kartu tersebut. Ia mengetikkan pin, lalu tak lama, deretan angka pun muncul di layar ATM itu.
Sepersekian detik, mata Kyara membola. Bibirnya menganga.