Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - PAK SYARIF
Kantor Pak Syarif bukan di gedung tinggi dengan lobby marmer dan resepsionis berseragam. Tempatnya ada di ruko tiga lantai di jalan yang lebih banyak ditempati bengkel dan toko material bangunan. Cat temboknya sudah belang di beberapa bagian, papan namanya sederhana dengan huruf hitam di atas putih: Syarif Nugraha & Associates, Konsultasi Hukum. Tidak ada yang mencolok. Tidak ada yang membuat orang berhenti dan memperhatikan.
Lily rasa itu disengaja.
Hendra sudah menunggu di depan pintu ketika Lily tiba, dia melihat ke arah kiri dan kanan jalan sebelum menyapa Lily, gerakan cepat yang mungkin tidak kelihatan sebagai pengamatan kalau kamu tidak sedang memperhatikan.
"Ada yang ikut?" tanyanya pelan.
"Tidak tahu." Lily juga melihat sekilas ke arah jalan yang tadi dia lewati. Motor dan mobil yang lewat biasa saja, tidak ada yang parkir terlalu lama di satu titik, tidak ada yang berdiri tanpa tujuan jelas. "Ada pesan aneh masuk tadi. Nomor tidak dikenal, tapi tahu soal pertemuan ini."
Hendra mengerutkan dahi. "Tunjukkan nanti di dalam."
Mereka masuk.
Pak Syarif Nugraha usianya sekitar enam puluhan, rambut putih rapi yang disisir ke belakang, kacamata berbingkai tipis, kemeja batik yang sudah dicuci terlalu banyak kali sampai warnanya pudar di beberapa bagian. Tangannya besar, penuh urat, tangan orang yang sudah lama menulis dengan tangan dan tidak malu dengan itu.
Dia berdiri dari kursinya waktu Lily masuk dan menatapnya dengan cara yang membuat Lily sedikit tidak nyaman. Bukan tidak sopan, tapi terlalu intens. Seperti orang yang sudah lama menunggu untuk melihat sesuatu dan sekarang sedang memverifikasi apakah yang dia lihat cocok dengan yang dia bayangkan.
"Lily Rosamaria," katanya. Bukan pertanyaan, bukan salam... lebih seperti konfirmasi internal yang keluar dengan suara.
"Iya."
"Kamu mirip ibumu." Dia menyodorkan tangan. "Aku Syarif, silahkan duduk."
Ruang kerjanya kecil tapi penuh buku dan berkas di mana-mana. Tapi bukan berantakan yang sembarangan, lebih seperti sistem yang hanya bisa dipahami oleh yang empunya. Di sudut ada lemari besi yang terkunci dengan dua gembok berbeda.
Lily dan Hendra duduk di kursi yang sudah disediakan di depan meja.
Pak Syarif duduk kembali, menyilangkan tangannya di atas meja.
"Kamu dapat ancaman tadi?" tanyanya langsung ke Lily.
Lily menoleh ke Hendra.
"Aku cerita ke beliau di jalan," kata Hendra singkat.
Lily mengeluarkan ponselnya, membuka pesan itu, dan menaruh di meja agar Pak Syarif bisa membaca.
Pak Syarif membaca. Wajahnya tidak berubah ekspresi. Dia hanya mengangguk sekali, lambat, seperti ini mengkonfirmasi sesuatu yang sudah dia curigai.
"Nomor ini..." dia mengambil pena, mencatat di kertas kecil, "...akan aku cek lewat kenalan. Tidak cepat, tapi bisa ketahuan dari mana asalnya." Dia menyimpan kertas itu. "Artinya ada yang memantau komunikasimu, Lily. Atau komunikasi Hendra. Atau keduanya."
"Bisa juga ada yang memantau kamu, Pak," kata Lily.
Pak Syarif menatapnya. Lalu tersenyum tipis, bukan senyum yang menyenangkan, tapi senyum orang yang menghargai cara pikir yang tidak membuangnya dari daftar kemungkinan. "Bisa. Saya sudah bergerak dengan asumsi itu sejak seseorang mengakses arsip ibumu minggu lalu."
"Dokumennya aman?"
"Sudah dipindah ke tempat yang hanya saya yang tahu." Dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan amplop cokelat yang lebih tebal dari yang dibawa Hendra hari pertama. "Termasuk ini."
Lampiran B.
Lily mengenalinya dari kop surat yang terlihat di sudut amplop. Format yang sama dengan surat yang sudah dia baca, tapi lebih tebal, lebih berat.
"Sebelum dibuka," kata Pak Syarif, "ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan dulu."
Lily mengangguk.
Pak Syarif bicara dengan cara yang terlatih. Tidak terlalu cepat, tidak membuang kata, tapi juga tidak membuat Lily merasa sedang mendengarkan kuliah. Lebih seperti seseorang yang sudah memikirkan urutan cerita ini lama dan sekarang menyampaikannya dalam urutan yang paling berguna.
Empat belas tahun lalu, ibu Lily ... Wulan Dewi Paramita datang ke kantornya dengan satu permintaan. Bantu dokumentasikan dan lindungi harta warisan yang akan ditinggalkannya untuk anaknya.
"Ibumu tahu dia akan pergi," kata Pak Syarif. "Bukan karena sakit, waktu itu dia masih kelihatan sehat. Tapi dia berkata bahwa ada orang-orang di sekitarnya yang tidak akan membiarkan hakmu tetap utuh kalau dia tidak melindunginya dari sekarang."
"Berapa lama sebelum dia meninggal?" tanya Lily.
"Kurang lebih setahun."
Lily menyerap itu. Setahun sebelum meninggal, Mama sudah tahu atau memprediksi bahwa hidupnya dalam bahaya. Dan pilihan pertama yang dia buat adalah menemui pengacara untuk melindungi hak Lily.
Bukan melarikan diri. Bukan mengkonfrontasi. Tapi melindungi.
"Isi Lampiran B," lanjut Pak Syarif, "adalah daftar lengkap aset atas namamu, yang diwariskan dari nenekmu melalui ibumu. Ada tiga kategori." Dia membuka amplop itu sendiri dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen, meletakkan di depan Lily. "Pertama, tanah... Dua bidang ... satu di luar kota, satu di sini, di pinggiran kota. Total nilainya sekarang, kalau diestimasi dengan harga pasar saat ini, sekitar dua koma tujuh miliar."
Lily tidak bereaksi di luar. Di dalam ada sesuatu yang berdentum pelan.
"Kedua, rekening atas nama ibumu yang seharusnya dialihkan ke namamu waktu kamu delapan belas. Saldo terakhir yang tercatat sebelum rekening itu mulai bermasalah..." Pak Syarif menyebutkan angka yang membuat Lily perlu menahan napas sebentar. "Tapi rekening itu sekarang tidak bisa diakses karena ada pemblokiran yang diajukan oleh pihak ketiga menggunakan kuasa hukum."
"Firma yang sama dengan pengacara ayahku."
"Tepat."
"Dan yang ketiga?" tanya Lily.
Pak Syarif menatapnya di atas kacamatanya. "Yang ketiga adalah yang paling rumit. Ada saham minoritas di sebuah perusahaan. Saham kecil, tapi bukan tidak berarti yang juga seharusnya jadi milikmu. Perusahaan itu..."
Dia menyebut sebuah nama.
Dan Lily harus mendengarnya dua kali sebelum benar-benar yakin dia tidak salah dengar.
Nama perusahaan itu adalah perusahaan tempat Dimas bekerja.
Hendra dan Lily berjalan keluar dari kantor Pak Syarif jam tiga lebih dua puluh.
Langit di luar mendung ringan, bukan yang akan hujan, hanya yang cukup membuat cahayanya datar dan tidak menyenangkan.
Mereka tidak langsung bicara. Ada jenis keheningan setelah menerima informasi besar yang perlu dihormati dulu sebelum diolah dengan kata-kata.
Di ujung jalan, Hendra berhenti di dekat motornya.
"Kamu baik-baik aja?"
"Aku sedang memproses," jawab Lily jujur.
Dimas bekerja di perusahaan yang sebagian kecil sahamnya adalah milik Lily, warisan dari neneknya yang diturunkan ke Mama dan seharusnya ke Lily. Dan selama tiga tahun bersama Dimas, selama semua percakapan tentang kerjanya, tentang kantornya, tentang keluarga besar yang punya perusahaan itu...
Dimas tidak pernah sekali pun menyebut nama Wulan Dewi Paramita.
"Dia tahu," kata Lily. Bukan ke Hendra, lebih ke dirinya sendiri. "Dimas tahu siapa aku sebenarnya sebelum dia mendekati aku di pasar itu."
Hendra tidak menjawab. Tapi diam itu cukup jelas.
"Berarti dari awal dia mendekati aku bukan kebetulan."
"Kemungkinan besar tidak."
Lily menelan itu.
Tiga tahun. Bukan hanya Nindi yang mengkhianati. Bukan hanya ayahnya yang memilih diam. Dimas... dari pertemuan pertama di pasar itu, dari daun bawang yang pura-pura membingungkan itu sudah ada di sisi yang lain.
"Aku perlu bukti," kata Lily. "Bukan asumsi. Bukti yang bisa dipakai."
"Pak Syarif sedang susun strategi hukumnya. Butuh waktu---"
"Aku tahu." Lily mengambil ponselnya. Ada tiga pesan masuk dari Tante Sari yang menanyakan di mana dia. "Aku harus pulang."
"Lily." Hendra memanggilnya sebelum dia berbalik. "Hati-hati dengan seberapa banyak yang kamu tunjukkan ke mereka sekarang. Semakin mereka tahu kamu tahu, semakin cepat mereka akan bergerak."
Lily mengangguk.
Dia berjalan ke arah jalan besar untuk cari angkutan, ponsel di tangan, pesan Tante Sari yang belum dibalas.
Tapi ada satu pesan lain yang baru masuk. Bukan dari Tante Sari, bukan dari Hendra, bukan dari nomor tidak dikenal yang tadi mengancamnya.
Dari Dimas.
[Lily. Kita perlu bicara. Bukan soal Nindi. Soal hal lain. Yang kamu belum tahu tapi perlu kamu tahu. Tolong balas.]
Lily berdiri di trotoar dengan angin sore yang mulai terasa dingin di lengannya.
Dimas yang mendekatinya karena agenda, sekarang mengirim pesan yang berbunyi seperti orang yang mau membocorkan sesuatu.
Atau seperti orang yang mau memastikan seberapa banyak yang sudah Lily ketahui.