Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Ritual di Balik Pintu Jati
Malam itu, mansion Renfred terasa seperti sebuah monumen yang sunyi, namun atmosfer di dalamnya begitu pekat dan menekan. Setelah kehancuran Edward dan Serena siang tadi, Jerome membawa Valerie pulang dan seolah mengunci seluruh dunia di luar gerbang besi mereka. Ia memberikan perintah mutlak kepada Raka untuk mematikan semua akses komunikasi, menciptakan sebuah gelembung isolasi yang hanya berisi mereka berdua.
"Malam ini, hanya ada aku dan kau, Valerie," ucap Jerome saat mereka baru saja menginjakkan kaki di selasar.
Waktu menunjukkan pukul dua pagi ketika Valerie terbangun karena sisi ranjang di sampingnya terasa dingin dan kosong. Rasa kantuknya menguap seketika, digantikan oleh firasat aneh yang menuntun langkahnya menuju satu-satunya ruangan yang masih memancarkan cahaya: ruang kerja pribadi Jerome.
Langkah Valerie terhenti tepat di depan pintu jati besar yang sedikit terbuka. Dari celah sempit itu, ia mencium aroma dupa cendana yang berat, bercampur dengan wangi parfum maskulin Jerome yang menyesakkan paru-paru. Dengan jantung yang berdebar kencang, Valerie mengintip ke dalam.
Di tengah ruangan, Jerome sedang berlutut. Di hadapannya, sebuah dinding yang biasanya tertutup tirai beludru hitam kini tersingkap lebar, menyingkap sebuah galeri obsesi yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Ratusan foto Valerie, sejak ia berusia lima belas tahun hingga potret pernikahan mereka, tertempel dengan presisi yang gila. Di sana juga terdapat artefak masa lalu: sehelai pita rambut yang hilang bertahun-tahun lalu, sapu tangan bekas air mata, bahkan botol kecil berisi kelopak mawar kering dari buket pertunangan Valerie yang gagal dengan Aiden.
Jerome sedang menggenggam salah satu foto—saat Valerie tertawa di bawah hujan SMA. Ia mengusap permukaan foto itu dengan gerakan yang sangat lembut, namun matanya berkilat dengan kegilaan yang haus.
"Kau milikku... kau milikku..." bisik Jerome serak, suaranya terdengar seperti mantra suci sekaligus kutukan yang mengikat. "Sepuluh tahun aku membusuk dalam neraka ini hanya untuk menunggumu, Valerie. Jika kau tahu betapa aku ingin menghancurkanmu agar kau tidak bisa dilihat orang lain... jika kau tahu betapa aku ingin mengulitimu agar kau menyatu dengan nadiku..."
Jerome merasakan kehadiran Valerie bahkan sebelum wanita itu mengeluarkan suara. Ikatan di dadanya berdenyut pelan, memberikan rasa hangat yang familier. Ia tahu Valerie sedang berdiri di sana, menatap sisi iblisnya yang paling purba. Jerome tidak berbalik; ia justru membiarkan istrinya melihat segalanya.
"Masuklah, Valerie," ucap Jerome tanpa melepaskan pandangannya dari dinding pemujaan itu. "Jangan berdiri di sana seolah kau melihat orang asing. Inilah pria yang kau nikahi. Pria yang setiap malam selama sepuluh tahun menciumi fotomu hanya agar tidak gila."
Valerie melangkah masuk dengan ragu, wajahnya pucat pasi. Matanya menatap dinding itu dengan campuran antara takjub dan ngeri. "Jerome... semua ini... kau menyimpannya? Bahkan pita rambutku yang hilang di perpustakaan sekolah?"
Jerome bangkit perlahan, mendekati Valerie bak seekor predator yang sedang mengepung mangsanya. Ia menarik tangan Valerie, memaksa jemari wanita itu menyentuh dinding yang penuh dengan jejak hidupnya.
"Dunia memujaku sebagai kaisar bisnis, Val. Tapi di ruangan ini, aku hanyalah seorang budak yang menyembah dewanya," Jerome mencengkeram pinggang Valerie, menariknya hingga tubuh mereka tidak lagi memiliki celah. "Kau bertanya-tanya kenapa aku begitu protektif? Itu karena setiap pria yang menatapmu, aku membayangkan cara mencungkil matanya. Setiap pria yang menyebut namamu, aku membayangkan cara memotong lidahnya."
Jerome menangkup wajah Valerie, menatap matanya dalam-dalam dengan intensitas yang sanggup membakar. "Ini bukan cinta yang normal, Valerie. Ini penyakit. Ini obsesi yang tumbuh di atas tanah kematian kita di kehidupan lalu. Katakan padaku... apakah kau takut? Apakah kau ingin lari dari monster ini?"
Valerie menatap mata Jerome dan tidak menemukan satu pun kebohongan di sana. Hanya ada kejujuran yang gelap, liar, dan mematikan. Pria ini tidak hanya mencintainya; ia memujanya sebagai pusat semesta. Valerie menyadari bahwa jika ia adalah matahari, maka Jerome adalah lubang hitam yang siap menelan segalanya agar Valerie tetap berada di dekatnya selamanya.
Bukannya takut, Valerie justru merasakan getaran aneh yang menjalar di perutnya—keinginan primitif untuk dicintai dengan cara yang begitu ekstrem oleh pria sekuat Jerome.
"Kenapa aku harus takut pada satu-satunya orang yang rela meminum racun bersamaku, Jerome?" jawab Valerie berani. Ia meraih kerah kemeja suaminya, menariknya turun agar bibir mereka sejajar. "Jika kau adalah iblis yang ingin mengurungku di sangkar emas ini, maka aku adalah tawanan yang dengan senang hati mengunci pintunya dari dalam."
Mata Jerome melebar sesaat, lalu seringai buas muncul di bibirnya. "Kau yang memintanya, Valerie," geramnya.
Tanpa ampun, Jerome menghempaskan Valerie ke atas kursi kulit besar di tengah ruangan—kursi tempat ia biasa bekerja sembari memandangi foto-foto itu. Ia merobek jubah sutra Valerie, memperlihatkan kulit putih istrinya di bawah cahaya lampu yang remang.
"Malam ini, aku tidak akan menahan diri lagi. Aku akan menandaimu di depan semua bayanganmu di dinding ini," bisik Jerome, suaranya penuh dengan nafsu yang telah berkarat selama satu dekade.
Setiap sentuhan Jerome di ruangan ini terasa berbeda—lebih posesif, lebih liar. Ia seolah ingin membuktikan bahwa Valerie bukan lagi sekadar foto atau fantasi, melainkan daging dan darah yang kini merintih di bawah kuasanya.
"Panggil namaku, Val... Biarkan semua foto ini mendengar bahwa kau adalah milikku," perintah Jerome di tengah pergulatan panas mereka.
"Jerome... Ah... Jerome!" isak Valerie sembari mencengkeram bahu kokoh suaminya.
Di ruangan penuh rahasia itu, di bawah tatapan ratusan pasang matanya sendiri dari masa lalu, Jerome menenggelamkan dirinya dalam obsesi yang paling dalam. Tidak ada lagi paman yang kaku, tidak ada lagi CEO yang dingin. Hanya ada seorang pria yang sedang mengambil haknya atas wanita yang telah ia tunggu selama satu siklus kematian.
...****************...