Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Gedung pusat Lopez Group berdiri megah di pusat Chicago, namun di lobi yang luas itu, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun tampak tidak terintimidasi sedikit pun. Logan duduk di salah satu kursi kulit mewah, kakinya yang kecil menggantung namun punggungnya tegak, persis seperti seorang eksekutif yang sedang menunggu rapat besar.
Pagi tadi, ia berhasil membujuk Pak Miller, supir taksi langganan ibunya, untuk menurunkannya di sini. "Mommy ada pertemuan mendadak di sini, Pak Miller," bohongnya dengan wajah polos yang sangat meyakinkan.
Sejam yang lalu, Logan sempat mendatangi meja resepsionis.
"Aku ingin bertemu ayahku," ucapnya tenang.
Resepsionis cantik itu mengernyit ramah. "Siapa nama ayahmu, Sayang?"
Logan terdiam. Ia tahu jika ia menyebut nama Zion Mateo Lopez, seluruh gedung ini akan gempar. Ia belum siap untuk keributan itu. "Dia bekerja di sini. Aku akan menunggunya saja."
Akhirnya, resepsionis itu membiarkannya duduk di area tamu, mengira anak itu adalah putra salah satu karyawan menengah yang sedang mencari ayahnya.
Hari itu, suasana kantor cukup sepi. Lionel dan Laxia sedang berada di lokasi proyek untuk meninjau fondasi. Sementara itu, Zion, yang biasanya tiba pukul delapan pagi, terlambat karena sisa alkohol dan rasa sesak semalam membuatnya baru bisa keluar rumah pukul sepuluh pagi.
Pukul 10:15, pintu otomatis lobi terbuka.
Zion melangkah masuk dengan langkah lebar dan aura dingin yang biasanya membuat karyawan menunduk takut. Ia sedang sibuk merapikan kancing jasnya saat matanya menangkap siluet seorang anak laki-laki yang duduk sendirian di pojok area tamu.
Entah kenapa, langkah Zion melambat. Dalam hatinya ia bertanya, "Anak siapa itu? Kenapa dia sendirian di sini?"
Logan menyadari kehadiran pria itu. Ia berdiri perlahan, menatap lurus ke arah pria yang fotonya selalu ia lihat di laci ibunya.
Zion mendekat. Semakin dekat langkahnya, semakin jantungnya berdegup tidak keruan. Saat ia berdiri tepat di depan anak itu, Logan mendongak.
Deg.
Dunia Zion seolah berhenti berputar. Udara di lobi itu mendadak hilang. Pria itu terpaku, menatap wajah di depannya dengan mata membelalak. Itu bukan sekadar kemiripan. Itu adalah duplikat sempurna dari dirinya sendiri saat berusia sembilan-sepuluh tahun. Bentuk mata, garis rahang, hingga cara anak itu menatapnya dengan dagu sedikit terangkat, semuanya adalah Zion Mateo Lopez versi kecil.
"Kau..." suara Zion tercekat di tenggorokan. Ia merasa lututnya lemas.
Anak laki-laki itu tidak menangis, tidak pula takut. Ia mengulurkan tangannya dengan sangat sopan. "Halo. Namaku Logan."
Deg.
Nama itu menghantam Zion seperti palu godam. Logan?
Pikiran Zion berputar hebat. Bayangan foto bayi "satu tahun" yang dikirim Cassie semalam muncul di benaknya. Foto bayi yang ia tangisi semalam karena ia pikir itu adalah hasil hubungan Cassie dengan pria lain.
Logan bayi satu tahun? Sebesar ini?
Dalam hitungan detik, seluruh kepingan teka-teki itu jatuh di tempatnya. Kilas balik malam terakhir mereka sepuluh tahun lalu, pengakuan Cassie tentang pil pencegah kehamilan yang ia lupakan karena hancur, kepergian Cassie yang tiba-tiba ke London, dan alasan mengapa Cassie berbohong soal usianya sekarang.
Zion tidak memedulikan tatapan heran staf lobi. Ia berlutut di depan Logan, tidak memedulikan jas mahalnya yang menyentuh lantai. Ia menatap mata Logan, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah pantulan dirinya sendiri yang selama ini hilang.
Tanpa berkata-kata, Zion langsung menarik Logan ke dalam pelukannya. Ia memeluk anak itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil Logan. Tubuhnya bergetar hebat.
Zion tidak bicara. Ia tidak sanggup. Ia sedang merespons semua kenyataan yang menghantamnya secara bersamaan, Bahwa bayi yang ia tangisi semalam adalah darah dagingnya. Bahwa kekasihnya tidak pernah dimiliki pria lain. Dan bahwa selama sembilan tahun ini, putranya telah tumbuh dewasa tanpa dirinya.
Logan diam dalam pelukan itu. Ia bisa merasakan detak jantung Zion yang kencang dan napas pria itu yang tidak teratur.
"Jadi..." bisik Logan di telinga Zion. "Daddy benar-benar nyata?"
Zion semakin mengeratkan pelukannya, air mata yang ia tahan sejak di lobi akhirnya jatuh mengenai jaket sekolah Logan. "Iya, Sayang. Daddy nyata... dan Daddy sangat bodoh karena baru menemukanmu sekarang."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.