Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Kantor pusat di kawasan Sudirman masih bising meski jarum jam sudah melewati angka tujuh malam. Alana masih terpaku di depan layar monitornya. Cahaya biru dari layar memantul di matanya yang lelah, menciptakan bayangan cekung yang tak bisa lagi disembunyikan oleh concealer mahal sekalipun.
"Laporan anggaran divisi kreatif sudah selesai, Pak," ujar Alana tanpa menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat ke kubikelnya. Ia tahu itu langkah siapa. Aroma kayu cendana yang tipis dan ketukan sepatu pantofel yang teratur itu hanya milik satu orang.
Pradipta.
"Saya tidak ke sini untuk menagih laporan, Alana," suara Pradipta terdengar berat namun tenang.
Alana akhirnya menoleh. Atasannya itu berdiri menyandarkan pinggul di pinggiran meja kosong sebelah Alana. Lengan kemejanya digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan—tanda bahwa pria itu juga baru saja melewati hari yang panjang. Namun, matanya tetap tajam, jenis mata yang seolah mampu membaca data yang salah di baris ke-100 tanpa perlu bantuan kalkulator.
"Ini sudah malam. Mobilmu masih ada di parkiran bawah, tapi kuncinya tidak ada di atas mejamu," lanjut Pradipta datar. "Kamu menunggu jemputan?"
Alana terdiam sejenak. Ingatan tentang Rian yang membawa mobilnya semalam melintas. Ia pulang pagi ini menggunakan taksi daring, sebuah pengeluaran tambahan yang sebenarnya malas ia hitung namun tetap terasa mengganjal.
"Hanya ingin memastikan semuanya rapi sebelum besok, Pak," jawab Alana, kembali ke mode formalnya. Senyum profesionalnya terpasang otomatis. "Mobilnya... sedang dipakai adik saya."
Pradipta tidak menjawab. Ia justru memperhatikan jemari Alana yang memegang mouse. Jemari itu bergetar halus, sangat tipis, namun di mata Pradipta yang perfeksionis, itu seperti gempa bumi.
"Alana," panggil Pradipta. Kali ini suaranya lebih lembut, menghilangkan jarak antara atasan dan bawahan. "Batu karang itu kuat karena ia menahan ombak. Tapi batu karang juga bisa terkikis jika air masuk ke celah-celahnya yang paling dalam."
Alana menghentikan gerakan tangannya. Jantungnya berdegup tidak keruan. "Saya tidak mengerti maksud Bapak."
"Kamu bekerja seperti orang yang sedang melarikan diri dari sesuatu," Pradipta berdiri tegak, berjalan perlahan hingga ia berdiri tepat di samping kursi Alana. "Saya sudah memperhatikanmu selama dua tahun. Kamu tidak pernah izin sakit, tidak pernah mengeluh, dan selalu menjadi orang terakhir yang mematikan lampu di lantai ini. Banyak orang menyebutnya dedikasi. Tapi saya? Saya menyebutnya keputusasaan."
"Saya hanya melakukan tanggung jawab saya—"
"Tanggung jawab siapa?" potong Pradipta cepat. "Tanggung jawabmu, atau beban yang dipaksakan orang lain ke pundakmu?"
Keheningan menyergap. Suara mesin pendingin ruangan mendengung, mengisi kekosongan di antara mereka. Alana merasa seolah-olah baju zirah yang ia pakai selama belasan tahun mulai retak tepat di bagian dada. Kata-kata Pradipta terlalu presisi, terlalu menusuk.
"Pak Pradipta, saya rasa ini bukan urusan pekerjaan," suara Alana bergetar, pertahanan terakhirnya mulai goyah.
Pradipta mengambil sebuah map dari mejanya, lalu meletakkannya di depan Alana. Bukan laporan keuangan, melainkan formulir cuti yang sudah ditandatangani olehnya.
"Pulanglah, Alana. Bukan ke rumah yang membuatmu sesak, tapi carilah tempat di mana kamu bisa bernapas. Besok saya tidak mau melihatmu di kantor. Itu perintah."
Alana menatap formulir itu, lalu menatap Pradipta. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat seorang atasan yang dingin, melainkan seseorang yang sepertinya tahu betul rasanya memikul dunia sendirian.
"Kenapa?" bisik Alana lirih.
Pradipta berjalan menuju pintu keluar, namun berhenti sejenak tanpa berbalik. "Karena jika kamu hancur berkeping-keping di sini, saya akan kehilangan asisten terbaik saya. Dan saya tidak suka kehilangan."
Setelah Pradipta menghilang di balik pintu lift, Alana menyandarkan punggungnya. Satu tetes air mata yang ia tahan sejak semalam akhirnya jatuh, membasahi formulir cuti di depannya. Satu tetes yang kemudian diikuti oleh isakan kecil yang selama ini ia kunci rapat-rapat dalam tenggorokan.