melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bayangan yang perlahan mendekat
Mobil yang dikendarai Raka melaju pelan meninggalkan kawasan hotel mewah itu. Jalanan kota sudah jauh lebih sepi dibandingkan beberapa jam lalu. Lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil, membentuk garis panjang yang terus bergerak.
Alya duduk diam di kursi penumpang.
Gaun hitam yang ia kenakan masih rapi, namun pikirannya belum sepenuhnya meninggalkan malam itu.
Raka meliriknya sebentar.
“Kamu terlalu diam.”
Alya tidak langsung menjawab.
“Sedang berpikir.”
“Memikirkan Agung?” tanya Raka santai.
Alya menghela napas kecil.
“Tidak.”
Raka mengangkat alis sedikit.
“Tidak?”
Alya menoleh ke arah jendela.
“Aku hanya berpikir… ternyata berada di dekat orang yang dulu menghancurkan hidup kita terasa berbeda dari yang kubayangkan.”
Raka tidak menanggapi langsung.
Mobil terus melaju melewati persimpangan lampu merah yang hampir kosong.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Balas dendam memang jarang terasa seperti yang orang bayangkan.”
Alya menoleh kepadanya.
“Bagaimana menurutmu rasanya?”
Raka tersenyum tipis.
“Kadang justru terasa… biasa saja.”
Jawaban itu membuat Alya terdiam.
Ia kembali menatap jalan di depan.
Di dalam hatinya ia tahu satu hal.
Rasa sakit yang dulu ia rasakan memang tidak hilang, tetapi malam ini ia menyadari sesuatu yang baru.
Dunia Agung Kusuma jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Dan untuk benar-benar masuk ke dalam dunia itu, ia harus bergerak perlahan.
Keesokan paginya kantor Aurora Capital kembali sibuk seperti biasa.
Karyawan berjalan cepat membawa dokumen.
Suara keyboard terdengar dari berbagai meja kerja.
Alya datang sedikit lebih pagi dari biasanya.
Ia duduk di kursinya dan mulai membuka laporan yang harus ia analisis hari itu.
Tidak lama kemudian Dina datang sambil membawa dua gelas kopi.
“Aku tahu kamu pasti butuh ini.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
Dina duduk di kursinya dengan wajah penasaran.
“Jadi bagaimana acara makan malam kemarin?”
Alya meminum sedikit kopinya sebelum menjawab.
“Lumayan.”
Dina langsung mengerutkan dahi.
“Lumayan?”
“Ya.”
Dina bersandar di kursinya dengan ekspresi tidak puas.
“Kamu duduk di satu meja dengan investor besar dan direktur perusahaan besar… lalu hanya bilang lumayan?”
Alya tertawa kecil.
“Memangnya harus bagaimana?”
Dina menghela napas.
“Setidaknya ceritakan sesuatu yang menarik.”
Alya berpikir sebentar.
Lalu ia berkata santai, “Aku berbicara dengan Agung Kusuma.”
Dina langsung duduk tegak.
“Kamu bercanda.”
Alya menggeleng.
“Tidak.”
Dina menutup mulutnya sendiri seolah menahan teriakan.
“Bagaimana rasanya berbicara dengan orang sekaya itu?”
Alya berpikir sejenak.
“Seperti berbicara dengan orang biasa.”
Dina menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa.
“Kamu benar-benar aneh.”
Percakapan ringan itu membuat pagi terasa lebih santai.
Namun Alya tahu kehidupannya perlahan mulai berubah.
Di lantai atas gedung yang sama, Daniel sedang berdiri di ruangannya sambil membaca beberapa laporan.
Pintu diketuk.
“Masuk.”
Asistennya masuk membawa sebuah map.
“Ini laporan analisis yang Anda minta.”
Daniel membuka map itu.
Beberapa menit ia membaca dengan serius.
Kemudian ia mengangkat alis sedikit.
“Siapa yang menulis ini?”
“Asisten analis baru, Alya.”
Daniel tersenyum kecil.
Ia menutup map itu.
“Panggil dia ke sini.”
Beberapa menit kemudian Alya berdiri di depan meja Daniel.
“Kamu menulis laporan ini?” tanya Daniel.
“Ya.”
Daniel menatapnya cukup lama.
“Kamu tahu laporan ini cukup berani?”
Alya tidak terlihat gugup.
“Saya hanya menuliskan kesimpulan dari data yang ada.”
Daniel bersandar di kursinya.
“Sebagian analis muda biasanya takut membuat kesimpulan seperti ini.”
Alya berkata tenang, “Jika datanya jelas, kesimpulannya juga harus jelas.”
Daniel tertawa pelan.
“Saya mulai mengerti kenapa kamu terlihat sangat tenang kemarin.”
Ia menutup map itu.
“Teruskan pekerjaanmu seperti ini.”
Alya mengangguk.
Namun ketika ia berbalik keluar dari ruangan itu, Daniel berkata lagi.
“Alya.”
Ia menoleh.
“Agung Kusuma menanyakan sesuatu tadi pagi.”
Alya berhenti.
“Apa?”
Daniel menjawab santai.
“Dia menanyakan siapa analis yang menjelaskan data energi terbarukan kemarin.”
Jantung Alya berdetak sekali lebih cepat.
“Lalu?”
Daniel tersenyum.
“Aku bilang itu kamu.”
Alya tidak mengatakan apa-apa.
Namun ketika ia keluar dari ruangan itu, pikirannya mulai bekerja.
Agung tidak tertarik padanya sebagai wanita.
Namun ia memperhatikan pekerjaannya.
Dan itu mungkin jauh lebih penting.
Sementara itu di gedung perusahaan Kusuma Group, Agung duduk di ruang kerjanya yang luas.
Beberapa dokumen terbuka di mejanya.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Ia teringat percakapan semalam.
Bukan tentang Alya secara pribadi.
Melainkan tentang analisis yang ia sampaikan saat diskusi.
Ia mengambil ponselnya lalu mengirim pesan singkat kepada Daniel.
Analis barumu cukup menarik.
Bukan karena penampilannya.
Tetapi karena cara berpikirnya.
Agung selalu menghargai orang yang bekerja dengan serius.
Namun setelah mengirim pesan itu, ia kembali fokus pada pekerjaannya.
Baginya Alya hanyalah satu dari banyak orang yang ia temui dalam dunia bisnis.
Tidak lebih dari itu.
Setidaknya untuk sekarang.
Sore hari ketika Alya pulang dari kantor, Raka sudah menunggunya di apartemen.
Ia sedang duduk di sofa sambil membaca berita di tablet.
“Kamu pulang lebih cepat,” kata Alya.
Raka mengangkat bahu.
“Pekerjaanku tidak selalu di kantor.”
Alya duduk di kursi seberangnya.
“Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan.”
Raka menatapnya.
“Apa?”
“Agung menanyakan tentang analis yang menjelaskan data kemarin.”
Raka tersenyum tipis.
“Bagus.”
Alya menatapnya.
“Kenapa bagus?”
Raka menaruh tablet di meja.
“Karena sekarang dia mulai mengingat namamu.”
Alya terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun ia tahu maksud sebenarnya.
Dalam dunia orang seperti Agung Kusuma, diingat saja sudah merupakan langkah besar.
Namun Alya tidak ingin terburu-buru.
Ia bersandar di kursi sambil memandang langit yang mulai gelap di luar jendela.
“Aku tidak ingin semuanya berjalan terlalu cepat.”
Raka mengangguk pelan.
“Itu memang tidak boleh terlalu cepat.”
Ia berdiri lalu berjalan ke dapur kecil.
“Apa kamu tahu apa kesalahan terbesar orang yang ingin masuk ke dunia seperti ini?”
Alya menoleh.
“Apa?”
Raka menuangkan air ke dalam gelas.
“Mereka ingin sampai ke puncak terlalu cepat.”
Ia menyerahkan gelas itu kepada Alya.
“Padahal permainan sebenarnya justru terjadi di perjalanan menuju ke sana.”
Alya meminum air itu perlahan.
Kata-kata Raka terasa masuk akal.
Ia tidak harus melakukan sesuatu yang besar sekarang.
Ia hanya perlu tetap berada di jalur yang benar.
Malam semakin tenang.
Lampu apartemen hanya menyala setengah.
Alya berdiri di depan jendela lagi seperti malam sebelumnya.
Di kejauhan, lampu kota terlihat seperti lautan cahaya yang tidak pernah tidur.
Ia memikirkan perjalanan hidupnya.
Dari Melda yang hidup sederhana bersama kakaknya.
Menjadi Alya yang sekarang bekerja di perusahaan investasi besar.
Perjalanan itu terasa seperti cerita orang lain.
Namun satu hal yang ia tahu pasti.
Ia belum sampai pada tujuan akhirnya.
Dan mungkin perjalanan ini masih akan sangat panjang.
Di belakangnya, Raka memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.
Ia tahu Alya sedang berubah.
Bukan hanya wajahnya.
Tetapi juga cara berpikirnya.
Dan perubahan itu mungkin akan membawa mereka berdua ke tempat yang bahkan belum mereka bayangkan.
Satu hal yang pasti…
Cerita ini baru saja dimulai.
Dan setiap langkah kecil yang mereka ambil sekarang akan menentukan bagaimana akhir dari perjalanan panjang ini nanti.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.