Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.
Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.
Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?
"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Gangguan Visual: Kilatan Kamera
Bab 11: Gangguan Visual: Kilatan Kamera
Waktu masih terpaku di angka 23:48, sebuah menit yang terasa seperti selamanya. Setelah bergelut dengan kursor yang mengejek keraguanku di Bab 10, aku mengira tantangan terberat adalah mempertahankan fokus. Namun, realitas Bundaran HI memiliki cara lain untuk menyerang. Tepat saat ibu jariku membentuk busur navigasi menuju huruf 'L', sebuah ledakan cahaya terjadi di depan mataku.
BLAST.
Seorang turis, mungkin dua meter di depanku, baru saja menekan tombol rana pada kamera mirrorless-nya. Lampu kilat (flash) eksternal yang ia pasang di atas bodi kamera memuntahkan cahaya putih xenon dengan intensitas ribuan lumens. Secara biologis, ini adalah serangan terhadap sistem penglihatanku. Foton-foton liar menembus kornea, melewati pupil yang sedang melebar karena kegelapan malam, dan menghantam fotoreseptor di retinaku dengan kekuatan yang melumpuhkan.
Seketika, duniaku yang tadinya hanya terfokus pada layar OLED ponsel menjadi putih total. Putih yang hampa. Putih yang menyakitkan.
Aku terpejam secara refleks, sebuah gerakan involunter yang dikendalikan oleh batang otak untuk melindungi mata dari kerusakan lebih lanjut. Namun, kegelapan di balik kelopak mataku tidaklah hitam. Di sana, tertinggal sebuah afterimage—bayangan sisa yang menghantui retina. Bayangan itu berbentuk kotak terang, sisa dari kilatan tadi, yang kini menari-nari di tengah kegelapan internal mentalku.
Dalam kebutaan sementara ini, aku merasakan disorientasi spasial. Tanpa referensi visual, tubuhku merasa seolah-olah sedang melayang di tengah kerumunan yang tak kasat mata. Suara riuh rendah di sekitarku, yang tadi mulai teredam, kini kembali menggelegar di telingaku. Aku mendengar tawa, desas-desus, dan dentum musik yang terasa lebih dekat.
"Arka? Kamu nggak apa-apa?" Suara Lala terdengar dari sisi kiri, namun arahnya terasa kabur.
"Silau," jawabku singkat, suaraku terdengar seperti gumaman yang tercekik.
Aku mencoba membuka mata perlahan. Proses pemulihan sel batang dan sel kerucut di retinaku berjalan sangat lambat—terasa seperti ribuan tahun di menit 23:48 ini. Perlahan, dunia mulai muncul kembali dari balik kabut putih. Namun, kegelapan Bundaran HI kini terasa jauh lebih pekat daripada sebelumnya. Inilah fenomena bleaching fotoreseptor; mataku butuh waktu untuk melakukan resintesis pigmen penglihatan agar bisa melihat dalam cahaya rendah lagi.
Dalam kegelapan transisi ini, aku justru terjatuh ke dalam kegelapan yang lebih dalam: kegelapan masa depanku.
Kilatan cahaya tadi terasa seperti metafora yang kasar. Satu detik cahaya putih yang membutakan, diikuti oleh kegelapan yang panjang. Bukankah itu yang akan terjadi jika aku mengirimkan pesan ini dan Lala menolaknya? Sebuah kejutan singkat yang menghancurkan struktur hidupku, diikuti oleh kesunyian yang mencekam selama sisa hidupku.
Aku membayangkan momen setelah 00:00—saat kembang api berakhir, orang-orang pulang, dan aku berdiri di sini sendirian dengan status "mantan sahabat" yang tidak lagi memiliki akses ke tawa Lala.
Secara mikroskopis, aku memperhatikan bagaimana bintik-bintik buta (scotoma) akibat kilatan kamera itu masih mengambang di atas layar ponselku. Setiap kali aku mencoba fokus pada kursor biru, bintik hitam itu menutupi huruf-huruf di keyboard virtual. Aku mencoba mengedipkan mata berkali-kali, berharap cairan air mata bisa membilas gangguan visual ini, namun bintik itu tertanam di saraf, bukan di permukaan mata.
Analisis logisku mulai membedah statistik kegagalan komunikasi. Komunikasi bukan hanya tentang apa yang dikirim, tapi tentang bagaimana ia diterima. Dalam kondisi mataku yang "cacat" sementara ini, aku merasa kemampuanku untuk membaca situasi emosional Lala juga ikut lumpuh. Aku tidak bisa melihat ekspresi mikro di wajahnya dengan jelas. Wajahnya kini hanya tampak sebagai siluet kabur yang dikelilingi oleh bintik-bintik sisa kilatan cahaya.
"Banyak banget ya yang foto-foto," Lala berkata lagi, nadanya ringan, tidak terganggu oleh ledakan cahaya yang baru saja membutakanku.
Kenapa dia bisa begitu tenang? Kenapa cahaya itu tidak mengganggu dunianya seperti ia mengganggu duniaku? Apakah karena dia tidak memiliki rahasia yang harus ia jaga dalam pendaran layar? Ataukah karena bagi Lala, malam ini memang hanya tentang menangkap momen keindahan, sementara bagiku ini adalah tentang menghindari bencana?
Aku menatap layar ponselku lagi. Angka 23:48 masih berkedip di pojok atas, seolah-olah waktu itu sendiri sengaja menunggu mataku pulih sepenuhnya sebelum ia melompat ke angka 23:49. Aku merasa terjebak dalam limbo.
Secara fisik, aku merasakan otot-otot di sekitar mataku menegang karena dipaksa untuk fokus dalam kondisi visibilitas rendah. Rasa pegal mulai merayap ke arah dahi, memicu sakit kepala ringan yang menambah beban kognitifku. Aku membedah sensasi tersebut: sebuah ketegangan saraf trigeminal yang bereaksi terhadap rangsangan cahaya yang berlebihan.
Aku melihat turis di depanku tadi sedang memeriksa hasil fotonya. Layar kameranya bersinar oranye, memancarkan cahaya tambahan yang kini terasa seperti gangguan privasi bagiku.
Aku merasa dunia luar terus-menerus menginterupsi ruang meditasiku. Pertama terompet, lalu kelembapan kulit, lalu kursor, dan sekarang kilatan kamera. Seolah-olah alam semesta sedang berkonspirasi untuk memastikan aku tetap buta, tetap ragu, dan tetap diam.
"Dua belas menit lagi, Ka," Lala mengingatkan. "Kita harus siap-siap rekam momennya."
Siap-siap. Kata itu terdengar seperti vonis. Dia ingin merekam momen kembang api—sebuah fenomena visual yang melibatkan cahaya dan ledakan. Sementara aku sedang mencoba menciptakan ledakan emosional melalui teks digital. Ironinya, aku mungkin akan merusak "momen" yang ingin ia rekam jika aku mengirimkan pesan itu tepat saat kembang api dimulai.
Aku memejamkan mata sekali lagi, kali ini dengan sengaja. Aku mencoba menyingkirkan semua distraksi visual. Di balik kegelapan itu, aku membayangkan wajah Lala tanpa bintik hitam. Aku membayangkan bibirnya yang bergerak menyebut namaku. Aku mencoba memvisualisasikan hasil dari komunikasi ini bukan sebagai kegelapan, melainkan sebagai cahaya yang menetap. Bukan kilatan kamera yang membutakan, tapi cahaya fajar yang menenangkan.
Namun, saat aku membuka mata, bintik hitam itu masih ada di sana, persis di atas huruf 'S'.
Aku menyadari bahwa kegelapan masa depan tidak bisa diprediksi hanya karena mataku sedang silau. Kegelapan itu adalah proyeksi dari ketakutanku sendiri. Secara objektif, kilatan kamera tadi hanyalah sebuah peristiwa fisik yang melibatkan gas xenon dan kapasitor. Ia tidak memiliki makna filosofis kecuali jika aku memberikannya.
Aku memiringkan ponselku lagi (seperti di Bab 8), mencoba mencari sudut pandang yang tidak terganggu oleh bintik sisa cahaya di retinaku. Aku melihat kursor itu lagi. Kedipannya masih konsisten. Ia adalah satu-satunya hal yang tetap stabil di duniaku yang baru saja diledakkan oleh cahaya.
Aku menarik napas panjang. Oksigen yang masuk ke paru-paruku terasa dingin, sedikit membantu mendinginkan sistem sarafku yang sempat overheat. Aku tidak boleh menunggu mataku pulih seratus persen. Jika aku menunggu kesempurnaan visibilitas, aku akan kehilangan momen. Aku harus mengetik dalam kondisi "buta" ini, mempercayai memori otot jari-jariku yang sudah menghafal letak huruf 'L'.
Baru saja aku merasa sudah menguasai kegelapan ini, aku menyadari bahwa posisi berdiriku mulai goyah. Kaki kiriku mulai terasa kaku, dan rasa pegal yang aneh mulai menjalar dari telapak kaki menuju pergelangan kaki.
Sebuah gangguan baru, kali ini bersifat ortopedi, siap menguji ketahananku di detik-detik terakhir 23:48.