NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Saksi dari Masa Lalu

Pintu ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terbuka dengan bunyi derit yang berat. Udara di dalam ruangan itu terasa dingin dan lembap, berbau kayu tua dan kertas-kertas usang. Hana melangkah masuk dengan setelan kerja berwarna abu-abu gelap yang formal. Ia tidak menoleh ke arah bangku penonton, meski ia tahu sepasang mata Ibu Salma yang sembab sedang menatapnya dengan penuh kebencian dari barisan belakang.

Di kursi terdakwa, Aris duduk dengan kepala tertunduk. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus dibandingkan saat terakhir mereka bertemu di lobi kantor Adrian. Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan, dan ada bekas luka kecil di pelipisnya—mungkin hasil dari perlakuan kasar kawan satu selnya.

"Saksi, silakan maju ke depan," suara hakim ketua yang berat memecah keheningan.

Hana berjalan menuju kursi saksi. Ia duduk dengan punggung tegak, tangannya bertumpu dengan tenang di atas lutut. Saat ia mengambil sumpah di bawah kitab suci, suaranya terdengar jernih, tanpa getaran sedikit pun.

"Saudara saksi, apakah benar Anda yang menemukan bukti pertama mengenai selisih dana di perusahaan pelapor?" tanya jaksa penuntut umum.

"Benar, Pak," jawab Hana.

Hana mulai menjelaskan semuanya. Ia menceritakan bagaimana ia menemukan catatan ganda tersebut, bukan sebagai seorang detektif, melainkan sebagai seorang akuntan yang terbiasa melihat ketidakkonsistenan angka. Ia tidak melebih-lebihkan, tidak pula menggunakan kalimat yang penuh amarah. Ia berbicara dengan fakta yang dingin dan logis.

Namun, suasana berubah saat pengacara Aris mulai bertanya.

"Saudara saksi, bukankah benar bahwa saat Anda menemukan bukti ini, Anda sedang dalam proses perceraian dengan terdakwa? Apakah ada unsur balas dendam pribadi di sini karena masalah rumah tangga Anda?"

Hana terdiam sejenak. Ia melirik Aris yang kini menatapnya dengan penuh harap, seolah berharap Hana akan merasa iba.

"Saya menemukan bukti ini karena saya sedang mengerjakan tugas saya," sahut Hana dengan tenang. "Masalah rumah tangga kami adalah satu hal, tapi mencuri uang orang lain dan melakukan pemerasan adalah hal lain. Saya tidak butuh dendam untuk menunjukkan bahwa angka dua ratus lima puluh juta itu hilang dari rekening pelapor."

"Tapi Anda tahu bahwa terdakwa adalah ayah dari anak Anda. Tidakkah Anda berpikir tentang nasib anak Anda jika ayahnya dipenjara?" desak pengacara itu lagi.

Hana menatap lurus ke arah hakim. "Nasib anak saya justru terancam jika dia tumbuh dengan melihat ayahnya bisa melanggar hukum tanpa konsekuensi. Saya ingin anak saya belajar bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya, bahkan jika itu dilakukan oleh ayahnya sendiri."

Mendengar itu, Aris tiba-tiba terisak. Isakannya terdengar pilu di ruang sidang yang sunyi itu. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya berguncang hebat.

Setelah sidang ditunda untuk istirahat, Hana keluar menuju koridor pengadilan. Ia ingin segera pergi mencari udara segar, namun langkahnya terhenti saat Ibu Salma tiba-tiba muncul dari balik pilar.

Wajah wanita tua itu tampak mengerikan. Matanya merah, dan napasnya memburu. Ia tidak lagi bersimpuh memohon seperti di apartemen kemarin. Kali ini, ia terlihat seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.

"Puas kamu, Hana?!" teriak Ibu Salma. Beberapa orang di koridor mulai menoleh. "Kamu menghancurkan anakku di depan hakim! Kamu memang wanita iblis! Kamu sengaja mau bikin Aris mati di penjara agar kamu bisa bebas dengan bos kayamu itu, kan?!"

Hana mencoba menghindar, namun Ibu Salma mencekal lengannya dengan tenaga yang luar biasa kuat untuk ukuran wanita seusianya.

"Lepaskan saya, Bu," ucap Hana tajam.

"Tidak! Kamu harus ikut aku ke dalam! Bilang sama hakim kalau kamu bohong! Bilang kalau Aris tidak salah!" Ibu Salma mulai menarik-narik baju Hana.

Tiba-tiba, Ibu Salma merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah gunting kecil yang biasa ia gunakan untuk memotong benang jahit. Matanya liar, ia mengacungkan gunting itu ke arah Hana. "Kalau Aris tidak bisa bebas, lebih baik kamu mati saja! Kamu yang merusak segalanya!"

Hana tersentak mundur, tangannya secara refleks menangkis serangan tersebut. Beruntung, seorang petugas keamanan pengadilan segera sigap menerjang Ibu Salma dan menjatuhkan gunting itu ke lantai.

Ibu Salma meronta-ronta di lantai koridor, menjerit-jerit memanggil nama Aris dan menyumpahi Hana dengan kata-kata yang paling kasar. Orang-orang berkerumun, memotret kejadian tersebut. Di tengah kekacauan itu, Hana hanya bisa berdiri mematung, menatap wanita yang pernah ia anggap sebagai ibu itu kini harus diringkus polisi karena mencoba menyerangnya.

Sore harinya, di kantor Adrian.

Adrian memberikan segelas teh hangat pada Hana yang masih tampak sedikit syok setelah kejadian di pengadilan.

"Ibu mertuamu sekarang diamankan polisi. Aris juga dalam pengawasan ketat karena mencoba menyakiti dirinya sendiri di sel setelah sidang tadi," ujar Adrian sambil duduk di seberang meja Hana.

Hana menyesap tehnya perlahan. Hangatnya menjalar ke tenggorokannya, namun hatinya masih terasa beku. "Saya tidak menyangka akan sampai seperti ini, Mr. Adrian. Saya hanya ingin keluar dari rumah itu, tapi kenapa rasanya mereka seperti mau menarik saya masuk ke dalam liang lahat bersama mereka?"

"Karena orang-orang seperti mereka tidak bisa melihat orang lain bahagia di atas kemandiriannya sendiri," sahut Adrian. "Bagi mereka, kamu adalah milik mereka. Dan saat mereka sadar kamu sudah tidak bisa dikuasai, mereka lebih baik menghancurkanmu daripada melihatmu sukses."

Hana menatap jendela besar kantornya. Di luar, hujan mulai turun membasahi Jakarta. Ia teringat Aris yang menangis di kursi pesakitan, dan Ibu Salma yang menjerit histeris di lantai pengadilan. Ada rasa sedih, tentu saja. Bagaimanapun, mereka pernah menjadi bagian dari hidupnya. Namun, rasa sedih itu segera tertutup oleh bayangan Gilang yang sedang menunggunya di rumah.

"Apa yang akan terjadi pada Aris?" tanya Hana.

"Mengingat bukti-bukti yang kamu berikan sangat kuat, dan ada upaya intimidasi terhadap saksi dari pihak keluarganya, hukumannya mungkin akan lebih berat," jawab Adrian. "Tapi itu bukan urusanmu lagi, Hana. Fokuslah pada audit proyek Grand Emerald. Minggu depan kita harus mempresentasikan hasilnya ke dewan komisaris di Singapura."

Singapura. Kata itu terdengar seperti janji akan sebuah awal yang baru, sangat jauh dari debu dan drama di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Hana mengangguk. Ia meletakkan gelas tehnya dan membuka kembali laptopnya. Ia tahu, satu-satunya cara untuk benar-benar lepas dari bayang-bayang keluarga Aris adalah dengan terus maju ke depan, mencapai puncak yang tidak akan pernah bisa mereka gapai, bahkan dalam mimpi paling ambisius mereka sekalipun.

Di suatu tempat di dalam selnya, Aris sedang menatap dinding beton yang dingin. Ia menyadari satu hal yang terlambat: ia tidak pernah benar-benar mencintai ibunya atau adiknya. Ia hanya mencintai dirinya sendiri, dan karena cinta yang salah itulah, ia kini kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar tulus mencintainya. Hana bukan lagi miliknya. Hana sudah menjadi langit yang tidak akan pernah bisa ia sentuh lagi.

1
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!