Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Judul Episode 29: "Rintangan di Dasar Laut dan Janji yang Terkubur"
Sebelum matahari mulai menerangi langit pantai Pasuruan, Pak Darmo, Laras, dan Jaka sudah siap di atas kapal perahu kayu yang telah mereka siapkan semalam. Di dalam wadah khusus yang terbuat dari anyaman rotan dan dilapisi lilin panas, mereka menyimpan dupa khusus dari akar cemara dan air zamzam yang diberikan oleh kakek Buyung—salah satu tokoh tua di desa yang tahu tentang rahasia laut kuno. Peta kuno yang ditemukan Jaka di ruangan bawah tanah Pulau Cemara Kecil kini terbentang di atas tikar anyaman, menunjukkan rute yang harus ditempuh untuk mencapai lokasi tumbuhnya bunga bakung laut.
“Kita harus mencapai titik tepat sebelum jam sembilan pagi,” ujar Pak Darmo sambil menatap arah matahari yang mulai muncul di ufuk timur. “Pada waktu itu, sinar matahari akan menyinari dasar laut dengan sudut yang tepat, membuat bunga bakung laut terbuka sepenuhnya dan melepaskan aroma khasnya yang bisa melindungi kita dari penjaga daerah itu.”
Laras mengikat kalung perak kuno lebih erat di lehernya, sementara tangannya memegang erat catatan neneknya yang berisi doa-doa kuno untuk melindungi nelayan saat masuk ke wilayah yang dilarang. Jaka sudah memasang peralatan penyelaman sederhana yang dibuat dari kulit ikan paus dan tabung bambu yang diperkuat dengan lilin—alat yang telah digunakan oleh nenek moyang mereka selama berabad-abad untuk menyelam ke dalam laut yang dalam.
Setelah kapal mencapai titik yang ditandai pada peta, air laut di sekitar mereka tampak lebih jernih dan warnanya berubah dari biru tua menjadi hijau kehijauan yang menyilaukan. Tanpa berlama-lama, Jaka dan Laras segera menyiapkan diri untuk menyelam, sementara Pak Darmo tetap berada di atas kapal untuk menjaga jalannya dan memberikan isyarat jika ada bahaya yang datang.
“Salam satu jiwa, kita pasti bisa melakukannya,” ucap Jaka dengan lembut sebelum menyelam ke dalam air. Laras mengangguk dan segera mengikuti langkahnya.
Di dasar laut, pemandangan yang mereka temui benar-benar luar biasa. Terumbu karang yang masih sangat indah dan terawat penuh dengan kehidupan laut—ikan-ikan warna-warni berenang dengan bebas, keong laut raksasa berpindah tempat dengan gerakan lambat, dan lumut laut yang berwarna-warni bergoyang mengikuti aliran air. Namun di kejauhan, mereka melihat sebuah zona yang jauh lebih tenang, di mana sinar matahari menerangi sebuah hamparan pasir putih yang rata, dan di tengahnya tumbuh sekelompok tanaman dengan batang panjang yang menjulang ke atas permukaan air—itu adalah bunga bakung laut yang mereka cari.
Namun saat mereka mulai mendekat, sebuah bayangan besar tiba-tiba muncul dari balik terumbu karang. Itu adalah seekor arwana laut raksasa dengan sisik berwarna keemasan yang bersinar di bawah sinar matahari, dengan mata yang besar dan tajam yang menatap langsung ke arah mereka. Di belakangnya, ada tiga ekor arwana laut lainnya yang tidak kalah besar, membentuk formasi yang menghalangi jalan menuju bunga bakung laut.
Laras mengingat apa yang tertulis di catatan neneknya—“Penjaga laut tidak akan menyakiti mereka yang datang dengan niat baik dan mengenalikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga laut.” Dengan tegas, dia mengangkat kalung peraknya ke arah arwana laut raksasa, dan kalung itu segera bersinar dengan cahaya keperakan yang lebih kuat. Aksara kuno pada permukaan kalung mulai muncul dan bersinar, seolah berkomunikasi dengan makhluk besar tersebut.
Sementara itu, Jaka mengambil dupa yang telah mereka bawa dan membukanya di dalam kantong khusus yang bisa menyala di bawah air. Aroma khas dari akar cemara segera menyebar ke seluruh sekitar, dan arwana laut raksasa itu perlahan-lahan mengendurkan sikapnya. Ia kemudian menggerakkan badannya dengan lembut, menunjukkan sebuah lorong tersembunyi di balik batu karang besar yang tidak terlihat pada peta kuno.
Melalui lorong itu, mereka sampai di tempat yang lebih dalam—sebuah gua bawah laut yang dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan kuno yang lebih jelas dari yang ditemukan di Pulau Cemara Kecil. Lukisan itu menceritakan tentang seorang wanita bernama Dewi Laut yang mencintai seorang nelayan bernama Ki Ageng Suroso dari Pasuruan. Mereka berjanji akan selalu menjaga keseimbangan antara manusia dan laut, namun karena kesalahpahaman dari seorang pemimpin desa yang iri hati, Dewi Laut dituduh sebagai penyebab kekeringan dan badai yang melanda desa. Ia akhirnya memilih untuk menyembunyikan diri di dasar laut bersama bunga bakung laut yang merupakan simbol cinta dan kesetiaan mereka.
Di tengah gua itu, tumbuh sebuah bunga bakung laut yang jauh lebih besar dari yang lain—bunga utama yang memiliki kelopak berwarna putih keemasan dengan pusat bunga berwarna merah tua seperti permata. Saat Laras mendekat untuk memetiknya, ia merasakan suara lembut yang berbisik di telinganya: “Janji yang terkubur harus ditebus dengan cinta dan pengertian. Kau yang membawa kalung leluhur harus menjadi jembatan antara dua dunia yang terpisah.”
Saat bunga bakung laut utama berhasil dipetik, seluruh gua bawah laut mulai bersinar dengan cahaya hangat. Lukisan-lukisan di dinding mulai bergerak seperti sebuah film hidup, menunjukkan bahwa Dewi Laut tidak mati—ia hanya tertidur dalam keadaan yang terlindungi oleh bunga bakung laut, menunggu saatnya seseorang akan datang untuk menghapus kesalahpahaman yang telah ada selama berabad-abad.
Jaka dan Laras segera bergerak untuk kembali ke permukaan, membawa bunga bakung laut utama yang telah mereka dapatkan. Namun saat mereka keluar dari gua, mereka melihat bahwa arwana laut penjaga sedang berperang dengan sekelompok ikan hiu besar yang tiba-tiba muncul dari arah luar. Ternyata pemimpin desa yang masih memegang keyakinan kuno tentang kutukan telah mengirim orangnya untuk menghalangi mereka—mereka menggunakan umpan beracun yang menarik ikan hiu ke wilayah ini.
Dengan cepat, Laras meletakkan bunga bakung laut di atas batu karang dan mengangkat kalungnya lagi, sementara Jaka menggunakan kayu keras yang dia bawa untuk menghalangi serangan ikan hiu. Aroma dari bunga bakung laut mulai menyebar dengan cepat, dan seketika itu pula ikan hiu yang sedang menyerang menjadi tenang dan mulai berenang menjauh. Arwana laut raksasa kemudian mendekati mereka dan dengan lembut mengantar mereka kembali ke arah permukaan air.
Ketika mereka muncul dari bawah laut, matahari sudah berada tepat di atas kepala mereka—tepat pada jam sembilan pagi. Pak Darmo yang sedang khawatir melihat mereka muncul dengan bahagia, dan segera membantu mereka naik ke atas kapal. Namun saat mereka ingin berbalik untuk kembali ke pantai, mereka melihat sebuah kapal kayu lain yang sedang mendekat dengan cepat—kapal milik Raden Wijaya, pemimpin desa yang telah lama menentang upaya Laras untuk membongkar rahasia laut Pasuruan.
“Bunga bakung laut itu harus kubawa! Kutukan harus tetap ada agar orang-orang tetap patuh pada aturan desa!” teriak Raden Wijaya dengan suara yang marah. Dia telah membawa beberapa orang dengan senjata tradisional untuk mengambil bunga bakung laut dengan paksa.
Namun sebelum ada bentrokan, seluruh laut di sekitar mereka mulai bergoyang dengan kuat, dan dari arah kejauhan muncul segerombolan ikan-ikan besar yang membentuk pola seperti sebuah wajah wanita yang anggun. Itu adalah Dewi Laut yang mulai bangun dari tidurnya yang panjang, dan suara lembutnya terdengar di seluruh sekitar: “Kesalahpahaman telah berlangsung cukup lama. Sekarang saatnya untuk menerima kebenaran dan menjaga janji yang pernah dibuat.”
Raden Wijaya dan orang-orangnya terpaku di tempat, mata mereka penuh dengan kekaguman dan rasa takut. Mereka akhirnya menyadari bahwa semua yang mereka yakini selama ini adalah kesalahan besar, dan bahwa Dewi Laut bukanlah penyebab kutukan—melainkan penjaga yang telah melindungi desa dari bahaya yang lebih besar.
Dengan hati yang penuh rasa syukur, Laras, Jaka, dan Pak Darmo membawa bunga bakung laut utama kembali ke pantai Pasuruan. Mereka akan menggunakan bunga itu untuk melakukan upacara pembersihan yang akan menghapus kesalahpahaman dan membuka lembaran baru bagi hubungan antara penduduk desa dan laut yang telah memberi mereka kehidupan selama berabad-abad. Di balik mereka, arwana laut penjaga masih terlihat mengikuti dari jauh, sebagai tanda bahwa janji yang terkubur akhirnya akan ditebus dengan cinta dan pengertian…