Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Wardrobe akhirnya selesai ditata menjelang siang.
Rak tambahan terpasang rapi. Lampu LED baru menyala lebih terang, membuat seluruh ruangan tampak seperti butik pribadi.
Tessa berdiri di tengahnya, sementara Clara mengamati dari ujung ke ujung.
“Kita mulai dari dasar,” ucap Clara tenang. “Postur.”
Tessa langsung menegakkan punggungnya.
“Bukan tegang,” koreksi Clara lembut. “Tegak bukan berarti kaku. Bahu turunkan sedikit. Dagu naik satu sentimeter saja.”
Tessa mengikuti.
“Bayangkan ada benang menarik dari puncak kepala Anda.”
Tessa menarik napas pelan.
“Oke. Sekarang berjalan.”
Clara menunjuk ruang kosong di depan cermin panjang.
“Langkah kecil. Tumit dulu yang menyentuh lantai. Jangan terburu-buru.”
Tessa mulai berjalan.
Dua langkah pertama masih canggung.
Gaun latihan yang dipilihkan Clara, dress midi sederhana warna ivory, jatuh anggun, tapi terasa asing di tubuhnya.
“Pelan,” ulang Clara.
Tessa mencoba lagi.
Tumit.
Lalu ujung kaki.
Langkah ketiga lebih stabil.
Keempat mulai terlihat natural.
“Bagus,” kata Clara. “Sekarang ekspresi wajah.”
Tessa berkedip heran,
“Ekspresi?”
“Anda bukan hanya istri Tuan. Anda akan dilihat. Diamati. Dinilai.”
Tessa menelan ludah pelan,
“Wajah Anda tidak boleh terlihat takut. Tidak boleh terlihat tersinggung. Tidak boleh terlalu ramah.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Tenang. Seolah Anda memang pantas berada di sana.”
Kalimat itu membuat dada Tessa terasa sedikit berat.
Clara mendekat.
“Keluarga besar biasanya menguji. Dengan tatapan. Dengan kalimat yang terdengar biasa tapi bermakna.”
Tessa terdiam.
“Kalau mereka bertanya tentang latar belakang Anda, jawab singkat. Jangan defensif. Jangan berusaha menjelaskan terlalu panjang.”
“Bagaimana kalau mereka meremehkanku?”
Clara menatapnya lurus.
“Tatap balik. Senyum tipis. Dan alihkan topik.”
Tessa mencoba tersenyum di depan cermin.
Tapi senyumnya terlihat terlalu tegang.
“Ulangi,” ujar Clara.
Tessa mencoba lagi.
Kali ini lebih lembut.
Lebih terkontrol.
“Lebih baik.”
Mereka lanjut ke latihan duduk.
“Jangan bersandar penuh. Lutut rapat. Pergelangan kaki sejajar.”
Tessa mencoba duduk.
Gaun itu sedikit naik.
Clara langsung membetulkan.
“Gerakan tangan halus. Jangan gelisah.”
Beberapa kali Tessa salah.
Beberapa kali ia lupa postur.
Dan setiap kali itu terjadi, Clara tidak memarahi, hanya mengulang.
Tapi tetap saja, tekanan itu ada.
Setiap kesalahan kecil terasa seperti pengingat bahwa ia bukan bagian asli dari dunia ini.
Setelah hampir satu jam, Clara menutup tabletnya.
“Sekarang kita coba simulasi.”
Tessa mulai menegang lagi.
“Saya akan berperan sebagai salah satu anggota keluarga.”
Clara berdiri di depannya, ekspresinya berubah lebih dingin.
“Nyonya Tessa, saya dengar Anda baru menikah tanpa latar belakang keluarga bisnis. Bukankah itu cukup… mengejutkan?”
Nada suaranya halus. Tapi menusuk.
Tessa terdiam sepersekian detik.
Ia hampir menjawab dengan penjelasan panjang, lalu ia ingat.
Singkat. Tidak defensif.
Ia menatap Clara di cermin.
Senyum tipis.
“Pernikahan kami bukan keputusan bisnis.”
Jawaban itu keluar lebih stabil dari yang ia kira.
Clara mengangguk kecil.
“Baik. Sekarang yang lebih tajam.”
Ekspresi Clara berubah lebih menusuk.
“Apakah Anda yakin bisa mengikuti ritme keluarga ini?”
Tessa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia hampir menunduk.
Tapi ia teringat satu kalimat nick pagi tadi.
Berdiri di sampingku.
Tessa mengangkat dagunya sedikit.
“Saya pastikan tidak akan tertinggal.”
Hening sepersekian detik.
Clara tersenyum tipis.
“Lebih baik.”
Tessa baru sadar tangannya sedikit gemetar.
Ia mengepalkan jemarinya pelan.
“Apa aku terlihat sangat tidak cocok?” tanyanya pelan, tanpa melihat cermin.
Clara terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Tidak.”
Tessa menoleh.
“Anda hanya belum terbiasa.”
Itu bukan hinaan, bkan pujian juga.
Tapi cukup jujur.
Clara mengambil kotak perhiasan tadi.
“Sore nanti kita latihan dengan sepatu heels sebenarnya. Dan kalung ini.”
Tessa melihat pantulan dirinya sekali lagi.
Gaun itu bukan miliknya.
Kalung itu bukan miliknya.
Dunia itu pun belum terasa miliknya.
Namun ia tidak sepenuhnya ingin mundur.
Bukan karena takut pada keluarga Nick.
Bukan karena ingin membuktikan sesuatu.
Tapi karena ia mulai sadar,
Jika Nick sekeras itu menjaga posisinya di sampingnya…
Maka ia tidak bisa terus terlihat goyah.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna