Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Keajaiban Kristal Putih
Kabar tentang "kincir ajaib" Jatmika menyebar secepat api di padang rumput kering. Dalam seminggu, Mandor Kromo memaksa warga membangun lima kincir lagi. Namun, ada satu masalah yang tetap menghantui: hasil garamnya tetap kotor. Garam pesisir utara saat itu berwarna abu-abu kecokelatan, bercampur lumpur, dan pahit karena kandungan magnesium yang tinggi. Belanda hanya menghargainya dengan harga terendah, lalu memurnikannya di pabrik besar mereka untuk dijual kembali dengan harga selangit.
Jatmika berdiri di tepi tambak, menatap tumpukan garam kusam itu. Di sampingnya, Darman berkali-kali menyeka keringat.
"Lihat, Jatmika. Airnya melimpah berkat kincirmu, tapi Mandor tetap memaki kita karena warnanya buthek (keruh). Dia bilang, kalau tidak putih bersih, kompeni tidak mau kasih bonus," keluh Darman.
Jatmika mengambil segenggam garam, merasakannya dengan lidah. Terlalu pahit. Terlalu banyak pengotor mineral.
"Kita tidak akan menjual garam ini ke Belanda, Darman," bisik Jatmika.
Darman terlonjak. "Ssttt! Kamu gila? Kalau ketahuan menjual ke pihak luar, kita bisa dicambuk atau dikirim ke kerja paksa di Grobogan!"
Jatmika menatap temannya itu dengan tajam. "Darman, selama kita mengikuti aturan mereka, kita akan tetap jadi budak. Kita butuh garam yang begitu murni sehingga pedagang dari luar—mungkin dari Melayu atau Bugis—mau membelinya dengan emas, bukan dengan koin tembaga Belanda yang nilainya terus turun."
Malam itu, Jatmika mulai melakukan eksperimen kimia pertamanya di tahun 1853. Tanpa tabung reaksi, tanpa beker gelas kaca borosilikat. Ia hanya punya kuali tanah liat, bambu, dan pengetahuannya tentang fraksinasi kristalisasi.
Ia meminta Darman mengumpulkan tempurung kelapa dalam jumlah banyak. "Untuk apa?" tanya Darman bingung.
"Kita akan buat karbon aktif," jawab Jatmika singkat.
Jatmika membakar tempurung kelapa dalam lubang tanah dengan oksigen terbatas—proses pirolisis sederhana. Hasilnya adalah arang hitam pekat yang kemudian ia hancurkan menjadi bubuk halus. Ia tahu, karbon aktif ini adalah filter alami yang luar biasa untuk menyerap kotoran organik dan warna keruh pada air tua (brine).
Selanjutnya, ia membangun sistem pemurnian bertingkat. Ia menyusun serangkaian bak bambu yang diisi berturut-turut dengan pasir pantai yang sudah dicuci, kerikil, dan lapisan tebal arang tempurung kelapanya.
"Tuangkan air tua itu ke sini," perintah Jatmika pada fajar keesokan harinya.
Air garam yang tadinya cokelat pekat dan berbau amis perlahan menetes keluar dari ujung filtrasi. Warnanya bening seperti air mata. Namun, Jatmika belum puas. Ia tahu rahasia garam kualitas tinggi bukan hanya pada kejernihannya, tapi pada pemisahan kalsium dan magnesium.
Ia menggunakan prinsip gradien konsentrasi. Ia membiarkan air bening itu menguap di bawah sinar matahari dalam wadah kayu yang dangkal, bukan di atas tanah. Pada titik kejenuhan tertentu, kalsium sulfat akan mengendap duluan. Jatmika dengan teliti membuang endapan pertama itu, lalu memindahkan sisa airnya ke wadah kedua.
Dua hari kemudian, keajaiban terjadi.
Di bawah terik matahari Kendal, di dalam wadah kayu rahasia yang disembunyikan di balik rimbunnya pohon bakau, terbentuklah kristal-kristal berbentuk kubus sempurna. Warnanya putih berkilauan seperti berlian di bawah cahaya siang.
Darman, yang datang membawakan ubi rebus, sampai menjatuhkan makanannya. "Gusti... Jatmika... ini bukan garam. Ini perhiasan!"
Jatmika mengambil satu butir kristal besar. Ia merasakannya. Rasa asinnya bersih, tajam, tanpa ada rasa pahit yang tertinggal di pangkal lidah. Ini adalah garam kelas satu, setara dengan standar ekspor Eropa abad ke-21.
"Garam ini," Jatmika berkata dengan suara rendah, "adalah tiket kita menuju kebebasan. Belanda membeli garam kotor kita seharga setengah sen per kati. Garam ini? Pedagang gelap dari Singapura akan berani membayarnya sepuluh kali lipat."
"Tapi bagaimana cara membawanya keluar?" tanya Darman cemas. "Patroli laut Belanda di pelabuhan sangat ketat."
Jatmika tersenyum kecil. Pikirannya melayang pada peta logistik laut yang ia pelajari di masa depan. Ia tahu celah-celah karang dan jalur arus yang tidak berani dilalui oleh kapal-kapal besar Belanda karena takut kandas.
"Kita tidak akan lewat pelabuhan. Kita akan membangun jalur penyelundupan sendiri. Dan untuk itu, kita butuh perahu yang lebih cepat dari milik patroli mereka."
Namun, di tengah rencana itu, sebuah bayangan muncul dari balik pepohonan.
"Jadi, ini rahasiamu, Cah Bagus?"
Jatmika dan Darman tersentak. Dari balik semak, muncul seorang wanita tua. Rambutnya putih, namun matanya masih setajam elang. Namanya Mbah Sumi, dukun beranak desa yang juga dikenal sebagai "orang pintar" yang disegani.
Mbah Sumi berjalan mendekat, menatap kristal putih itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak terlihat kaget, justru terlihat... lega.
"Aku sudah lama menunggu seseorang yang bisa mengubah air mata laut menjadi permata," ucap Mbah Sumi pelan. "Tapi ingat, Jatmika. Putihnya garam ini akan mengundang mata-mata yang lapar. Belanda bukan satu-satunya musuhmu. Ada pengkhianat di antara bangsamu sendiri yang akan menjual kepalamu hanya untuk jabatan lurah."
Jatmika terdiam. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa melakukan ini sendirian. Ia butuh jaringan.
"Mbah tahu siapa yang bisa kita percayai?" tanya Jatmika.
Mbah Sumi tersenyum tipis, memperlihatkan giginya yang hitam karena menyirih. "Datanglah ke pasar gelap di belakang hutan jati besok malam. Bilang pada mereka, kamu membawa 'Garam Surga'. Di sana, kamu akan bertemu dengan orang-orang yang punya dendam lebih besar dari milikmu."
Jatmika mengangguk. Strateginya mulai bergeser. Dari seorang insinyur yang hanya ingin bertahan hidup, ia mulai masuk ke dalam labirin spionase dan ekonomi gelap.
Ia tahu, langkah ini berbahaya. Sekali ia menjual garam ini, ia bukan lagi sekadar anak nelayan. Ia adalah penyelundup. Seorang kriminal di mata hukum kolonial. Tapi baginya, hukum penjajah adalah lelucon yang harus segera diakhiri.
Sore itu, Jatmika mulai membagi hasil produksinya. Sebagian kecil garam kotor tetap diberikan kepada Mandor Kromo untuk menjaga "kedamaian", sementara garam putih murninya mulai ia kemas ke dalam tabung-tabung bambu kedap air.
Ini bukan sekadar perdagangan,batin Jatmika sambil memandangi laut yang mulai gelap. Ini adalah modal awal untuk membeli mesiu. Ini adalah awal dari perlawanan yang efisien.
Namun, tanpa Jatmika sadari, di sudut lain desa, Mandor Kromo sedang menerima tamu seorang opsir Belanda muda yang sedang melakukan riset tentang kenaikan drastis produksi garam di Karanganyar. Kecurigaan mulai bertunas di tempat yang salah.