(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 120: Tirai Cermin Dimensi
Di dalam Aula Utama Kapal Roh Klan Yao yang sunyi senyap, udara dipenuhi ketegangan yang sanggup mencekik leher.
Yao Yan, sang Tuan Muda yang biasanya pongah, kini menempelkan punggungnya ke pilar berukir naga. Tangan kanannya gemetar saat memegang sebilah pedang yang menyala dengan api keemasan. Di depannya, Zhao Xuan berdiri dengan postur santai, kedua tangan terlipat di belakang punggung, menatapnya dengan kebosanan seorang predator yang sedang bermain dengan mangsanya.
"Kau... bocah fana! Kau menggunakan artefak siluman apa untuk membunuh para tetuaku?!" raung Yao Yan, mencoba menutupi rasa takutnya dengan amarah. Ia memadatkan Qi tingkat Core Formation (Pembentukan Inti) Awal miliknya. "Kau pikir kau bisa keluar dari kapal ini hidup-hidup?! Aku adalah keturunan langsung Leluhur Yao!"
Zhao Xuan menghela napas pendek. Di kehidupannya yang lalu, ia telah mendengar kalimat itu ribuan kali sesaat sebelum ia memenggal kepala si pembicara.
"Kalian orang-orang dari Benua Tengah selalu membanggakan silsilah saat sedang ketakutan," ucap Zhao Xuan datar. Ia melangkah maju perlahan. "Tapi malam ini, darah Leluhur Yao di nadimu tidak akan menyelamatkanmu. Darah itu justru akan menjadi pemicu kehancuran armada kalian sendiri."
"Omong kosong! Mati kau!"
Yao Yan tidak tahan lagi. Ia mengayunkan pedangnya ke depan, melepaskan tebasan api keemasan berbentuk bulan sabit raksasa yang sanggup membelah gunung. Suhu di dalam aula melonjak drastis hingga karpet sutra terbakar menjadi abu.
Tebasan mematikan itu meluncur lurus ke arah leher Zhao Xuan.
Namun, Zhao Xuan bahkan tidak berkedip. Mata hitamnya memancarkan pendaran biru kehampaan dari Roda Bintang Kedua.
Seni Retakan Dimensi: Cermin Ruang.
Tepat satu inci di depan hidung Zhao Xuan, ruang dimensi tiba-tiba melipat dengan sendirinya, membentuk sebuah pusaran transparan yang terlihat seperti kaca pembesar raksasa.
WUSSH!
Tebasan api keemasan tingkat Core Formation itu menabrak pusaran tersebut dan... lenyap. Tidak ada ledakan. Tidak ada asap. Api itu seolah tertelan oleh mulut monster yang tak kasat mata.
"A-Apa?!" Mata Yao Yan nyaris melompat dari rongganya. Ke mana perginya serangan terkuatnya?
"Sudah kubilang," suara Zhao Xuan bergema, namun kali ini asalnya bukan dari depan Yao Yan.
BAM!
Tebasan api keemasan yang baru saja lenyap itu tiba-tiba muncul dari ruang kosong tepat di belakang Yao Yan, menghantam punggung sang Tuan Muda dengan kekuatan penuh!
"AAARGH!" Yao Yan menjerit histeris saat serangannya sendiri membakar punggungnya, memecahkan perisai pelindungnya, dan melemparnya hingga tersungkur di lantai kayu.
Zhao Xuan telah melipat koordinat ruang di depannya dan menyambungkannya ke ruang di belakang punggung Yao Yan.
Yao Yan batuk darah. Ia menatap Zhao Xuan dengan kengerian absolut. "K-Kau... kau bukan manusia! Hukum alam macam apa ini?!"
Zhao Xuan berjalan mendekat, berhenti tepat di hadapan Yao Yan yang sedang merangkak. Cincin Jiwa Kuno di jarinya tidak menyala, namun Roda Bintang Kedua di jiwanya berputar semakin cepat. Sang Asura tersenyum sangat tipis senyuman iblis yang sedang merajut konspirasi.
"Kudengar, kau dan Feng Yu, Tuan Muda dari Sekte Langit Absolut, sedang bersaing memperebutkan kuota terbanyak di dunia fana ini," ucap Zhao Xuan santai.
Mendengar nama saingannya, wajah Yao Yan berkedut penuh kebencian. Sekte Langit Absolut memarkir armada mereka hanya berjarak lima puluh mil dari posisi Klan Yao, di atas langit wilayah barat. Mereka memang sekutu di atas kertas, namun musuh bebuyutan dalam perebutan warisan Dewa Kuno.
"Lalu kenapa?!" ludah Yao Yan bercampur darah.
Zhao Xuan mengangkat tangannya. Perlahan, ia mulai mendistorsi dan melengkungkan cahaya serta koordinat ruang di seluruh aula tersebut.
Tiba-tiba, pemandangan di depan mata Yao Yan berubah drastis! Dinding aula Klan Yao menghilang. Remaja berjubah hitam itu juga menghilang.
Sebagai gantinya, Yao Yan tiba-tiba mendapati dirinya sedang "berada" di geladak kapal Sekte Langit Absolut. Di hadapannya, berdiri ilusi sempurna dari Feng Yu, sang Tuan Muda Langit Absolut, yang sedang memegang kepala para Tetua Yao yang terpenggal sambil tertawa meremehkan.
Ini bukanlah sihir halusinasi pikiran. Zhao Xuan memproyeksikan cahaya dan melengkungkan ruang. Lalu menghubungkan jendela visual ruang aula itu langsung ke arah kapal musuh, dan memanipulasinya.
"Lihatlah anjing menyedihkan dari Klan Yao ini," suara ilusi Feng Yu (yang disuarakan oleh Zhao Xuan melalui distorsi getaran udara) bergema penuh arogansi. "Kau pikir kau bisa menguasai Kerajaan Zhao? Aku yang mengirim pembunuh untuk membantai kampmu di Hutan Timur! Dan sekarang, aku akan menenggelamkan kapal pesiarmu ini!"
Akal sehat Yao Yan yang sudah hancur karena rasa takut, rasa sakit, dan arogansi yang terluka langsung terputus. Matanya memerah sempurna. Kebenciannya pada saingannya meledak mengalahkan segalanya.
"FENG YU!! KAU BAJINGAN PENGKHIANAT!" raung Yao Yan dengan histeris. Ia tidak menyadari bahwa ia sedang berteriak pada udara kosong di aulanya sendiri.
Yao Yan merogoh cincin penyimpanannya dengan panik dan mengeluarkan sebuah giok kendali berwarna merah darah. Ini adalah Kunci Inti Kapal Roh Klan Yao.
"Jika kau ingin perang, MAKA MATILAH BERSAMAKU!"
Yao Yan mengalirkan seluruh sisa esensi darah dan Qi-nya ke dalam giok tersebut.
Di luar kapal, formasi Kubah Api Nirvana yang melindungi kapal Klan Yao tiba-tiba meredup. Sebagai gantinya, di moncong kapal, sebuah susunan sihir raksasa berbentuk kepala naga terbuka. Seluruh cadangan energi kapal yang setara dengan serangan ahli tingkat Puncak Nascent Soul berkumpul di mulut naga tersebut.
Meriam Naga Tungku Api!
"MATI KAU, FENG YU!" Yao Yan meremukkan giok kendali itu.
DOOOOOOOOOOM!
Sebuah pilar cahaya api raksasa berdiameter seratus meter melesat dari moncong Kapal Klan Yao. Serangan itu membelah langit malam, menerangi seluruh Kerajaan Zhao layaknya matahari buatan, dan meluncur lurus melintasi jarak lima puluh mil...
...Menghantam telak tepat di lambung Kapal Bendera Utama Sekte Langit Absolut!
BLAARRRGHH!!
Ledakan itu mengguncang atmosfer. Kapal utama Sekte Langit Absolut yang tidak dalam posisi siaga tempur (karena mengira tidak ada musuh yang berani menyerang) langsung meledak hebat. Separuh kapalnya hancur berkeping-keping menjadi bola api di langit barat. Ribuan murid mereka tewas seketika dalam tidur mereka.
Di dalam aula Klan Yao, ilusi visual itu hancur berantakan seperti cermin pecah.
Yao Yan kembali melihat dinding aulanya sendiri, dan sosok Zhao Xuan yang masih berdiri santai di tempatnya semula. Tuan Muda Klan Yao itu terengah-engah, jatuh terduduk di lantai. Energi dan nyawanya telah terkuras habis untuk menembakkan meriam utama tersebut.
"S-Sudah... sudah kuhancurkan si brengsek itu..." Yao Yan tertawa gila, masih belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Zhao Xuan melangkah maju. Suara langkah kakinya yang mengetuk lantai kayu terdengar seperti dentang lonceng kematian.
"Tebakan yang bagus. Tembakan yang bagus," bisik Zhao Xuan sedingin es, berdiri tepat di sebelah Yao Yan. "Kau baru saja menyatakan perang terbuka kepada Sekte Langit Absolut atas nama Klan Yao. Leluhurmu pasti akan sangat bangga padamu saat dia membantai klan Feng."
Yao Yan terdiam. Pupil matanya menyusut saat realitas akhirnya menghantam otaknya. Ilusi tadi... anak ini yang memanipulasi matanya agar ia menggunakan senjata pamungkas kapal untuk menembak armada sekutu mereka sendiri!
"T-Tidak... kau... iblis! Iblis dari dimensi mana kau?!" Yao Yan mencoba merangkak mundur dengan sisa tenaganya yang putus asa.
"Aku?"
Tangan kiri Zhao Xuan menembus udara kosong, ruang beriak layaknya air. Di detik yang sama, Yao Yan merasakan sesuatu yang dingin dan kecil mencengkeram erat jantungnya di dalam dadanya sendiri.
"Aku adalah hantu dari Reruntuhan Bintang Jatuh yang menagih hutang darah pada Leluhurmu," bisik Zhao Xuan tepat di telinga Yao Yan.
CRASH.
Tangan Zhao Xuan meremukkan jantung Yao Yan menjadi bubur.
Tuan Muda Klan Kuno Yao itu tewas seketika. Darah mengalir dari sudut bibirnya, matanya menatap kosong ke langit-langit kapal dengan kengerian dan penyesalan yang tak berujung.
Di luar, langit malam telah berubah menjadi lautan api dan jeritan. Sekte Langit Absolut yang murka atas "pengkhianatan" Klan Yao mulai membunyikan terompet perang. Ratusan kapal dari kedua faksi mulai mengarahkan meriam mereka satu sama lain. Langit Tianyun akan segera berubah menjadi arena pembantaian sesama dewa.
Di belakang Zhao Xuan, lima bayangan (Jue Ying dan para Pemimpin Paviliun) muncul dari lantai dengan membawa puluhan cincin penyimpanan yang berisi seluruh harta karun Kapal Yao ini. Mereka menatap ledakan di kejauhan dengan kekaguman fanatik terhadap Tuan mereka.
Tuan Asura tidak perlu mengangkat pedang untuk menghancurkan dua faksi raksasa; ia hanya butuh satu kebohongan visual dan ruang kosong.
"Tuan, Sekte Langit Absolut mulai membalas tembakan ke arah kapal ini. Kita akan hancur jika tetap di sini!" lapor Jue Ying.
"Kalau begitu, biarkan mereka membersihkan jejak kita," Zhao Xuan menjentikkan jarinya, merobek sebuah lorong dimensi di udara yang terhubung langsung kembali ke markas bawah tanahnya di Ibukota.
Zhao Xuan melangkah masuk ke dalam retakan dimensi tersebut, diikuti oleh kelima bayangannya. Tepat saat retakan itu menutup, puluhan pilar cahaya penghancur dari armada Sekte Langit Absolut menghantam kapal Klan Yao, meledakkannya menjadi debu.
Beberapa menit kemudian, di teras balkon paviliunnya di Istana Kerajaan Zhao.
Zhao Xuan yang sudah berganti dengan piyama sutra putihnya yang bersih, berdiri menatap langit malam sambil memegang secangkir teh hangat.
Di ufuk barat dan timur, kilatan-kilatan cahaya ledakan terus terjadi, diiringi suara gemuruh yang menyerupai guntur berkelanjutan. Perang saudara antara dua faksi besar penyerbu telah resmi dimulai.
"Pertunjukan kembang api yang sangat indah," gumam Zhao Xuan, menyesap tehnya dengan santai.