Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Malam itu, pintu rumah Pramudya terbuka lebar.
Langkah kaki berat terdengar di ruang tengah. Aksa berdiri tegak, rahangnya mengeras, matanya gelap, bukan marah biasa. Ini amarah seorang kakak yang merasa adiknya telah melampaui batas.
Kaisar berdiri di depan tangga, punggungnya kaku. Napasnya masih naik turun sejak sore.
“Apa kamu pikir rumah ini hotel?” suara Aksa rendah, tapi tajam.
“Datang dan pergi sesukamu?”
Kaisar mendengus. “Aku nggak kabur, aku cuma—”
“Kamu meninggalkan istrimu,” potong Aksa, kali ini suaranya meninggi.
“Di rumah sendirian.”
Kinara yang berdiri di dekat pintu dapur menutup mulutnya. Arman hanya diam, wajahnya muram.
Aksa melangkah mendekat. “Shelina itu bukan perempuan sembarangan. Dia takut sendirian, Kaisar. Kamu tahu itu sejak kecil dia—”
“Kenapa sih harus aku?!” Teriakan Kaisar memecah ruangan.
Semua terdiam, Kaisar menatap Aksa dengan mata merah, dadanya naik turun seperti menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam.
“Kenapa nggak Kakak aja yang nikah sama Miss Shelina?!” teriaknya.
“Kenapa harus aku?! Kakak pikir mikul beban itu enak, hah?!”
Kinara tersentak. “Kaisar—”
“Aku juga manusia!” lanjut Kaisar, suaranya bergetar.
“Aku juga butuh kebebasan! Aku capek disuruh ngerti terus, disuruh dewasa terus, disuruh nerima semua keputusan yang bukan aku yang bikin!”
Plak!
Tamparan Aksa mendarat keras di pipi Kaisar.
Kaisar terhuyung setengah langkah. Wajahnya menoleh, napasnya tercekat. Dunia seperti berhenti berputar.
Kinara menjerit pelan. “Aksa!”
“Hebat kamu sekarang,” bentak Aksa, matanya merah menyala.
“Berani kamu bicara begitu sama kakakmu?! Berani kamu teriak di depan Daddy dan Mommy?!”
Kaisar menunduk, tangannya mengepal, tapi tubuhnya membeku.
“Kebaikan, ketulusan, kelembutan yang mereka kasih ke kamu selama ini ... kamu balas dengan suara keras dan sikap kasar?!” suara Aksa bergetar, bukan hanya marah, tapi terluka.
“Kamu pikir jadi suami itu cuma soal mau atau nggak mau?!”
Kaisar menelan ludah tenggorokannya perih.
Bayangan Shelina muncul di kepalanya, wajah pucat itu, tangannya yang semalam mencengkeram pergelangan Kaisar dalam tidur, seolah takut ditinggalkan.
Aksa menarik napas panjang. “Kamu boleh marah. Kamu boleh capek. Tapi kamu nggak boleh meninggalkan dia.”
Kaisar tak menjawab, kepalanya tertunduk, matanya panas, tapi tak satu pun air mata jatuh.
Kaisar menelan ludah. Suaranya tak lagi setinggi tadi. Bahkan nyaris terdengar seperti bisikan.
“Kakak…” Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Kakak padahal lebih kenal Miss Shelina. Kakak lebih ngerti dia.”
Jeda singkat, napasnya bergetar.
“Kenapa nggak Kakak aja yang nikah?” Udara di ruangan itu membeku.
Aksa menatap Kaisar lama. Tatapannya dingin, tapi lelah.
“Kaisar,” suaranya rendah, berbahaya.
“Jaga bicara kamu.”
Kaisar refleks menegakkan tubuhnya.
“Aku punya tunangan,” lanjut Aksa tegas.
“Dan kamu yang jomblo di sini.”
Kaisar terkesiap pelan.
“Apa salahnya, sih,” suara Aksa meninggi lagi, “belajar nerima kenyataan kalau sekarang kamu sudah berkeluarga?” Ia melangkah satu langkah ke depan. Satu langkah yang membuat Kaisar terdiam total.
“Selama ini,” lanjutnya, “Daddy, Mommy, dan Kakak ngasih apa pun yang kamu mau tanpa kamu minta. Sekali ... sekali saja ... mereka kasih tanggung jawab ke kamu…”
Aksa mengepalkan tangan.
“Tapi kamu malah bertingkah kayak anak kecil yang kehilangan mainannya?!” Bentakannya menggema.
Kaisar menunduk, dadanya sesak. Tak ada lagi kata yang sanggup keluar.
“Pergi,” kata Aksa tajam.
“Pulang ke rumah istrimu.”
Kaisar mengangkat kepala.
“Dia butuh teman,” lanjut Aksa, nadanya menekan.
“Bukan orang yang cuma ngerti teori, tapi orang yang menjaga dia.”
Ia menatap Kaisar dalam-dalam.
“Kalau kamu bertingkah lagi ... motor kamu Kakak sita.” Ancaman itu lebih memukul daripada tamparan tadi.
Setelah mengatakan itu, Aksa berbalik. Langkahnya tegas menuju Arman dan Kinara yang masih berdiri kaku sejak tadi. Begitu sampai di depan Kinara, sikap Aksa berubah.
Suaranya melunak, hampir seperti tak pernah marah.
“Mommy nggak apa-apa?” tanyanya pelan.
Kinara mengangguk, meski matanya berkaca-kaca. Aksa meraih bahunya sebentar, sentuhan singkat, penuh hormat dan kasih.
“Maaf,” ucap Aksa lirih. “Aku cuma … nggak mau Kaisar salah langkah.”
Kinara menghela napas panjang. “Mommy ngerti.”
Sementara itu, di ujung ruangan, Kaisar berdiri sendirian. Kata-kata Aksa masih bergema di kepalanya.
Di tempat lain.
Lampu ruang tamu menyala redup. Jam di dinding berdetak lebih keras dari biasanya, atau mungkin hanya telinga Shelina yang terlalu peka malam ini.
Jam delapan lewat tiga puluh, Shelina melirik jam itu lagi.
Sejak sore, rumah ini terlalu sunyi.
Tidak ada suara motor Kaisar. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara pintu dibuka dengan setengah kesal seperti biasanya. Yang ada hanya keheningan yang menekan dada, pelan tapi pasti.
'Dia nggak pulang…'
Shelina duduk di ujung sofa, jari-jarinya saling menggenggam. Sejak meninggalkan kampus sore tadi, Kaisar memang tak ada. Tak satu pesan. Tak satu panggilan. Seolah rumah ini bukan lagi tempat yang ingin ia tuju.
"Kenapa setiap aku mulai berharap, orang-orang justru pergi satu per satu?"
Shelina bangkit, berjalan mondar-mandir. Matanya kembali tertuju pada jam di dinding. Angka-angka itu seperti mengejeknya.
Kesepian ini tidak berisik, tapi mematikan. Ia merayap, menekan, membuat napas terasa berat.
“Aku cuma sendirian sebentar,” gumamnya, entah untuk siapa. “Sebentar aja…”
Namun dadanya tetap sesak, saat perasaannya nyaris runtuh suara deru motor tiba-tiba memecah malam.
Shelina tersentak, jantungnya berdegup kencang. Itu suara yang ia kenal, yang sempat ia benci, yang sekarang justru ia tunggu-tunggu.
“Kaisar…” lirihnya.
Tanpa sempat berpikir, Shelina berlari kecil dari ruang tamu menuju pintu depan. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu. Ia bahkan tak peduli apakah sikapnya ini terlihat terlalu berharap.
Pintu terbuka.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.